I Am Smart

What Show Are You In? | The Greatest Showman Review

I just watched The Greatest Showman and I can’t let my review pass through. People have already showed off the songs and the joy they had from the movie but I still deserved to review that ok? So here we go.

Pertama-tama koreo yang luar biasa dari film ini. Kekompakan dan tarian modern ala ala sirkus yang dibuat perlu saya acungkan dua jempol ditambah dengan background dan warna-warni serta keunikan dari para pemerannya betul-betul enak dilihat. Sutradaranya sangat pintar m,engambil angle yang tepat dan pas untuk setiap penampilan terutama saat bernyanyi, sangat pas dengan pembawaan lagu yang ditampilkan.

Saya pribadi sangat menyukai penampilan saat Hugh Jackman menawarkan pekerjaan pada Zac Efron. Lagu yang dibawakan adalah “The Other Side”. Saya senang dengan segi pengambilan gambar serta penampilan kedua aktor (3 deh ditambah bartender-nya) dan SFX pendukung dari gelas yang digeser-geser dan dilempar-lempar, piano, bahkan sampai lap meja dan sapu. Ada juga “A Million Dreams” dimana dua sejoli yang lagi kasmaran lari-lari (bukan ala India) di atap apartemen mereka plus “Rewrite The Stars” dengan dua sejoli bergelantungan dan kasmaran pakai tali. Epic!

Musik-musiknya juga sangat menyegarkan dan membawa pesan yang baik. Ada nuansa-nuansa yang berbeda dari setiap musiknya. Liriknya bagus dan sangat sinkron dengan melodinya. Setidaknya kalian pasti akan mendownload lagu-lagunya setelah selesai nonton dan akan ada di playlist favorit kalian untuk beberapa saat. Favorit saya dan rata-rata semua orang tentu saja “This Is Me” yang dinyanyikan Keala Settle. Coba saja kalian dengar dari video di bawah ini. Pasti takjub.



Yang tidak kalah adalah ceritanya. Film tidak akan bisa bagus kalau ceritanya kurang walau musik dan pengambilan gambarnya sudah maknyos. Film ini memperlihatkan indahnya keberagaman dan bagaimana sebuah imajinasi bisa membawa kita kepada sesuatu yang besar. Jangan takut bermimpi besar. Keluar dari zona nyaman dan ambilah resiko itu. Tetap rendah hati dan hargai semua orang. Saya sangat suka dengan si kritikus Benneth (kalau tidak salah tulis) yang selalu menjelkkan si Barnum ini namun pada akhirnya dia juga ikut mendukung Barnum dengan caranya sendiri. Itu terjadi karena Barnum tetap bersyukur aa orang yang mau mengkritiknya dan tetap menghargai kritikus itu.

320px-barnum_and_commodore_nutt

Film ini diinspirasi dari kisah nyata. Bahkan Jenny Lind juga nyata. Quote dari P. T. Barnum pada akhir filmlah yang paling mengena bagi saya.

The noblest art is that of making others happy.

Seni palingmulia adalah membuat orang lain bahagia. Apa motivasi dalam hidup kita? Menjadi sukses dan kaya sampai menajdi seambisius Barnum di film sampai melupakan orang-orang terdekat yang dulunya selalu dia buat bahagia? Apakah kita sedang hidup untuk menunjukkan ke orang lain bahwa kita bisa sukses sehingga kita bisa merasa tinggi? Ataukah kita sedang hidup untuk orang lain? Hidup ini bagaikan sandiwara dan pertunjukan apa yang sedang kita tampilkan.

Kita tidak membutuhkan semua orang untuk menyukai kita (kalimat ini ada di film saat istri Barnum mengingatkan Barnum). Kita hanya memerlukan beberapa orang yang dekat dengan kita. Berhenti berusaha menyenangkan semua orang dan nikmatilah hubungan bersama orang-orang terdekat kita, orang-orang yang mengasihi kita.

So how do you think about the movie? Let me know on the comment below.

Be blessed!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s