Wisdom

Memberi Yang Terbaik Untuk Tuhan

Alkitab lebih banyak menceritakan atau menubuatkan kedatangan Yesus yang kedua kali dibandingkan dengan kedatangan-Nya yang pertama dan pengorbanan di kayu salib. Mengapa? Karena kita suka terpaut dengan sejarah pengorbanan Yesus saja.

2 Petrus 3 :10-12

10) Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.

11) Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup

12) yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya.

Kita terlalu fokus dengan apa yang sudah Yesus lakukan sampai-sampai kita tidak menyadari bahwa hidup kita saat ini sedang menuju kepada kedatangan Yesus kembali. Dalam perjalanan menuju kedatangan Yesus, apa yang sudah kita persiapkan dan berikan dalam hidup kita untuk mempersiapkan dan mempercepat kedatangan-Nya?

kedatangan-tuhan

Nubuatan tentang akhir jaman juga memberitahu kita bahwa segala sesuatu di bumi ini bersifat sementara dan akan lenyap pada akhirnya. Bahkan orang-orang yang di dalamnya akan lenyap. Jadi kita juga diingatkan untuk tidak memfokuskan diri terhadap hal-hal atau orang-orang yang akan lenyap, tapi kepada yang akan bertahan selamanya yaitu yang kekal.

Di dalam Alkitab banyak tertulis bahwa kita harus melakukan yang terbaik untuk Tuhan dan sesama. Karena untuk itulah kita diciptakan, menjadi sebuah tujuan hidup yang Tuhan kehendaki.

Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya. | Amsal 3:9-10

Yang pertama berarti yang terbaik. Itu berarti yang pertama dan yang terbaik dalam hari kita. Kita memberikan waktu hening bersama Tuhan setiap bangun tidur ataupun setiap sebelum kita melakukan aktivitas apapun. Kita memberikan yang pertama dan yang terbaik dalam keuangan kita (perpuluhan dan buah sulung). Kita memberikan yang pertama dan yang terbaik dalam minggu-minggu kita (Sabat).

100percent

Bagaimana memberi yang terbaik untuk Tuhan?

Di dalam Alkitab ada 3 contoh profesi atau pekerjaan yang sering kita dengar yang menjadi ilustrasi mengenai iman. Tetapi kita juga bisa belajar banyak dari contoh ilustrasi ini untuk memberikan yang terbaik untuk Tuhan.

Mereka adalah:

  1. PRAJURIT YANG SETIA
  2. ATLET YANG KOMPETITIF
  3. PETANI YANG PRODUKTIF

2 Timotius 2 : 3-7

3) Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.

4) Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.

5) Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga.

6) Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.

7) Perhatikanlah apa yang kukatakan; Tuhan akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu.


PRAJURIT YANG SETIA

1. Menetapkan Sesuatu yang Membuat Kita Rela Mati atau Berkorban Nyawa

Dengan seperti ini kita bisa tahu apakah kita siap untuk menjalani hidup. Ada pertanyaan, “Bagaimana kita bisa belajar mengasihi kalau kita tidak tahu siapa yang harus dikasihi?”

Seorang prajurit pasti tahu untuk apa ia melakukan dan memilih pekerjaannya. Ia mengharapkan ada kebebasan atau kemerdekaan untuk bangsa, keluarga, dan masyarakat. Seorang prajurit memperjuangkan hidupnya bahkan rela mati bukan untuknya, tapi untuk yang lain. Itulah sebabnya seorang prajurit tidak memusingkan penghidupan atau kenyamanannya.

Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya. | 2 Timotius 2:4

anything-worth-dying-for-joseph-heller-540x564

Kita harus rela mati untuk kekekalan nanti. Dengan begitu kita akan memiliki arti dan tujuan hidup yang benar.

Bahkan Yesus sendiri mengajarkan kita tentang ini. Prajurit yang paling sempurna adalah Yesus. Dia rela mati dan mengorbankan kenyamanan diri-Nya untuk menebus dosa kita.

Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. | Yohanes 15 :13

Jadi dari sini kita tahu bahwa kasih tidak bisa ditimbang atau ditakar sesuai dengan perasaan atau perkataan orang.

Seberapa dalam kasih seseorang dapat dilihat dari seberapa besar pengorbanan yang dilakukan.


2. Mengorbankan Kenyamanan Diri

Seorang prajurit tidak tidur di tempat yang nyaman. Ia tidur di berbagai kondisi dan cuaca. Ia tidak bisa memilih tempat, makanan, ataupun waktu yang mereka mau. Bahkan ia tidak memiliki privasi lagi. Ia mengorbankan kekayaannya (jarang ada prajurit yang memiliki kekayaan yang melimpah).

FILES--IRAQ 3 YEAR ANNIVERSARY PACKAGE--

Yesus melewati ketidaknyamanan ini dengan sempurna. Jika kita mau menjadi seperti Yesus, kita akan melewati apa yang Yesus alami. Bagaimana supaya bisa melewati ketidaknyamanan ini? Belajar dari yang pernah menjalaninya dengan sempurna yaitu Yesus.

Ketidaknyamanan inilah proses yang membuat kita semakin kuat dan bisa bertahan di dalam iman kita. Saat kita merasa tidak nyaman, lihat itu sebagai sebuah proses pembentukan kita menjadi seorang prajurit yang setia. Melalui keadaan yang sulit, kita akan bisa melihat kualitas hidup kita. Apakah kita orang yang bisa menjadi orang yang bertahan atau tidak. Karena dengan proses keadaan yang sulitlah kita akan semakin dibentuk.

Melakukan segala sesuatu yang benar tidaklah mudah. Jika memang mudah, semua orang akan suka melakukan yang benar. Itulah sebabnya lebih sulit untuk kita berkata benar daripada yang salah. Lebih sulit untuk mengampuni daripada membalaskan dendam. Lebih sulit untuk menjadi egois daripada murah hati. Ini adalah kesulitan dalam mengikuti Kristus dengan kekuatan sendiri.

Tetapi Yesus dapat melewati itu semua dengan sempurna. Jadi Yesus adalah contoh sempurna tentang pengorbanan diri. Jika kita mau seperti Yesus, pertanyaan yang harus kita renungkan adalah “Untuk apakah saya rela mengorbankan segala sesuatunya?”

Kita kadang harus kehilangan materi, waktu, keluarga, bahkan nyawa. Tapi itulah pengorbanan yang sejati seperti Yesus.

3. Menghilangkan Penghalang & Gangguan Tujuan

Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya. | 2 Timotius 2:4

Berapa banyak waktu, uang, dan tenaga yang kita habiskan untuk sesuatu yang bersifat sementara dibandingkan dengan yang bersifat kekal? Dalam hal ini kita harus belajar membuat batasan.

Jadi apa yang sekarang kita mau korbankan untuk supaya kita bisa makin dekat & serupa dengan Tuhan yang menjanjikan kekekalan itu?


ATLET YANG KOMPETITIF

Hidup kita seperti perlombaan lari dimana tujuan kita adalah garis finish untuk memenangkan mahkota dari surga.

cartoon-athlete-winning-race-caricature-smiling-man-crossing-finish-line-77545424

1 Korintus 9:24-27

24) Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!

25) Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.

26) Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.

27) Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.


1. Saya Harus Menjadi Pemenang

Seorang atlet yang memiliki keinginan dan pandangan untuk menang pasti akan berusaha lebih keras dalam menggapai kemenangannya itu, apapun cara atau proses yang akan ditempuh. Tetapi jika atlet itu tidak memiliki pandangan tentang kemenangan yang mutlak, maka dia menjadi atlet yang biasa saja. Contoh dalam bermain golf, seorang atlet pasti akan fokus memukul bolanya sedikit mungkin untuk bisa menang. Tapi orang-orang yang bermain golf tanpa ada keinginan untuk menang hanya bermain sambil mengobrol dan networking.

Seberapa seriusnya kita dalam menjalani perlombaan kehidupan yang benar di hadapan Allah?

16003500-silhouette-winner-man-and-fans-on-grunge-background-illustration-for-design

Jika kita tidak serius, maka tidak heran kita tidak bisa menjadi yang terbaik seperti yang Tuhan rancangkan sesuai janji-Nya. Tidak heran kita tidak bisa menjadi pemenang dalam mengadapi pencobaan hidup. Kita tidak memiliki keinginan yang sungguh untuk menjadi seorang pemenang. Apalagi ingin menjadi orang yang mau berkorban?

Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi. | 1 Timotius 6:12


2. Mendisiplinkan Diri

Kita tidak akan bisa menjadi yang terbaik bila kita tidak disiplin. Dalam kehidupan tidak ada yang namanya jalan pintas untuk menjadi dewasa /bijak. Semuanya harus melalui proses dan kedisiplinan diri untuk mencapainya.

Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” | ‭‭1 Korintus‬ ‭9:24-27

FOCUS2

Seorang pemenang olimpiade mempersiapkan dirinya selama 4 tahun untuk olimpiade berikutnya. Mereka harus mengorbankan waktu tidur, waktu bermain, waktu bersosialisasi, waktu dengan keluarga, dan masih banyak lagi. Bahkan jadwal latihan, makan, serta istirahat pun sudah diatur ketat sedemikian rupa. Lucunya setelah menang, beberapa tahun kemudian tidak akan ada yang mengingat namanya lagi padahal mereka melalukan itu untuk dapat medali yang fana. Kita yang berlomba untuk mahkota yang kekal harusnya lebih serius dalam hal perlombaan ini.

Bagaimana caranya supaya kita bisa menjadi seseorang yang disipilin sementara baru saja kita belajar, sudah kembali lagi seperti semula?

Tidak ada jalan pintas untuk menjadi dewasa dan bijak.

Dalam mendisiplinkan diri, kita suka mengandalkan kekuatan sendiri dengan memiliki keinginan yang kuat. Namun tidak cukup hanya keinginan karena keinginan tidak bisa bertahan. Rata-rata resolusi hanya bertahan 3 bulan. Kita butuh kekuatan yang lebih dan kekuatan itu hanya dapat kita temukan dari Yesus karena Yesuslah yang paling konsisten.


3. Fokus pada Hadiahnya & Penghargaannya

Yesus adalah satu-satunya yang bisa melewati semua sampai dia mati di kayu salib dan menyelamatkan manusia.

Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. | ‭‭Ibrani‬ ‭12:2-3‬


PETANI YANG PRODUKTIF

2 Korintus 9:6-13 – Memberi dengan sukacita membawa berkat

(6) Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.

(7) Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

(8) Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.

(9) Seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.”

(10) Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu;

(11) kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami.

(12) Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah.

(13) Dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang,

 

577a22aa2fcaa-connor-as-mr-handsome-farmerApa yang kita tabur di bumi akan kita tuai di surga. Yesus berfiman sebanyak 5x, “Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di Sorga.” Ini menjadi tanda bahwa Yesus ingin kita benar-benar mengerti dan fokus pada tujuan ini.

Benih yang kita tabur bukan hanya tentang materi tetapi waktu, melayani orang lain, tidak egois, reputasi, talenta, dan hal-hal lainnya. Semakin banyak benih yang kita tabur, maka buah yang akan kita tuai di surga akan berlimpah.

Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; | 2 Korintus‬ ‭9:10‬

Tuhan tidak hanya memberikan benih tapi dia memberi kita roti untuk dimakan. Banyak orang berpikir jika kita menabur semua berkat, maka tidak akan tersisa untuk kita. Tapi Tuhan berjanji tidak akan membiarkan kita kelaparan.

Jangan takut menabur semuanya. Bukan bagian kita untuk memperhitungkan dan mempertimbangkannya. Tuhan akan menyediakannya. Tuhan sudah mencukupkan kita terlebih dahulu.


Untuk bisa memberi yang terbaik, kita tidak bisa mengandalkan kekuatan kita sendiri. Kita harus membangun hubungan dengan pribadi yang bisa melakukan semuanya ini dengan sempurna yaitu Yesus dan minta kekuatan daripadanya yang menuntun langkah kita.


Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. | 1 Korintus 9:25

Advertisements

Categories: Wisdom

Tagged as: , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s