Traveller

Accident In Alpine Mountain, Jepang!

Hari ini saya dan geng berangkat dadi Toyama menuju ke Alpine Mountain. Kami berenam dan ada 1 ibu dari teman saya yang sudah tua. Dari kemarin dia ikut jalan terus menerus bahkan sampai lari-larian supaya tidak ketinggalan kereta. Kita akan balik ke sini nanti.

Saat tiba di entrance, kita harus menukarkan tiket JR Tateyama (9,000 yen) menjadi tiket untuk naik ke atas. Kita akan ditanyakan waktu mana yang akan kita ambil (tidak boleh terlewatkan). Kita akan diberikan travel guide sebelum naik bus menelusuri pegunungan sambil menyaksikan pemandangan gunung dan pinggiran batu salju yang memukau.

Di Alpine Mountain ini ada beberapa checkpoint (setiap checkpoint ada transportasi cable car dan shuttle bus) dan di setiapnya ada tempat-tenpat yang bisa kita nikmati. Pertama bisa melihat Shomyo Falls. Namun karena masih dingin, airnya tidak terlalu deras dan kami tidak diperbolehkan turun dari bus.

Kemudian ada snow corridor yang terkenal di sini dimana kita bisa berjalan di antara dinding salju yang tinggi. Snow wall hampir sama namun lebih tinggi dindingnya tapi saat saya datang sedang tutup.

Kita juga bisa melihat pemandangan gunung salju dari sky point yang menakjubkan, bagi saya pribadi membuat iman saya semakin kuat karena ciptaan-Nya yang megah.

Di Alpine Mountain kita banyak jalan, tanjakan, dan ada salju juga yang cukup licin jadi harus sangat berhati-hati saat berjalan. Saat sampai di Kurobe Dam, kaki ibu ini tiba-tiba sakit. Sepertinya keseleo atau bagaimana jadinya susah jalan. Kami dia sebentar untuk memikirkan solusinya.

Tiba-tiba tercetus dalam pikiran saya untuk menanyakan apakah ada wheelchair. Akhirnya menantu ibu ini menanyakan kepada petugas di sana dan segera diberikan wheelchair. Kami harus berjalan melewati dam yang besar dan kokoh.

Sesampinya di checkpoint selanjutnya, ada petugas yang melihat kami menggunakan wheelchair. Petugas itu mendatangi dan menawarkan kami untuk diantar ke bus. Ini sesuatu sekali. Kami makan siang curry yang konon enakdi restoran sana. Setelah itu kami turun dan menanyakan petugas tentang pengantaran.

Benar saja, seorang petugas mengantarkan kami melalui jalan pintas. Kami mendapat akses masuk ke lorong-lorong ke tempat yang dipalang. Kami berjalan di jalan tanpa orang sehingga tidak perlu kesusahan mendorong wheelchair dan saat masuk ke dalam, kami tiba di kumpulan orang sedang mengantri.

Petugas baik yang berjaket orens ini meminta ijin untuk lewat dan membawa kami bertemu dengan dua petugas berserag lain untuk menceritakan kondisi kami. Kami mendapatkan priority boarding dimana kami bisa naik paling pertama ke dalam bus yang mengantar kami ke Ogizawa.

Tidak hanya itu. Setibanya di Ogizawa sudah ada petugas dengan wheelchair dan tatakan penyambung untuk turun dari bus yang diperuntukkan khusus bagi kami. Petugas memastikan sampai akhirnya ibu teman saya sampai di kota Nagona (dimana saya dan yang lain berpisah dengan mereka untuk mengambil koper). Kabar terbaru mereka sudah dibantu petugas ditanyakan ke rumah sakit namun tidak ada dokter yang mau terima karena sudah lewat jam 5. Saya masih bingung kenapa jam kerja dokter hanya sampai jam 5. Mungkin hanya ada klinik di sana? Tidak tahu juga.

Saya salut dengan kebaikan dan ketulusan orang Jepang dalam membantu orang. Mereka berusaha semaksimal mugkin tanpa pamrih untuk memberikan pelayanan terbaik. Sangat kebalilan dari apa yang masih saya saksikan di negara saya.

Setiap berpapasan secara tidak sengaja seperti mau bergantian toilet atau mau melewati atau mau menurunkan bangku train, mereka pasti menunduk dan berbicara lembut ‘onegaizimas’ atau perkataan lainnya yang mungkin berarti permisi.

Saya pernah naik taxi dan memberitahu tujuan saya tapi sopir malah memberitahu sebelum kita jalan bahwa ada jalan yang lebih mudah menggunakan bus. Orang-orang di sana juga kebanyakan saat ditanyakan sesuatu berusaha menjawab sebisa mungkin dengan pengertian bahasa yang sangat terbatas. Kemudian mereka bisa self service setelah makan sehingga tidak meninggalkan sampah dan tempat yang tidak nyaman untuk orang berikutnya.

Ketidaknyamanan yang kita alami hari ini membuka mata saya bahwa memang budaya melayani seharusnya menjadi yang utama dalam hidup karena bagaimanapun juga kita tidak hidup sendirian dan kita memerlukan orang lain untuk dibantu maupun membantu.

Be blessed!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s