Experiencer

Cara Mengenali Teman Sejati

Saya tahu semua pasti pernah mendengar istilah bahwa teman sejati selalu ada dalam suka maupun duka (bukan hanya pasangan suami istri saja loh). Ijinkan saya menyampaikan sedikit kisah hidup saya yang terjadi hari ini.

Kamis kemarin salah satu saudara dekat saya kehilangan adik perempuannya dimana saya juga adalah saudaranya. Saudara saya harus mengurus semuanya sendirian karena mama dan adik perempuan satunya berada di luar dan tidak bisa kembali karena alasan tertentu. Papanya belum bisa diharapkan. Ada kakak perempuan angkatnya yang bisa membantu juga untungnya walaupun agak terhalang karena dia sudah berkeluarga.

Pada saat penutupan peti ada cukup banyak teman gereja saudara saya yang datang mengikuti ibadah penghiburan. Beberapa di antaranya adalah teman-teman baiknya. Ada beberapa orang juga dari gereja saya yang datang karena saudara saya dulunya sempat gereja di tempat saya.

Tiba di hari ini pada saat kremasi saya tidak melihat satupun teman-teman baik saudara saya yang ikut mengantar. Hanya saudara-saudara dan paman bibinya saja termasuk mama saya yang siap datang pagi untuk mengantar ke tempat kremasi.

Padahal seharusnya ada doa untuk penghiburan dan pelepasan kepergian jasad pada saat hari kremasinya, tapi kenapa tidak ada satupun orang yang mewakili gereja saudara saya yang datang memimpin doanya. Hal ini akhirnya membuat paman tertua saya cukup kesal dan meremehkan kepercayaan agama saudara saya. Saudara saya yang tidak mau merepotkan pihak gereja hanya berkata nanti biar kita yang doa sendiri dan dia malah menunjuk saya untuk memimpin doa.

Dalam hati tentunya saya sangat tidak siap. Saya paling tidak bisa mendoakan keluarga yang berdukacita. Ini harusnya dilakukan oleh pendeta gereja saudara saya atau gembala sidang gerejanya, tapi kenapa oleh saya yang notabene tingkat paling tinggi cuma pemimpin komsel saja di gereja?

Tapi karena saudara-saudara yang lain setuju, bahkan mama saya menyarankan saya yang memimpin doa karena saya yang lebih bisa, akhirnya saya yang tidak percaya diri semakin tidak percaya diri haha. Kami hanya berdoa sebentar sebelum berangkat karena saya masih sangat bingung apa yang harus didoakan.

Setibanya di tempat kremasi, saya terus menelepon beberapa teman saya yang cukup mengerti tentang doa kremasi tapi tidak ada yang mengangkat karena sedang mereka sedang doa untuk ibadah. Paman tertua saya sampai menepuk saya dan berkata, “Doa yang bener lu!” Makin guguplah saya, saudara-saudara. Bahkan salah satu saudara saya sampai mencarikan saya artikel di google namun panjang sekali weh. Beberapa menit sebelum saya harus berdoa, akhirnya dua orang menelepon saya secara berurutan dan memberikan gambaran acara serta apa yang harus didoakan.

Singkat cerita semua berlangsung dengan lancar dan saya mendapat ilmu baru yaitu bagaimana mendoakan keluarga yang akan mengkremasi kerabat mereka. Terima kasih untuk dua penolong saya, Irawan dan Hutagalung haha. By the way, ceritanya mulai melantur.

Tapi itulah yang terjadi akibat tidak adanya pendeta atau siapapun yang membantu jalannya acara kremasi hari ini. Saat makan siang saya menanyakan saudara saya kenapa tidak ada yang datang dari gereja dia selain adik angkatnya. Saudara saya menjawab bahwa mereka ada ibadah dan acara yang tidak bisa dialihkan karena ada jemaat yang datang dari jauh juga. Teman-teman baiknya semua pelayanan di hari Minggu dan dia tidak mau merepotkan mereka juga.

Mendengar itu, apa yang akan terbesit dalam pikiran kalian? Yap. Memang pelayanan itu penting, tapi pelayanan itu akan selalu ada di setiap minggu. Momen teman baik yang kehilangan hanya akan ada seumur hidup sekali. Sebagai seorang teman, bukankah kita harus berinisiatif mengubah jadwal kita untuk orang yang kita peduli?

Dalam hal ini saya tidak bilang kalau saya adalah teman sejati karena saya masih ada hubungan saudara, tapi hari ini saya punya 2 pelayanan yang saya akhirnya tolak demi kremasi.

No one has ever become poor by giving.

Memberi diri jauh lebih berarti daripada memberi materi. Teman yang sejati bukan terlihat pada saat kita sukacita (saya mau koreksi sedikit), tapi hanya di dalam dukacita. Apakah mereka akan berinisiatif untuk mengesampingkan semua kepentingan mereka hanya untuk sekedar saja bersama kita?

Saudara saya yang lebih muda pun bisa mengatakan bahwa datang menemani ke sini pun adalah melayani juga. Ya, tepat sekali. Itu adalah service of presence, pelayanan kehadiran.

Kehadiran jauh lebih berarti daripada sekedar perkataan.

Saya tidak bermaksud menghakimi. Tapi saya hanya melihat dan mempelajari bahwa di dalam hidup ini, memang kadang kita capek atau malas untuk sekedar hadir di samping sahabat kita saat sahabat kita sedang di dalam duka (termasuk saya sendiri juag suka merasakan itu). Bahkan rasanya malas sekali untuk sekedar datang ke rumah duka.

Kita punya kesibukan dan kepentingan sendiri. Kita punya keluarga dan pekerjaan. Tapi jika memang kita benar-benar peduli dan kasih, kita akan meluangkan waktu, tenaga, dan materi untuk berada bersama orang tersebut sampai selesai, bukan hanya sampai penutupan peti.

Saya akan lebih mengingat orang-orang yang datang pada saat saya sedang berada di dalam duka daripada saat saya berada di dalam suka.

Rest in peace for my cousin. Saya dan yang lain percaya bahwa walaupun debu-debu yang dibuang ke lautan yang luas pasti akan Tuhan kumpulan kembali pada hari kebangkitan dan membentuknya kembali menjadi tubuh kemuliaan yang sempurna. Dan kami orang-orang yang ditinggalkan akan tetap hidup sungguh-sungguh di dalam Tuhan dengan iman dan pengharapan bahwa suatu hari nanti akan berkumpul kembali bersamamu.

Be blessed!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s