Believer

5 Hal Yang Harus Dipelajari Dalam Keluarga

Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia. | Lukas 2:52

Semakin dewasa, Yesus semakin bertumbuh. Yesus tidak mungkin bisa bertumbuh dengan baik jika tidak berada di dalam keluarga yang mendorong pertumbuhannya. Keluarga yang luar biasa mendorong pertumbuhan. Mereka menciptakan suasana belajar seumur hidup. Mereka saling membantu bertumbuh. Mereka mendorong penemuan karunia dan kemampuan spiritual setiap anggotanya.

Jika kita tidak sedang bertumbuh, keluarga kita pasti membosankan. Jika kita tidak mempelajari sesuatu yang baru atau mengembangkan minat baru dalam waktu yang lama, kita tidak sedang bertumbuh!

Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.1 Tesalonika 5:11

loving-quotes-about-family

Ada beberapa hal yang tidak akan pernah kita pelajari jika kita tidak mempelajarinya dalam keluarga. Kita tidak bisa mempelajarinya di sekolah ataupun tempat kerja. Kita hanya bisa mempelajarinya di dalam keluarga kita.

Bahkan kebanyakan masalah orang-orang dewasa datang karena kita tidak belajar hal-hal tertentu dengan baik saat masih kecil. Berikut adalah 5 hal yang harus kita pelajari dalam sebuah keluarga.


1. APA YANG HARUS DILAKUKAN DENGAN PERASAAN

Dalam keluarga yang sehat, Anda belajar bagaimana mengenali, mengidentifikasi, mengakui, mengungkapkan, dan menangani perasaan kita.

Keluarga yang luar biasa harus membiarkan semua orang jujur ​​dan membiarkan anak-anak mengekspresikan emosi mereka.

Seseorang yang sedang sedih malah disuruh jangan menangis, tidak ada yang perlu ditangisi. Akibatnya dia menahan perasaannya. Lama kelamaan perasaannya menjadi kebal sehingga dia tidak tahu bagaimana cara mengekspresikan kesedihannya dengan benar. Seorang anak yang marah-marah malah balas dimarahi dan disuruh diam tanpa ditanyakan terlebih dahulu kenapa dia marah dan diajarkan bagaimana seharusnya dia bersikap mengatasi alasannya tersebut.

Akibatnya anak tersebut akan mencari cara untuk menyalurkan perasaannya dan tidak jarang caranya itu adalah cara yang salah. Banyak yang menyalurkan kesedihan, kemarahan, kesendirian, dan perasaan-perasaan lainnya dengan alkohol, obat-obatan, sex, makanan, dan hal-hal yang merusak.

begley_moods_apr16

Budaya di Amerika adalah budaya yang menarik, menurut saya, karena mereka menyampaikan perasaan mereka ketika ada sesuatu yang tidak mereka suka. Ketika saya menonton sebuah acara What Would You Do? yang adalah sebuah prank untuk melihat reaksi orang ketika diperhadapkan dengan suatu keadaan yang tidak menyenangkan, saya mendapat pelajaran berharga.

Salah satu prank-nya adalah tentang seorang anak yang memarahi babysitter-nya. Seorang ibu yang sedang bersama anak-anaknya mendengarkannya segera memberitahu anak itu apa yang dia rasakan. Dia berkata bahwa dia merasa anak itu terlalu kasar. Dia mengatakan bahwa dia merasa tidak ada seorangpun amnusia layak diperlakukan seperti itu. Ibu itu sedang mengekspresikan perasaannya. Dia mengenali perasaannya itu dan dia tidak ragu untuk membagikannya.

Kita harus bisa mengenali perasaan kita sebenarnya dan belajar mengendalikannya.


2. BAGAIMANA MENGHADAPI KONFLIK

Banyak orang dewasa yang tidak tahu bagaimana menghadapi sebuah konflik. Ketika terjadi konflik baik di tempat kerja atau dimanapun, mereka berlaku tidak dewasa. Bahkan tidak jarang yang saling menyakiti.

golemanoct23featuresized

Anak-anak perlu melihat orang tua mereka mengatasi masalah-masalah di depan mereka dan menunjukkan bagaimana menghadapi perbedaan dalam cara yang sehat.

Bagaimana cara kita menghadapi sebuah konflik? Apakah kita memperlakukan orang yang sedang bermasalah dengan kita dengan seenaknya? Sebaiknya tidak. Anak-anak harus diajarkan untuk bisa mengasihi orang lain dan memikirkan solusi yang bisa menyenangkan kedua pihak.


3. BAGAIMANA MENGHADAPAI KEKALAHAN

Banyak anak yang marah ketika kalah. Mereka tidak bisa menerima kekalahan. Ketika diejek karena akan kalah, mereka akan marah. Itulah sebabnya saya diminta membuat drama pada saat membagikan cerita untuk anak-anak sekolah di Sumba. Pesan yang saya bawa adalah “menang bersama lebih baik daripada menang sendiri”. Hubungan jauh lebih berharga daripada menang atau kalah.

Kita tidak mau anak-anak kita menang setiap saat karena ketika mereka keluar ke kehidupan dunia yang sesungguhnya, mereka akan menghadapi kekalahan yang tidak bisa dihindari.

shooting_arrows_target_failure_fail_thinkstock_164453007-100469130-large

Itu akan sangat menyakitkan. Jika mereka tidak siap dengan sakit itu, hal-hal buruk akan terjadi. Mereka bisa depresi. Mereka bisa putus asa. Bahkan tidak jarang yang menyakiti diri mereka sendiri. Kejadian seperti ini banyak kita temukan di Jepang dimana banyak orang yang stress dan tidak bisa mengahdapi kegagalan sehingga mereka melakukan aksi bunuh diri.

Kita semua perlu belajar bahwa kegagalan tidak menghancurkan kita. Kekalahan bukanlah akhir dari segalanya.


4. NILAI APA YANG PALING BERARTI

Nilai-nilai apa yang dimiliki anak-anak kita? Apakah mereka mengasihi? Apakah mereka berpikir seperti Yesus?

Nilai hidup kita akan menentukan pikiran dan tindakan kita.

Sangatlah penting mengajarkan anak-anak kita 3 cobaan dasar dalam hidup supaya mereka tidak terbawa ke dalam nilai dunia. Godaan-godaan tersebut berhubungan dengan apa yang kita rasakan, kita lakukan, dan kita dapatkan dalam hidup; pada dasarnya adalah hawa nafsu, harta, dan status.

Ketika nilai kita adalah hawa nafsu, maka kita akan melakukan segala cara untuk memenuhi hawa nafsu kita. Hidup kita dipimpin oleh hawa nafsu. Yang penting kita puas dan bahagia padahal kebahagiaan ini hanyalah semu.

facebook-lifetime-value

Ketika nilai kita adalah uang, kita menghalalkan segala cara untuk mendapatkan materi. Tidak jarang kita akan merugikan orang lain. Kita cinta akan uang.

Ketika nilai kita adalah status, kita sangat mempedulikan popularitas diri kita. Kita mau tampak baik. Kita sangat mempedulikan pendapat orang lain. Yang terjadi adalah seringkali kita mengenakan topeng.

Tapi jika nilai kita adalah Yesus, maka kita berpikir serta bertindak seperti Yesus. Kita tidak akan pernah berniat untuk merugikan orang lain. Kita mengahrgai orang lain. Kita mengasihi orang lain. Kita tidak merusak diri demi kepuasan sesaat. Kita hidup berintegritas. Nilai kita tetap kuat di dalam Tuhan.


5. KEBIASAAN-KEBIASAAN BAIK

Kebiasaan menentukan karakter kita.

Keluarga harus saling membantu supaya setiap anggotanya bisa bertumbuh dalam karakter seperti Yesus.

Kebanyakan orang tua memanjakan anak-anak mereka dengan gadget dan pembantu rumah tangga yang melakukan segalanya. Akibatnya anak-anak kita memiliki kebiasaan hidup enak dan tidak bertanggung jawab. Mereka merasa semua bisa dikerjakan untuk mereka. Mereka menjadi tidak mandiri. Mereka tidak berani mengambil resiko. Mereka hidup di zona nyaman. Kebiasaan-kebiasaan itu menjadi karakter mereka. Akibatnya ketika mereka melihat keadaan di luar, mereka tidak akan siap dan bingung.

image

Jangan ragu memberikan tanggung jawab kepada anak kita seperti merapikan tempat tidur atau mainan mereka. Ajar mereka untuk menghargai orang lain. Saya, sejak kecil, selalu diajarkan untuk memanggil orang ketika ketemu. Itu diingat oleh paman dan tante saya. Kebiasaan ini membentuk karakter saya menajdi seseorang yang sopan dan mau menghargai orang lain.

Anak-anak juga perlu diajar mendoakan orang lain, memberi, atau berbagi. Kebiasaan-kebiasaan yang terlihat kecil ini akan membentuk karakter yang baik untuk anak-anak kita.


Kelima hal ini memang terkesan sangat kecil dan biasa tapi walaupun begitu memiliki dampak yang besar. Tentunya orang tua harus memberi teladan bagi anak-anak dengan melakukan kelima hal ini terlebih dahulu. Anak-anak cenderung melihat orang tua terlebih dahulu. Lagipula ketika anak-anak kita berbuat nakal, pasti yang disalahkan orang tua.

Anak-anak adalah cerminan orang tua.

Anak-anak yang disiplin mencerminkan orang tua yang disiplin. Anak-anak yang menghargai orang lain mencerminkan orang tua yang mengharga orang lain. jadilah contoh untuk anak-anak kita.

Bagaimana jika kita tidak memilih teladan keluarga yang baik? Berhenti menyalahkan keadaan dan keluarga kita. Berhenti tinggal di masa lalu. Kita sudah tahu kebenaran ini dan biarlah kebenaran ini membebaskan kita. Semua harus berhenti di kita. Jangan turun sampai generasi di bawah kita. Pelajarilah kelima hal ini dan kembangkan dari sekarang di dalam kehidupan kita dan keluarga kita.

Be blessed!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s