Believer

Saya Kasih Score 10/10 Buat Film Overcomer!

Senang sekali bisa menonton film Overcomer yang masuk ke bioskop Cinemax yang ada di Jakarta. Ini adalah film produksi Kendrick Brothers yang terus saya ikutin sejak saya menonton film Facing The Giants. Yang mau tahu film-film sebelumnya, inilah dia: Flywheel, Facing The Giant, Fireproof, Courageous, War Room, & Overcomer. Saya paling suka Fireproof dan Overcomer ini. Review saya ini, ngomong-ngomong, mengandung spoiler ya.

Cerita di film Overcomer ini berpusat pada seorang pelatih bola basket SMA, John Harrison, yang harus menerima perubahan atas tim basketnya sehingga dia setuju untuk melatih Hannah Scott, seorang remaja perempuan yang adalah seorang pelari yang tidak seperti kebanyakan orang karena dia menderita asma dan harus mendorong dirinya supaya menang.

Cerita berlanjut ketika John secara tidak sengaja bertemu dengan seorang pria buta di rumah sakit yang ternyata adalah ayahnya Hannah yang meninggalkan Hannah saat masih kecil. Pria ini menginspirasi John dengan firman Tuhan dan doa untuk melatih Hannah. Hannah pun dipertemukan dengan ayahnya dan dia mengalami kesulitan untuk mengampuni ayahnya, begitu juga dengan neneknya Hannah.

Banyak pelajaran yang menginspirasi saya dalam film ini dan meneguhkan saya untuk menjalani kehidupan ini. Mari saya jabarkan sebisa saya.


1. WHO ARE YOU?

Pertemuan John dengan Thomas memang tidak terduga. Saat John berpamitan, dia berjanji akan mendoakan Thomas. Setelah mengalami kesulitan untuk melatih Hannah, John kembali kepada Thomas untuk meminta masukan. Pertanyaan “Who are you?” ini pun keluar dari mulut Thomas.

cameronarnett_hdv_0

Jawaban dari John mungkin sama dengan kita ketika kita diperhadapkan dengan pertanyaan yang sama. Kita adalah seorang pelatih, guru, pengusaha, penari, pemusik, penyanyi, atau apapun itu yang merupakan pekerjaan kita. Tapi pertanyaan berlanjut dengan siapa kita ketika pekerjaan kita diambil dari kita. John menjawab bahwa dia seorang suami dan ayah. Tapi setelah ditanya lebih dalam, John menjawab bahwa dia adalah seorang Kristen.

Respon dari Thomas begitu menyentak. Dia mengatakan bahwa John tidak sedang bersikap sebagai seorang Kristen yang percaya kepada Tuhan. John begitu putus asa dan merasa bahwa Tuhan tidak ada bersama dengan dia. Bahkan ketika Thomas bertanya apakah John mendoakannya, John lupa untuk berdoa. Kita mengaku sebagai orang percaya tapi kita bertindak seakan-akan kita tidak percaya dan kenal dengan Tuhan.

Seberapa sering kita bertindak sebagai orang yang benar-benar percaya Tuhan. Kita mengaku mengasihi Tuhan, tapi kita tidak mau mengasihi sesama. Kita mengaku mengenal Tuhan, tapi berdoa dan membaca Alkitab saja kita tidak mau meluangkan waktu. Jika sudah seperti ini, siapaka kita sebenarnya?

Iman tanpa tindakan adalah sia-sia.


2. WHAT DO YOU ALLOW TO DEFINE YOU?

Pertanyaan ini adalah inti dari keseluruhan film ini. Apa yang kita ijinkan untuk mendefinisikan kita? Pekerjaan kita? Hubungan kita? Status kita? Harta kita? Masa lalu kita? Ataukah Tuhan kita?

Banyak dari kita yang merasa bahwa pekerjaan kitalah yang menentukan siapa kita. Pada akhirnya kita akan mengejar pekerjaan kita lebih dari apapun. Kita tidak puas hanya dengan satu pencapaian. Atau harta kita yang menentukan siapa kita? Kita akan merasa harga diri kita begitu tinggi saat kita memiliki harta berkelimpahan. Tapi ketika harta itu hilang, maka hancurlah hidup kita.

Kita bisa mendefinisikan hidup kita dengan masa lalu kita juga. Kita mungkin pernah disakiti di masa lalu. Kita mungkin mengalami trauma dan rasa bersalah di masa lalu. Kita sulit untuk mengampuni sama seperti Hannah dan neneknya yang tidak bisa mengampuni Thomas. Ketika masa lalu yang menentukan kita, maka kita tidak akan mau mengampuni. Kita hidup di masa lalu. Kita menyimpan sakit itu. Kita menyimpan pahit itu. Kita memiliki kebiasaan buruk. Bahkan kita menganggap diri kita tidak akan bisa berubah karena masa lalu sudah membentuk kita sedemikian adanya.

Satu hal lagi. Hidup kita bisa juga ditentukan oleh orang lain. Kita berusaha sebisa mungkin menjadi apa yang orang lain inginkan kita menajdi. Orang tua kita menaruh ekspetasi terhadap kita. Pasangan kita juga bisa. Begitu juga dengan guru, atasan, dan orang-orang lainnya. Pada akhirnya hidup kita fokus untuk menyenangkan semua orang. Kita melupakan siapa kita sebenarnya dan alasan serta tujuan kita diciptakan karena kita menjadi ciptaan orang lain, bukan Tuhan.

Tapi semua itu akan berubah jika kita mengijinkan Tuhan yang mendefinisikan hidup kita. Hannah yang akhirnya menemukan Tuhan dalam hidupnya dengan bantuan gurunya diminta untuk membaca Alkitab di Efesus 1 dan 2 dan mencatat apa saja yang Tuhan katakan tentang kita.

Kita akan menemukan banyak pemikiran Tuhan tentang kita. Kita diampuni. Kita dikasihi. Kita kudus dan tidak bercacat. Kita dipilih. Kita milik Allah. Kita ciptaan Allah. Kita berharga. Kita ditebus. Kita diselamatkan. Kita dipilih. Kita diberikan kuasa. Kita adalah anak-anak Tuhan.

Ketika kita menerima identitas kita yang datang dari Tuhan, kita menjadi ciptaan baru. Tidak ada lagi yang bisa mendefiniskan diri kita selain Tuhan.

Mau orang lain mengatakan bahwa kita tidak bisa, tidak kaya, tidak berharga, tidak mampu, dan lainnyal itu tidak menentukan diri kita karena identitas kita aman bersama Tuhan.

Setelah Hannah membiarkan Tuhan yang menentukan identitas dia, dia sanggup mengampuni ayahnya karena dia sudah diampuni oleh Tuhan. Kasih dan kuasa Tuhanlah yang memampukan dia untuk mengalami rekonsiliasi dengan ayahnya. Dan yang paling menyentuhnya, Hannah yang suka mencuri barang orang lain memutuskan untuk mengembalikan semua barangnya dan meminta maaf atas perbuatannya.


3. WE ARE OVERCOMERS!

Setelah kita menjadi ciptaan baru, kita menjadi pribadi yang lebih percaya diri. Kita tidak akan menganggap diri kita rendah. Kita tidak akan menceburkan diri kita dalam dosa karena kita kudus.

Kita suka beralasan dari dulu sudah begini. Dari lahir sudah begini. Tapi kita bisa mengubah kebiasaan buruk atau gaya hidup tidak benar kita karena kita adalah ciptaan baru, kita sudah lahir baru.

Ada kuasa yang jauh lebih besar dari diri kita dan segala yang ada di alam semesta; dan kuasa itu sanggup mengubahkan kita. Kuasa itu sudah mengalahkan dunia.

Hannah, pada akhir film, mengikuti perlombaan maraton terbesar di wilayahnya dan dia sudah memiliki banyak teman yang mendukung dia, termasuk pelatih John dan keluarganya. Hannah berhasil memenangkan perlombaan maraton bersama dengan ayahnya yang memandu dan memotivasi di sepanjang perlombaan. Kalian tahu apa maksud dari ini? Biar saya jelaskan.

Hidup ini bagaikan sebuah perlombaan dan kita sedang berlari menuju garis akhir.

Kita bisa jatuh dan bangun lagi. Kita bisa babak belur. Kita bisa merasa mau menyerah. Tapi ada dua hal yang perlu kita miliki saat berlari di perlombaan kehidupan ini. Pertama, kita butuh orang lain yang mendukung kita. Kita tidak bisa sendirian. Kita butuh komunitas orang-orang yang sevisi dan memiliki kepercayaan yang sama dengan kita supaya kita bisa semakin bertumbuh.

Dan yang kedua serta yang terpenting adalah miliki hubungan dengan Tuhan yang adalah Bapa kita. Hannah terhubung pada ayahnya saat berlomba dan dia menang.

Jika kita mau menjadi seorang pemenang dalam kehidupan kita, selalu terhubung pada Bapa di surga.

Biarkan Dia yang memandu kehidupan kita. Biarkan Dia yang memotivasi kita. Bersama Bapa, kita semua adalah pemenang!


Be blessed!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s