Ketahui Ini Sebelum Memuji Tuhan


Pujian adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan sebagai orang percaya. Di dalam ibadah kita suka memuji Tuhan dengan bernyanyi. Ketika hal baik terjadi, kita memuji kebaikan Tuhan. Memuji Tuhan itu sebenarnya adalah sesuatu yang sederhana tapi banyak orang yang beranggapan salah ketika datang memuji Tuhan. Biarkan saya coba membantu memberikan anggapan yang benar tentang memuji Tuhan.

Pujian bukanlah tentang gaya atau perasaan kita, tapi pujian adalah semua tentang Tuhan.

Bahkan ini bukanlah tentang memujiTuhan atas sesuatu. Kita memuji Tuhan untuk Tuhan itu sendiri. Pribadi-Nya sendiri sudah sangat layak dipuji. Kita tidak perlu sesuatu yang baik terjadi atau pemimpin pujian yang sanggup menggerakkan emosi kita atau band yang pandai bermain musik. Ketika kita memuji Tuhan, kita hanya perlu memikirkan siapa Tuhan kita.

Gaya atau musik bisa saja berbeda. Gaya memuji serta musik anak muda dan orang tua bisa berbeda. Namun Roh dibelakangnya tetap sama.

i-dare-you-to-praise

Lucunya adalah dunia lebih baik dalam mengekspresikan pujian mereka daripada orang-orang percaya. Jika kita pergi ke konser, kita bisa menemukan orang-orang (atau bahkan kita sendiri) berteriak histeris, menyanyi bareng, melompat-lompat, dan bahkan menangis berjam-jam tanpa ada satu orang pun yang mengatakan itu aneh atau tidak wajar. Mereka menyebutnya normal , menyenangkan, dan pengalaman yang luar biasa. Tapi ketika hal yang sama terjadi ketika kita meresponi Tuhan kita, orang-orang mengatakan bahwa itu aneh, tidak wajar, atau lebay.

Kita bahkan belum pernah bertemu para penyanyi di konser tersebut. Mereka tidak mengenal kita. Mereka tidak mengubahkan hidup kita dan kita malah menjadi gila ketika meresponi mereka beraksi. Tapi kita memuji Tuhan yang sudah mengubah hidup kita, Tuhan yang benar-benar mengenal kita, dan Dia adalah Tuhan yang sangat luar biasa. Jadi seharusnya kita berteriak lebih keras daripada saat di konser. Ketika kita tahu siapa Tuhan kita dan apa sajayang telah Dia perbuat untuk kita, berteriak, bertepuk tangan, dan menari bukanlah reaksi yang berlebihan.

Doa itu berkuasa, tapi kita harus memulainya dengan pujian. Ketika kita berdoa dengan mengawali pujian, kita sedang mengatakan kepada masalah-masalah yang akan kita bawa dalam doa bahwa apapun yang sedang terjadi, kita punya Tuhan yang memegang kendali dan sanggup memberikan jalan keluar.

Doa Bapa Kami dimulai dengan ‘Bapa Kami di surga’, bukan ‘Masalah kami di bumi’.

Doa dimulai dengan memindahkan fokus kita kepada Tuhan. Kita berdoa dengan iman yang lebih saat kita mengingat betapa baik dan berkuasanya Tuhan yang kepada siapa kita berdoa. Masalah-masalah kita pun akan terlihat kecil.

Alih-alih mengeluh kepada Tuhan tentang masalah, banggakan Tuhan atas masalah-masalah kita.

Ketika kita mengatakan kepada masalah kita siapa Tuhan kita, itu membuat Tuhan kita menjadi subjek kita. Pujian memaksa masalah kita untuk melihat kepada Tuhan.

Jika kita merasa dikepung oleh masalah, sebaiknya pastikan masalah tersebut mendengar betapa baiknya Tuhan.

Pujian harus menjadi respon pertama kita atas segala sesuatu yang sedang terjadi dalam hidup kita.

Jadi masih tidak mau memuji Tuhan?

Be blessed!

2 Thoughts

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s