Bebas Dari Pengalih Produktivitas


Akhir dari produktivitas kita yang tinggi adalah kecanduan pada aktivitas yang mengalihkan perhatian.

Yes, ada yang pernah merasakan seperti itu? Ketika kita mau berproduktivitas tapi kita malah melakukan hal-hal lain yang mengalihkan perhatian kita dari itu. Sebut saja ketika kita mau berolahraga, namun hiburan di Netflix atau YouTube begitu memakan waktu sampai malas untuk bergerak. Atau saat waktunya menulis, tapi menghabiskan waktu di media sosial kelihatan lebih menyenangkan.

Kecanduan terbesar saya adalah semua hal yang ada di genggaman tangan saya ataupun yang ada di televisi. Dengan menonton Netflix atau berselancar di media sosial, saya akan menghabiskan berjam-jam yang seharusnya saya habiskan untuk berkreasi.

Ada 3 sikap yang harus kita ambil ketika datang kepada pengalih-pengalih tersebut.

1. Kita boleh menikmati benda-benda tersebut, tapi jangan terikat padanya.


Pertanyakan ini kepada diri kita, apakah kita menghabiskan waktu lebih banyak dengan hal-hal yang tidak produktif? Ketika kita berkomitmen melakukan sesuatu yang produktif, apakah kita mudah untuk dialihkan? Saat bersama orang lain, apakah kita lebih sering sibuk dengan benda-benda elektronik daripada fokus kepada orang-orang tersebut? Apakah ketika bosan, kita lebih memilih untuk menatap layar kaca? Apakah kita merasa sangat tidak berdaya ketika hp kita ketinggalan?

Jika jawabannya adalah iya, maka bsia dikatakan kita terikat dengan benda-benda tersebut. Kita harus ingat bahwa benda-benda tersebut diciptakan oleh manusia untuk memudahkan kehidupan kita tapi bukan berarti kita harus begitu terikat dengan benda-benda tersebut sampai menjadi malas dan tidak menghasilkan hal-hal yang positif.

Banyak yang begitu terikat dengan game sampai menghabiskan banyak uang untuk membeli barang-barang semu di dalam game itu. Bukannya menghasilkan tapi malah menghabiskan.

Salah satu cara agar kita bisa menikmati tanpa terikat adalah dengan memberi batasan waktu dan disiplin melakukannya. Saya memasang waktu di media sosial saya maksimal 2 jam dan ketika sudah melewati batas maka saya akan diberi peringatan. Saya juga mengatur mode “Do Not Disturb” di atas jam 10 malam yang otomatis mematikan semua notifikasi hp saya.


2. Kita boleh memilikinya, tapi jangan biarkan itu mendasarkan identitas kita pada benda tersebut.

Semua pasti setuju apa yang diperlihatkan di media sosial bukanlah 100 persen orisinil. Selalu ada editan atau hal-hal yang baik yang mau kita perlihatkan di sana. Jika sudah tahu begitu, kenapa masih banyak manusia yang mendasarkan identitas mereka dengan yang kelihatannya sempurna tapi nyatanya tidak?

Kita mau makan makanan yang lagi hype. Kita memakai barang-barang yang digunakan artis. Kita sibuk memperlihatkan identitas kita sebagai orang yang baik dan menyenangkan untuk dilihat orang-orang yang sebenarnya tidak terlalu peduli dengan kita (mereka hanya peduli sejauh like dan komen, biasanya). Pada akhirnya banyak yang berpura-pura.

Begitu juga dengan kisah-kisah di dalam layar kaca. Kita bisa begitu tersentuh dengan cerita-cerita persahabat dan percintaan di dalam drama korea, tapi apakah kita memiliki hubungan seperti itu dengan kekasih kita atau sahabat-sahabat kita?

Ada 1 ungkapan dalam film Itaewon Class yang menurut saya sangat bagus. Perkataan ini dikeluarkan oleh seorang transgender yang harus mengaku di depan publik.

Dia mengatakan bahwa dia tidak membuktikan dirinya kepada orang lain. Alasan dia berdiri saat itu adalah karena ada orang-orang hebat di membuatnya tetap kuat. Orang-orang itu mengeluarkan yang terbaik darinya.

Saya menonton itu begitu terpukau dengan kalimat yang diciptakan penulis scriptnya, tapi saya jadi bertanya-tanya apakah selama ini ada orang-orang yang seperti itu dengan saya? Apakah saya sudah menjadi orang seperti itu untuk orang lain?

Milikilah sesuatu yang nyata. Apakah identitas kita sudah benar atau hanya untuk terlihat baik saja di layar kaca?


3. Kita boleh menghargainya, tapi jangan membutuhkannya

Memang barang elektronik itu harganya mahal-mahal, saya akui itu. Jatuh saja rasanya sesak di dada. Apalagi kalau udah jatuh ditambah lect dan bopak dimana-mana karena lupa pakai casing ditambah LED yang retak (curcol jadinya). Tapi bukan berarti dunia akan kiamat, bukan?

Saya pernah melihat seornag anak kecil yang menjatuhkan hp ibunya. Ibunya yang emosi langsung memukul si anak sampai anaknya menangis kencang. Apakah hp lebih berharga daripada anak?

Apakah benda-benda elektronik sekarang sudah menjadi kebutuhan premier kita sampai lebih baik kita tidak punya makanan daripada tidak punya hp?

Ketika bekerja, jauhkan hp dan TV dari kita. Saya melakukannya dengan mencari tempat yang jauh dari TV atau meletakkan hp saya jauh dari gapaian tangan saya. Saya bisa menaruhnya di ujung kamar atau di bisa saja taruh di ruangan lain (asal jangan sampai hilang ya, ingat mahal!).

Ada baiknya juga kita melakukan puasa gadget untuk memfokuskan kembali hidup kita yang sesungguhnya. Apakah hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita lebih baik dari hubungan kita dengan para followers kita? Tentunya kita lebih membutuhkan mereka daripada followers kita, bukan? Kalau jawabannya tidak, berarti kalian sudah rusak!


Semakin kita melindungi diri terhadap barang-barang tak bermakna itu, semakin lapar kita akan visi kreatif dan cita-cita yang penting sehingga bakat dan kecerdasan kita akan terungkap dan meningkat dengan pola moral yang tentunya lebih baik.

Sudahkah kita mengatur waktu kita untuk menjauhi para pengalih ini?

Be blessed!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s