Belajar Dari Masa Karantina


Sudah lebih dari 2 bulan saya di rumah saja. Saya sih senang-senang saja karena saya orangnya ambivert rada ke introvert. Saya malah bisa aktif berbagi dengan blog saya setiap hari, betul saudara-saudara pembaca tercinta?

Setelah sekian lama akhirnya kemarin salah satu teman saya mengajak konferensi video bersama teman-teman yang lain. Biasanya saya yang mengajak tapi karena sudah cukup saya mengalami penolakan jadinya ada yang berinsiatif (Thanks, God!).

Ini dinamakan komsel online dan walaupun tidak semua anggota nongol, tapi berdelapan itu sudah cukup harusnya.

Tadinya cuma mau ngobrol-ngobrol tapi karena sudah lama tidak sharing-sharing firman, saya langsung mencari bahan 1 yang simple dan saya bagikan ke mereka. Saya bagikan tentang poin nomor 7 di blog saya yang judulnya ‘Hadapi Stress Saat Pandemi Dengan 7 Cara Ini’.

Tapi dari sharing dan diskusi saya malah belajar dari yang lain tentang masa karantina ini. Pelajaran apa saja sih yang bisa kita dapat dari masa pandemi ini?


1. ISTIRAHAT

Sekolah kale pakai istirahat? Tapi bukankah emang istirahat itu penting ya sampai sekolah dan kantor aja ada jam istirahat? Banyak ornag yang saya kenal terlalu sibuk dengan ambisi mereka sampai tidak ada waktu untuk istirahat.

Di momen seperti inilah kita bisa memikirkan kembali apa sebenarnya tujuan kita hidup? Untuk apa kita ada di dunia ini? Bagaimana selama ini kita memperlakukan diri kita dan orang sekitar kita? Bagaimana kita memperlakukan bumi kita (karena bumi kita akhirnya juga bisa istirahat)?

Gunakan saat istirahat ini untuk introspeksi diri. Hal-hal apa saja yang bisa kita syukuri? Karakter seperti apa yang mau kita miliki? Kita mau dikenal sebagai apa? Kehidupan seperti apa yang kita mau ke depan?


2. KARAKTER

Masih lanjut dari poin nomor satu dimana kita refleksi diri tentang karakter kita. Di saat pandemi ini karakter kita sedang diuji. Apakah kita menjadi lebih baik dalam karakter? Apakah kita menjadi lebih sabar dan peduli terhadap keluarga, teman, komunitas, dan orang lain?

Saya sendiri membentuk karakter yang lebih disiplin dengan bangun pagi setiap hari. Ingat, karakter dibentuk oleh kebiasaan kita. Kebiasaan apa yang kita tanam di hari-hari ini? Jangan sampai malah kebiasaan kita menjadi kacau karena kita bisa bangun siang dan nonton drakor sepuas kita ya.

Yang punya kebiasaan baik, pertahankan itu. Yang mau punya kebiasaan baik, kerjakan dari sekarang karena dibutuhkan 21 hari untuk menanam kebiasaan. Jadi masih ada waktu, tidak ada kata terlambat.


3. KREATIF

Otak pun berputar. Penghasilan berkurang, bahkan menjadi rugi. Kita harus bertahan, beradaptasi. Akhirnya kita perlu menjadi kreatif. Daripada tidur dan nonton TV, kenapa tidka mulai menghasilkan sesuatu. Saya masih terus menggali ide untuk YouTube dan masih syuting YouTube walaupun susah kemana-mana. Saya masih berkarya melalui blog. Ide-ide baru pun terus berdatangan dan saya masih harus memfilter semua itu karena terlalu banyak hal yang mau saya kerjakan.

Jadilah kreatif. Saat ini jualan makanan dimana-mana. Ibu-ibu rumah tangga malah menjadi koki. Banyak orang menemukan keahlian baru di saat pandemi seperti ini. Kalian mau beralasan tidak kreatif? Not right! Tuhan kita itu kreatif dan kita diciptakan sesuai dengan gambar-Nya. Jadi kalau Pencipta kita kreatif, pastinya kita juga kreatif. Kalau kalian tidak kreatif, berarti ciptaan siapakah kalian? Eng ing eng! Jrep!


4. BERKAT

Sudahkah kita membantu orang lain? Karena kita hidup tidak sendirian. Daripada kita mengomentari YouTuber yang nge-prank dengan sampah, lebih baik kita melakukan sesuatu atau at least memberikan sesuatu untuk masyarakat kita.

Ini juga adalah ujian untuk karakter saya karena di saat saya sedang krisis keuangan, saya juga belajar untuk tetap memberi dalam kekurangan. Banyak organisasi dimana kita bisa menyumbangkan materi atau tenaga kita. Yang menyumbangkan tenaga tetap berhati-hati dan ikuti peraturan ya.


That’s it! 4 pelajaran yang saya ambil dari komsel saya kemarin bersama teman-teman tercinta saya. Selalu ada sisi positif dari segala peristiwa termasuk pandemi ini. Kita memang tidak bisa mengendalikan pandemi ini tapi kita bisa mengendalikan respon kita.

Kita bisa memutuskan apa yang mau kita kerjakan di waktu ini.

Jadi jangan cuma adem ayem doang anget-anget eek ayam. Tapi belajarlah! Manusia itu pintar, bukan bodoh.

Be blessed!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s