Sudah Kerja Keras & Berhemat Tapi Tetap Berkekurangan? Mungkin Ini Penyebabnya


Fakta banget ga sih? Sudah kerja capek-capek dan sudah hemat 7 keturunan tapi kenapa hidup saya selalu berkekurangan? Hm, mungkinkah ini penyebabnya?

Kemarin pagi saya mendapatkan renungan dari Kitab Amsal tentang memberi. Biarkan saya bagikan beberapa ayatnya.

Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum. | Amsal 11:24-25

Bagaimana mungkin ini terjadi? Bukannya kalau memberi justru kita akan berkekurangan? Aturan macam mana pula ini? Well, itu adalah hukum tabur tuai, sob! Karena itu adalah hal yang dilakukan oleh orang yang murah hati.

Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri. | Amsal 11:17

Ketika kita bermurah hati (memberi), kita sedang berbuat baik bukan hanya kepada orang lain tapi juga kepada diri sendiri. Inilah kebenarannya. Kita adalah orang yang benar saat bermurah hati.

Hasil orang benar adalah pohon kehidupan, dan siapa bijak, mengambil hati orang. Kalau orang benar menerima balasan di atas bumi, lebih-lebih orang fasik dan orang berdosa! | Amsal 11:30-31

Orang benar menerima balasan di atas bumi. Itu berarti saat kita hidup di dunia ini. Banyak orang yang bekerja keras dari pagi sampai malam, lembur, bahkan mengorbankan kesehatan, keluarga, dan banyak prioritas yang seharusnya dia pentingkan lebih dahulu.

Tidak berapa lama setelah saya menerima renungan itu, saya mendapatkan pesan dari grup WhatsApp yang benar-benar menguatkan renungan saya.

Ada kisah lama di Jepang dimana mereka menangkap ikan pada malam hari dengan menggantung lentera di sisi kanan dan kiri perahu. Kemudian mereka mengikat beberapa bebek di sekitar perahu.

Ikan-ikan akan tertarik kepada cahaya dari lentera-lentera tersebut. Saat mereka naik ke permukaan, bebek-bebek ini dengan semangat akan segera menangkapnya. Tapi dengan cepat, bebek-bebek itu akan ditarik ke atas perahu dan dipaksa untuk mengeluarkan ikan sebelum sempat ditelannya. Setelah itu, bebek akan kembali dilepaskan ke air untuk menangkap ikan lagi. Lanjutkan sendiri ceritanya.

Nasib tragis para bawang putih alias bebek-bebek itu sama dengan nasib bangsa Israel dimana mereka menabur banyak namun menuai sedikit (Kitab Hagai mencatatnya). Mereka makan tapi tidak sampai kenyang. Minum tidak sampai puas. Berpakaian tapi tidak merasa hangat.

Nasib bebek-bebek itu bisa dibilang seperti nasib bangsa Israel.

Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang! | Hagai 1:6

Bisa dikaitkan dengan kehidupan jaman sekarang? Sudah tiga seperempat bekerja mampus-mampusan sampai tidak ada waktu untuk keluarga, melayani, berhubungan dengan Tuhan, dan hal-hal penting lainnya; tapi keberhasilan tak kunjung nampak. Yang ada malah jatuh sakit, hubungan keluarga retak atau berantakan, dan kita banyak melewatkan tujuan hidup yang Tuhan inginkan dari kita.

Tuhan sendiri memberikan jawaban atas ini.

Beginilah firman TUHAN semesta alam: Perhatikanlah keadaanmu! Jadi naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah Rumah itu; maka Aku akan berkenan kepadanya dan akan menyatakan kemuliaan-Ku di situ, firman TUHAN. | Hagai 1:7-8

Tuhan meminta kita untuk memperhatikan hidup kita. Apakah yang kita kerjakan itu sudah benar. Benar ya, bukan baik! Baik itu belum tentu benar. Baik menurut kita bisa jadi adalah kesalahan. Apa sih yang benar? Membangun rumah Tuhan. Itu berarti kita memprioritaskan hubungan dengan Tuhan. Kenali kehendak-Nya dan lakukan itu.

Tuhan menginginkan kita untuk dekat dengan-Nya, terhubung dalam keluarga-Nya di dunia (persekutuan), bertumbuh dalam karakter, dan juga melayani sesama kita. Sudahkah kita memprioritaskan semua itu? Sudahkah kita belajr memberi kepad aorang lain.

Memberi bukanlah sekedar memberi harta, tapi juga memberi dalam bentuk energi dan waktu. Kita memperhatikan orang lain. Kita mengasihi orang lain. Kita menyediakan waktu dan energi agar hidup kita bukan untuk diri sendiri.

Hidup ini berat, yes. Semakin berat, bahkan, karena pandemi ini. Tapi…

Hidup akan jauh lebih berat ketika kita tidak lagi memprioritaskan Tuhan.

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. | Matius 6:33

Utamakan Tuhan atas segala kesibukan hidup kita sebab kita belum benar-benar berhasil jika Tuhan tidak terlibat di dalamnya.

Be blessed!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s