Selalu Mengiyakan Orang Lain, Apakah Ini Cara Untuk Berhasil?


Apakah kita salah satu orang ‘YES, MAN’? Alias orang yang sulit mengatakan tidak atau menolak orang lain. Kita selalu mengiyakan permintaan orang lain. Di saat kita yang membutuhkan sesuatu, kita malah enggan meminta.

Ilustrasinya seperti ini. Jessy adalah seorang ibu rumah tangga dengan anak 2 yang berusia 10 dan 8 tahun. Dia harus bangun lebih padi dari semua karena perlu menyiapkan sarapanuntuk suami dan kedua anaknya serta memastikan bahwa kedua anaknya siap untuk berangkat ke sekolah. Suaminya tidak bisa menjemput kedua anaknya jadi dia meminta Jessy untuk menjemput mereka saat jam makan siang nanti.

Jessy juga adalah seorang wanita karir dan seperti biasa, karena kesibukan gandanya sebagai ibu rumah tangga, dia selalu datang telat ke kantor. Pagi itu sedang ada meeting penting dan dia merasa sangat malu saat masuk ke dalam ruangan yang sudah penuh dengan rekan kerjanya. Dia beralasan macet.

Tiba makan siang Jessy sudah siap berangkat menjemput kedua anaknya sekalian makan siang. Tapi tiba-tiba teleponnya berdering. Teman baiknya sedang kesal dan membutuhkan tempat untuk mencurahkan hatinya. Padahal sudah berkali-kali dinasehati oleh Jessy tapi tetap saja teman baiknya melakukan kesalahan yang sama. Ingin rasanya Jessy menutup teleponnya, tapi dia merasa tidak enak. Akibatnya dia terlambat menjemput kedua anaknya, hanya makan sedikit, dan datang telat ke meeting selanjutnya.

Sorenya saat sudah siap pulang, atasan Jessy memanggilnya dan mengatakan bahwa ada data yang perlu disiapkan untuk besok dan dia tahu bahwa Jessy adalah orang yang bisa dia andalkan. Jessy mengeluh dalam hati karena data itu seharusnya sudah disiapkan atasannya dari minggu lalu. Jessy bahkan sempat mengingatkannya beberapa kali. Tapi selama ini Jessy memang orang yang disukai oleh rekan kerjanya dan selalu bisa diandalkan. Atasannya memberikan pekerjaan lebih untuk Jessy kerjakan malam nanti di rumah.

Dalam perjalanan pulang, teman gereja Jessy menelepon dan mengatakan bahwa koordinator yang seharusnya mengurus gathering Paskah berhalangan sehingga memerlukan pengganti. Dia meminta Jessy untuk membantu mengkoordinasi segalanya. Jessy sadar dia sudah punya terlalu banyak tanggung jawab. Bahkan gathering nanti sebenarnya akan dia habiskan bersama dengan suami dan anak-anaknya di tempat lain. Tapi karena dia tidak bisa mengatakan tidak, akhirnya Jessy harus membatalkan liburan bersama keluarganya dan malah menambah pekerjaan lagi.

Setelah makan malam, Jessy sibuk membersihkan segalanya. Suaminya asyik menonton pertandingan bola sedangkan anak-anaknya bermain. Jessy sudah sangat lelah dan dia masih harus mengerjakan pekerjaan yang ditugaskan atasannya malam ini.

Sampai larut malam Jessy mengerjakan semuanya dan saat tiba dia ingin menceritakan keluh kesahnya kepada suaminya, dia sudah terlalu lelah dan suaminya sudah tidur.


Sepertinya kisah hidup Jessy seringkali dialami oleh manusia jaman sekarang. Mereka terjebak dengan selalu mengiyakan segala permintaan. Mereka tidak bisa mengatakan tidak. Bahkan mereka tidak tahu kapan harus mengatakan ya dan bagaimana untuk mengatakan tidak. Akibatnya mereka tidak bisa mengendalikan kehidupan mereka.

Kita mau menjadi orang yang disukai makanya kita menurut. Kita tidak mau melukai orang lain. Kita takut jika tidak membantu maka orang itu akan marah. Kita tidak mau menjadi egois. Kita merasa bersalah jika tidak menurut. Kita tidak tahu bagaimana menjawab mereka yang menginginkan waktu, tenaga, uang, dan cinta kita.

Melihat kepada kehidupan Jessy, kita harus mengerti 3 hal ini.


1. MENCOBA LEBIH KERAS TIDAK BERHASIL

Jessy menghabiskan begitu banyak tenaga dan waktunya untuk memiliki kehidupan yang sukses dan berhasil. Dia harus menjadi pribadi yang disukai rekan kerjanya dan siap membantu mereka. Semua bisa mengandalkannya. Tapi itu malah membuat dia semakin memiliki banyak tanggung jawab yang seharusnya bukan tanggung jawabnya.

2. MENJADI BAIK KARENA TAKUT TIDAK BERHASIL

Jessy takut teman baiknya akan marah padanya jika dia menolak mendengarkan curahan hatinya. Dia takut atasannya akan tidak menyukainya jika tidak mengiyakan permintaan pekerjaan tambahan. Dia takut membangunkan suaminya untuk menceritakan keluh kesahnya.

Ketakutan-ketakutan ini jelas tidak berhasil. Kita mau terlihat sebagai orang yang baik, tapi menjadi baik seringkali hanya lebih menyiksa kita.

3. MENERIMA TANGGUNG JAWAB UNTUK ORANG LAIN TIDAK BERHASIL

Jessy sadar bahwa tenaganya dia pakai untuk hal-hal yang sebenarnya tidak profuktif untuknya. Kebaikannya diberikan karena dia takut. Tanggung jawab lebihnya tidak membuatnya menjadi lebih baik. Jessy tidak bisa mengendalikan kehidupannya walaupun dia menerima tanggung jawab orang lain.


Yang harus Jessy lakukan sekarang adalah membuat batasan dalam hidupnya. Jika tidak, maka fisik dan emosinya akan terganggu. Lama kelamaan dia akan jatuh sakit. Dia akan stress. Dia harus mulai mengambil alih kehidupannya.

Penjelasan tentang batasan akan saya bagikan di artikel lain ya. Untuk saat ini kita perlu mengerti bahwa mencoba lebih keras, menjadi baik, dan menerima tanggung jawab untuk orang lain belum tentu membuat kita menjadi lebih berhasil.

Be blessed!

2 Thoughts

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s