Kesalahan Pembuat Konten


Sudah hampir 5 tahun saya menggeluti bidang pembuat konten ini. Berawal dari iseng-iseng memasukkan video travel di YouTube sampai akhirnya menjadi seorang pembuat konten foto dan video untuk perusahaan dan juga pribadi, kini hobi membuat konten membawa hasil perlahan namun pasti.

Dalam perjalanan ini tentunya saya melakukan kesalahan demi kesalahan. Tapi kesalahan itu menjadikan saya pembuat konten yang lebih baik. Di artikel kali ini ijinkan saya membagikan sedikit pengalaman saya tentang kesalahan yang pernah saya buat sebagai pembuat konten.


1. TIDAK ADA NICHE

AΒ nicheΒ is a focused, targeted area that you serve particularly well. It is small (and the smaller the better). It is specific. It is known to you.

Niche adalah area yang fokus, spesialisasi kita. Ini sama halnya dengan saat kita mau membuka restoran. Kita tentunya harus memilih tema restoran kita entah itu Chinese Food, Korean BBQ, atau Seafood, dan lainnya.

Pada awalnya saya memasukkan semua video dengan tema berbeda baik dari travel, vlog, tanya jawab, kesehatan, kuliner, dan juga sketsa dalam YouTube dan Instagram saya. Makan-makan dan olahraga bukanlah niche saya tapi karena ada banyak permintaan untuk membuatkan video di tempat makan mereka atau dengan alat olahraga mereka, maka saya mau tidak mau membuatkannya di YouTube saya.

Tapi sekarang fokus saya pada Blog, Instagram, dan YouTube adalah berbagi motivasi dan inspirasi yang sekaligus menghibur. Karena itu saya fokus membuat sketsa komedi dan mungkin ke depannya akan ada cinematic video (karena lagi mau belajar dan asyik) dan short film. Memang masih ada beberapa permintaan syuting di tempat makan, tapi kali ini saya memutar otak untuk mungkin menjadikannya sketsa atau short film dengan lokasi syuting di tempat mereka.

Dengan bercampur aduknya niche dalam satu channel tentunya membuat para pengikut kita kebingungan. Mereka tidak tahu apa yang mereka harapkan dari kita. Satu minggu mereka senang dengan video sketsa kita, tapi di minggu depan malah berubah menjadi makan-makan. Inilah sebabnya perlu bagi kita menentukan niche yang sesuai dengan kita dan target penikmat konten kita.


2. MEMPEDULIKAN JUMLAH FOLLOWERS

Ini yang membuat saya begitu stress pada awalnya karena saya terus mengecek data perkembangan subscriber ataupun followers saya. Bahkan saya sempat membeli bot atau follower untuk akun Tjung Productions di Instagram supaya bisa share link di story (ketentuan di Instagram harus punya 10K followers untuk bisa share link).

Follower yang banyak tidak menentukan kualitas kita. Percuma jika follower banyak, tapi saat kita mempromosikan sesuatu, tidak ada yang tergerak untuk menggunakan atau membelinya. Lebih baik follower sedikit tapi target kita tepat daripada banyak tapi tidak sesuai.

Kualitas lebih baik daripada kuantitas.

Pengikut akan datang dengan sendirinya ketika mereka menemukan yang berarti dari konten kita. Itu berarti kita tidak perlu menargetkan diri untuk semua orang. Jika konten kita tentang makanan, ya fokuslah pada mereka yang memang suka mencari informasi tentang makanan atau mereka yang doyan makan kayak saya.

Jika konten kita adalah semua hal yang berhubungan dengan olahraga, maka orang-orang yang tidak suka olahraga tentunya akan merusak view kita. Mereka cuma sekedar klik dan saat melihat konten kita yang tidak sesuai, mereka masa bodoh. Saat kita mempromosikan sebuah alat pun, boro-boro mereka akan membelinya.

Kuncinya adalah watch time daripada jumlah subscriber atau follower. Seberapa banyak engagement konten kita.


3. TIDAK KOLABORASI

Kolaborasi adalah salah satu cara yang baik jika mau mengembangkan channel kita. Tentunya untuk kolaborasi, kita harus memberikan value kepada yang lain. Apa yang bisa kita lakukan untuk orang tersebut?

Jangan menjadi sombong dan merasa bisa bertumbuh sendiri.

Kolaborasi seringkali membawa saya kepada banyak kesempatan kerja sama dan ilmu-ilmu baru. Dari kolaborasi, saya mendapat lebih banyak klien dan teman.

Bergabunglah dalam komunitas yang sesuai dengan minat kita. Walaupun saya tidak terlalu aktif dalam komunitas blog (maafken karena sibuk) tapi saat saya ingat ada orang-orang yang hobi menulis dan melihat karya mereka, saya juga akan termotivasi untuk menulis lagi (seperti sekarang setelah seminggu off blogging haha).

Syarat nomor satu untuk berkolaborasi bukanlah datang dan main minta bantuan. Saya sangat tidak tertarik dengan pesan folbek ya. Tawarkan bantuan terlebih dahulu.


4. TIDAK ADA ENGAGEMENT DENGAN PENGIKUT

Pernah tidak saat memberi pesan pada influencer atau siapapun itu yang memang sudah ahli, tapi dibaca saja tidak? Sakitnya tuh sampai dimana ya?

Yes, bagi saya ketika membuat konten dan mendapatkan pengikut, saya sedang membangun komunitas. Komunitas ini adalah orang-orang yang percaya pada saya dan saya sendiri juga tidak mau mengecewakan mereka.

Selama mereka baik dan sopan, saya pasti akan membalas pesan mereka. Saya menunjukkan terima kasih dan apresiasi untuk mereka yang mau melihat dan mendukung karya-karya saya. Mereka itu penting buat saya.

Jadi saya sebisa mungkin tidak akan menjadi mereka yang tidak membaca atau membalas pesan. Jika memang ada informasi atau pengetahuan yang bisa saya bagikan, saya tidak akan ragu-ragu membagikannya. Tapi ingat juga, saat meminta jangan main asal meminta. Tentunya harus sopan ya dan belajar juga tekhnik kolaborasi di poin sebelumnya haha.


5. MENYERAH TERLALU CEPAT

Seringkali saya merasa mau menyerah terutama saat tidak ada hasil atau pengikut tidak berkembang. Itulah pentingnya kita berpikir panjang. Pastikan kita mau membawa konten ini kemana. Apa akan di-monetize? Apa buat personal branding? Apa untuk launch produk?

Menjadikan pembuatan konten atau hobi sebagai bisnis sama sekali tidaklah salah. Hampir 2 tahun saya membuat konten, baru saja mendapatkan hasil.

Pada saat konten kita tidak mendatangkan hasil, daripada menyerah, kenapa kita tidak melihat dimana yang salah dan apa yang mesti diperbaiki. Coba lihat konten pertama dari mereka yang telah berhasil, tentunya mereka rutin membuat dan selalu ada peningkatan.

Awalnya pasti kurang baik tapi harus sabar dan konsisten. Dengarkan, belajar, dan kembangkan diri serta komunitas kita.


Setidaknya itulah 5 kesalahan saya sebagai pembuat konten. Semoga bisa bermanfaat ya. Jika ada yang lain, share yuk.

Be blessed!

10 Thoughts

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s