Siapakah Kita? Mengenali Identitas


Selamat ulang tahun untuk saya, tepat di hari ini. Umur berapa? Anggap saja 17 tahun haha. Banyak hal yang terjadi dalam hidup saya dan merefleksikan kembali ke belakang saya menemukan bahwa masih banyak penyesalan yang terjadi. Banyak kesempatan dan peluang yang takut saya ambil. Berada di zona nyaman menghalangi saya untuk bertumbuh.

Saya memutuskan untuk menemukan kembali identitas diri saya. Setelah membaca buku Atomic Habits bab 2, saya belajar bahwa selama ini saya fokus dengan hal-hal yang kurang tepat. Saya berusaha membentuk kebiasaan baik seperti lari pagi setiap hari, bangun pagi, mengurangi waktu di media sosial, menulis rutin, dan lainnya. Tapi semuanya tidak bertahan lama. Ujung-ujungnya saya kembali berjuang dengan semua kebiasaan itu.

Kemudian buku itu memberitahu saya bahwa tantangan dari mengubah kebiasaan adalah kita mencoba mengubah hal yang salah. Sama halnya dengan seorang perokok yang berusaha menahan dirinya merokok. 1 perokok menolak dengan berkata, “Tidak. Saya sedang berusaha berhenti merokok.” Sedangkan yang 1-nya berkata, “Tidak, terima kasih. Saya bukanlah seorang perokok.”

Perokok pertama masih menganggap dirinya sebagai seorang perokok. Dia menanamkan identitas perokok dalam dirinya. Tapi perokok yang keduda menentukan identitasnya sebagai seseorang yang tidak merokok.

Identitas menentukan proses. Proses menentukan hasil.

Hasil adalah apa yang kita dapatkan. Proses adalah apa yang kita lakukan. Identitas adalah apa yang kita percaya.

Saya berusaha mengubah kebiasaan saya dari hasil, proses, baru identitas. Padahal yang seharusnya adalah dari dalam ke luar, identitas ke proses ke hasil.

Kita mungkin mau uang lebih banyak, tapi identitas kita adalah seseorang yang suka menghabiskan. Kita mungkin mau badan yang atletis, tapi identitas kita adalah seseorang yang suka makan dan malas berolahraga.

Kita punya tujuan dan rencana baru, tapi kita tidak mengubah siapa diri kita.

Inilah yang menyentil saya. Kita harus bangga terlebih dahulu dengan identitas kita, baru kita bisa bersemangat melakukan proses sehingga mendapatkan hasil yang diinginkan. Saat harga diri kita terlibat, kita akan berjuang sekuat tenaga mempertahankan kebiasaan itu. Jika kita bangga dengan tubuh kita, maka kita akan berjuang untuk mempertahankan bentuk tubuh yang ideal.

Tujuan saya bukan lagi membaca sebuah buku, tapi menjadi seorang pembaca. Saya bukan lagi mau berlari, tapi menjadi seorang pelari.

Pada akhirnya, di saat kebiasaan dan identitas kita sejalan, kita sudah tidak lagi mengejar perubahan kebiasaan. Kita hanya bertindak seperti orang yang sudah kita percayai sebagai diri kita.

Saya tidak akan lagi mengatakan bahwa saya tidak pintar dengan angka. Saya tidak kreatif. Ide saya suka mentok. Saya bukanlah orang yang bisa bangun pagi. Saya selalu telat. Saya suka menunda.

Tidak ada kata terlambat untuk menemukan identitas baru kita. Saya adalah seorang kreatif, seorang pembuat konten, seorang penulis, seorang pembaca, seorang atlit, seorang pelari, seorang sahabat Tuhan, seorang pemberani, seorang pemimpin, dan masih menyusul lainnya.

Jadi tidak perlu repot-repot mengirimkan kado. Doakan saja saya dengan identitas-identiats baru saya ini, ya.

Be blessed!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s