Try Everything, Sudahkah Menemukan Kebiasaan Yang Tepat?


Setiap manusia memiliki gen yang berbeda. Gen ini bisa menentukan bagaimana seseorang menyukai sesuatu sementara yang lain tidak. Gen ini bisa membuat seseorang tidak mudah bertambah berat badan (seperti saya) dan sebaliknya. Gen ini menentukan seseorang bisa melakukan sesuatu dengan mudah sementara yang lain tidak.

Namun gen ini saja tidak cukup untuk membuat berhasil di bidang kita. Seseorang dengan gen perut six packs, tetap saja tidak akan mendapatkan roti sobek itu jika tidak latihan dan menjaga makan seperti orang lain yang memiliki gen yang berbeda. Perlu ada kebiasaan yang mendukung kita untuk bisa menjadi berhasil di bidang kita.

Sebut saja seseorang yang pandai merangkai kata-kata seperti saya. Jika saya tidak pernah membiasakan diri untuk membaca (mencari ilham) dan menulis, maka apakah saya akan bisa disebut sebagai seorang penulis? Tentu tidak.

Oleh karena itu diperlukan kebiasaan yang tepat supaya kita berhasil. Kebiasaan yang harus dibangun ini tentunya harus sesuai dengan minat kita dan dapat membawa kita lebih baik.

Pilihlah kebiasaan yang tepat maka hidup akan menjadi mudah. Pilihlah kebiasaan yang salah maka hidup akan menjadi sebuah perjuangan.

Bagaimana cara memilih kebiasaan yang tepat? Cobalah segalanya. Explore. Eksperimen. Try everything kalau kata di film Zootopia.

Tujuannya bukanlah untuk membuang waktu ya, tapi untuk mencoba segala macam kemungkinan, menelusuri ide-ide, dan memperluas jangkar.

Jika kita berhasil dalam sesuatu, kuasai terus. Jika kita gagal, explore terus.

Google sendiri meminta karyawan-karyawannya untuk menghabiskan 80 persen dari pekerjaan resmi mereka dalam seminggu dan 20 persen pada proyek pilihan-pilihan mereka. FYI, dari sini muncullah AdWords dan Gmail.

Sembari menelusuri pilihan-pilihan itu, pertanyaan-pertanyaan ini mungkin bisa membantu mempersempit kebiasaan dan bidang dimana kita paling senang.


APA YANG MENYENANGKAN BUAT SAYA, TAPI PR BUAT YANG LAIN?

Biasanya kita berpikir bahwa sesuatu yang kita senang kerjakan adalah passion kita, kita dibuat untuk melakukan itu. Well, namun ada pengukur lainnya. Kita bisa menanggung bebannya lebih mudah daripada orang lain. Saat orang lain merasa itu pekerjaan yang sulit dan mengesalkan, kita malah senang melakukannya dan merasa mudah.

Pekerjaan yang menyakiti kita lebih sedikit daripada menyakiti orang lain adalah pekerjaan yang seharusnya kita lakukan.

Orang lain malas membuat video dan mengedit. Mereka menganggap itu PR untuk mereka. Tapi saya senang membuat sebuah konten. Saat yang lain malas membaca, saya senang belajar hal-hal baru dari sebuah buku.


APA YANG MEMBUAT SAYA LUPA WAKTU?

Ini masuk ke dalam keadaan FLOW dalam buku Ikigai dimana kita bersatu dengan puncak kebahagiaan dan performa yang terbaik (puitis banget ga sih) dalam sebuah pekerjaan. Tanpa terasa waktu berlalu begitu saja.

Saya pernah mengedit sebuah video di malam hari sampai subuh saking asyiknya mengedit. Saya pernah menulis sebuah cerita sampai beberapa jam. Saat syuting sebuah konten, 6 jam berlalu begitu saja dan walaupun lelah maksimal, saya merasakan kepuasan.


DIMANA SAYA MENDAPAT HASIL LEBIH DARI KEBANYAKAN ORANG?

Apa yang kita kerjakan akan mendatangkan hasil. Orang-orang akan mengakui karya kita cepat atau lambat. Awal saya membuat video dan menulis, saya tidak tahu semua itu akan membawa saya menjadi seorang YouTuber dan Blogger. Saya juga sampai menulis sebuah buku ada beberapa buku (kalangan sendiri aja sih) yang sudah saya pernah tulis.

Orang-orang mengakui karya saya. Ada hasil yang saya dapatkan dari apa yang dikerjakan (termasuk uang). Beberapa blogger lain juga suka ‘kan sama tulisan saya?


APA YANG DATANG SECARA ALAMI PADA SAYA?

Coba deh lupakan semua yang sudah kita pelajar. Lupakan semua yang masyarakat sudah beritahu. Lupakan apa yang orang lain harapkan dari kita. Kira-kira apa yang berasa natural untuk kita? Kapan kita merasa begitu hidup? Kapan kita merasa benar-benar menjadi diri kita yang sebenarnya?

Lupakan menyenangkan orang lain atau penilaian dari dalam. Jangan menebak dua kali atau mengkritik diri sendiri.

Kapanpun kita merasa otentik dan genuine, kita sedang mengarah ke arah yang benar.

Saat belajar, kita bisa menemukan cara-cara baru.

Ketika saya membuat konten di videografi, saya lebih banyak belajar otodidak dan semuanya datang dengan sendirinya. Ketika saya menulis, saya memang belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tapi tidak seperti orang lain, saya tahu bagaimana merangkai kata dan menggunakan tanda-tanda baca serta aturan penulisan lainnya dengan tepat (kalau masih ada salah, kasih tahu ya biar sadar diri).


Dengan membangun kebiasaan yang tepat maka tidak akan dipungkiri bahwa kita akan menjadi berhasil di bidang kita. Berhenti membanding-bandingkan hidup kita dengan orang lain. Jadilah versi diri kita yang terbaik.

Be blessed!

6 Thoughts

  1. Yang penting tulis aja dulu jangan fokus dengan masalah kalimat dan penggunaan tanda baca , kalau udah kelar baru periksa tulisan lagi biar bisa memperbaiki tulisan yang kita buat.

    Btw, suka banget dengan tulisan mas. Semangat ya πŸ™‚

    Liked by 1 person

      1. nggak kak, hehehe bagus kok tulisannya kakak. Itu tadi aku cuman kayak muterin pendapat aku sih, soalnya kalau untuk penulis pemula kayak aku pertama tulis dulu apa saja,

        Duh maaf banget malah jadi keceplosan aku

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s