Siapa Yang Menghidupi Kehidupan Kita?


Pernah tidak mempertanyakan ini pada diri kita, siapa yang menghidup kehidupan kita? Pertanyaan ini pada awalnya terlihat mengesalkan. Ya jelas kitalah yang menghidupi kehidupan kita, siapa lagi?! Tapi jika kita menelaah lebih dalam, banyak orang yang tidak menghidupi kehidupan mereka.

Pertama adalah mereka yang berusaha menyenangkan orang lain. Mungkin kita berusaha menyenangkan orang tua dengan mengambil jurusan kuliah yang mereka inginkan atau bekerja meneruskan usaha mereka. Padahal kita memiliki impian sendiri.

Suami atau istri berusaha mengikuti kemauan pasangan mereka yang seharusnya bisa didiskusikan bersama sehingga tujuan bersama bisa sama-sama tercapai. Kita berusaha mengikuti pergaulan teman-teman sehingga melupakan diri kita yang sebenarnya. Bisa jadi kita malah ikut menghabiskan uang hanya untuk membuat kita dikenal orang lain.

Jika kita termasuk kategori seperti ini maka orang lainlah yang sedang menghidupi kehidupan kita. Orang tua, pasangan, teman, atau siapapun itu mungkin memang memiliki jasa atau pengaruh dalam hidup kita, tapi ingatlah bahwa setiap manusia memiliki perlombaan masing-masing. Kita semua memiliki tujuan dan impian sendiri.

Bahkan Tuhan tidak bisa menyenangkan semua orang. Saat musim hujan, kita berdoa agar tidak hujan sementara petani berdoa agar hujan. Tuhan tidak mungkin menjawab keduanya. Pada akhirnya akan ada yang Dia tidak senangkan. Jadi jangan mencoba melakukan hal yang Tuhan sendiri tidak bisa kerjakan.

Kedua adalah mereka yang tahu apa yang harus dilakukan tapi tidak melakukannya. Mungkin kita tahu cara terbai untuk mengejar impian kita adalah dengan bangun pagi dan berolahraga. Kita harus mengurangi waktu di media sosial. Kita harus meninggalkan pergaulan yang tidak produktif.

Personal Trainer tidak bisa memaksa kita untuk makan lebih sehat. Penasihat keuangan tidak bisa meningkatkan pendapatan untuk kita. Penulis buku tidak bisa membuat kita menanam kebiasaan baik.

Pada titik tertentu, kita harus mengambil inisiatif dan menyelamatkan diri sendiri.

Siapa yang suka bergantung sama orang lain atau keadaan menjadi sempurna baru mau benar-benar mengerjakan apa yang sudah seharusnya dilakukan dari dulu?

Ingatlah, kita bisa mendengarkan semua pendapat orang tentang hidup kita tapi kitalah satu-satunya orang yang menghidupi kehidupan kita.

Be blessed!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s