Lika Liku Pembuat konten : Bantu Promo, Kok Mahal, Harga Teman, Bla Bla Bla!


Warning! Apa yang saya bagikan ini mungkin menyesakkan untuk beberapa oknum yang berasa aja. Syukur-syukur kalau berasa, kalau kebal, silakan panggil Syahrini untuk dihempaskan ke laut dan ditenggelamkan oleh bu Susi.

Jika artikel ini bermanfaat, jangan ragu untuk membagikannya supaya kehidupan kita bersama menjadi lebih baik. Follow dan like juga ya supaya saya makin bersemangat menulis.

Sebagai pembuat konten yang makin hari makin diakui (akui saya ga?!), tentunya banyak teman-teman yang berminat meminta bantuan saya. Ya pastinya semua mau gretong, bener ga?! Memanfaatkan jerih payah seorang pembuat konten yang mulai dari bawah untuk mulai dikenal supaya bisa buat konten mereka dengan susah payah dan paling hanya diganti dengan makan siang.

1. BANTU PROMO YA!

Yah untuk oknum yang jenis pertama ini, saya sudah bohwat. Mereka mau kirim makanan tapi ujung-ujungnya minta dibuatin TikTok-lah, difotoinlah, dibuatin vlog lebih gila lagi! Untuk menghadapi mereka, biasanya saya akan beralasan tidak punya waktu karena masih banyak proyek berduit yang mesti saya kerjakan (ini bukan sombong, tapi angkuh ya, saudara-saudara!). Jadi kalau ada yang kena alasan seperti ini, ngerti ya maksud saya.

Kalian mau minta dibantu atau maksa sih sebenarnya? Ijinkanlah kami-kami yang diminta tolong untuk membantu kalian dengan seikhlas kami. Bisa dong membedakan yang namanya kolaborasi dan eksploitasi, kalau kata bung Agus Leo Halim. Kalau kalian minta gratisan terus, nanti kita makan apa?


2. KOK MAHAL YA?

Oknum selanjutnya yang lebih mending daripada yang pertama namun sama aja nyelekit! Mereka berinsiatif mau bayar dan tanya harga. Saya kasih harga, balasannya, “Kok mahal? Saya sama yang lain lebih murah.” Hey you! Kalau emang toko sebelah lebih murah ya silakan toh sama mereka. Saya rasa setiap pembuat konten punya standar masing-masing dan juga mesti lihat dari chemistry si pembuat konten dan klien juga.

Ada yang hasilnya mungkin lebih bagus tapi karena personality tidak cocok, jadinya tetap menggunakan yang personality lebih cocok walaupun kualitas mungkin masih terlihat sedikit di bawah. Seperti kata kak Fitno Fabulous, setiap kita mesti memiliki integritas dalam bekerja sama. Bagi saya, integritas saya adalah mengerjakan yang terbaik sebisa saya.

Dalam bekerja, jika memang yang saya buat terasa kurang, saya akan memperbaikinya. Apalagi ditambah dengan sifat perfeksionis saya, saya harus selalu menghasilkan karya yang terbaik even dihargai dengan harga ‘teman’ yang akan kita bahas berikutnya.

Kalau emang cuma mau membandingkan harga, lebih baik jangan gunakan jasa saya daripada pakai embel-embel kok mahal ya? Tapi jika memang kalian melihat kualitas dan integritas saya dalam bekerja dan kalian tertarik untuk bekerja sama, saya rasa harga yang dikeluarkan juga worth it dengan perjuangan yang diberikan untuk membuat hasil yang kalian inginkan tercapai.


3. HARGA ‘TEMAN’ YA!

Oknum terakhir adalah mereka yang tanya harga kita berapa, tapi minta harga teman. Saya kasihlah harga segini. Mereka nego lagi, “itu udah harga teman?”

Saya baru saja menonton TikTok yang mengatakan bahwa harga teman itu justru seharusnya lebih tinggi daripada harga standar. Kenapa? Why? Kok bisa gitu? Kaga salah lu?

Jawabannya benar! Tepat! Tidak salah lagi! Ya bisalah begitu! Seorang teman justru seharusnya lebih menghargai effort kita karena dia tahu bagaimana kita bersusah payah berjuang sampai akhirnya bisa mencapai level sekarang. Seorang teman yang mendukung seharusnya berani membayar lebih tinggi.

Pernah mendengar bantu usaha teman? Yes. Jaman sekarang saya jarang bertemu dengan orang-orang yang memiliki prinsip yang sama dengan saya. Sebisa mungkin saya akan membayar untuk teman saya yang memulai usaha. Saya akan menawarkan dan sedikit memaksa untuk membayar walaupun biasanya mereka lebih memaksa saya untuk tidak membayar. Tapi mental saya bukanlah mental gratisan atau mental harga teman, sorry ya, tidak ada itu di kamus saya.


Sebagai pembuat konten yang sudah lumayan berpengalaman mengahdapi para oknum ini, jujur saya bisa membedakan mana yang mau bekerja sama secara tulus dan mana yang tidak. Jika memang mau bekerja sama dengan kami para pembuat konten, berusahalah memberikan value kepada kami terlebih dahulu. Saya rasa ini adalah syarat utama dalam bekerja sama.

Dalam berkolaborasi, saya selalu mengutamakan keinginan klien saya. Apa yang mereka butuhkan? Saya tanyakan pendapat mereka. Saya minta ijin terlebih dahulu jika memang mau menggunakan nama mereka. Respect!

Berilah terlebih dahulu. Jika selama kita berhubungan, saya hanya terus memberi dan memberi buat saudara, berarti ada yang salah dengan hubungan kita. Mungkin harus putus?

Bagaimana menurut kalian? Ada yang pernah mengalami ini atau ada yang pernah menjadi salah satu dari 3 oknum ini?

Be blessed!

3 Thoughts

  1. Semangat bikin kontennya ya kak, agak pusing juga ya kalau harus berhadapan dengan permintaan klien yang kadang bikin rempong , hehehe. Yang penting jalani saja dulu dan tetap keep storng !

    Salam hangat dari saya 🙂

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s