Sulitnya Mengubah Kebiasaan Buruk


Kita tahu harus berolahraga, tapi kenapa lebih asyik nonton TV sambil ngamil Popcorn atau potato chips? Kita tahu harus melanjutkan tulisan tapi kenapa melihat-lihat media sosial lebih asyik ya? Dalam lubuk hati terdalam kita, kita sebenarnya tahu dan mengerti apa saja yang mesti kita kerjakan dengan benar dan mana saja yang toxic dan membuang waktu. Kebanyakan sesuatu yang toxic dan membuang waktu ini adalah kebiasaan-kebiasaan yang buruk. Tapi justru yang buruk-buruk inilah yang biasanya asyik, setuju?

Hey! Jangan cuma baca dan belajar saja, tapi hargai penulisnya dengan like, follow, dan kasih pendapat di komen serta bagikan supaya kehidupan bersama lebih baik.

Karena keasyikan inilah yang membuat sulitnya kita untuk mengubah kebiasaan toxic ini. Oleh karena itu kita perlu menganalisa dulu nih kesulitan-kesulitan dalam mengubah kebiasaan buruk ini supaya ada solusinya. Nanti solusinya coba pikirkan sendiri ya, jangan malas mikir!


1. SUDAH LAMA TERBENTUK

Yang namanya kebiasaan ya pasti adalah sebuah pengulangan dalam tindakan kita sehingga menjadi rutinitas dan sudah semacam autopilot.

Source : Unsplash

Bangun tidur cek hp. Sebelum makan, ambil foto makanan dan upload ke media sosial, jalan-jalan bukannya menikmati pemandangan tapi asyik foto dan buat video (pembuat konten banget!). Dari kecil kita terbiasa disediakan dan diambilkan barang oleh suster atau pembantu sehingga sekarang kita lebih suka suruh-suruh dan terima jadi. Saat bosan atau berada dalam lift bersama orang-orang lain, kita terbiasa melihat hp (padahal tidak ada pesan apa-apa). Kita sering dikatakan pemalas atau bodoh sehingga merasa diri kurang percaya diri.

Makanya sulit mengubah kebiasaan buruk karena memang tidak main asal datang saja. Ini bagaikan menarik keluar sesuatu yang sudah mengakar di dalam diri kita berbulan-bulan atau bahkan sampau bertahun-tahun sebelumnya, semoga saja tidak dari lahir.


2. KITA MENGIYAKAN SEHINGGA MENJADI JATI DIRI

Karena kebiasaan ini sudah terbentu lama, maka kita mulai mengidentifikasi diri dengan kebiasaan itu. Saat tidak mendapatkan apa yang diinginkan, kita marah. Saat bertemu orang baru, kita tidak percaya diri. Kita menganggap diri sebagai orang bodoh. Silakan sebutkan contoh-contoh lainnya.

Karena sudah menjadi jati diri, maka kita sulit mengubahnya atau lebih parahnya kita tidak ingin berubah. Jika berubah, akan menjadi siapakah kita? Identitas kita akan berubah dan kita tidak tahu akan menjadi seperti bagaimana karena ini adalah sesuatu yang baru dan tidak jelas. Biasanya sesuatu yang baru dan tidak jelas ini bisa sangat mengerikan.


3. ADA HADIAH DARI KEBIASAAN BURUK

Seperti yang sudah saya sebutkan sedikit di awal, kebiasaan buruk itu asyik. Kita tidak perlu susah-susah fokus pada mimpi kita. Lebih enak baringan sambil nonton serial favorit kita. Saat stress, makan atau merokok atau minum biar santuy. Ada hadiah dari kebiasaan buruk kita. Kita menjadi tidak bosan. Kita terhibur. Kita mendapatkan apa yang kita inginkan.

Photo by Maria Orlova on Pexels.com

Seorang anak kecil akan mendapatkan apa yang dia mau saat dia teriak-teriak. Itu adalah hadiahnya. Ketika besar, orang itu harus berteriak atau marah untuk mendapatkan hadiahnya yaitu apa yang dia inginkan. Anak yang dimanja akan merengek atau menangis untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Saat besar, orang itu akan membuat orang lain merasa bersalah atau pasang muka sedih supaya mendapatkan hadiahnya.

Jika memang bisa mendapatkan hadiah dari kebiasaan buruk ini, kenapa mesti berubah? Inilah penyebab sulitnya berubah.


Jika kita tahu mana yang harus kita kerjakan namun masih tertahan dengan kebiasaan buruk, maka kita tidak akan pernah mendapatkan pencapaian dari mimpi kita. Walaupun sudah terbentuk lama tapi bukan berarti tidak bisa diubah.

Perubahan harus dimulai dari sekarang, bukan nanti.

Identitas kita tidak pernah ditentukan oleh kebiasaan buruk. Ubah mindset kita. Bersihkan sampah-sampah dalam pikiran dan hidup kita. Ganti pikiran buruk dengan pikiran yang positif. Mintalah bantuan teman. Miliki iman dan percaya pada diri sendiri.

Hadiah yang diberikan oleh kebiasaan buruk memang asyik namun itu bukanlah sesuatu yang baik. Jangan tertipu dan terjebak dengan kefanaannya (asyik). Mungkin kita mendapatkan apa yang kita mau, tapi orang lain menjadi terluka dengan apa yang kita lakukan pada mereka. Pada akhirnya kita sendiri juga akan terlukan dan dirugikan.

Yuk, berubah!

Be more positive, creative, and productive! Be blessed!

Satu komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s