Belajar Menjadi Penulis Dari Stephen King


Siapa yang tidak tahu Stephen King? Google deh kalau ga tahu. Sama seperti nama belakangnya, Stephen ini bisa dikatakan rajanya penulis novel thriller horror. Dia adalah salah satu penulis best-selling di dunia. Beberapa karyanya banyak yang diangkat menjadi film seperti Bag of Bones, Hearts in Atlantis, The Shining, Pet Samatary, IT, dan Carrie.

Sejak menulis Carrie, banyak yang menanyakan Stephen bagaimana dia bisa menulis secara rutin. Pada akhirnya, Stephen menulis buku On Writing: A Memoir of the Craft dimana dia memberikan jawaban dari pengalamannya sendiri.

Buku On Writing dibagi menjadi 4 bagian : C.V, toolbox, on writing, dan on living.


C.V

Di bagian pertama yang bertema besar C.V, Stephen memberitahu kita bagaimana dia menjadi seorang penulis dan apa yang menginspirasinya sampai akhirnya menulis bisa membantu dia lepas dari kemiskinan. Dia mulai menulis tentang film yang dia tonton atau apapun yang datang ke dalam pikirannya. Menulis adalah sebuah kerja keras. Stephen sendiri belajar banyak ketika menjadi seorang penulis bagian olahraga untuk koran LisbonWeekly Enterprise. John Gould, editornya, menunjukkannya apa saja yang harus dipertahankan dan bagian tulisan mana yang mesti dibuang.

Di sini Stephen, selain menceritakan bagaimana dia bertemu dengan istrinya dan memulai keluarga, dia juga menceritakan bagaimana perjuangannya dengan kecanduan alkohol dan narkoba. Dia memberitahu bahwa ketika kecanduan, banyak buku yang dia tulis yang dia tidak ingat. Pada akhirnya dia berhasil berhenti dari kecanduan setelah istrinya memaksanya untuk memilih antara pernikahannya atau kecanduannya.


2. TOOLBOX

Masuk ke bagian kedua dengan tema besar Toolbox, Stephen memberikan apa saja yang diperlukan untuk menjadi seorang penulis. Inilah yang dinamakan toolbox atau kotak peralatan. Kita perlu membuat kotak peralatan untuk menulis dan terus mengembangkan peralatan di dalam kotak tersebut.

Alat pertama yang paling dibutuhkan (berada di atas) tentunya adalah vocabulary atau kosa kata. Kita perlu memiliki kosa kata yang cukup banyak dan tepat untuk digunakan. Terkadang kita mau tulisan kita terlihat lebih keren sehingga kita mencari kosa kata lain sehingga kalimatnya menjadi lebih panjang dari versi aslinya dan malah menjadi berlebihan. Gunakan saja kata pertama yang muncul dalam pikiran. Biasakan kata pertama itu adalah kata yang paling tepat.

Kedua adalah grammar atau tata bahasa dimana sebaiknya kita hindari menggunakan kalimat pasif. Misalnya, “Temu janji akan diadakan pukul 7 malam.” diganti menjadi “Temu janji jam 7 malam.” atau “Buku itu dilempar oleh adik saya.” menjadi “Adik saya melempar buku itu.”

Kata keterangan bukanlah teman kita. Jangan menggunakan kata keterangan seperti menutup pintu dengan keras. Cukup gunakan membanting pintu.

Dalam dialog, jangan terlalu memberikan keterangan yang berlebihan. Biarkan pembaca yang menerka sendiri bagaimana keadaan di dalam cerita kita. Kita tidak perlu menjelaskan secara detil. Daripada memberi keterangan dia berkata dengan sangat keras, ganti dengan dia berteriak.


ON WRITING

Di bagian ketiga, Stephen membagikan 2 hal yang diperlukan di atas yang lain untuk bisa menjadi seorang penulis: membaca yang banyak dan menulis yang banyak. Tidak ada jalan pintas.

Jika kita tidak punya waktu untuk membaca maka kita punya waktu (atau peralatan) untuk menulis. Dengan membaca kita akan menemukan banyak pengalaman. Kita juga bisa memperkaya kosa kata dan cara penulisan. Tidak jarang kita juga akan mengadopsi gaya penulisan yang kita temukan cukup menarik. Membaca adalah pusat kreativitas seorang penulis.

Stephen sendiri menghabiskan setidaknya 1 jam untuk membaca. Dia menyentil kita dengan mengatakan jika kita harus menonton berita atau bermain saham saat sedang latihan, maka sudah saatnya kita mempertanyakan seberapa serius kita ingin menjadi seorang penulis. Jika memang tidak ada kesenangan dalam melakukannya, maka ada baiknya mencari hal lain dimana talenta dan kesenangan kita lebih tinggi.

Jika kita menemukan sesuatu dimana kita sangat bertalenta, lakukan apapun itu sampai tangan kita berdarah atau mata kita hampir keluar dari kepala.

Membaca menawarkan pengetahuan yang terus menerus bertumbuh. Pikiran kita menjadi lebih segar dan kita bisa menemukan mana yang bermanfaat dan mana yang tidak.

Selain membaca, tentunya kita perlu menulis. Stephen menceritakan pengalamannya dimana ketika dia mulai menulis sesuatu, dia tidak akan berhenti atau memperlambat kecuali jika memang benar-benar harus. Jika dia tidak menulis setiap hari maka semua karakter dalam tulisannya mulai goyah. Mereka mulai terlihat seperti karakter daripada orang sesungguhnya. Kesenangan dalam menulis mulai menghilang dan menulis menjadi semacan pekerjaan saja.

Jika kita seorang pemula, ada baiknya kita melihat cerita kita setidaknya melalui 2 draft. Draft pertama di saat kita menutup pintu dan draft kedua kita lakukan dengan pintu terbuka.

Draft pertama dari sebuah buku harus dikerjakan tidak lebih dari 3 bulan. Dia berusaha mendapatkan 10 halaman per hari dengan isi 2,000 kata. Itu berarti 180,000 kata dalam 3 bulan. Jika perlu, ambillah 1 hari off dalam seminggu.

Saat menulis, kita perlu menutup pintu. Ini berarti kita mendedikasikan diri pada tujuan menulis. Tidak ada gangguan. Sebaiknya tidak ada telepon dalam ruang menulis. Tidak ada TV atau game. Usahakan tidak ada gangguan yang bisa mengalihkan perhatian kita.

Kita bisa menulis apa saja yang kita mau selama kita memberitahukan kenyataan. Cerita dan novel terdiri atas 3 bagian : narasi, deskripsi, dan dialog.

Narasi menggerakkan cerita dari poin A ke poin B sampai akhirnya ke poin Z. Deskripsi menciptakan realitas yang bisa dirasakan oleh pembaca. Dialog menghidupkan karakter melalui ucapan mereka.

Ketika menulis, Stephen seringkali tidak tahu akan membawa ceritanya kemana. Dia tidak terlalu memikirkan alur cerita. Dia tidak punya ide bagaimana akhirnya dan tidak pernah menuntut karakternya untuk melakukan sesuatu sesuai cara dia. Dia mau karakternya melakukan sesuatu dengan cara mereka.

Ketika mengerjakan draft kedua, kita perlu melakukannya dengan pintu terbuka. Itu berarti kita membiarkan cerita yang sudah kita tulis dengan pintu tertutup minimal 1 bulan setengah, kemudian kita mereview kembali dan merevisinya.

Draft kedua harus 10% lebih sedikit daripada draft pertama. Pasti akan ada pemotongan-pemotongan yang kita kerjakan dari draft pertama sehingga tulisan kita menjadi lebih baik.

Jangan takut jika tulisan kita tidak disukai orang lain. Stephen percaya bahwa setiap penulis pasti memiliki seorang pembaca yang ideal. Bagi Stephen, pembaca idealnya adalah Tabitha, istrinya. LOL!

Pembaca yang ideal ini juga menjadi cara terbaik untuk melihat apakah cerita kita tepat atau butuh revisi. Terkadang saat draft pertama, kita hanya menulis dari apa yang kita tahu dan apa yang kita tahu terkadang suka tidak sesuai dengan realita. Pendapat orang lain bisa membantu meluruskan cerita kita. Bisa saja kita kurang memberikan penjelasan atau malah berlebihan dalam memberikan penjelasan.

Elmore Leonard mengatakan bahwa dia membuang bagian-bagian yang membosankan atau kill your darlings walaupun itu mungkin akan melukai hati kita.

Penelitian juga mungkin perlu dilakukan jika ada bagian dari cerita yang kita tidak tahu terlalu banyak namun itu bisa kita lakukan nanti. Kita harus tahu bahawa kita sedang menulis sebuah novel, bukan sebuah hasil penelitian. Cerita selalu datang pertama.

Stephen juga yakin bahwa kita tidak lebih memerlukan seminar atau kursus menulis daripada buku yang ida tulis. Kita paling belajar ketika membaca dan menulis. Itu adalah pelajaran yang kita ajar kepada diri sendiri.


ON LIVING

Di bagian terakhir Stephen menceritakan pengalamannya dimana dia ditabrak hampir kehilangan nyawanya di tahun 1999 ketika dia ditabrak van yang dikendarai Bryan Smith. Kecelakaan ini membuat Stephen harus menjalani beberapa operasi dan menahan sakit yang luar biasa. Namun menulis membuatnya mampu melalui semua itu.

Stephen mengatakan bahwa menulis tidak menyelamatkan nyawanya, keahlian Dr David Brown dan kasih sayang istrinyalah yang menyelamatkannya. Namun menulis tetap mengerjakan yang sebelumnya dia kerjakan yaitu membuat hidupnya lebih terang dan menyenangkan.

Jangan pernah menulis untuk uang. Menulis bukanlah tentang membuat uang, menjadi terkenal, mendapat kencan atau teman. Pada akhirnya, menulis dapat membantu kita dan juga mereka yang membaca karya kita.



Be more positive, creative, and productive! Be blessed!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s