Gaya Hidup Murid


Setiap kita yang sudah percaya adalah warga Kerajaan Sorga. Warga Kerajaan harus berbeda dari mereka yang belum percaya. Kita harus memiliki gaya hidup yang berbeda dengan dunia.

Dan Ia menceriterakan perumpamaan ini juga kepada mereka: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.” | Matius 13:33

Kita yang sudah percaya dan menjadi warga Kerajaan Sorga adalah murid. Kita harus belajar dari guru Agung kita yaitu Yesus dan mengikuti gaya hidupnya. Gaya hidup seperti apa yang harus dimiliki seorang murid?


1. MURID HARUS BERDAMPAK

Ragi memberikan dampak. Ragi mengembangkan adonan tepung. Tanpa ragi, adonan tepung hanyalah adonan tepung. Ragi membawa dampak positif. Ragi juga membuat roti menjadi lebih lembut.

Murid harus berdampak untuk orang lain. Hidup murid harus menjadi berkat, membawa pengaruh positif.

Hidup kita harus bermanfaat bagi orang lain. Kita tidak menjadi pembuat onar tapi pembawa damai. Bukan troublemaker tapi troublesolver. Bukan pembuat masalah tapi pemberi solusi. Bukan yang menyebar teror tapi membawa ketenangan. Inilah gaya hidup seorang murid.

Photo by Pixabay on Pexels.com

Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. | Matius 5:13

Tuhan mau kita bisa menggarami lingkungan dimana kita hidup.

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. | Matius 5:14

Tuhan mau kita menjadi terang di lingkungan kita tinggal. Yesus bukan hanya mengajarkannya tapi Dia benar-benar menjadi garam dan terang dunia. Dia telah menjadi dampak bagi dunia ini. Dimanapun Dia berada, Dia menguatkan orang yang lemah, menyembuhkan orang sakiut, melepaskan orang kerasukan, memberi makan, dan menjadi berkat. Kita, sebagai murid, harus mengikuti teladan guru kita.

Bagaimana supaya hidup bisa berdampak? Lakukan kebaikan.

Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. | Filipi 4:5

Jika kita mempraktekkan kebaikan, orang-orang akan melihat kebaikan. Kalau hati kita jahat pasti perbuatan kita jahat. Kalau baik, pasti perbuatan kita baik.

Pandemi ini adalah masa yang tepat untuk mempraktekkan kebaikan. Banyak orang membutuhkan bantuan. Kita bisa bnerdampak baik bagi mereka. Jika ada orang kesusahan dan kesulitan, jadilah orang yang mengulurkan tangan memberi bantuan pada mereka. Kita bisa memberikan makan atau obat atau dukungan saat orang sedang isoman.

Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. | 1 Petrus 4:10

Kita semua punya karunia. Jangan disimpan. Jangan diapkai untuk diri kita supaya tambah hebat, tambah terkenal, tambah diurapi. Kita tidak menggunakan karunia itu sebagamana seharusnya. Kita harus menggunakan karunia untuk orang lain, bukan meninggikan diri kita.


2. MURID HARUS RENDAH HATI

Ragi bekerja diam-diam. Tiba-tiba tepung sudah mengembang dan siap dipanggang menjadi roti. Ragi tidak pernah menggembar-gemborkan apa yang dia kerjakan. Bekerja diam-diam itu hanya bisa dikerjakan oleh orang yang rendah hati.

Orang yang rendah hati berkarya diam-diam, tidak heboh. Tapi orang lain bisa melihatnya. Orang yang sombong akan menghebohkan karyanya. Dia membicarakannya terus menerus.

Ayam betina, saat bertelor, akan berkotek-kotek heboh sehingga 1 kampung tahu padahal telurnya hanya 1. Sedangklan penyu akan pergi ke pantai, cari tempat sepi, gali lubang, dan bertelor. Kemudian berenang menjauhi telur-telurnya yang ratusan.

Photo by Anna Shvets on Pexels.com

Ada orang yang karyanya biasa atau bahkan tidak punya karya tapi banyak ngomong. Tapi ada juga orang yang karyanya besar tapi tidak memamerkannya. Murid harus rendah hati.

Ciri-ciri orang rendah hati :

  • Tidak suka menyombongkan diri karena karyanya.
  • Tidak menuntut pengakuan orang.
  • Rela menjadi orang nomor 2.

Yohanes Pembaptis adalah contoh orang yang rendah hati. Dia rela menjadi nomor 2. Dia lebih dulu melayani tapi saat Yesus muncul, Yohanes tidak menganggapnya sebagai saingannya. Malahan dia menunjuk kepada Yesus dan berkata bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah dan membuka tali kasut Yesus pun dia tidak layak. Yohanes mundur pelan-pelan menjadi nomor 2. Biar Yesus yang bertambah dan dia yang berkurang.

Tidak apa-apa menjadi nomor 2. Yang penting karya kita menjadi berkat untuk banyak orang.


3. TIDAK MEMANDANG STATUS

Ragi adalah mikroorganisme yang sangat kecil dan hanya bisa dilihat dengan mikroskop. Walaupun kecil, ragi bisa mengkhamirkan tepung yang 30kg. Walaupun kecil tapi berprestasi.

Jika hari ini status kita masih kecil dan rendah, tidak apa, tidak usah minder. Banyak orang yang merasa berasal dari keluarga tidak terpandang, mereka menjadi minder dan pada akhirnya tidak mau berkarya. Jangan memandang status kita. Kita ada bukan karena status tapi karena Tuhan yang mengangkat kita.

Walaupn rendah, kalau Tuhan memilih kita maka kita akan diangkat.

Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti. | 1 Korintus 1:27-28

Kata kuncinya adalah dipilih Tuhan. Ragi diberikan kemampuan oleh Tuhan. Ragi punya kemampuan untuk mengubah karbohidrat di tepung menjadi karboindioksida. Demikian juga kita. Jika Tuhan sudah memilih kita, Tuhan pasti akan memberi kemampuan dan potensi juga.

Jangan memandang status, carilah perkenanan Tuhan.

Sebaliknya jika kita bertemu dengan orang dengan status yang masih di bawah, jangan sombong dan memperlakukan mereka sewenang-wenang. Karena Tuhan bisa mengangkat mereka juga. Hargai orang-orang di sekitar kita. Pelayan, asisten rumahtangga, tukang parkir, satpam, dan siapaun yang statusnya mungkin berada di bawah kita.

Jika kita pemimpin perusahaan, hargailah karyawan-karyawan kita. Jangan mempermalukan, membentak, memaki-maki mereka. Hargai setiap orang.

Seorang guru di Jerman selalu memberikan hormat kepada murid-muridnya yang masih SD sebelum mengajar. Salah seorang murid bertanya kenapa dia selalu melakukan itu.Gurunya menjawab bahwa karena dia tidak pernah tahu akan menajdi apa murid-muridnya nanti. Ternyata salah satu muridnya adalah Martin Luther yang adalah reformator gereja.

Jika ada perkenanan Tuhan. Tuhan memilih maka akan ada promosi. Murid tidak boleh memandang status. Kita tidak boleh hanya menghormati orang yang statusnya tinggi.


Jadilah murid yang berdampak, rendah hati, dan tidak memandang status. Ikuti teladan Yesus, guru kita, dan jadilah garam serta terang dunia.

Be more positive, creative, and productive! Be blessed!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s