Yang Kita Pikirkan Selama Ini Belum Tentu Benar | The Art of Thinking Clearly Book Review


Kalau dia berhasil, saya juga pasti bisa berhasil asalkan mengikuti tips dari dia. Tapi banyak orang yang menggunakan caranya tapi tetap saja tidak berhasil. Seringkali kita melebih-lebihkan pengetahuan kita daripada meremehkannya.

Promo hanya berlaku saat ini juga. Bahaya kehilangan sesuatu lebih mendorong kita untuk mengambil tindakan impulsif daripada mempertimbangkan alternatif lain dengan keuntungan yang sama.

Jika sekerumunan orang melihat ke atas, kita ikut melihat ke atas. Kita sering menyamakan kelakuan kita dengan orang lain ketika kumpul bersama.

Inilah yang dinamakan “coginitive error” oleh Rolf Dobelli dalam bukunya “The Art of Thinking Clearly”. Kita tidak sedang berpikir secara logika dan rasional. Pada akhirnya kita pun menjadi sulit dalam mengambil keputusan atau biasanya kita memilih sebuah keputusan yang tidak tepat karena kita tidak bisa berpikir dengan jelas.

Mari kita lihat beberapa hal yang menahan kita untuk berpikir secara jelas dan mempengaruhi pengambilan keputusan kita.


1. SUKSES KARENA KEMAMPUAN, GAGAL KARENA DI LUAR KENDALI

Kita sering memberikan penghargaan kepada diri sendiri ketika berhasil mengerjakan atau meraih sesuatu. Bahkan kita menggembor-gemborkan cara yang berhasil itu kepada orang lain. Padahal cara kita belum tentu bisa diaplikasikan pada orang lain.

Sebaliknya, ketika gagal, kita menyalahkan keadaan di luar kita, yang tidak bisa kita kendalikan. Kita menyalahkan keadaan, orang lain, pandemi, dan lainnya. Realita yang salah ini membuat kita merasa baik tentang diri kita tapi ini tidaklah baik.

Kita perlu menguji dan menerima hasil kita sendiri. Jika hasilnya baik, tetap kerjakan. Namun jika hasilnya buruk, belajar lagi dan tingkatkan diri.


2. ILUSI KONTROL

Ini adalah sebuah ilusi dimana kita percaya bahwa kita dapat mengendalikan sebuah keadaan, padahal tidak.

Seperti penjudi yang mengira bahwa permainan selanjutnya akan mereka menangkan, namun pada kenyataannya hasilnya itu hanya keberuntungan semata. Mereka pun, pada akhirnya, hampir selalu kehilangan uang mereka.

Mereka merasa bahwa mereka memegang kendali, tapi tidak. Akhirnya mereka mengambil keputusan yang salah. Di sini kita perlu memvalidasi asumsi kita dan periksa data. Jangan hanya berasumsi bahwa produk kita akan menjual, tapi tes itu pada kelompok kecil target marketing kita dan lihat apakah sesuai dengan permintaan mereka.

Sebagai manusia, kita suka percaya bahwa kita dapat mengendalikan hampir semuanya. Strategi yang lebih baik adalah validasi kepercayaan kita tersebut.


3. BUKTI SOSIAL

Seberapa banyak keputusan yang kita buat adalah benar-benar keputusan dari kita? Kebanyakan keputusan itu dipengaruhi oleh orang lain. Kita hidup di dunia dimana orang menghitung berapa banyak like yang didapatkan. Jadi kita memilih pakaian atau tempat makan berdasarkan apa yang orang lain lebih sukai.

Bukti sosial ini selalu mempengaruhi pengambilan keputusan. Saat kita mencari sebuah video di media sosial (sebut saja YouTube), kita selalu mencari video yang paling banyak dilihat. Kalau banyak orang yang nonton berarti video itu punya informasi paling tepat tentang topik itu. Tapi nyatanya banyak video serupa dengan informasi yang sama, bahkan kualitas video yang lain tersebut bisa jadi lebih bagus.

Jadi kita harus sadar apakah pilihan kita ini berdasarkan tekanan sosial atau karena pilihan kita sendiri.


4. INTERPRETASI INFORMASI

Ini dinamakan confirmation bias. Seringkali hal ini menahan kita untuk melihat dari perspektif lain. Kita cenderung menerima informasi yang memvalidasi apa yang sudah kita percayai dan menolak informasi yang berlawanan dengan kepercayaan kita.

Jadi apabila diperhadapkan dengan sebuah pilihan. Tanyalah pendapat dari orang lain dan minta data yang mendukungnya. Dengarkan pendapat orang lain dan lihatlah semua data secara merata.


5. MEMBANDING-BANGINGKAN

Pikiran kita suka membanding-bandingkan ketika membuat keputusan. Sebut saja ada baju yang didiskon dari IDR 700,000 menjadi IDR 300,000. Kemudian kita melihat ada baju dengan harga IDR 300,000. Biasanya kita akan menganggap baju yang dengan harga tinggi yang didiskon itu lebih bagus daripada baju yang tidak didiskon. Padahal belum tentu kualitasnya berbeda jauh. Bisa jadi itu adalah taktik marketing untuk menyiasati supaya kita membeli produknya.

Jadi saat membeli produk, jangan hanya memikirkan apakah produk ini lebih bak dari yang satunya, tapi pikirkan apa yang benar-benar kita butuhkan.


6. KELELAHAN

Mengambil keputusan itu membutuhkan energi. Jadi jangan sampai mengambil keputusan di saat kita merasa lelah dan tidak termotivasi atau terinspirasi karena keputusan itu bisa menjadi sesuatu yang tidak baik. Sebaliknya, cobalah buat keputusan yang penting saat tingkat energi kita masih tinggi, biasanya di pagi hari saat kita masih merasa baik danbersemangat.

Pastikan juga supaya keputusan yang diambil tidak terpengaruh dari keadaan emosional kita karena kita bisa menyesalinya nanti.


7. LOGIKA & PERASAAN

Seperti yang barusan dijelaskan, mengambil keputusan itu membutuhkan energi. Mempertimbangkan secara logika akan membuat kita kelelahan sehingga pada akhirnya malah membawa kepada keputusan yang salah. Di akhir buku, Rolf memberitahu caranya untuk menjaga agar kehidupannya bebas dari pilihan yang salah. Saat membuat keputusan, jangan hanya berkonsultasi menggunakan logika, tapi juga perasaan atau intuisi.

Dalam situasi dengan konsekuensi yang besar seperti kepentingan pribadi yang penting atau keputusan bisnis, berpikirlah secara masuk akal dan rasional sebisa mungkin. Kita bis amembuat list plus minus dan cari solusi untu membuang semua kesalahan dan resiko. Sebaliknya jika dalam situasi dengan konsekuensi yang kecil, lupakan logika dan biarkan intuisi yang maju. Berpikir itu melelahkan, jadi jika hal kecil, jangan bairkan pikiran kita menjadi dibahayakan oleh keputusan itu. Jika keputusan kita tidak sempurna, tidak apa. Kita masih dapat membuat belokan atau putaran yang lebih baik.

Kenali circle of competence kita. Saat belajar musik, lama kelamaan kita terbiasa menggerakkan jari-jari kita saat mengganti kunci. Warren Buffet bisa membaca laporan keuangan seperti seorang musisi membaca notasi balok. Itulah lingkaran kompetensi Warren, dia secara intutif mengerti dan menguasainya.

Jika menghadapi keadaan di luaran lingkaran kompetensi kita, aplikasikan cara berpikir yang keras, lambat, dan rasional. Selain itu, biarkan intuisi yang bekerja.


MY PERSONAL REVIEW

Rolf Dobelli memberikan penjabaran yang sangat mendetil dan mudah dimengerti. Total chapter ada 99 tapi setiap chapternya tidak panjang, dari versi yang saya baca hanya 3 halaman per chapter. Di setiap chapter dibahas 1 topik yang seringkali membutakan pikiran kita.

Photo by emre keshavarz on Pexels.com

Dalam bukunya selalu diawali dengan contoh-contoh yang relevan dan juga diberikan beberapa fakta baik itu dari hasil penelitian ataupun dari pengalaman orang. Ini semakin menekankan penjelasan pada setiap topik yang ada sehingga lebih bisa dimengerti.

Di akhir setiap chapter-pun ada kesimpulan dan solusi yang diberikan untuk kita tidak terjebak dalam cara berpikir yang tidak jelas. Secara pribadi, buku ini membuat saya menjadi lebih kritis dalam mengambil keputusan. Jangan sampai mudah terpengaruh dengan mayoritas ataupun berita ataupun promo yang diberikan. Saya belajar untuk tidak hanya percaya pada cara berpikir saya saja, tapi harus melihat perspektif lain dengan data yang tersedia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s