05. MY BAD? – NASIB BURUKKU?

My Bad? – Nasib burukku?

(Chloe Evert)

“Aaaaaaaaa!!!” Aku menjerit kencang saat sebuah bola melaju menabrak kaca dan menghantam wajah Will. Will jatuh dan wajahnya penuh dengan pecahan-pecahan kaca yang menusuknya. Tapi yang lebih parah lagi kulihat sebuah pecahan yang cukup panjang tepat menusuk mata kanannya! Membuat matanya berdarah banyak sekali dan aku tidak tahan melihatnya! Seorang lagi yang akhirnya meninggal karena berada di dekatku dan mungkin saja dia adalah orang yang menyayangi diriku juga, sama seperti suamiku, Billy; teman baikku, Tina; dan ibu angkatku, Maya.

Setelah polisi melakukan autopsi dan mengambil kesimpulan kalau semua ini hanyalah kecelakaan yang tidak sengaja, aku mencoba untuk tidur tapi sulit sekali. Aku terus memikirkan ucapan Jack. Apa yang waktu dia mimpikan benar-benar aku? Apa aku adalah mimpi buruk bagi semua orang yang menyayangiku? Apa malaikat kematian yang dia lihat di mimpi itu benar-benar aku? Semakin kutanyakan pertanyaan-pertanyaan itu, semakin aku sulit untuk menemukan jawabannya.

Nasib buruk tidak mungkin akan selalu mengikutiku. Aku tidak percaya kalau aku adalah nasib buruk bagi setiap orang yang menyayangiku! Ya! Itu tidak mungkin! Aku harus membuktikanya! Aku harus terus bertahan hidup dan tidak boleh membiarkan tragedi yang berkelanjutan ini terus mengintimidasi diriku!

Ya! Aku akan mengajak seseorang yang menyayangiku keluar. Aku akan membuktikan kalau aku bukanlah pembawa sial dan omongan Jack itu hanyalah omong kosong! Aku berusaha memikirkan sebuah nama dari orang yang mungkin menyayangiku tapi siapa? Billy, Tina, dan Maya. Hanya mereka yang aku rasa paling menyayangiku. Lalu Jack, tapi sangat tidak mungkin kalau aku memintanya untuk bersamaku. Saat ini saja dia sudah terlalu paranoid berada di dekatku.

Samantha! Samantha Winterson! Atau mungkin lebih tepatnya Samantha Scavo, kakak perempuan dari Billy yang sudah menikah dengan keluarga Scavo. Ya! Dia wanita yang sangat baik dan dia juga sangat menyayangiku! Aku bisa mencoba nasib burukku ini dengannya! Tidak lama kemudian aku menghubunginya, ternyata dia memang khawatir dengan keberadaanku apalagi saat aku bilang kalau aku ini sedang hamil. Samantha yang biasa kupanggil Sam memang seperti kakakku sendiri. Dia langsung berjanji akan datang ke rumahku besok dan dia akan menemaniku ke mall untuk membeli perlengkapan bayi. Aku merasa yakin sekali kalau besok akan menjadi hari yang paling beruntung dalam hidupku. Aku akan tetap melanjutkan hidupku dan tidak akan ada apa-apa yang terjadi! Aku yakin itu!

***

Aku terbangun saat pintu rumahku diketuk. Ternyata hari sudah mulai siang, sudah jam sepuluh. Aku tidur nyenyak sekali kemarin dan sekarang perasaanku jauh lebih tenang dan senang. Semua tragedi yang terus menerus menimpaku akan segera kutangani dan yang paling menyenangkan lagi, aku akan melanjutkan hidupku dan aku akan membuktikan pada Jack kalau aku bukanlah pembawa sial!

Aku pergi membuka pintu. Ternyata Sam sudah datang, bersama dengan putranya, Tommy.

“Hi, Chloe!” Sam langsung memelukku. “Lama tidak melihatmu, sayang…”

“Aku juga.” Aku membalasnya. “Kangen sekali padamu.” Aku melihat Tommy dan langsung menyapanya. “Hi, tampan! Kau makin besar rupanya, berapa umurmu sekarang?”

“Tiga, bi Chloe!” Jawab Tommy dengan suara yang lucu.

“Tiga seperempat.” Sam melengkapinya. “Tom akan berulang tahun lima bulan lagi.”

“Wah, siapa tahu saja ulang tahunmu akan sama dengan ulang tahun anakku.” Kataku ceria. “Dan siapa tahu saja kau akan menikahi anakku suatu saat nanti.”

“Haha!” Sam tertawa. “Siapa tahu saja…..”

“Ayo, masuk!” Aku mempersilakan Sam dan Tom masuk. “Aku baru bangun jadi kalian harus menunggu siap-siap dulu.”

Sam memang wanita yang baik. Suaminya meninggal karena kecelakaan, untungnya Sam tidak meninggal pada kecelakaan yang sama. Sam berhasil diselamatkan tapi sayang ayah Tom harus ikut meledak dengan mobil yang dikendarainya. Tapi itu sudah setahun berlalu dan aku yakin sekali kalau saat ini Sam sudah bisa melanjutkan hidupnya. Aku juga akan mengikuti jejaknya, walaupun kedua suami kami sama-sama sudah tiada tapi aku juga akan tetap melanjutkan hidupku ini sama sepertinya.

Sam sempat membuatkanku sarapan saat aku sudah selesai berpakaian. Kami makan bersama sampai jam satu dan kami pun berangkat bersama ke mall.

Di mall aku sangat menikmati berjalan bersama dengan Sam. Dia teman yang baik. Kami pergi membeli barang-barang yang kubutuhkan saat bayiku lahir nanti. Kami juga sempat makan di sebuah restoran seafood. Di sana kami mengobrol, bercanda, dan tertawa bersama. Bisa kukatakan kalau saat itu adalah saat di mana aku bisa keluar dari mimpi burukku, saat di mana aku merasa bebas dan tidak ada lagi beban yang memberatkan diriku.

“Huh! Kurasa sudah saatnya kita pulang.” ujar Sam yang terlihat sangat segan untuk pulang. Aku dan dia merasakan hal yang sama, kami bersenang-senang.

Aku hanya tersenyum sambil mengambil beberapa kantong belanjaanku dan kami keluar bersama dari restoran itu. Sam dan Tom sama-sama membantuku membawa barang belanjaan yang sepertinya semuanya adalah untukku.

Baru saja aku menapakkan kakiku keluar dari restoran, perasaan tidak enak ini kembali menghantuiku. Rasa takut yang sama saat Billy, Tina, dan mama pergi meninggalkan diriku. Seperti ada yang mau bilang kalau ada seorang lagi yang akan meninggalkanku tapi aku sama sekali tidak tahu siapa itu….

Aku merinding…. Kuikuti Sam dan Tom yang terus berjalan bergandengan ke lift.

“Aku mau pencet liftnya!” Tom bersemangat dan lari ke lift, melepaskan pegangan Sam dan menekan tombol lift.

“Dasar!” Sam berbisik padaku. Aku tidak bisa tersenyum. Saat ini jantungku berdegup kencang sekali, aku tahu ada yang tidak beres. Apa mungkin malaikat kematian yang ada di dalam diriku kembali beraksi dan akan membunuh seseorang yang juga sangat kusayangi? Apa mungkin Jack benar selama ini?

Sam dan aku berhenti di depan pintu lift yang sebentar lagi akan terbuka. Tom terus berlari-lari mengelilingi aku dan Sam, dia senang sekali karena bisa menekan tombol lift. Orang-orang berdatangan untuk masuk ke dalam lift juga.

Beberapa detik kemudian aku sadar! Selama ini yang meninggal adalah orang yang selalu berada di dekatku! Dan kalau memang saat ini akan ada yang pergi meninggalkanku, aku yakin sekali kalau dia adalah….

Ting!

Pintu lift terbuka. Jantungku seakan berhenti berdetak! Liftnya kosong dan Sam masuk ke dalam lift itu. Sam! Dialah yang akan pergi! Aku tahu itu!

“Sam!” Aku memanggilnya, lalu kudengar suara barang yang jatuh. Aku melihat ke sebelah kiriku. Tom terpaku berdiri dengan mata yang tertuju pada ibunya yang sudah ada di dalam lift. Barang bawaannya jatuh semua dan Tom tidak peduli, dia tampak kosong.

Sam berbalik dan melihat aku dan anaknya yang masih di luar. “Oh, ada apa?” Sam berjalan keluar tapi orang banyak terus berdatangan ke dalam lift dan memaksa Sam untuk mundur sampai ke pojok belakang lift.

Saat pintu lift menutup, aku mendengar suara aneh dari atas. Ada yang putus dan aku tahu apa yang putus, itu adalah tali lift. Beberapa saat kemudian kudengar teriakan orang-orang yang ada di dalam lift. Lift itu jatuh dari tingkat paling atas menuju lantai dasar dan terjadi ledakan yang cukup besar saat lift itu menabrak lantai dasar.

“Tidaaak….” Tangisanku sudah tak bisa kutahan, “TIDAAAAK…!!!” Aku menjerit sekencang mungkin.

***

Tidak ada yang selamat! Semuanya hangus terbakar, semua yang ada di dalam lift, termasuk Sam. Sudah hilang semua harapanku…, harapan untuk melanjutkan hidupku. Aku sudah pasrah. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Aku berdiam diri sambil melihat mayat-mayat yang sudah tidak bisa dikenali lagi dibawa keluar dari dalam lift.

Aku tahu Sam tidak mungkin selamat dari kecelakaan tadi. Aku tidak mengerti, apa semua ini terjadi karena aku? Setiap orang yang aku sayangi mati satu per satu. Bukan hanya itu, saat ini semua orang yang berada di dekatku akan kehilangan nyawanya. Ya! Itulah yang terjadi, aku membunuh mereka semua. Aku adalah seorang pembunuh! Pembunuh!

Aku bergerak pelan keluar dari mall dan masuk ke dalam taksi.

“Mau ke mana?” Tanya sang supir.

“Rumah sakit jiwa.” Aku menjawab dengan cepat dan yakin. Hanya tempat itu yang terpikirkan saat ini. Aku sudah gila dan aku tidak boleh membuat orang lain mati lagi. Aku akan menghentikan semua ini. Di rumah sakit jiwa aku akan sagat terisolasi, aku tidak akan bisa melukai siapapun.

Benar saja, di rumah sakit itu aku tidak akan bisa bertemu siapapun, lagipula orang-orang di sana tidak mungkn bisa aku sayangi karena mereka semua tidak waras. Aku melihat banyak sekali pria dan wanita dari berbagai usia dengan keanehannya masing-masing.

“Ada yang bisa kubantu?” Tanya seorang resepsionis.

“Aku ingin masuk ke dalam sini.” Jawabku yakin.

Beberapa menit kemudian aku sudah resmi menjadi pasien di rumah sakit itu. Aku memilih kamar isolasi untuk diriku sendiri, aku tidak mau bertemu lagi dengan siapapun. Begini lebih baik, aku akan seperti ini terus, sampai kapan aku masih belum yakin tapi yang pasti aku merasa aman di sini.

Advertisements

1 reply »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s