07. BIG FIRE PART 2 – KEBAKARAN BESAR BAGIAN 2

Big Fire part 2 – Kebakaran Besar bagian 2

(Chloe Evert)

Satu bulan…

Aku hanya bertahan satu bulan di Rumah Sakit Jiwa yang aku datangi dengan sukarela itu. Semua ini menjadi semakin parah, aku terus diikuti oleh kematian-kematian di sekelilingku. Terutama pada malam itu, malam di mana Lex, salah satu pasien di rumah sakit itu menyebut-nyebut kalau aku adalah pembunuh dan aku akan membunuh dia beserta salah seorang pengantar makanan yang bernama Helena Miller.

Malam itu menjadi sangat mengerikan. Helena masuk ke dalam ruanganku karena dia ingin menolongku mmbersihkan gelas yang aku lempar ke pintu. Tapi keadaan menjadi kacau, Lex masuk ke dalam dan mencekik Helena. Dia terus mengatakan kalau aku bebas untuk membunuh siapa saja yang aku mau. Telepon genggam Helena sempat jatuh dan aku segera mengambilnya, mungkin aku membutuhkannya untuk meminta bantuan.

“A… apa yang kau lakukan?” Tanyaku sambil mencoba berdiri karena saat ini kandunganku sudah lima bulan. Telepon genggam Helena sudah aku pegang.

“Aku membebaskanmu.” Jawab Lex sambil terus mencekik Helena. “Sekarang kamu bebas untuk membunuh siapapun, sayang….”

Aku menggeleng dan mulai menangis. “Tidak, aku…”

“Pergi! Dan buatlah kematian sebanyak mungkin! Hahahahahahaha!”

Aku tidak tahan lagi, dia terus mngatakan kalau aku adalah pembunuh. Tidak mungkin! Yang aku inginkan saat ini adalah menjauh darinya, aku tidak mau berada di dekat Lex. Tanpa kusadari aku berlari keluar dari kamar isolasiku. Susah sekali berlari bagiku dengan perut sebesar ini. Aku berjalan cepat sambil memegangi dinding menuju ke pintu di mana Helena masuk.

“Pembunuhnya bebaaaas! Hahaha! Aku akan matiii….”

Teriakan Lex benar-benar membuatku takut. Aku tidak tahan lagi, aku ini bukan pembunuh, aku tidak tahu apa-apa. Hanya saja… Hanya saja semua orang di dekatku selalu saja mengalami kematian. Tapi apa benar itu salahku? Apa benar aku ini pembawa kematian? Apa benar kata Jack kalau aku adalah malaikat kematian yang ada di mimpinya itu?

Aku membuka pintu dan melihat sebuah lorong dengan lampu yang redup. Di kanan dan kiri ada kamar-kamar yang aku tahu pasti kalau itu adalah tempat tidur bagi para pasien dan mereka semua pasti sudah dikunci di dalam kamar mereka masing-masing, kecuali Lex!

Aku menengok ke belakang, Lex keluar dari kamarku tadi. Dia melihat aku dan langsung berseru, “Kau tak’kan ke mana-mana, hihi! Kau akan membunuhku. Hihihi! Membunuhku, Helena, dan semuuua yang ada di sini, hihihi!”

Aku menutup pintunya, sudah cukup. Aku tidak mau mendengar omong kosongnya lagi. Aku berjalan cepat ke ujung lorong tersebut. Aku harus mencari perawat yang lain supaya datang menolongku dari Lex.

“Tolooong!” Teriakku pelan, suaraku seakan tidak mau keluar karena aku sudah sangat kelelahan. Wanita hamil tidak seharusnya mengalami semua ini.

Aku tidak kuat lagi, kepalaku mulai pusing. Aku bersandar di salah satu pintu kamar. Pusing sekali, aku tidak kuat berjalan lagi. Perlahan aku menekan nomor telepon Jack, ayah angkatku. Mungkin dia bisa menolongku.

Halo?

“Jack!” kataku cepat. “Tolong aku!”

Chloe? Kamu… kamu ada di mana? Ke mana saja kamu selama ini? Aku, aku mencarimu ke mana-mana.

”Tolong aku, Jack! Aku ada di rumah sakit Soul Recover. Cepat datang!” Tiba-tiba ada yang mendobrak-dobrak pintu di mana aku bersandar. “Aaaaa!” Aku berbalik dan menjatuhkan telepon genggamnya. Batere telepon genggamnya lepas sehingga telepon genggam itu mati.

“Pembunuh! Hihihi! Pembunuh ada di sini!”

Pasien di balik pintu itu berteriak kencang. Beberapa detik kemudian setiap pintu didobrak dan teriakan-teriakan pembunuh terus menggema di lorong itu. Semua pasien berteriak ’pembunuh’! Tidak! Aku tidak kuat lagi, aku harus pergi dari sini!

Tapi aku sadar dari belakang, Lex membuka pintu dan sekarang dia berjalan mendekatiku. Aku harus pergi! Aku menyeret seluruh tubuhku, berusaha menjauhinya, aku sudah tidak kuat lagi untuk berdiri dan berjalan.

“Kau tak’kan ke mana-mana, ihihi!” Seru Lex.

“PEMBUNUH! PEMBUNUH!”

Tanganku dipegang erat. Lex menangkapku! “Tidaaak! Tolooong…!” Lagi-lagi teriakanku begitu pelan. “Lepaaaas….” Aku meronta-ronta.

“Kau akan mengkutiku, ihihi!” Lex meraih tanganku yang satunya dan mulai menarikku, membawaku kembali ke kamarku.

“Lepaaas!” Aku diseret ke dalam pintu menuju ruang isolasi, Lex langsung menutup pintunya karena para perawat datang untuk menenangkan para pasien yang terus berteriak. “Toloong!” Aku meronta-ronta. Pintunya sudah tertutup, para perawat itu tidak bisa melihatku, aku butuh pertolongan mereka. “Tolong!”

Lex terus menyeretku ke kamar 13. Sesampainya di kamar itu, dia langsung menutup pintunya. Aku terbaring di lantai, di dekatku ada Helena yang tidak sadarkan diri, dia pasti pingsan karena dicekik Lex tadi.

Seseorang membuka pintu menuju ruang isolasi! Pasti salah satu perawat ingin mengecek. Aku langsung bergerak untuk berteriak meminta tolong tapi Lex lebih cepat membungkam mulutku dengan tangannya.

“Mmmm…” Aku meronta-ronta tapi tidak berdaya karena Lex lebih kuat. Beberapa detik kemudian terdengar pintunya ditutup, pasti perawat itu sudah pergi. Sekarang tidak ada lagi yang bisa menolongku….

Lex melepaskan tangannya dan membuka pintu kamar sedikit untuk mengecek, ternyata benar sudah tidak ada orang karena dia langsung berkata, “Sekarang sudah tidak ada lagi yang akan meghalangimu untuk membunuh, hihi!”

Aku melihat Helena yang tidak sadarkan diri, mungkin dia bisa menolongku kalau dia sudah sadar, tapi berapa lama lagi dia akan sadar? Entah apa yang akan menimpaku satu menit kemudian. Lex benar-benar membuatku takut.

“Ke… kenapa? Kenapa kau melakukan ini? Apa salahku?!” Tanyaku pada Lex.

“Hihi! Ini takdirmu, sayang….” Ujar Lex. “Kamu harus membunuhku dan semuanya hehe!”

“Ta… Tapi kenapa? Kenapa kau melakukan ini? Apa urusanmu denganku? Bahkan aku tidak mengenalmu….”

“Sudahlah, ikut aku sini!” Lex kembali menarik kedua tanganku dan menyeretku keluar.

“Tidaaaak! Jangaaan!” Aku menjerit pelan. Perutku terasa sangat sakit sekarang. Aku tidak berdaya, Lex membawaku kembali ke lorong yang tadinya penuh teriakan, dia mau membawaku ke suatu tempat. Aku terus diseret hingga akhirnya aku dibawa ke dapur.

Lex melepaskan aku dan membiarkan aku terbaring di depan dapur, sedangkan dia masuk ke dalam dapur. Aku lemas sekali, kepalaku pusing dan perutku sakit sekali.

Aku melihat ada seseorang berlari ke arahku, seorang wanita, Helena! Itu Helena. Dia datang….

“Chloe….” Panggilnya. “Apa yang terjadi? Di mana Lex?”

Aku menunjuk ke arah dapur. Helena langsung masuk ke dapur, aku melihat ke dalam. Kejadiannya begitu cepat sekali, Lex menyalakan kompor dan beberapa detik kemudian terdengar…

DUUUAAAAR…!!!

Terdengar ledakan besar! Lex langsung hangus terbakar oleh ledakan yang berasal dari gas kompor. Beberapa barang-barang di dapur terlempar keluar dapur, aku hanya bisa menunduk sambil melindungi kepalaku. Kompor juga ikut meledak dan pisau yang ditaruh Helena di bawah kompor langsung melayang ke Helena dan…

Jrep!

Helena terlempar karena ledakan dan jatuh tepat di sampingku. Debu-debu beterbangan ke arahku. “Uhk! Uhk!” Aku terbatuk-batuk dan saat aku melihat Helena…, pisaunya menancap ke leher Helena!

Alarm kebakaran berbunyi kencang sekali. Api begitu cepat menjalar ke seluruh rumah sakit. Helena masih hidup tapi dia kesakitan karena pisau yang menancap itu.

“Oh tidaaak…” Aku ketakutan melihat Helena. “A…aku akan menolongmu, tenanglah….”

Bum! Atap-atap di dapur mulai roboh. Di luar dapur sudah terbakar, aku sudah mulai dikelilingi api tapi aku harus menyelamatkan Helena dulu, dia berusaha menyelamatkanku, aku tidak boleh membiarkannya mati!

Aku mendekati Helena dan memegang pisau yang tertancap itu. “Ma…maafkan aku…. Aku harus mencabutnya….” Dengan cepat aku mencabut pisaunya.

“Akh….!” Helena mau menjerit tapi tidak bisa karena darah mulai keluar dari mulut dan lehernya.

Aku menutupi luka di lehernya dengan tanganku. Helena bisa kehabisan darah kalau aku tidak menutupnya. Beberapa perawat pria mendatangiku dan Helena.

“Apa yang terjadi?” Tanya salah satu dari mereka.

“To… tolong dia…. Dia terluka.” Kataku sedih.

“Bawa wanita ini keluar!” Kata perawat yang tadi bertanya padaku.

Dua dari perawat itu menggandengku dan membawaku keluar dari tempat yang sudah dipenuhi dengan api itu. Aku menengok ke belakang, melihat dua perawat lain yang mencoba menolong Helena tapi tiba-tiba atap di atas mereka roboh dan jatuh menimpa mereka semua.

“Tidaaaak!” Aku menjerit pelan karena suaraku tertahan. Dua perawat yang menggandengku menengok ke belakang.

“Aku akan menolong mereka, kau pergi!” Salah satu dari mereka melepasku dan kembali ke tempat Helena.

“Lex benar. Aku… aku akan membunuh kalian semua….” Tangisku.

“Tenang, kau akan baik-baik saja!” Perawat yang menggandengku membawaku keluar dari lorong. Aku sempat melewati persimpangan dan melihat para perawat yang sibuk membawa keluar para pasien yang tampaknya berusaha bertahan di tempat mereka masing-masing. Para pasien menolak untuk keluar dari rumah sakit.

Pintu dibuka, aku dibawa keluar dan dibaringkan di rerumputan. Rumah sakit sudah dipenuhi dengan api yang sangat besar. Entah ada yang akan selamat dari tempat itu atau tidak, apa benar aku akan membunuh semua orang di dalam sana? Apa semua yang diucapkan Lex tadi benar bahwa aku akan membunuh mereka semua yang ada di rumah sakit?

“Kau tunggu di sini, bantuan akan segera datang. Aku akan kembali masuk, menolong mereka yang mungkin masih selamat.” Perawat yang membawaku keluar berkata demikian dan langsung kembali ke dalam.

Entah kenapa saat dia berkata begitu, aku mulai diliputi firasat buruk. Perkataan Lex akan menjadi kenyataan! Saat perawat itu membuka pintu dan masuk ke dalam, ada beberapa perawat yang berusaha memaksa seorang pasien keluar. Aku melihat pintu itu menutup sendiri dan mengunci sendiri!

Perawat yang tadi membawaku keluar mencoba membuka pintu untuk membiarkan pasien dan beberapa perawat yang membawanya keluar tapi tidak bisa! Pintu itu terkunci!

Apa yang terjadi? Itu tidak mungkin! Aku melihat ke jendela dekat pintu itu, ada perawat yang berusaha membukanya, tapi tidak berhasil seakan-akan jendela itu terkunci! Dia memukul-mukul kaca jendela dengan kuat tapi tidak pecah. Dia mengambil bangku dan memukulkannya ke kaca jendela tapi kaca itu tetap tidak pecah! Tidak mungkin! Semua ini mustahil! Apa mungkin hanya aku yang selamat? Apa mungkin semua orang yang ada di rumah sakit itu akan mati?

Apa mungkin yang dikatakan Lex itu benar? Aku tidak kuat lagi, tekanan ini terlalu berat. Aku mulai kehilangan kesadaran dan pingsan….

Advertisements

1 reply »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s