09. HAPPINESS – KEBAHAGIAAN

Happiness – Kebahagiaan

(Chloe Evert)

Aku berlari keluar dari rumah walau perutku terasa berat. Jack membutuhkan bantuanku, dia sedang terluka di bawah sana. Jika aku diam saja, mungkin dia akan kehabisan banyak darah dan itu bisa membunuhnya. Aku tidak mau lagi ada yang harus mati karena aku. Saat ini orang yang menyayangiku dan aku sayangi hanya tinggal Jack. Tidak akan kubiarkan dia meninggalkanku.

Aku membuka pintu dn melihat keluar, tidak ada siapa-siapa. Dengan cepat aku berjalan ke jalan dan berteriak, “Tolooong!”

Tapi sepertinya tidak ada respon. Di sekelilingku hanya ada rumah kayu yang aku tinggali bersama Jack. Tidak ada tempat tinggal lainnya. Aku berjalan menuju jalan besar, berharap ada mobil yang lewat.

Malam sudah sangat larut. Tidak ada satu mobil pun yang lewat saat aku sampai di jalan besar. “Tolooong.” suaraku melemah. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu keluar dari saluran kelaminku. Aku melihat ke bawah, ada air yang keluar. “Oh, tidak.”

Sebuah taksi datang menghampiriku dan berhenti tepat di sampingku. Sopirnya keluar, “Ya, ampun, malam-malam begini untuk apa wanita hamil sepertimu…” Dia terdiam saat melihat air yang keluar dari dalamku. “I… itu…”

“Air ketubanku, air ketubanku baru saja pecah. Aku…” Aku melihat ke sopir taksi itu.

“Oh, my God. Kau akan melahirkan.” Mendadak sopir taksi itu menjadi sangat cemas. “Ayo, cepat! Akan kuantar kau ke rumah sakit. Aku tahu ada rumah sakit yang dekat dengan sini. Ayo!”

“Tapi…” Aku menurutinya tapi aku harus memberitahunya soal Jack. Jack sedang kesakitan dan harus segera ditolong. Baru saja aku mau memberitahunya tapi tiba-tiba kontraksi hebat mulai menghantam perutku. “AAAAAAAAA…!!!” Sakit sekali.

Taksi bergerak. Sopir taksinya membawaku ke rumah sakit yang jaraknya tidak cukup jauh. Selama perjalanan, perutku terus mengalami kontraksi, sakit sekali. Aku tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Anak ini harus segera kukeluarkan. “AAAAAA…!!!”

Setibanya di rumah sakit, aku sudah tidak tahu apa yang sedang orang-orang lakukan padaku. Aku dibaringkan di ranjang dan dibawa entah ke mana. Jeritan kesakitan terus keluar dari mulutku. Perutku terasa sakit sekali, sangat ingin pecah rasanya. Ada sesuatu yang memaksa keluar tapi tertahan dan itu membuat rasa sakit yang begitu dahsyat.

Aku ditaruh di sebuah kamar bersalin untuk menunggu pembukaan yang cukup lebar supaya bisa bersalin. Beberapa menit sekali aku mengalami kontraksi yang menyakitkan. Untungnya aku mengingat Jack.

“Suster.” Aku memanggil perawat yang sedang berada di ruanganku.

“Ya? Ada yang bisa kubantu?” Tanya perawat itu.

“Tolong bantu ayahku yang ada di rumah, dia… dia terluka.” kataku dan segera memberitahu alamat rumahku. Beberapa menit kemudian kontraksi semakin sering dan semakin menyakitkan, seorang dokter mendatangiku dan mengatakan kalau sudah saatnya aku bersalin.

“AAAAAAAAA!!!!” Berjam-jam rasanya aku menjalani proses persalinan itu. Sakit sekali.

Dokter berusaha keras untuk mengeluarkan bayi dalam perutku. Dia terus berteriak, “Dorong lebih kuat lagi, lebih kuat!”

“AAAAAAAAAAKKKH!!!” Aku mendorongnya sekuat mungkin, keringatku bercucuran. Aku bisa merasakan darah yang menggumpal di wajahku, benar-benar membuatku tersiksa tapi tiba-tiba kelegaan mulai menenangkan hatiku saat aku mendengar…

Waaaaaa…! WAAAAAAA…!!!

Dokter memotong tali pusarnya dan menyuruh seorang perawat membersihkan tubuh bayi mungil yang dia gendong.

“Bayiku…” Aku melihat bayiku yang dibawa oleh perawat.

“Tenang saja.” Kata dokter. “Bayimu baik-baik saja.”

Beberapa detik kemudian perawat tadi kembali membawa bayiku yang diselimuti dengan kain putih.

“Anakmu perempuan.” Perawat itu memberikan bayiku padaku. Aku menggendongnya, Perlahan aku membuka kain yang menutupi wajah bayiku. Aku melihat wajah bayi mungil yang sedang tidur, indah sekali. Ini adalah pemandangan terindah semasa hidupku. Setelah sembilan bulan aku menderita, akhirnya aku bisa menemukan kebahagiaan. Anakku dan Billy, akhirnya dia telah hadir ke dunia. Bayi perempuan yang begitu indah, putriku….

“Oh ya, satu hal lagi.” Kata perawat itu. “Ayahmu berhasil diselamatkan, sekarang dia sedang istirahat di sini juga.”

Mendengar itu, semua ketakutanku langsung pudar. Ini benar-benar menjadi akhir yang di luar dugaan. Anakku lahir dengan selamat dan ayah angkatku juga tidak kenapa-kenapa. Tidak kusangka kematian tidak lagi mengikutiku. Malam itu aku bisa tersenyum dan kebahagiaan meliputi hatiku; sampai tiba-tiba…

Trek!

Mati lampu….

Advertisements

1 reply »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s