02. A MONTH LATER – SEBULAN KEMUDIAN

A Month Later – Sebulan Kemudian

(Tina Handerson)

“AAAAA!!!”

Aku terbangun dari tidurku karena mendengar teriakan Chloe dari kamar sebelah. Dengan tergesa-gesa akan bangun dan segera keluar dari kamarku, menuju kamar Chloe.

Saat aku membuka pintu kamar chloe, aku melihat Chloe sudah duduk di tempat tidurnya. “Kamu tidak apa-apa?” Tanyaku dan langsung menyalakan lampu kamar Chloe. Wajahnya sangat pucat dan keringat dingin membasahi wajahnya, pasti Chloe bermimpi buruk lagi. Sudah sebulan ini dia terus bermimpi buruk, hampir setiap hari aku mendengar teriakannya.

Sejak hari pernikahannya, aku tinggal bersamanya di rumah yang seharusnya ditempati dia bersama Billy. Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. Pasti dia sangat tertekan saat ini, kasihan Chloe…. Itulah sebabnya aku harus tinggal bersamanya, setidaknya sampai dia bisa menerima kepergian suaminya, Billy Winterson, yang juga adalah kakak angkatku.

Dari kecil aku juga sudah yatim piatu, sama seperti Chloe, tapi keluarga Winterson mengadopsiku. Mereka memang keluarga yang baik. Sayang orang tuaku sudah tidak ada di dunia ini lagi. Ayah angkatku juga sudah lama meninggal karena sakit jantung dan ibu angkatku, dia baru setahun yang lalu pergi meninggalkanku, Billy, dan kakak perempuannya, Samantha, yang sekarang sudah menjadi seorang ibu tunggal bagi putranya, Tom.

Saat ini Chloe sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri, apalagi dia sudah menikah dengan kakak angkatku. Itu mempererat ikatan persaudaraan kami. Aku sangat menyayanginya dan aku tidak mau dia terus seperti ini terus karena kepergian kakak angkatku.

Aku mendekatinya dan memeluknya. “Tenanglah…, Cuma mimpi saja….” Aku mengelus-elus punggungnya berharap dia bisa tenang tapi itu tidak membuat efek apa-apa padanya. Jantungnya masih berdetak cepat. Aku bisa merasakannya, dia masih sangat ketakutan.

Chloe diam saja, tidak memberi respon. Sudah sebulan ini dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Setiap kali aku mengajaknya bicara, dia tidak pernah memberikan jawaban apa-apa, bahkan dengan anggukan atau gelengan kepala pun tidak  dia lakukan. Seakan-akan dia menjalani hidup ini tanpa nyawa.

“Kamu tidak boleh begini terus, Chloe…” Aku mencoba menasihatinya, mungkin untuk yang kesekian kalinya selama sebulan ini. “Kau harus memikirkan anakmu juga. Kasihan anakmu….”

Chloe harus memikirkan anak yang sudah dia kandung selama dua bulan ini. Setidaknya itu bisa dikatakan sebagai benih cintanya dengan Billy. Kasihan anaknya jika Chloe terus hidup seperti ini.

Aku terus menemaninya sampai dia tertidur kembali. Setelah itu aku pergi untuk bersiap-siap berangkat kerja. Sekitar jam tujuh, Jack dan Maya, orang tua angkat Chloe yang sering sekali datang mengunjungi kami, datang kembali. Kami mulai berbincang-bincang di dapur hingga sampai pada pembicaraan yang sangat tidak disukai Chloe.

“Apa Chloe masih belum mau bicara?” Tanya Jack.

“Belum, aku rasa dia masih sangat tertekan.” Aku menjawabnya. “Aku cemas sekali dengan keadaanya, tiap malam dia selalu bermimpi buruk. Chloe tidak bisa begini terus, tidak baik untuk kandungannya.”

“Oh, Jack…” Suara Maya terdengar khawatir. “Apa sebaiknya kita membawanya ke rumah kita saja?”

“TIDAK!” Tiba-tiba Chloe menyahut dengan kencang, membuat aku dan Maya kaget dan langsung berdiri dari tempat duduk kami. Jack yang dari tadi sudah berdiri segera mendekati Chloe.

“Sayang…” Jack mencoba bicara dengan suara rendah. “Akan lebih baik kalau kau tinggal bersama kami, Tina tidak bisa terus menemanimu di sini, dia ‘kan harus bekerja. Lagipula perutmu akan membesar dan kau…”

“Tidak!” Chloe menyela. “A…aku tidak akan pernah meninggalkan rumahku dan suamiku. Kami tinggal bersama di sini dan sebentar lagi anak kami juga akan lahir, kami bertiga… kami bertiga akan tinggal bersama di sini….”

Sepertinya dia tidak sadar akan apa yang telah dia katakan tapi yang pasti itu membuat Jack melihatnya seakan-akan dia punya penyakit jiwa. Maya mulai menangis dan menutup mulutnya agar isakannya tidak terdengar oleh aku dan yang lainnya, tapi aku masih bisa mendengarnya.

“Chloe…” Aku turut bicara. “Aku tahu kalau ini berat bagimu. Billy…, dia adalah kakak angkatku, aku juga sangat menyayanginya. Tapi kamu tidak boleh begini terus, kamu harus melanjutkan hidupmu….”

Kelihatannya Chloe tidak memperhatikan kalimat-kalimat yang baru saja kulontarkan padanya. Dengan emosi dia mulai membentak aku dan orang tua angkatnya. “TIDAK! Aku tidak akan pernah pergi dari rumah ini! Kalian tidak bisa memisahkanku dari suamiku sendiri!”

“Tapi suamimu sudah MATI!” Jack juga mulai emosi dan membentaknya, membuat Maya terlonjak kaget dan semakin sedih. Air mata mulai mengalir dari kedua matanya.

Chloe tidak bisa menerima apa yang telah dikatakan oleh Jack. Dia menggeleng-geleng, berusaha menganggap kalau Jack hanya berusaha membohonginya. Dia tidak mau mempercayai hal itu.

Mata Chloe mulai berlinang air mata. “A…aku…” Dia terus menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak percaya… Billy…, suamiku…, dia belum mati….”

“Dengar, sayang…” Suara Jack berubah menjadi lembut. “A…aku minta maaf, ok? Tidak seharusnya aku membentakmu.” Jack mengulurkan tangannya untuk memegang lengan anak angkatnya tapi Chloe menepis lengannya.

“A…aku tidak…” Tiba-tiba wajah Chloe kembali menjadi sangat pucat. Beberapa detik kemudian dia jatuh pingsan.

“CHLOE…!!!” Teriakku. Jack segera menahannya agar tidak jatuh ke lantai.

“Sayangku….” Maya terlihat sangat cemas, tiba-tiba dia memegang dada kirinya. Maya kesakitan.

“Maya?!” Aku segera menopang Maya yang terhuyung-huyung, dia sakit.

“Penyakit jantungnya kambuh lagi.” Ujar Jack sambil menggendong Chloe.

“Kau harus membawanya ke rumah sakit.” Kataku cemas sekali.

“Jaga dia, aku akan membawa Chloe ke kamarnya dulu!” Jack bergegas membawa Chloe ke kamarnya.

Aku membantu Maya duduk di kursi. Wajahnya juga sangat pucat, dia terus memegang dada kirinya. “Bertahanlah, Maya….” Ujarku pelan sambil terus memeluknya.

Beberapa saat kemudian Jack kembali dan segera membawa Maya keluar dari rumah. “Tina, a… aku minta maaf, seharusnya aku tidak mengungkit-ungkit lagi soal Billy. Chloe…, dia…” Jack terlihat sangat menyesal.

“Tidak apa-apa.” Aku menyela. “Aku mengerti, sebaiknya kau segera bawa Maya ke rumah sakit.”

“Terima kasih, Tina….” Ujar Jack yang terlihat masih sangat merasa bersalah.

“Hati-hati….” Kataku saat Jack membawa Maya ke dalam mobil.

Aku menutup pintu dan bergegas melihat bagaimana keadaan Chloe. Chloe masih tidak sadarkan diri, terbaring di ranjangnya dengan wajah pucat dan lemas sekali. Hari ini aku akan mengambil cuti, aku harus menjaga Chloe, aku tidak bisa meninggalkannya sendirian. Aku mulai menelepon kantorku, yang juga bekas kantor Chloe (Chloe sudah tidak bekerja lagi sejak sebulan yang lalu) dan meminta cuti untuk hari ini. Untung saja atasanku mengerti keadaanku dan tidak banyak mempermasalahkannya.

Selesai menelepon, aku bergegas memasak bubur untuk Chloe. Dia sudah jarang makan sebulan ini. Badannya semakin kurus dan semakin lemah. Mungkin itulah penyebab dia jatuh pingsan tadi.

Setelah aku menaruh bubur yang sudah kumasak ke dalam mangkuk, aku membawanya ke kamar Chloe. Dia masih belum sadar. Aku menaruh mangkuk buburnya ke meja sebelah Chloe dan mengambil bangku untuk kutaruh di sebelah Chloe. Aku mau menunggu sampai dia sadarkan diri.

Lama sekali aku menunggunya sampai tidak terasa aku mulai mengantuk dan tertidur. Hari sudah malam dan aku dibangunkan oleh gerakan Chloe yang mencoba duduk di ranjangnya.

“Kau sudah sadar rupanya.” Kataku yang langsung mengambil mangkok bubur. “Ini, makanlah dulu. Kamu kurang makan belakangan ini.”

“Ti…Tina….” Chloe sedih sekali saat menatapku.

Aku tersenyum padanya. “Aku senang kau sudah mulai bicara. Kau tahu ‘kan aku sangat takut selama sebulan ini? Aku mencemaskanmu. Begitu juga dengan Jack dan Maya.”

“Papa? Mama?” Dua kata itu terlontar pelan dari mulut Chloe yang sangat kering.

“Mereka sudah pergi.” Kataku tanpa memberitahu apa yang telah terjadi pada Maya, aku tidak mau menambah bebean pada sahabat baikku ini. “Kau tahu? Jack sangat menyesal karena sudah membentakmu tadi. Dia terus-terusan memohon maaf.”

“A… apa yang telah terjadi?” Aku bisa melihat Chloe kebingungan, sepertinya dia tidak mengingat apa-apa.

“Sebaiknya kamu makan dulu.” Kataku sambil menyerahkan mangkok bubur itu padanya. “Aku mau mandi dulu.”

“Terima kasih, Tina.” Ujar Chloe lemas. “Terima kasih sudah menjagaku selama ini.”

Sambil tersenyum aku keluar dari kamarnya dan pergi ke kamar mandi. Aku harus buang air. Aku berjalan keluar dari kamar Chloe dan entah kenapa tiba-tiba aku memiliki firasat yang sangat tidak menyenangkan, seperti ada sesuatu yang sedang mengikuti diriku.

Aku berjalan ke kamar mandi, menyalakan lampunya tapi di dalam kamar mandi masih gelap. Lampunya tidak menyala. Mungkin lampunya sudah rusak, aku harus menggantinya dengan yang baru. Aku masuk ke kamar mandi, menyalakan air ke bath tub (tempat berendam), membiarkan air itu memenuhinya dan pergi ke gudang untuk mengambil lampu baru.

Setelah aku mendapatkan apa yang kucari, aku mengambil sebuah bangku kayu yang juga ada di gudang dan membawanya kembali ke kamar mandi, beserta lampu yang baru aku temukan. Jantungku berdetak cepat dan lambat. Perasaanku semakin terasa sangat tidak menentu, ada sesuatu yang membuatku merasa tidak enak. Aku terus berjalan menuju kamar mandi, masuk ke dalam dan melihat lampu yang berada dekat dengan bath tub yang sudah terendam setengah oleh air yang tadi kunyalakan.

Tiba-tiba aku merasakan ada seseorang sedang memperhatikanku. Aku berbalik dengan cepat dan melihat ke luar kamar mandi. Tetapi yang kulihat hanyalah benda-benda mati yang bergerak saja pun tidak. Kutaruh bangku tepat di bawah lampu yang sudah rusak dan tepat di samping bath tub yang semakin dipenuhi air. Aku tidak menyadari kalau bangku itu sudah tua dan kayunya terlihat akan segera patah. Dengan hati-hati aku menaiki bangku itu, pertama-tama aku kehilangan keseimbangan tapi setelah cukup yakin sudah seimbang, aku naik ke atas bangku itu sambil memegang lampu baru yang akan segera kupasang.

Aku mencoba meraih lampu yang lama. Tubuhku yang pendek sangat tidak membantu, aku harus menjinjitkan kakiku supaya bisa meraih lampu itu. Air semakin memenuhi bath tub yang ada di samping bawahku. Kaki bangku yang berusaha menahanku mulai tidak kuat menahanku. Aku bisa merasakan goyangannya tapi aku kira itu karena diriku yang kesulitan untuk memutar lampu yang lama.

Berhasil, lampu yang lama berhasil kulepas. Aku mengembalikan kakiku ke keadaan normal, terasa cukup sakit saat aku berjinjit untuk melepas lampu yang lama. Aku turun kembali dari bangku dan menaruh lampu yang lama di atas lemari kecil yang tergantung. Kemudian aku kembali menaiki bangku kayu yang mungkin akan segera patah saat air mengalir keluar dari dalam bath tub dan merembes ke lantai. Aku tidak menyadarinya karena saat itu aku sudah menaiki bangku dan mencoba memasang lampu yang baru dengan berjinjit.

Ternyata perasaan tidak enakku ini benar-benar positif! Aku lupa mematikan lampu saat mau melepas lampu yang lama. Itu berarti aliran listriknya masih mengalir dari tempat lampu itu. Saat aku mulai memutar-mutar lampu yang baru ke tempatnya, tiba-tiba aku merasakan aliran listrik mengalir dari jari-jari tanganku, menuju ke tangan, lengan, dan seluruh tubuhku. Aku kesetrum!

“AAA!!!” Aku menjerit kaget. Tiba-tiba bangku yang kunaiki langsung patah salah satu kakinya, aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh tepat ke bath tub. Tapi sebelum aku jatuh ke tempat berendam itu, kepalaku membentur dinding di samping tempat berendam itu. Suara BuK!!! menggema di seluruh isi kamar mandi. Kepalaku pusing sekali, seakan-akan jiwaku sedang ditarik keluar dari tubuhku secara paksa, dunia ini serasa berputar mengeliliku dan beberapa detik kemudian, aku melihat air dalam bath tub yang sudah kepenuhan dengan samar-samar. Aku jatuh tepat ke dalam bath tub itu dengan wajahku menghadap ke dalam air. Saat itu aku tidak tahu lagi apa yang terjadi, sebelum aku tidak sadarkan diri, aku mendengar suara pintu kamar mandi yang menutup….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s