03. CONFESSION – PENGAKUAN

Confession – Pengakuan
(Chloe Evert)

Kejadian mengenaskan telah menimpa temanku kemarin. Tina Winterson, aku tidak menyangka kalau sahabat baikku akan mati tenggelam beberapa menit setelah dia tersenyum senang padaku. Saat aku mendengar teriakan Tina, aku bergegas pergi menyusulnya ke kamar mandi, saat aku tiba di sana, pintunya tertutup dan aku bisa melihat di dalam tidak ada cahaya. Aku mencoba mengetuk pintu dan memanggil Tina tapi tidak jawaban sampai akhirnya aku membuka pintunya tapi ternyata terkunci. Dengan cemas aku mengambil kunci cadangan yang ada di kamarku dan segera membuka pintunya. Tapi sayang semua sudah terlambat, air yang ada di bath tub sudah digenangi darah dan aku melihat Tina mengambang di tempat berendam itu dengan mukanya di dalam air.

Polisi mengatakan kalau itu hanyalah ketidaksengajaan. Tina jatuh dari bangku yang patah, kepalanya membentur dinding hingga bocor dan membuatnya tidak sadarkan diri. Lalu dia masuk ke dalam air dan pasti dia tidak bisa bernafas saat itu sehingga dia meninggal dunia.

Saat ini pasti mayat Tina sedang dimakamkan, tapi aku tidak bisa pergi ke pemakamannya. Aku terlalu terpukul dengan tragedi yang terus menyerangku belakangan ini. Aku baru kehilangan suami yang baru kunikahi sebulan yang lalu, dan sekarang… sekarang sahabat terbaikku juga pergi meninggalkanku. Sebenarnya apa yang telah terjadi padaku?! Kenapa aku selalu tertimpa kejadian-kejadian yang sangat tidak menyenangkan ini?! Aku tidak tahan untuk menjalani hidup ini, aku mulai berpikir untuk mengakhiri hidupku. Aku bergerak ke dapur, mengambil pisau dan bersiap memotong nadi tangan kiriku.

“Apa yang kau lakukan?!” Tiba-tiba Jack muncul dari ruang tamu. Dia langsung berlari ke aku dan mengambil pisaunya. “Apa kau sudah gila?!”

“A…aku tidak mau hidup lagi….” Kataku pasrah.

“Jangan lakukan itu!” Jack melarangku. “Bagaimana dengan anakmu dengan Billy? Kasihan dia, dia tidak tahu apa-apa.”

Tiba-tiba aku tersadar. Anakku dan Billy! Iya! Itulah yang membuatku bertahan hidup selama sebulan ini. Aku tidak mau kehilangan benih cintaku dengan Billy. Aku harus merawat anak kami dengan sebaik-baiknya. Aku harus bertahan hidup demi anak ini. “Ma…maafkan aku….” Ujarku menyesal.

Jack langsung memelukku. “Tenanglah, sayang….”

“Pa…? Di mana mama?” Aku bertanya pada ayah angkatku.

“Dia di rumah.” Jawab Jack. “Dia lagi kurang sehat dan aku berjanji padanya untuk membawamu ke sana.”

Aku melihat ke Jack. Matanya bengkak, pasti selama ini dia mengalami kesulitan tidur dan aku harap itu bukan karena aku.

“Pulanglah bersamaku, sayang…. Biarkan aku dan mamamu yang menjagamu dan calon cucu kami itu.” Jack mencoba mengajakku untuk tinggal bersamanya.

Kali ini kurasa aku harus mengalah. Sudah terlalu banyak aku membuat orang tua angkatku bersedih hati. Aku tidak mau membuat mereka khawatir lagi akan keberadaanku beserta anakku dan Billy ini. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi bersama Jack, pulang ke rumah yang dulu kutinggali bersama dia dan Maya sampai aku berumur delapan belas tahun dan meninggalkan mereka.

Setibanya di sana, Maya sudah menungguku. Dia terlihat sangat lemah walaupun terus memaksakan dirinya tersenyum padaku. “Oh, honey…!” Maya memelukku dengan erat. “Kau akan baik-baik saja sekarang.”

Jack membawa barang-barangku ke dalam. Maya menuntunku masuk ke dalam rumahnya yang elegan. Kami menaiki tangga spiral yang ada di tengah ruang utama dan di lantai kedua itu Maya membawaku ke dalam kamar yang kutinggali dulu.

“Istirahatlah dulu.” Ujar Maya lembut. “Aku akan membuatkanmu susu coklat kesukaanmu.”

Aku tersenyum melihat Maya. “Terima kasih, ma…”

Terdengar bunyi bel dari luar, ada yang datang. Maya segera keluar setelah mencium dahiku. Aku ingin melihat siapa yang datang, aku bergegas membuka pintu kamarku yang baru saja ditutup oleh Maya dan keluar dari kamarku. Maya baru mau menuruni tangga, menyusul Jack yang sudah di pintu depan bersama seorang pria yang mengenakan seragam tukang pos. Tukang pos itu pergi saat Maya berbalik melihatku.

Maya melihatku dari dekat tangga. “Hanya mengantarkan surat saja kok, sayang.” Katanya pelan tapi tiba-tiba dia menjerit kesakitan. “Akh!” Maya memegangi dada kirinya.

“Ma?” Aku cemas dan segera menyusul Maya. Jack yang melihatnya bergegas ke tangga tapi terlambat!

Maya tidak sadarkan diri dan dia jatuh memutari tangga spiral sampai ke bawah.

“Tidaaaak…!” Aku berlari menuruni tangga. Jack sudah bersama Maya.

“Jangan mendekat!” Jack membentakku. Aku terdiam shock di tangga. “Aku akan membawa Maya ke rumah sakit. Kau jangan ke mana-mana!”

A…aku tidak mengerti…. Jack membawa Maya ke rumah sakit, meninggalkan aku sendirian di rumah. Kenapa? Aku juga mau ikut ke rumah sakit untuk melihat keadaan ibu angkatku. Ada apa ini?! Kenapa Jack berubah menjadi sangat tegas. Dia ingin aku menjauh dari Maya. Benarkah itu?!

Aku harus menanyakan ini pada Jack. Aku terus menunggunya kembali dari rumah sakit sampai tengah malam. Sekitar jam dua belas malam, aku mendengar suara pintu yang sedang dibuka. Aku bergegas keluar dari kamarku dan turun ke bawah. “Bagaimana mama?” Aku segera bertanya pada Jack yang hanya sendirian. “Di mana dia?”

Jack tampak lemas sekali. “Dia baik-baik saja…” Jack melepas jaketnya dan duduk di sofa terdekat. “Penyakit jantungnya kambuh lagi. Sudah dua kali dia kena serangan mendadak.”

“Ke…kenapa bisa begitu?” Aku ikut duduk di dekat Jack. “Kenapa mama bisa sakit lagi?”

Jack menatapku. Aku bisa melihat tatapannya yang seakan-akan menyalahkan diriku. Aku takut saat itu…. Aku takut kalau akulah yang membuat Maya sakit.

“Semenjak kemarin.” Ujar Jack. “Saat kami menjengukmu, dia shock saat melihat kau pingsan. Lalu sekarang…, saat kau baru saja datang.”

“A…aku tidak mengerti….” Aku harus menanyakannya. “Kenapa kau tidak mengijinkan aku ikut ke rumah sakit? Kenapa kau malah menyuruhku untuk tidak mendekat saat aku mau mendekati mama?”

“Itu karena kau!” Jack kembali membentakku.

Aku terperanjat sesaat, “A…apa maksudmu karena aku?”

“Ah!” Jack menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “Sebaiknya kau tidur, sudah malam.” Jack berdiri dan bergegas meninggalkanku.

“Tunggu!” Teriakku sambil berdiri. Emosiku meledak dan saat itu juga semua listrik di rumah itu mati. “A…apa yang terjadi?” Tiba-tiba listrik nyala kembali. Jack berbalik melihatku. Dia memang terlihat kelelahan tapi aku tahu ada sesuatu yang ingin dia beritahukan padaku.

“Ada apa, pa?” Tanyaku lembut. “Sebenarnya ada apa dengan diriku?”

Jack berjalan kembali ke sofa dan menjatuhkan dirinya di sana dengan pasrah. “Ada yang harus aku ceritakan padamu.”

Aku duduk kembali. Ini terlihat sangat serius. Ada sesuatu yang tidak kuketahui tentang diriku dan Jack pasti menganggap itu adalah hal yang mengerikan.

“Saat aku dan Maya memutuskan untuk mengadopsi anak…” Jack mulai cerita. “…dan itu adalah saat kami melihat kamu, seorang bayi mungil cantik yang sendirian di panti asuhan, kami langsung jatuh cinta padamu. Kami berusaha untuk mendapatkanmu karena saat kami melihatmu, kami tahu kalau kau memang ditakdirkan untuk menjadi anak kami. Tapi saat sehari sebelum kau sah menjadi anak kami…”

Jack berhenti, ada sesuatu yang membuatnya ketakutan. Dia gemetaran.

“Ada apa? Apa yang terjadi?” Tanyaku penasaran.

“Aku bermimpi…, mimpi yang tidak akan pernah kulupakan….” Kata Jack dengan suara yang bergetar. “Saat itu aku sedang berbaring di ranjang rumah sakit. Aku melihat ada…, ada makhluk yang ditutupi jubah hitam. Dia… dia melayang-layang dan menuju ke arahku. Makhluk itu… dia…”

“Malaikat kematian.” Sahutku. Tiba-tiba pikiran tentang malaikat kematian itu langsung terlintas.

Jack melihatku. Dia berkeringat, aku bisa merasakan ketakutannya. Dia bermimpi ada malaikat kematian yang datang kepadanya dan itu berarti nyawa Jack pasti akan segera diambil.

“A…aku tidak bisa bergerak saat itu….” Jack kembali melanjutkan ceritanya. “Yang… yang kurasakan hanyalah ketakutan yang sangat besar, seakan-akan kematian datang padaku dan aku hanya bisa pasrah. Di…dia terus mendekatiku dan saat sudah sangat dekat…”

Aku sangat penasaran. Apa yang terjadi setelah itu?! Kalimat selanjutnya yang akan Jack ucapkan sangat tidak bisa kupercaya. Dia bilang…
“Saat itu… aku melihat wajahmu dari balik kerudung hitam yang menutupi malaikat kematian itu….”

Aku terdiam, berusaha mencerna apa yang sudah dikatakan Jack. Malaikat kematian itu datang menjemput Jack dan ternyata pencabut nyawa itu adalah aku?! Aku sendiri?! “Tidak mungkin!” Aku menyangkal.

“Chloe…” Jack memanggilku.

“I…itu hanya mimpi…. Itu hanya mimpi saja ’kan?”

Jack memegang tanganku. “Ya!” Jawab Jack. “ Saat itu aku tidak menganggapnya sama sekali karena waktu itu kau hanya bayi mungil yang sangat lucu. Tapi semakin kau dewasa, wajahmu semakin menyerupai makhluk yang ada di mimpiku itu. Aku memberitahu ibumu tapi Maya, dia sudah terlanjur mencintaimu, akhirnya kami tetap mengadopsimu.”

“Lalu kenapa aku tidak boleh bersama Maya?” Tanyaku. Air mata mulai mengalir dari mataku.

“Apa kau tidak menyadarinya?!” Balas Jack. “Ibu kandungmu meninggal sesaat setelah kau lahir; dan ayahmu, dia menghilang entah ke mana. Lalu Billy, Tina, dan hampir saja Maya ikut…”

“Tunggu dulu!” Aku bangkit berdiri. Aku tahu apa yang Jack maksud. “Jadi kau pikir aku adalah pembawa sial?! Semua orang yang dekat denganku akan meninggal?! Begitu maksudmu?!”

Jack ikut berdiri. “Chloe, sayang…. Dengarkan aku…, apa kau juga tidak menyadarinya? Kamu mulai kehilangan semua orang yang menyayangimu. Mimpiku itu bukan mimpi sembarangan. Itu adalah mimpi tentangmu yang akan membawa kematian bagi siapa saja yang menyayangimu….”

Aku menggeleng, berusaha menyangkalnya. “Tidak…, aku…, aku bukan…, aku…, kenapa?! Kenapa kau berkata seperti itu?!” Emosiku meledak. Saat itu listrik menjadi tidak terkendali, mati-nyala-mati-nyala dan terus berkelanjutan saat aku terus memelototi Jack.
“Chloe….” Jack mencoba menenangkanku.

“Kenapa kau menuduhku seperti itu? A…aku… aku ini manusia… anak angkatmu…, kenapa kau malah bilang kalau aku ini adalah orang yang membawa sial?!”

Trak! Lampu pijar yang tepat berada di atas Jack terlepas dan jatuh.

“Tidak!” Jack menjatuhkan dirinya ke samping. Lampu itu hampir mengenainya. Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi karena saat itu aku mulai tidak sadarkan diri dan pingsan….

***

Aku terbangun keesokan harinya. Tubuhku terasa sangat tidak enak, lemah sekali. Aku mencoba duduk di tempat tidurku. Masih teringat kejadian semalam yang begitu membuatku terpukul. Ayah angkatku menganggap kalau aku adalah pembawa kematian hanya karena mimpi bodohnya itu, benar-benar tidak bisa dipercaya. Aku sudah kehilangan dua orang yang sangat aku sayangi dan Jack, dia bukannya membuatku merasa lebih baik tapi dia malah menuduhku seperti itu. Aku tidak akan pernah memaafkannya.

Aku melihat sepiring makanan dan segelas susu coklat di meja sebelah ranjangku. Pasti Jack yang menyiapkannya untukku. Maya pasti belum kembali dari rumah sakit. Aku sangat ingin melihatnya, aku sangat mengkhawatirkan keadaannya. Hanya Mayalah satu-satunya orang, untuk saat ini, yang aku butuhkan. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Jack tidak menyayangiku lagi dan aku sangat yakin kalau Maya pasti masih menyayangiku. Aku ingin sekali menemuinya. Aku akan menemuinya! Ya! Aku akan menemuinya!

Aku memaksakan diriku untuk berdiri dan berjalan keluar dari kamarku. Aku berjalan menuruni tangga spiral, Jack ada di bawah, sedang duduk di sofa yang kemarin dia duduki sambil melihat pecaha lampu yang belum dibersihkan saat dia sadar aku sedang turun.
“Kamu sudah bangun, sayang…?” Jack berdiri dan mendekatiku saat aku tiba di bawah.

“Menjauh dariku, kamu masih mau hidup ‘kan?” Aku mengancamnya.

“Chloe…” Jack memanggilku lembut. “Maafkan aku…, aku…, kemarin…”

“Aku harus pergi!” Sahutku cepat dan berjalan ke pintu depan.

“Kau akan ke mana?” Tanya Jack.

“Menjenguk mama.” Jawabku ketus sambil membuka pintu depan.

“Tidak!” Sahut Jack cemas.

Aku diam dan berbalik. “Kau takut kalau aku akan membunuhnya, betul?!” Aku menatap Jack dengan marah.

“Chloe, dengarkan aku…” Jack bingung apa yang harus dia katakan tapi aku langsung menyahutnya.

“Sudah cukup aku mendengarkan omong kosongmu!” Kataku. “Aku akan pergi menjenguk mamaku dan kamu tidak berhak melarangku hanya karena alasan aneh yang kamu buat-buat.” Aku pergi meniggalkan Jack. Dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Mungkin saja dia takut akan ada lampu yang jatuh lagi kalau dia membuatku marah. Haha! Menggelikan….

Aku pergi ke rumah sakit dengan taksi. Sesampainya di kamar Maya, aku melihatnya sedang berbaring lemas. Aku masuk ke dalam perlahan-lahan, berusaha untuk tidak membangunkannya. Ada seorang pria yang sedang menyapu di dalam tapi saat dia melihatku, dia segera keluar meninggalkanku dan Maya berdua saja.

Aku duduk tepat di samping Maya. Wajahnya terlihat sangat tenang. Aku bisa merasakan kehangatan seorang ibu yang begitu menenangkan diriku. Maya memang anugerah terbaik yang aku punya. Aku meraih tangan Maya dan memegangnya. Maya terbangun saat aku memegangnya dan melihatku.

“Maaf, ma…” Aku minta maaf karena sudah membangunkannya. “Aku tidak bermaksud untuk membangunkanmu….”

Maya tersenyum, hangat sekali, begitu menenangkan. “Mana ayahmu?” Tanya Maya pelan.

“Di rumah.” Jawabku pelan.

“Bagaimana keadaanmu?”

“Ma…” Aku memanggil Maya, sebenarnya akulah yang harus bertanya seperti itu padanya.

“Ayahmu tidak bermaksud menyakitimu.” Kata Maya lembut. “Sebenarnya dia sangat menyayangimu, dia menyayangimu melebihi apapun dan kau jangan membuatnya sedih, ya.”

“Tapi ma…” Aku ingin memberitahu apa yang membuatku membenci Jack tapi setelah kupikirkan apa yang akan menimpa Maya kalau aku menceritakannya, aku takut terjadi sesuatu yang lebih parah padanya.

“Aku menyayangimu, sayang…” Ujar Maya sambil memegang pipiku, hangat sekali, aku bisa merasakan kasih sayang seorang ibu melalui sentuhan tangannya itu. “Bagiku kamu adalah hal terindah yang pernah hadir dalam hidupku.”

Aku menangis, terharu, tidak kusangka kalau Maya begitu menyayangiku. Tapi beberapa detik kemudian membuatku semakin banyak meneteskan air mata, Maya menutup matanya dan tangan hangatnya yang memegang pipiku jatuh lemas. Aku mendengar suara mesin yang menandakan kalau jantung masih berdetak mengeluarkan bunyi yang sama rata. Aku melihat ke monitor mesin itu dan aku tahu saat itu aku kehilangan seorang lagi yang sangat aku sayangi….

Advertisements

1 reply »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s