03. MEGAN PILLOW (APPLE)

“Ini uangnya,” kata seorang teller sambil memberi Megan sebuah kertas bukti pencarian cek yang masuk ke dalan rekeningnya.

Megan memberikan tanda pada manajernya, Coco yang adalah seorang laki-laki botak feminim, untuk mengambil ukertas tersebut.

“Terima kasih,” ujar Megan kepada teller.

“Ah, maaf,” teller tampak gugup. “Boleh aku minta tanda tanganmu di jurnalku? Aku sangat nge-fans sama kamu.”

Megan melihat sebuah jurnal yang disodorkan padanya. “Ya, ya. Coco,” dengan sombong dia meminta pen pribadinya dari Coco dan menandatangani jurnal tersebut. Kemudian dia menyerahkannya kembali kepada teller.

“Terima kasih banyak,” ujar teller yang terlihat sangat senang.

Megan meringis dan pergi keluar dari bank. Pakaiannya begitu glamor dengan jaket bulu beruang membungkus tubuhnya dan rok pendeknya yang memperlihatkan lekukan pinggang dan kakinya yang indah. Megan Pillow adalah seorang artis. Rambutnya lurus panjang bewarna merah. Cantik dan berbakat. Megan adalah artis yang sangat disenangi.

Coco membukakan pintu untuk Megan masuk ke dalam mobil mewahnya. Megan melihat kembali kertas yang berisi:

Kepada Megan Pillow,
    Satu juta itu hanya awal. Seminggu di pulau X, satu milyar akan menjadi akhir. APPLE adalah namamu. Kemasi sandang saja. Persiapkan diri. Anda ditungg di Mystery Road House besok pagi.
    Aturi aturan-aturan atau Anda gugur.

“Kamu tidak serius ‘kan, Meg, sayang?”

Megan melihat ke Coco. Dia tahu maksud pertanyaan managernya. Megan berpikir untuk pergi ke Mystery Road House dan managernya tidak setuju dengannya.
“Balik ke rumah, ya,” kata Megan pada sopir pribadinya. Sopirnya mengangguk dan mulai menjalankan mobil.

“Rumah? Untuk apa pulang ke rumah?!” Coco bingung. “Kamu ‘kan masih ada syuting, Meg. Kamu tidak berpikir untuk ke Mystery House Road apalah itu ‘kan, sayang?”

Megan menyengir, “Mystery Road House. Tepat sekali. Aku akan ke sana.”

“Mamamia! Tidak boleh. Kamu jangan ke sana, Meg. Kamu sudah gila, ya?! Mystery Red House itu ‘kan angker. Kamu mau ketemu sama hantu terus dibawa pergi ke pulau nerakanya?” Coco mencoba menakuti.

“Mystery Road House,” Megan membenarkan. “Maksudmu dibawa ke pulau X? Bukannya memang itu tujuanku?”

“Ya, ampun, Megan Pillow, sayangku. Pulau X itu ‘kan tidak pernah ditemukan. Undangan itu sudah pasti undangan kematian. yang mengirim undangan itu juga pasti hantu. Ayolah, Megan. Satu juta itu ‘kan hanya geli-geli untukmu.”

“Coco, aku tetap mau pergi,” Megan tetap bersikukuh. “Hantu mana bisa punya uang satu juta dollar. Lagipula aku penasaran dengan undangan itu. Satu minggu di pulau, jauh dari fans-fans dan paparazzi. Bukankah itu liburan yang sempurna?”

“Tapi, Meg,” ujar Coco, “jadwalmu seminggu ini ‘kan padat. Masa kamu mau batalin begitu saja?”

“Ya, ditunda dululah. Pokoknya aku tetap akan pergi.”

Coco menggerutu, “Huh! Whatever! Pokoknya Coco tidak mau tahu kalau terjadi apa-apa dengan Megan Pillow.” Coco cemberut.

Megan hanya tersenyum.

Advertisements

13 replies »

  1. Pingback: HANSON TJUNG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s