07. PULAU X

Elisa dan Maya turun terakhir dari kapal. Yang lain sudah berkumpul di pantai. Megan mengenakan kacamata hitam dan topi pantainya.

“Menakjubkan,” seru Megan senang.

“Kita sudah sampai,” Gray bersemangat.

Elisa dan Maya mendekati Alex. Elisa bertanya ke Alex, “Kamu yakin kapal ini akan baik-baik saja?”

“Tenang saja,” jawab Alex. Angin meniup rambutnya hingga matanya tertutup. Alex merapikan rambutnya. “Jangkar sudah turun, jadi pasti aman.”

“Hey,” Bob mengambil perhatian yang lain. “Sekarang kita mau kemana?”

“Ikuti aku,” kata Smith sambil menunjuk ke sebuah jalan yang di kanan kirinya dikelilingi pohon kelapa.

“Ayo!” Gray bergerak cepat mengikuti Smith.

Mereka berdelapan berjalan melalui jalan yang ditunjuk Smith. Mereka melewati pohon-pohon kelapa yang sarat dengan pantai. Tapi setelah berjalan mengikuti jalan, pepohonan kelapa berubah menjadi pepohonan lain. Ada poho-pohon apel, anggur, pepaya, pisang, cherry, strawberry, dan mangga. Semuanya nama dari kedelapan orang yang datang. Pohon-pohon tersebut berbuah banyak dan tumbuh dengan alami.

“Banyak sekali buahnya,” Gray tergiur melihat buah-buahan di pohon. “Apa mereka tumbuh dengan sendirinya?”

“Lihat!” Bob menunjuk ke sebuah rumah kayu besar yang tidak cukup jauh dari mereka.

“Apa itu rumah keluarga Fruits?” Tanya Cherry.

Smith menyengir. “Sepertinya itulah tempat tinggal kita.”

“Cepat!” Bob berlari ke rumah tersebut. Gray bergegas mengejarnya.

“Straw,” Maya memanggil Elisa. “Tadi waktu aku bangun tidur, perempuan itu datang lagi.”

“Apa?! Apa yang dia lakukan?” Tanya Elisa penasaran.

Maya termenung sesaat membayangkan apa yang baru dialaminya. “Dia hanya tersenyum dan menunjuk ke surat. Setelah itu dia menghilang begitu saja.”

“Sepertinya kamu sedang dihantui,” kata Alex yang mendengarkan pembicaraan Elisa dan Maya.

“Mungkin saja,” Maya pasrah.

Mereka berdelapan tiba di rumah kayu. Pintu depan tidak terkunci. Di ruang utama ada sofa dan beberapa tanaman hias menghiasi sudut ruangan. Bob berjalan mendekati dinding yang terdapat lukisan-lukisan serta foto-foto keluarga. Keluarga Fruits.

Bob memperhatikan foto keluarga Fruits. “Ini pasti keluarga mereka.”

Elisa mendekatinya dan memperhatikannya. Ada seorang pria paruh baya—tampan dan seumuran dengan Alex. Pasti itu Papaya. Di sebelahnya berdiri seorang wanita cantik dengan rambut hitam panjang dan lurus. Dari raut wajahnya yang baik, sudah bisa dipastikan kalau dia adalah Cherry. Kemudian di belakang berdiri tiga anak mereka. Dua perempuan dan satu laki-laki. Elisa langsung mengenali salah satu dari kedua perempuan itu—perempuan yang lebih tua.

“Perempuan ini!” Perempuan inilah yang mendatanginya di tempat kerjanya. Perempuan berambut coklat sepundak dengan paras yang lembut dan cantik. Dia adalah Strawberry.

“Ada apa?” Maya mendatangi Elisa dan dia pun melihat foto Grape. Rambut coklatnya hampir sama dengan Strawberry. Hanya saja Grape belah tengah, sedangkan Strawberry belah samping. Grape terlihat lebih manis daripada Strawberry. “Perempuan ini ‘kan yang mendatangiku?!”

Elisa melihat ke Maya. “Siapa?”

Maya menunjuk ke foto Grape. “Dia, dia yang mendatangiku. Betul! Itu dia!”

“Perempuan itu pasti Grape,” sahut Bob dan beralih ke Gray yang sudah berdiri di sebelahnya. “Lalu yang kecil ini adalah kamu, Mango.”

“Bagaimana mungkin?” Bisik Elisa. “Bukannya mereka sudah meninggal?”

“Straw?” Maya memanggil Elisa.

Elisa mengingat kembali kisah keluarga Fruits yang diceritakan Bob. Strawberry mati hangus terbakar. Saat Elisa bertemu dengan Strawberry, wajah Strawberry dipenuhi dengan luka bakar. Itu berarti Strawberry sendirilah yang mendatangi Elisa—arwah Strawberry!

“Hey, lihat ini!” Bob menunjuk ke foto yang lain, sebuah foto pernikahan. Papaya dan seorang wanita yang sangat mirip dengan Cherry. Rambutnya keriting dan piring tidak seperti Cherry yang lurus dan hitam.

“Apple,” Megan menebak wanita itu.

“Dan ini Bob,” Gray menunjuk ke beberapa foto di sebelah foto pernikahan. Ada foto Papaya dengan seorang pria berkulit hitam tanpa rambut.

“Coconut,” Bob membenarkan.

“Aku mau cek ruangan yang lain,” kata Gray sembari berjalan melalui sebuah lorong di sebelah kanan. Ada dua pintu di lorong itu, sebelah kanan dan kiri. Di sebelah kanan tertempel sebuah kertas bertuliskan ‘COCONUT’. “Hey, Coconut! Kurasa ini tempat tidurmu.”

Bob menghampiri Gray dan membuka pintunya. Sebuah kamar kecil yang hanya berisikan ranjang single dan sebuah lemari kecil. Ada sebuah jendela kecil sebagai ventilasi. “Mirip sekali dengan kamar pelayan.” Bob membawa barang bawaanya ke dalam kamar itu.

Gray penasaran dengan pintu di sebelah kiri. Dia membukanya. Sebuah ruangan kecil yang penuh debu dan sarang laba-laba. Di dalam banyak kardus-kardus yang tampak tidak pernah disentuh. “Hanya gudang ternyata,” ujar Gray dan kembali menutupnya.

Lurus lagi dari lorong itu adalah ruang makan besar dan dapur dengan lemari besar di sebelah kanannya. Di sebelah kiri dari lorong juga terdapat lorong panjang dengan beberapa kamar di sebelah kanan dan kiri. Kamar-kamar tersebut secara berurutan di sebelah kanan bernamakan ‘APPLE’, ‘CHERRY’, ‘PAPAYA’, dan ‘BANANA’ dan di sebelah kiri ‘MANGO’, ‘GRAPE’, dan ‘STRAWBERRY’. Ada lagi sebuah kamar utama di sebelah kamar bertuliskan ‘BANANA’. Tapi kamar itu tidak bernama jadi sepertinya kamar itu harus dibiarkan kosong.

 

Sudah jam tiga sore. Semuanya sudah membereskan barang masing-masing di dalam kamar yang sudah disediakan. Di dalam kamar hanya disediakan sebuah ranjang single dan sebuah lemari. Elisa berjalan menuju ruang tamu menyusul yang lain.

“Aku lapar,” Gray menggumam. Dia duduk di sofa bersama Smith, Cherry, Megan, Bob, dan Maya. Alex sedang berdiri di pojok ruangan sambil memeriksa isi lemari yang ada di sana.

“Aku dan Grape,” sahut Cherry sambil melihat ke Maya, “sudah mengecek. Di dapur tidak ada apa-apa. Lemari es, rak-rak, lemari—tidak ada apa-apa.”

“Lihat apa yang kutemukan,” tiba-tiba Alex mengeluarkan sesuatu dari dalam laci lemari. Sebuah pistol.

“Wow!” Bob terkejut dan langsung mendekati Alex. “Apa ada isinya?”

Alex memelototi Bob. Dia terlihat marah. Dia membuat Bob dan yang lain takut. Suasana menjadi tegang. Perlahan Alex mengangkat tangannya dan mengarahkan pistolnya ke Bob.

“Papaya, apa yang kamu lakukan?” Tanya Bob gemetar.

Smith bangun dari sofa dan mendekati Alex perlahan. “Hey.”

“Berhenti di sana!” Alex mengalihkan pistolnya ke Smith. Smith diam di tempat. Perlahan Alex kembali mengarahkan pistolnya ke Bob yang sudah sangat ketakutan. Dia menodongkan pistolnya ke dahi Bob.

“Kumohon…” Bob yang gemetaran memelas.

Alex memelototi Bob dan menyengir.

Elisa yang tidak tahan melihatnya langsung berseru, “Alex, hentikan!”

“Selamat tinggal,” kata Alex dengan tenang.

“Tidaaak…” Maya dan Cherry tidak bisa melihat. Megan sudah bangun dari sofa diikuti Gray.

Trek!

“Hahaha!” Alex tertawa. Tidak ada isinya. Dia hanya mempermainkan yang lain.

Bob masih terlihat shock dan tak bergeming. Dia tidak berhenti gemetaran. Smith ikut tertawa.

Oh my God,” ujar Megan. “Jantungku hampir berhenti barusan.”

“Keren sekali!” Gray mengajak Alex tos. Alex membalasnya.

Bob kesal. “Tidak lucu!” Dia segera keluar dari dalam rumah.

“Pelayan setiamu marah tuh,” ejek Smith dan kembali tertawa bersama Alex.

Alex kembali menyimpan pistolnya ke dalam laci. Dia tidak memberitahu yang lain kalau di dalam laci itu ada sebuah kotak yang berisikan peluru.

“Jadi kita makan apa? Aku lapar sekali,” Gray kembali mengeluh.

“Kita bisa memancing,” sahut Smith. “Di kamarku ada dua pancingan. Kita bisa pakai itu.”

“Aku ikut!” seru Gray. “Aku sangat suka memancing.”

“Ayo!” Smith mengajak Gray mengambil pancingan di kamarnya.

“Bagaimana kalau kita memetik buah?” Maya mengajak para perempuan.

Elisa dan Cherry mengangguk. “Ide bagus,” kata Elisa.

“Maaf,” Megan memberikan tangan dengan gayanga yang sombong. “Aku tidak terbiasa melakukan pekerjaan rendahan. Aku di sini saja istirahat.”

“Terserah,” Cherry malas meladeni Megan.

“Yuk,” Elisa mengajak Cherry dan Maya mengambil keranjang di dapur.

Sekembalinya dari dapur Cherry langsung memberitahu Alex, “Oh ya, tidak ada kompor di dapur. Jadi kita butuh kayu bakar.”

“Kalau tidak salah di gudang ada kapak ‘kan?” Tanya Elisa.

“Ya, ada empat,” Smith yang baru kembali dari kamarnya menyahut. Dia dan Gray masing-masing sudah membawa pancingan dengan sebuah ember kosong untuk hasil tangkapan nanti.

“Biar aku yang mengurus kayu bakar,” Alex mengajukan diri.

“Sampai ketemu,” Smith berpamitan. Dia dan Gray ke luar rumah duluan. Elisa, Cherry, dan Maya menyusulnya.

Alex bergegas mengambil kapaknya di gudang dan berjalan ke luar rumah.

“Hey,” Megan memanggil Alex. Alex berbalik melihatnya. “Aku temani, ya?” Alex mengangguk pelan. Megan tersenyum dan pergi bersama Alex.

 

“Buahnya bagus-bagus,” kata Cherry sambil memetik buah apel yang tidak terlalu tinggi.

“Besok ke gunung, yuk!” Ajak Maya. “Aku tidak pernah mendaki gunung.”

“Memangnya di tempatmu tidak ada gunung?” Tanya Cherry.

“Ada sih. Tapi gunung-gunung di sana banyak binatang buas. Salah satunya yang paling mengerikan itu adalah beruang. Makanya aku tidak pernah diperbolehkan naik gunung.”

“Siapa tahu saja di sana ada beruang juga,” kata Elisa sambil memasukkan buah apel yang baru berhasil dia petik ke keranjangnya.

Maya melihat ke gunung itu. Gunungnya terletak cukup jauh dari rumah. “Masa sih?”

Elisa tersenyum. Saat dia mau memetik lagi, seorang perempuan berdiri tidak jauh di depannya. Strawberry dengan wajahnya yang cantik. Elisa tersentak diam di tempat dia berdiri. Dia tidak melepaskan pandangannya dari Strawberry sampai akhirnya Strawberry berbalik dan berjalan menjauhinya.

“Tunggu!” Elisa berusaha mengejarnya tapi baru saja dia melewati satu pohon, Strawberry sudah menghilang.

“Ada apa, Straw? Tanya Maya yang sudah mendekati Elisa. Cherry ikut mendekat.

“Ta… tadi aku melihat… Straw—Strawberry,”

Cherry kebingungan. Dia tidak mengerti apa-apa. Maya yang pernah melihat arwah Grape segera mengajak yang lain kembali ke rumah. “Kurasa sudah cukup banyak hasil petikan kita. Ayo, kita kembali. Langit sudah mulai gelap.”

Maya mengajak Cherry kembali ke rumah. Elisa masih berdiri di tempatnya memperhatikan sekelilingnya mencari-cari. Saat dia mulai menyerah dan mau berbalik, Strawberry kembali menampakkan diri—sedang berjalan menjauhi Elisa.

“Kalian kembali dulu saja,” kata Elisa dan segera menaruh keranjangnya. DIa langsung mengejar Strawberry.

“Straw!” Maya berusaha menghentikannya tapi Elisa cepat sekali pergi.

Strawberry makin menjauh. Elisa terus mengejarnya melewati pepohonan sampai akhirnya dia kehilangan jejak Strawberry. Elisa melihat sekelilingnya. Dia sendirian di tengah-tengah hutan. Semua terlihat sama. Hanya pohon-pohon menjulang tinggi di sekitarnya. Hari mulai gelap dan Elisa tersesat.

 

Smith, Gray, dan Bob kembali ke dalam rumah. Mereka masuk ke dapur dimana Maya dan Cherry sudah di sana sambil mengupas buah-buah yang mereka petik.

“Lihat, aku dapat banyak!” Gray memamerkan hasil tangkapannya. Ada sekitar enam ikan di dalam embernya.

“Tapi Alex belum kembali, jadi kita belum bisa memasaknya,” kata Cherry.

“Papaya!” Bob membenarkan.

“Iya, Papaya. Maaf.”

“Aku khawatir dengan Elisa,” ujar Maya.

“Strawberry!” Bob kembali membenarkan.

“Apa maksudmu?” Tanya Smith.

“Strawberry,” Cherry melihat sekilas ke Bob yang suka membenarkan, “masuk ke hutan, kurasa.”

“Katanya dia melihat Strawberry,” sambung Maya.

“Strawberry?” Smith mengerutkan dahi.

“Melihat buah strawberry, mungkin?” Bob berargumen.

“Kita harus mencarinya,” kata Smith sambil menaruh ember dan pancingannya ke meja. “Di hutan sendirian malam-malam, mengejar orang yang sudah meninggal?! Sangat tidak aman. Bob, ikut aku.”

Bob mengangguk dan segera pergi bersama Smith mencari Elisa.

 

Sementara itu Elisa terus mencari jalan pulang. Dia sudah tidak tahu lagi kemana dia berjalan. Dia hanya melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah berharap bisa menemukan cahaya dari dalam rumah kayu. Kadang-kadang Elisa mendengar suara-suara dari sekitarnya. Beberapa kali dia menengok ke belakang merasa ada yang sedang mengikutinya. Elisa terus berjaga-jaga sambil mencari jalan pulang. Dia takut akan ada seseorang atau binatang buas yang menyerangnya. Tapi yang lebih menakutkan lagi apabila ada arwah yang menyerangnya.

Tiba-tiba Elisa mendengarkan suara desahan manusia. Dengan sangat berhati-hati Elisa mendekati asal suara itu. Susah sekali melihat di dalam kegelapan. Perlahan dia mulai mendekati asal suara itu. Sudah mulai jelas. Ada dua orang. Seorang pria dan perempuan. Mereka sedang—mereka sedang berciuman. Si pria bersandar di sebuah pohon dan si wanita dengan agresif mencium sambil meraba tubuh si pria. Pria itu memegang sebuah kapak.

Elisa langsung mengenali kedua orang itu, Alex dan Megan. “Apa yang kalian lakukan?” Tanyanya.

Megan berhenti mencium Alex dan melihat ke Elisa. “Oh, Strawberry. Kamu membuntuti kami?”

“Kami sedang mencari kayu bakar,” jawab Alex dengan tenang.

“Oh ya? Kamu sudah menemukan kayu bakar di mulut wanita itu?” Elisa menyindir.

“Kami sudah mendapatkannya,” Megan menunjuk ke kayu-kayu yang berserakan di tanah. “Tenang saja, penguntit.” Megan berjalan melewati Elisa kembali ke rumah.

Alex memungut kayu-kayu yang sudah dia kumpulkan dan mengikuti Megan. Dia diam saja saat melewati Elisa yang tampak tidak senang. Setibanya di rumah semua langsung menanyakan apa yang terjadi dengan Elisa. Tapi Elisa mengindahkan semua pertanyaan.

“Aku tidak apa-apa,” kata Elisa. “Kalian pasti sudah lapar. Lebih baik kita segera masak.”

Smith dan Bob yang akhirnya kembali tepat waktu saat makan malam siap. Semua membakar ikan-ikan yang sudah tertangkap dengan beberapa macam buah yang dipetik. Malam mulai larut dan semua mulai masuk ke dalam kamar masing-masing kecuali Alex, Smith, dan Elisa yang masih di ruang tamu.

“Aku istirahat dulu,” ujar Smith. “Besok akan menjadi hari yang panjang.” Smith pergi ke kamarnya meninggalkan Alex dan Elisa.

Keheningan terjadi beberapa detik sampai Elisa bertanya, “Kenapa kamu menciumnya?”

Alex melihat ke Elisa. Dia diam saja tidak menjawab.

“Kau menyukai Megan?”

Alex duduk di sofa. “Dia yang menciumku.”

“Tapi kau menyukainya ‘kan?”

“Kamu cemburu?”

Wajah Elisa memerah. Dia mulai salah tingkah. “Cemburu? Yang benar saja.”

“Dia tiba-tiba mendekatiku dan bilang kalau dia menyukaiku. Kemudian dia menciumku.”

“Tapi kamu tidak menolaknya.”

Alex tersenyum. “Aku baru saja mau mendorongnya menjauh tapi kamu sudah datang dan membantuku.”

Elisa diam saja bingung harus mengatakan apa.

“Kamu lucu, ya, Straw,” Alex menggoda Elisa. “Kamu manis.”

Elisa menjadi malu. Dia segera berdiri. “A… aku tidur dulu,” ujarnya dan segera meninggalkan Alex.

“Hey,” Alex memanggil Elisa. Elisa berhenti dan berbalik dengan tatapan ke bawah. Dia tidak berani melihat Alex. “Aku menyukaimu,” kata Alex.

Elisa tersentak mendengarnya. Dia segera berbalik dan pergi ke kamarnya. Alex tersenyum sesaat tapi dalam hitungan detik pandangannya berubah menjadi serius, seperti ada sesuatu yang dia rencanakan.

Sementara itu Elisa terus memikirkan perkataan Alex. Alex baru saja mengakui bahwa dia menyukai Elisa. Elisa berusaha melupakan pengakuan Alex barusan tapi sulit. Elisa terlihat menyukai Alex. Mungkin itu yang membuatnya kesal saat melihat Alex dan Megan berciuman. Tanpa Elisa sadari, dia mulai mengantuk dan tertidur.

Sekitar jam dua pagi, pintu kamar Elisa dibuka dengan sangat hati-hati. Seseorang berjalan ke mendekati Elisa yang tidur dengan perlahan. Elisa terlihat sudah tidur pulas. Orang itu hanya menatapnya. Apa yang mau dilakukan orang itu?

Advertisements

10 replies »

  1. Pingback: HANSON TJUNG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s