09. HARI KETIGA

Elisa masih berkeringat. Padahal pagi itu sangat dingin. Mimpi buruk membuatnya tidak bisa kembali tidur. Elisa bangun dan memutuskan untuk ke kamar mandi. Baru saja dia membuka pintu dan mau keluar, dia mendengar suara pintu terbuka dari luar. Elisa segera menutup pintunya seminimal mungkin sambil mengintip siapa yang keluar dari dalam kamar larut malam begini.

Alex melihat sekeliling. Dengan sangat hati-hati dia berjalan menuju lorong di depannya menuju ruang utama. Elisa mengikutinya tanpa menimbulkan suara sekecil apapun. Alex berjalan ke luar rumah. Ada sesuatu yang mau dia lakukan. Elisa yang curiga mengikutinya.

Suhu di luar sangat dingin. Elisa harus menahannya karena dia hanya mengenakan kaos tanktop putih dan celana pendek. Tidak ada waktu untuk kembali dan mengganti baju. Alex terus berjalan menyusuri pepohonan yang mengarah ke pantai. Akhirnya dia berhenti di antara pohon-pohon kelapa. Alex terlihat mencari-cari sesuatu. Eliss terus memperhatikannya dengan seksama.

“Ini dia,” ujar Alex setelah melihat sebuah lingkaran merah di bagian bawah batang salah satu pohon kelapa. Alex mulai menggali pasir tepat di bawah batang pohon tersebut dengan kedua tangannya.

Perlu hampir tiga menit sampai Alex mengeluarkan sebuah kotak hitam kecil dari hasil galiannya. Alex membuka kotak itu dan menemukan sebuah batang emas. Elisa bisa melihatnya, sebuah batang emas berukuran sekitar sepuluh kali empat senti dengan ketebalan kurang lebih tiga senti.

“Apa yang kalian lakukan?” Elisa dikejutkan dengan suara Smith dari belakangnya.

Alex mendengarnya juga dan langsung sadar dengan keberadaan Elisa dan Smith.

“Smith!” Elisa reflek. Smith yang terlihat aneh. Dia terlihat lebih pucat dari biasanya dan kantong matanya hitam seperti orang yang beberapa hari tidak tidur.

“Jadi begitu,” ujar Smith yang ternyata menggenggam sebuah kapak. Dia terlihat tidak senang. Tatapannya seperti orang sedang kerasukan dan mau melakukan sesuatu yang jahat. Sambil melihat bergantian dari Elisa ke Alex, Smith berkata dengan suara parau, “Kalian berdua bekerja sama dalam hal ini.”

“A… apa maksudmu?” Elisa mulai takut. Dia mundur beberapa langkah mendekati Alex.

“Kalian sudah memecahkan teka-teki itu, bukan?” Tanya Smith dengan nada menantang. “Aku sudah memeriksanya. Mungkin Apple tahu itu dan dia segera ke sini. Tapi kalian sudah tahu itu duluan dan langsung membunuhnya, benar begitu?!”

“Kamu bicara apa, Smith?!” Elisa semakin bingung. Perkataan Smith sangat melantur.

“Elisa, kemari,” Alex berusaha melindungi Elisa dengn berdiri di depan Elisa.

“Jadi itu hadiahnya, sebuah batang emas,” kata Smith yang mulai melangkah ke depan. Genggamannya semakin erat. “Serahkan itu kepadaku. Sekarang.”

Alex memperhatikan Smith dengan sangat hati-hati. “Kita bisa bicarakan ini baik-baik.”

“Sekarang!” Smith membentak dan langsung mengayunkan kapaknya ke Alex.

Elisa menjerit. Alex menghindari ayunannya. “Lari, Elisa!”

Elisa segera berlari melewati Smith dengan sangat cepat masuk ke dalam pepohonan. Alex mengikutinya. Smith diam sejenak mengembalikan keseimbangannya. Kemudian dia berdiri diam sambil menarik nafas dalam, menahannya sebentar, dan mengeluarkannya. Smith mengikuti Elisa dan Alex kembali ke rumah.

Elisa berlari cepat membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Alex mengikutinya dan langsung menutup pintu di belakangnya.

“Apa yang terjadi?” Tanya Elisa dengan nafas terengah-engah.

“Aku juga tidak tahu. Smith menjadi sangat aneh. Tidak biasanya dia seperti i…” Belum selesai menyelesaikan perkataannya, Alex dikagetkan dengan kapak yang menancap menembus pintu.

“Aaaa!!!” Elisa menjerit. Kapak ditarik kembali.

Smith membuka pintu dan berdiri di depan sambil memelototi Alex dan Elisa. Alex dan Elisa mundur perlahan menjauhi Smith yang akhirnya masuk ke dalam.

Maya dan Gray muncul dari samping ruang utama. Bob juga datang ke ruang utama dari sebelah kanan ruang utama.

“Ada apa ini?” Tanya Maya.

“Banana?” Panggil Gray saat melihat Smith yang tidak biasa.

Cherry juga datang dari ruang makan. Tapi langsung berhenti saat melihat Smith.

“Mereka menipu kita,” ujar Smith sambil menunjuk ke Alex dan Elisa.

“Apa yang terjadi dengan pintu itu? Banana, apa kamu yang merusak pintunya?” Tanya Bob.

“Smith, tenangkan dirimu,” kata Alex.

Smith mendekati Alex dan Elisa. “Merekalah yang membunuh Apple!”

Yang lain tersentak mendengar tuduhan Smith. Cherry langsung membela Elisa, “Tidak mungkin. Saat itu Elisa bersamaku. Dia tidak mungkin membunuh Megan.”

Smith mendesis. “Bodoh!” Teriaknya. “Mereka berdua itu bersekongkol.” Smith menunjuk ke Alex. “Banana-lah yang membunuhnya. Mereka sudah mendapatkan emasnya!”

“Hey, hey!” Alex mencoba berkomunikasi dengan Smith yang kian dekat dengannya. Dia mengeluarkan emas yang dia dapat. “Emas ini, aku dapatkan sendiri. Aku yang mencari tahu sendiri. Elisa tidak ada hubungannya dengan semua ini. Dan aku tidak membunuh Megan.”

“Banyak omong!” Smith kembali mengayunkan kapaknya ke Alex.

Semua berteriak ketakutan. Alex, sekali lagi, berhasil menghindarinya. Kapaknya menancap ke salah satu foto keluarga Fruit. Elisa mendekati Bob. Alex langsung berlari ke ruang makan. Smith mengikutinya melewati Cherry.

“Smith, hentikan!” Cherry berusaha menahan. Dia yang paling dekat dengan ruang makan segera menyusul.

“Serahkan emas itu!” Smith mengayunkan kapaknya ke Alex tapi malah mengenai meja.

Cherry segera mengambil sebuah pot bunga di samping kulkas dan memecahkannya ke kepala Smith. Smith mengerang dan melihat ke Cherry. Dia terlihat marah. Kapaknya masih menancap di meja. Cherry menjadi sangat ketakutan. Smith mengincarnya sekarang.

“Kenapa kamu juga membelanya, Cherry?! Apa kamu juga ikut bekerja sama dengan mereka?!”

Cherry menggeleng. Bob, Elisa, Maya, dan Gray datang. Smith berusaha menarik kapaknya. Saat berhasil menariknya, Alex dengan cepat menubruk Smith hingga jatuh. Kapaknya jatuh di sebelah mereka.

“Tenangkan dirimu, Smith!”

Smith semakin gusar dan melawan. Alex terpaksa meninju wajah Smith. Suara retakan terdengar. Hidung Smith patah. Smith, dengan tenaga yang luar biasa, mengguling Alex ke sebelah dan balas memukul tapi Alex menahannya dengan lengan kirinya dan langsung meninju rahang kiri Smith dengan tangan kanannya. Smith jatuh ke sebelah kiri Alex. Alex langsung bergerak ke sebelah Smith dan melingkarkan kedua lengannya ke leher Smith.

“Ya, Tuhan. Alex, hentikan!” Seru Maya. Tapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Tidak ada yang berani turut campur.

Smith meronta-ronta. Alex membuatnya sulit bernafas. “Te… nangkan di… ri… mu!” Bisik Alex. Smith akhirnya tidak sadarkan diri.

Pagi itu tidak ada yang kembali tidur. Sudah jam tiga pagi. Semuanya berada di ruang makan. Bob menemukan tali di gudang untuk mengikat Smith di salah satu bangku makan. Smith masih tidak sadarkan diri dengan perban di hidungnya. Cherry sudah mengobati luka di hidung Smith yang patah. Untuk mencegah infeksi dan darah yang terkumpul di septum hidung Smith perlu dibuang. Untungnya di kotak P3K ada bidai kayu untuk mengembalikan hidung Smith ke posisi semula.

“Baiklah,” ujar Alex. “Aku akan jujur. Kemarin aku pergi ke gunung.”

“Kamu sudah berhasil menebaknya?” sahut Gray.

Alex mengangguk. Dia melihat ke Elisa yang sama penasarannya dengan yang lain. “Surat pagi tadi,” Alex mulai menjelaskan. “Kita semua mendapatkannya ‘kan? Apa kalimat terakhir dari kalimat itu.”

“Ketinggian akan menuntun kepada tanda,” jawab Bob.

“Ketinggian itu adalah gunung,” lanjut Alex. “Ada sebuah tanda di gunung. Itulah sebabnya Mango ke gunung, betul?”

Gray mengangguk. “Ya, saat aku menemukan tanda itu. Beruang ini muncul dari belakang dan keburu menyerang aku. Untungnya Banana menyelamatkanku.”

“Ya,” balas Alex. “Mango tidak berhasil menemukan surat kedua.”

“Surat kedua” Maya penuh rasa ingin tahu.

Alex mengangguk dan melanjutkan, “Aku menemukan kumpulan batu besar di bawah tanda itu. Kemudian aku menemukan sebuah surat di bawah semua itu. Di surat itu tertulis:

Temukan tanda di kelapa dan pasir akan menuntunmu kepada hadiah pertama.

Aku memutuskan untuk mencari tanda itu di dekat pantai dan aku menemukan batang emas ini. Elisa Strawberry mengikutiku, kurasa. Setelah itu Banana datang dan dia menjadi kehilangan kendali.”

“Hadiah pertama? Jadi batang emas itu adalah hadiah pertama? Apa itu berati masih ada hadiah kedua, ketiga, dan berikutnya?” Gray mulai memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya.

“Aku mengerti,” sahut Elisa. “Yang terbanyaklah yang berkuasa. Itu berarti siapapun yang berhasil mendapatkan emas terbanyak, dialah yang akan mendapatkan satu milyar.”

“Bagaimana dengan Megan?” Tanya Elisa langsung ke Alex.

“Aku tidak tahu sama sekali tentang itu,” jawab Alex. “Setelah aku mendapatkan surat itu, aku pergi berburu. Aku tidak bertemu dengan Apple sama sekali.”

“Ya, tidak ada yang bisa membuktikan itu, bukan?” Kata Smith yang sudah sadar.

“Aku baru ke pantai tadi pagi-pagi saat Elisa mengikutiku.”

“Pembohong!” Smith kembali emosi.

“Smith, kendalikan dirimu,” kata Cherry. “Kamu tidak akan dilepas kalau terus begini.”

Smith terlihat tidak senang dengan Cherry. Tapi dia lebih tidak senang dengan Alex. Dia terus memelototi Alex.

“Aku tidak mau tinggal di sini lagi,” kata Maya.

“Kita harus pergi dari sini,” Elisa setuju dengan Maya. Cherry dan Gray mengangguk. “Kemasi barang kalian. Kita ke kapal setelah itu.”

“Umm,” gumam Bob. “Kemarin aku sempat ke kapal dan kalian tidak akan percaya ini, bahan bakar kapal sudah habis.”

“Bagaimana mungkin?!” Tukas Maya tidak percaya.

Bob mengangguk. “Aku bisa menunjukkannya kalau kalian tidak percaya.”

“Aku akan memeriksanya,” Alex mengajukan diri.

“Aku ikut denganmu,” sahut Elisa.

Cherry dan Maya mengantar Alex, Bob, dan Elisa ke depan rumah. Alex, Bob, dan Elisa pergi memeriksa kapal untuk memastikan perkataan Bob. Jika memang benar bahan bakar kapal telah habis, maka mereka benar-benar terperangkap di pulau X. Tidak ada yang bisa kembali ke Mystery Road House.

“Hey,” Smith memanggil Gray. Mereka hanya berdua sekarang di ruang makan. “Kamu harus percaya kepadaku. Aku sudah menyelamatkanmu, jangan lupa itu.”

Gray melihat ke Smith. Dia merasa tidak enak. “Mereka sudah berpesan untuk tidak melepaskanmu.”

“Aku tidak akan pernah melukaimu. Kamu tenang saja. Aku butuh membersihkan diriku.”

“Berhenti menghasutnya, Banana,” kata Cherry yang muncul di ruang makan. Dia berani melawan Smith sekarang.

“A… aku mau ke kamar. Kepalaku sakit,” Gray yang hampir mau membantu Smith berubah pikiran dan kembali ke kamarnya.

Ternyata Bob benar. Bahan bakarnya kosong. Alex, Bob, dan Elisa berada di ruang kendali kapal memeriksa tanki bahan bakar yang kosong.

“Pasti ada cadangan bahan bakar di sini,” ujar Alex. “Kita harus berpencar dan mencarinya.”

Mereka bertiga pun berpencar. Elisa berjalan di sepanjang dek kapal dimana dia hampir bertemu dengan arwah Cherry. Elisa mencari-cari tapi tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak. Angin dingin meniup seluruh badannya membuatnya menggigil dan merinding. Elisa takut melihat penampakan lagi. Dia masih belum bisa melupakan penampakan setelah dia mandi dan ditambah lagi dengan mimpi buruknya semalam. Elisa menghentikan langkahnya dan teringat dengan pintu tua yang terkunci. Elisa yang penasaran segera menuju ke pintu itu.

Elisa berdiri di depan pintunya sekarang. Apa masih terkunci? Perlahan Elisa mengarahkan tangannya untuk membuka pintu. Tapi sebelum Elisa sempat menyentuh, gagang pintunya sudah bergerak sendiri seakan membukakan diri untuk Elisa. Rasa takut dan geli menghantam Elisa. Elisa mengumpulkan keberaniannya. Rasa penasarannya melebihi ketakutannya. Elisa mendorong pintu itu hingga terbuka cukup lebar.

Penuh debu dan kotor sekali. Di dalam hanyalah sebuah kabin biasa. Ada sebuah kasur kayu untuk satu orang dengan sebuah lemari dan sebuah kursi di tengah-tengah dengan tali melingkar tergantung di atasnya. Elisa melihatnya sekarang. Seorang wanita dengan rambut kusam hitam panjang sampai menutupi wajahnya sedang berjalan menaiki bangku itu dan mulai memegang tali. Isak tangisnya mulai terdengar. Elisa bisa merasakan kesedihan yang sangat mendalam darinya. Wanita itu adalah Cherry. Isakan Cherry mengeras menjadi tangis yang histeris. Cherry mulai memasukkan kepalanya ke tali yang melingkar dan menjatuhkan diri dari bangku. Tubuhnya menggelantung dan wajahnya memucat. Cherry mulai kehabisan nafas. Dia meronta-ronta sampai akhirnya berhenti bernafas dan menjadi sangat kaku.

Elisa menangis. Entah bagaimana dia merasakan kesedihan yang sama dengan Cherry. Elisa tidak bisa menahannya lagi. Elisa berbalik mau keluar dari kabin, tapi Cherry yang sama dengan yang dilihat Elisa sedang menggantung diri sudah berdiri di dekat pintu, masih dengan rambut yang menutupi seluruh wajahnya. Elisa diperhadapkan langsung dengan arwah Cherry. Dia tidak dapat menghindar.

Elisa mundur selangkah. Dia tidak mau lari lagi. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya Cherry inginkan darinya. “Cherry,” Elisa memanggil dengan pelan. Cherry tetap melihat ke bawah. Rambut panjangnya menutupi seluruh wajah. Elisa tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Elisa mengumpulkan tekadnya. Walaupun gemetaran, dia menggerakkan tangannya. Elisa mendekatkan tangan kanannya ke rambut Cherry. Dia mau melihat wajah Cherry. Sedikit lagi Elisa akan dapat menyentuh Cherry. Perasaannya membuat dia harus melakukan itu.

Tiba-tiba Cherry mengangkat wajahnya. Rambutnya sedikit bergerak memperlihatkan wajahnya yang pucat sekali. Cherry dan Elisa saling bertatapan selama dua detik sebelum Elisa mendengar suara, “Ikuti Strawberry.”

Elisa tersentak dan menjadi kaku. Suara Cherry menggema dan parau. Elisa tidak melihat bibir Cherry yang bergerak tapi dia bisa mendengar suaranya dengan jelas. Cherry sudah tidak ada di depannya saat Elisa berkedip. Elisa sendirian. Dia masih mengingat jelas perkataan Cherry, ‘Ikuti Strawberry’. Apa maksudnya?.

Gray kembali ke ruang makan sambil membawakan segelas air untuk Smith. “Minumlah.”

“Sulit untuk minum dalam keadaan terikat.”

Gray berusaha mengacuhkan Smith dan mendekatkan gelasnya ke mulut Smith. Tapi Smith menolak.

“Aku tahu mereka menganggapku gila,” ujar Smith dengan tenang. “Tapi ada yang aneh dengan pulau ini. Ada sesuatu yang,” sambil melihat Gray, Smith berusaha meyakinkan Gray dengan apa yang akan dia ucapkan selanjutnya, “gelap.”

“Apa maksudmu?”

“Mereka mencoba merasukiku. Aku bisa merasakannya. Aku tidak pernah lepas kendali seperti ini, kamu tahu itu. Aku tidak akan pernah melukai orang. Ada sesuatu yang jahat di pulau ini dan mereka berusaha menguasaiku. Kita harus melakukan sesuatu.”

“Melakukan apa?” Gray mulai percaya dengan omongan Smith.

Smith menatap tajam ke Gray. “Aku bisa merasakan kebencian dan dendam yang terjadi di pulau ini. Kumohon, Mango,” Smith memelas. “Kamu harus menolongku.”

Gray merasa iba. Di satu sisi dia sangat berterima kasih karena Smith-lah yang menyelematkan dia dari serangan beruang liar. Dia seharusnya memercayai Smith. Tapi yang lain menyuruhnya untuk tidak membantu Smith. Mata Smith berkaca-kaca. Gray tidak tahan lagi. Dia segera melepaskan ikatan Smith.

Smith merenggangkan kedua tangannya sesaat setelah ikatannya dilepas. Gray merapikan tali yang mengikatnya. Smith memeletekkan lehernya ke kanan dank e kiri. Dia bangkit berdiri dan tatapannya berubah. Tatapannya yang tadinya merasa bersalah sekarang kembali menjadi tatapan yang sama seperti waktu dia menyerang Alex.

Gray berbalik untuk melihat Smith saat Smith mencekik leher Gray dengan kuat dan menjatuhkannya ke sofa. Gray sesak dan berusaha melepaskan cekikan dengan kedua tangannya, tapi dia kalah kuat. Gray tidak bisa bernafas. Wajahnya memucat.

“Aku sudah menyelamatkanmu, tapi apa balasanmu?”

Bola mata Gray menjadi merah dan berkaca-kaca. Dia kekurangan oksigen. Tiba-tiba terdengar suara tembakan.

“Suara apa itu?” tanya Elisa kepada Alex dan Bob. Mereka sudah berkumpul kembali di tepi pantai dekat kapal.

“Dari rumah,” Alex segera berlari menuju rumah. Elisa dan Bob bertukar pandang sebentar sebelum akhirnya mengikuti Alex.

“Lepaskan dia!”

Gray menarik nafas panjang. Akhirnya Smith melepaskan cekikannya. Cherry sudah berdiri dengan memegang shotgun yang pernah dipakai Smith untuk menyelamatkan Gray. Maya berlari ke ruang utama, muncul dari belakang Cherry. Dia terlihat bingung dan takut.

Smith mengangkat kedua tangannya. “Santai, Cherry,” ujarnya sambil mundur beberapa langkah.

“Gray,” Maya mendekati Gray untuk melihat kondisinya. Gray masih pucat sambil berusaha menghirup sebanyak mungkin udara.

Cherry tetap berjaga-jaga. Dia tidak mengalihkan pandangan sedikitpun dari Smith. Dia sangat marah. “Apa yang sebenarnya terjadi padamu?”

Smith menyeringai. “Setelah apa yang semua Papaya lakukan pada kalian,” katanya, “aku masih tidak pernah bisa mengerti kenapa kalian masih membelanya. Kita semua ini akan menjadi korban. Apa kalian masih tidak bisa mengerti itu?”

“Kamu bicara apa sih, Smith?” tanya Maya yagn tetap di sebelah Gray mengelus-elus punggung Gray.

“Papaya akan membunuh kalian semua!” bentak Smith. “Kita semua akan mati!” Smith maju mendekati Maya.

Cherry maju. “Kamu yang akan mati kalau kamu bergerak satu langkah lagi!” ancamnya.

Smith melihat Cherry dengan penuh benci. “Senjata itu milikku.”

“Diam, Smith!” seru Cherry dan mengokang shotgun-nya.

“Namaku BANANA!” Smith berteriak dan dengan satu gerakan cepat dia membanting meja yang ada di antara dia dengan Maya dan Gray.

Maya melindungi dirinya dan Gray dari meja yang menghantam mereka. Cherry melepaskan tembakan. Tapi Smith sudah bergerak cepat berlari ke arah jendela dan melompat keluar dengan satu gerakan lincah. Smith melarikan diri.

“Sial!” Cherry segera melihat ke luar jendela. “Aku akan mengejarnya. Kalian tetap di sini dan berhati-hati.”

“Cherry, tunggu!” tahan Maya tapi Cherry tidak mendengar dan berlari ke luar.

Gray batuk-batuk. “Dia… sudah bukan… Smith…”

“Apa maksudmu, Gray?”

“Smith…, kita harus menghentikannya.” Gray bangkit berdiri. Maya tidak bisa mengambil keputusan. Gray mau mengejar Smith juga. Maya bingung harus menghentikan Gray atau ikut dengan Gray mengejar Smith.

Elisa dan Bob berlari mengejar ketertinggalan mereka dari Alex. Alex berlari dengan cepat menyusuri pepohonan. Tembakan kedua membuat dia semakin mencemaskan keadaan yang terjadi.

Alex menghentikan larinya saat dia melihat seseorang berlari beberapa meter di depan menuju ke arahnya. Elisa dan Bob berhasil menyusul Alex bersamaan dengan orang yang berpapasan dengan Alex.

“Smith,” ujar Alex.

Smith berlari menyamping menembus pepohonan. Alex, tanpa berpikir panjang, berusaha menangkapnya. Cherry tiba di lokasi Elisa dan Bob.

“Cherry, apa yang,” tanya Elisa.

“Smith, dimana dia?” potong Cherry.

Elisa dan Bob melihat shotgun yang dibawa Cherry. Bob maju selangkah dan bertanya, “Apa kamu yang melepaskan tembakan?”

“Smith hampir membunuh Gray. Aku harus melakukannya. Tapi dia kabur.”

Gray berlari tiba di tempat semua berkumpul. Maya ikut di belakangnya.

“Gray, kamu tidak apa-apa?” tanya Elisa.

“Aku tidak apa-apa,” jawab Gray cepat dan berpaling ke Cherry. “Kamu menemukannya?”

Cherry menggeleng.

“Alex mengejarnya,” Bob menyahut. “Dia pasti berhasil menangkapnya.”

Pandangan Elisa beralih ke seorang perempuan yang berjalan memunggunginya menuju ke arah dimana Alex mengejar Smith. Perempuan itu adalah Strawberry. Saat itu juga Elisa kembali diingatkan dengan perkataan yang dia dengar di kapal. Perkataan Cherry yang sudah meninggal. Ikuti Strawberry.

“Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang” tanya Maya. “Bukankah lebih baik kita menunggu dan berjaga-jaga di rumah?”

“Kita harus menyusul Alex,” sahut Cherry. “Smith sangat berbahaya. Dia bisa saja melukai Alex.”

“Ikuti Strawberry,” kata Elisa tiba-tiba. Semua melihat ke Elisa yang tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Strawberry yang kian menjauh.

Elisa berjalan, mengikuti Strawberry dan meninggalkan kebingungan dan saling pandang di antara orang-orang di belakangnya.

“Ikuti aku,” kata Elisa kembali.

Kali ini yang lain pasrah. Mereka mengikutinya.

Matahari semakin terik. Untungnya pepohonan yang menjulang tinggi mengurangi suhu sehingga tidak terlalu panas. Smith berlari menyusuri pepohonan dan sampai di tempat terbuka. Angin kencang berhembus mengenai wajahnya. Smith berhenti. Apa yang dilihatnya membuatnya tidak bergerak.

Dari belakang Alex membantingkan dirinya ke Smith. Mereka jatuh ke pasir pantai. Smith berusaha melawan. Mereka bergumul di pasir pantai, tapi Smith kalah. Alex yang mantan polisi jauh lebih pengalaman untuk menangkap tersangka. Alex menyilangkan kedua tangan Smith ke belakang seperti sedang akan memborgol. Smith tidak bisa melawan lagi. Dia kehabisan tenaga dan kedua tangannya ngilu.

Elisa dan yang lain muncul beberapa saat kemudian. Elisa berdiri di sebelah Alex dan Smith, menatap lurus ke depan. Strawberry berdiri beberapa meter di depannya. Perlahan Strawberry menoleh ke sebelah kiri bawahnya. Elisa memperhatikan apa yang mau Strawberry tunjukkan.

Sebuah batu nisan. Strawberry berdiri di antara dua batu nisan. Dan ternyata bukan hanya ada dua batu nisan, tapi ada delapan batu nisan. Ada delapan makam di tepi pantai.

“Tempat apa ini?” tanya Maya heran.

Strawberry kembali melihat ke Elisa. Dia tersenyum sekarang. Elisa maju mendekati makam yang mau diperlihatkan Strawberry. Dia memperhatikan tulisan yang diukir di batu nisan itu.

PUTRI TERKASIH
STRAWBERRY FRUIT
15 MARET 1986 – 21 MARET 2005

Makam Strawberry. Ternyata Strawberry berusaha menunjukkan kepada Elisa makamnya. Tapi bukan itu yang membuat Elisa membelalak. Cherry, Bob, Gray, dan Maya ikut mendekat. Alex bangkit berdiri sambil tetap mengunci kedua lengan Smith.

“Dua puluh satu Maret,” ujar Elisa tanpa berpaling dari makam Strawberry.

“Ada apa, Elisa?” tanya Maya.

“Itu adalah tanggal lahirku,” kata Elisa.

Cherry memperhatikan makam yang lain. Ada delapan makam dan semuanya adalah makam dari anggora keluarga Fruit. Cherry menemukan makam Cherry Fruit tepat di belakang makam Strawberry. Cherry memperhatikan ukiran pada nisan.

Tiba-tiba Gray berseru, “Hey, itu juga ulang tahunku!” Gray melihat makam Mango Fruit tepat di sebelah makan Grape Fruit yang bersebelahan dengan makam Strawberry Fruit.

“Ini juga,” sahut Cherry setelah melihat tanggal kematian Cherry Fruit.

“Punya Grape juga sama denganku,” ujar Maya.

“Coconut juga sama denganku,” kata Bob yang sekarang sudah berdiri di sebelah makam Mango.

Alex membawa Smith maju ke tiga makam lainnya yang ada di belakang empat makam ketiga anak keluarga Fruit dan Coconut. Berderetan dari kiri ke kanan adalah makam Banana, Papaya, Cherry, dan Apple.

“Tidak salah lagi,” kata Smith pelan setelah melihat tanggal kematian Banana.

“Tanggal kematian mereka sama dengan tanggal lahir kita,” Alex menyimpulkan.

Semuanya hening berusaha mencerna apa yang baru saja mereka temukan. Ini benar-benar suatu kebetulan. Atau bisa dikatakan kesengajaan. Semua ini seperti sudah direncakan sebelumnya.

MAKAM KELUARGA FRUIT
                                   LAHIR                           MENINGGAL
BANANA                  3 FEBRUARI 1962      4 JANUARI 2005
PAPAYA                   22 MARET 2965         3 JULI 2005
CHERRY                   2 MEI 1968                  20 MEI 2005
APPLE                       2 MEI 1968                  3 JULI 2005
STRAWBERRY        15 MARET 1986          21 MARET 2005
GRAPE                       6 APRIL 1987              19 MEI 2005
MANGO                     3 FEBRUARI 1988      19 MEI 2005
COCONUT                 16 JUNI 1966                3 JULI 2005

“Kita semua sudah dijebak,” kata Smith yang tampak sudah terkendali. “Semua ini adalah jebakan kematian.”

“Elisa, kenapa kamu menyuruh kita mengikutimu ke sini?” tanya Maya pada Elisa.

Elisa baru menyadari Strawberry sudah tidak berdiri di tempatnya semula. Dia melihat ke sekeliling tapi Strawberry sudah tidak ada. Sekarang semua mata tertuju kepadanya, menunggu jawaban apa yang akan Elisa berikan. “Strawberry yang menunjukkan jalan,” kata Strawberry, berharap yang lain memercayai perkataannya.

“Strawberry yang menunjukkan jalan?” Maya mengulangi apa ygn baru dia dengar dari Elisa. Dia tampak bingung, sama dengan yang lain.

“Aku melihatnya,” Elisa menjelaskan. “Cherry, dia yang memberitahuku saat di kapal. Cherry menyuruhku untuk mengikuti Strawberry. Kemudian aku melihat Strawberry berjalan ke sini saat bertemu kalian. Strawberry membawa kita ke sini. Dia mau memperlihatkan semua ini pada kita.”

“Cherry? Aku…” Cherry semakin bingung karena ada nama dia disebut.

“Bukan Cherrymu,” tukas Elisa cepat. “Tapi Cherry Fruit.”

Sekarang semua menganggap Elisa seperti orang aneh. Mereka melihat Elisa seakan-akan Elisa adalah seorang pembohong besar, kecuali Maya. Maya memercayai Elisa.

“Maksudmu kamu diberitahu oleh arwah gentayangan?” Smith menyindir dengan nada menghina. “Kamu sudah gila.”

“Elisabeth benar,” Maya memeberanikan diri mengajukan pendapatnya. “Aku percaya kepadanya karena Grape juga pernah mendatangiku. Grape Fruit. Dia menampakkan diri padaku. Dua kali.”

Pembelaan dari Maya hanya memperumit keadaan. Semua hanya saling melempar pandangan, tidak tahu apa yang harus mereka perbuat atau katakan. Pada akhirnya Alex mengajak yang lain untuk kembali ke rumah untuk menenangkan diri dulu.

Semua kembali ke rumah tanpa berkata-kata. Alex mengikatkan Smith kembali di ruang makan. Yang lain secara bergantian memebersihkan diri sebelum semuanya berkumpul untuk makan malam di ruang makan. Suasana juga hening saat makan malam.

Dari semua ini tidak ada yang masuk akal. Semua menjadi misteri yang membingungkan. Undangan ke pulau X. Kapal yang menyala dan bergerak sendiri. Kemudian bahan bakar yang habis. Makam keluarga Fruit yang menunjukkan kesamaan antara hari kematian para anggota keluarga dengan hari kelahiran kedelapan orang yang diundang.

Baru setelah selesai makan malam, Maya mulai menceritakan pertemuannya dengan Grape. Maya juga mendengarkan cerita tentang keluarga Fruit karena dia belum mendengarnya. Setelah itu giliran Elisa yang menceritakan pertemuannya dengan Strawberry dari awal saat di kantornya sampai pada pertemuannya dengan Cherry di kapal dan Strawberry yang membawanya ke makam keluarga Fruit. Dia juga menceritakan perjumpaannya dengan Apple saat dia mendapat penglihatan kejadian dimana Coconut membunuh Apple yang baru menghabisi nyawa Papaya.

“Aku tidak bisa memaksa kalian untuk percaya kepadaku,” kata Elisa selesai menceritakan pertemuannya dengan Apple. “Tapi itu yang sebenarnya terjadi. Ada yang mau mereka sampaikan kepada kita.”

“Kenapa mereka hanya memperlihatkan diri mereka kepadamu dan Maya saja?” tanya Cherry. “Mereka bisa saja menampakkan diri kepada kita semua. Siapa yang tahu kalau kalian berdua sedang bersekongkol. Mungkin kalian mengetahui sesuatu.”

“Wow, Cherry,” sahut Smith senang. “Sejak kapan kau menjadi kritis begini? Kamu seharusnya berada di tim yang sama denganku.”

“Diam, Smith,” tukas Cherry tanpa mau melihat ke Smith. “Lebih baik kalian tidak merencanakan sesuatu karena aku masih memiliki senjata yang tidak akan segan-segan kugunakan pada kalian.”

“Senjataku, tepatnya,” Smith melanjutkan.

Cherry melihat sekilas ke Smith dengan kesal. Kemudian dia bangun dari tempat duduknya.

“Mau kemana?” tanya Maya.

“Istirahat,” jawab Cherry dan pergi meninggalkan ruang makan.

“Aku juga butuh istirahat,” kata Gray yang masih lemah.

Maya bangun dan membantu Gray berdiri. “Sebaiknya kita semua istirahat. Tidak ada yang bisa kita lakukan juga.”

Beberapa menit kemudian ruang makan hanya tersisa Alex, Smith, dan Elisa. Yang lain sudah beristirahat di kamar masing-masing. Alex berniat menjaga Smith semalaman. Elisa hanya duduk diam melihat ke Alex berharap Alex membelanya—atau setidaknya mengatakan sesuatu. Tapi Alex diam saja.

Pada akhirnya Elisa menyerah. Dia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke kamarnya.

“Hey,” Alex memanggil.

Elisa menghentikan langkahnya tapi dia tidak mau menoleh untuk melihat Alex.

“Aku percaya padamu,” perkataan Alex membuat Elisa merasa lega. Setidaknya ada Alex yang memercayai Elisa. Itu sudah cukup.

Malam semakin larut. Semua sudah istirahat di kamar masing-masing. Tapi ada satu orang yang sedang menyusup ke dalam kamar Alex. Dia membuka pintu dengan perlahan dan masuk ke dalam. Kemudian dia mendekati meja kecil di sebelah kasur. Dia membuka laci meja tapi kosong. Kemudian dia membuka laci kedua saat lampu menyala. Orang itu kaget dan berbalik.

“Mencari ini?” Alex membuat orang itu terpojok. Dia memegang emas batang yang dia dapatkan sebelumnya.

Bob hanya diam berdiri di hadapan Alex. Dia ketahuan. Ekspresinya bercampur antara takut dan kesal.

“Mana ada orang yang mau menyimpan barang sepenting ini jauh-jauh.”

“Brengsek,” desis Bob dan segera meninggalkan kamar Alex.

Alex menyengir sebelum bicara sendiri dengan pelan, “Jangan mudah percaya, masuk akal juga.”

Advertisements