10. HARI KEEMPAT

Sekitar jam sepuluh pagi, semua sudah sarapan dan mandi. Keadaan di rumah menjadi sangat sepi dan membosankan. Tujuh orang yang tersisa hanya bertegur sapa jika saling melewati. Mereka tidak benar-benar mengobrol.

Cherry menjadi sangat pendiam dan dingin. Ketidakpercayaannya dengan Elisa dan Maya menyerembet ke para pria di sana. Smith sudah dilepaskan. Dia terlihat lebih tenang sekarang. Alex mengancam kalau ini adalah kesempatan terakhirnya. Smith setuju. Setelah semalaman diikat, dia sudah mulai kembali menjadi dirinya sendiri.

Alex dan Smith memutuskan untuk pergi menebang pohon. Bob mengajak Gray memancing ikan. Sementara Cherry akhirnya mengalah dan memutuskan untuk pergi bersama Elisa dan Maya untuk memetik buah.

Tidak ada seorang pun yang menyinggung surat yang mereka temukan di kamar mereka masing-masing. Surat kali ini lebih mengancam.

Persiapkan diri untuk besok. Semakin sedikit, semakin besar peluang. Tidak ada kawan di sini! Jangan mudah percaya. Kebohongan bisa menyelamatkanmu. Yang terbanyak yang berkuasa. Segala cara diperbolehkan.

Tetap berhati-hati.

Mengerikan, memang. Tetapi tidak ada seorang pun yang mau membicarakannya. Sepertinya kalimat terakhir ‘tetap berhati-hati’ membuat semuanya semakin waspada satu sama lain. Ditambah dengan ‘tidak ada kawan’ dan ‘jangan mudah percaya’—membuat ketujuh orang yang tersisa semakin berlaku seperti tidak ada sesuatu yang terjadi—setidaknya sampai sekarang.

“Kita sedang diadu domba,” kata Elisa sambil memasukkan jeruk yang baru dia petik ke keranjang. “Semakin sedikit, semakin besar peluang. Itu berarti semakin sedikit orang yang tersisa, kesempatan kita untuk menang semakin besar.”

Cherry berusaha menghiraukan Elisa, tapi Maya menyimak Elisa dengan seksama.

“Megan sudah dibunuh. Entah siapa yang melakukannya. Surat itu mau menyuruh kita untuk melakukan hal yang sama. Ada yang menginginkan kita untuk saling membunuh.”

“Tapi siapa?” tanya Maya.

“Orang yang sama dengan yang memberikan surat itu kepada kita,” Cherry menyahut. Semua menoleh ke Cherry. “Siapapun yang memberikan surat itu, dia pasti dalang di balik semua ini. Jika kita menemukan orang itu, kita akan menemukan jawabannya.”

 

“Katakanlah,” kata Smith dan langsung membelah batangan pohon di depannya.

Alex diam saja sambil menyingkirkan batangan pohon yang baru dia belah dan mengambil batang pohon kecil lainnya.

“Apa rencanamu?” lanjut Smith. “Kamu pasti punya rencana ‘kan setelah membaca surat itu?”

Smith mendapat perhatian Alex sekarang. “Apa rencanamu?’

Smith mendesis sambil tersenyum lebar. Dia langsung menebang dengan sangat kuat batang pohon lain yang baru dia taruh di depannya. Batang kayu terbelah dengan keras dan terpental. Smith melihat ke Alex dengan tatapan yang tajam. “Kamu juga akan segera tahu.”

Bob kembali mendapatkan ikan. Gray melihat Bob memasukkan ikannya ke ember. Dia belum menangkap ikan sama sekali. Gray terlihat tidak senang.

“Hey,” Bob memanggil Gray. “Kamu mendapat suratnya juga ‘kan?”

Gray ragu sejenak apakah ingin melanjutkan percakapan ini, tapi akhirnya dia mengangguk.

“Kamu tahu,” kata Bob melanjutkan, “Papaya dan Banana itu jauh lebih kuat dari kita berdua. Mereka, bisa dikatakan, adalah pemimpin kita semua. Mereka lebih berkuasa. Tapi bukan berarti kita tidak bisa menang.”

Gray penasaran dengan maksud perkataan Bob.

“Maksudku, kamu yang paling pertama mencari emas pertama, bukan? Kamu tahu lebih dulu. Kamu pintar, Mango. Dan aku adalah seorang wartawan, aku sudah biasa berpikir kritis. Jika kita bersama, kita akan menjadi tim yang kuat.”

Tampaknya Bob sedang mengajak Gray untuk bekerja sama. Gray hanya diam setelah mendengarnya. Dia pun kembali fokus dengan pancingannya. Gray, secara tidak langsung, menolak ajakan kerja sama Bob.

“Cherry benar,” Maya setuju dengan Cherry. “Kenapa kita tidak menyadarinya? Orang itu bisa keluar masuk kamar kita dengan mudahnya. Dia bisa menaruh surat itu ke dalam kamar kita masing-masing. Seharusnya kita fokus untuk menangkap orang itu.”

Elisa mengangguk. “Jangan mau ikut dalam permainannya. Aku tidak akan menuruti apa yang dikatakan surat itu.”

Maya mengangguk. Cherry juga memberikan anggukan kecil walau tidak terlalu keliahatan.

Tiba-tiba Elisa melihat sesuatu bergerak di sampingnya. Elisa menoleh ke samping dan dia melihat seorang pria berbadan tegap sedang berjalan ke arah gunung.

“Elisa?” Maya menyadari Elisa yang memperhatikan pria itu.

Elisa sadar dari lamunannya. Dia melihat Maya sekilas dan kembali beralih untuk melihat pria itu. Pria itu semakin masuk ke pegunungan. “Kamu tidak melihatnya?”

“Oh, jangan bilang kamu melihat setan lagi,” Cherry menyindir.

Elisa kembali melihat pria itu tapi sudah tidak ada. “Ah, tidak,” jawab Elisa tidak mau membuat Cherry semakin tidak menyukainya.

Cherry sudah mulai kembali membuka diri dengan Elisa. Elisa harus menjaga agar hubungan dia dan Cherry tetap seperti itu. Tapi Elisa penasaran dengan pria itu. Dia berusaha mengingat-ingat siapa pria itu. Wajahnya cukup familiar.

 

“Kamu tidak akan melakukannya,” kata Alex saat Smith mendekatinya dengan menggenggam kapak. “Ini kesempatan terakhirmu.”

Smith memperlihatkan senyumnya yang lebar. “Kamu adalah penantang terberat di sini,” kata Smith semakin dekat dengan Alex. Alex mundur beberapa langkah. “Kalau aku berhasil menyingkirkanmu, maka akulah yang paling berkuasa di sini. Lagipula kamu sudah mendapatkan satu emas. Aku tidak akan bisa membiarkan itu. Kamu tidak akan menang.”

“Apa kamu sudah gila?!” Alex mempererat genggamannya pada kapak. Mau tidak mau dia harus memberikan perlawanan. “Jangan-jangan kamu yang membunuh Megan.”

Smith mendesis. “Jangan melemparkan dosamu kepadaku, pembunuh!”

Smith mengayunkan kapaknya dengan cepat. Alex tidak siap. Dia mundur ke belakang dan terpeleset. Dengan cepat Alex berguling ke samping. Dia menjatuhkan kapaknya. Kapak Smith mengenai tanah. Smith mengangkatnya kembali tapi Alex menendang perut Smith.

Alex bangun dan langsung menubruk Smith. Tapi kali ini Smith lebih siap. Dia mengeluarkan sebuah pisau yang sudah dia selipkan dalam bagian belakang celananya di balik kaosnya.

Smith menusuk Alex di punggung. Alex kesakitan. Smith mendorong Alex ke belakang. Alex menggeliat di tanah kesakitan. Dia tidak bisa memegang punggungnya. Smith bangun—berdiri di depan Alex.

“Bukan aku yang membunuh Megan. Aku tidak pernah membunuh orang, tapi sekarang aku akan melakukannya untuk pertama kali.”

Alex melihat ke Smith. Senyum Smith lebar dan jahat. Smtih merasa di atas angin. Alex berusaha menahan sakit pada punggungnya. Saat Smith maju selangkah, Alex menyengkat kaki Smith—menjatuhkan Smith. Smith bergerak cepat untuk bangun tapi sebuah tendangan menghantam wajahnya. Smith menjerit kesakitan. Hidungnya yang masih belum pulih kembali terasa nyeri. Alex yang baru saja menendangnya segera bangun dan melarikan diri ke arah pegunungan. Smith mengejarnya.

Elisa masuk ke dalam rumah. Maya yang sudah masuk duluan mengambil keranjang yang dibawa Elisa dan segera ke dapur. Elisa menyadari sesuatu saat dia melewati foto keluarga Fruit. Dia segera kembali untuk melihat foto itu. Elisa membuka matanya lebar-lebar.

Cherry mendekatinya. “Ada apa?”

Tatapan Elisa tidak beralih sedikitpun dari seorang pria berbadan tegap yang berdiri di sebelah Banana. Pria itu memang tidak sebesar Banana, tapi dia terlihat lebih tampan dan baik dari Banana. Setidaknya foto itu pasti diambil saat pria itu belum membunuh Banana.

“Aku,” kata Elisa datar, “baru saja melihat Papaya.”

“Jangan mulai lagi,” Cherry kembali kesal.

Elisa melihat sesuatu dari jendela. Dia melihat seorang pria berjalan menuju pegunungan. Elisa mengenalinya dengan cepat. Dia baru saja melihat foto pria itu di depannya. Pria itu adalah Banana. Banana sedang menuju ke atas gunung. Sebelumnya Elisa juga melihat Papaya menuju ke gunung. Elisa tahu dia tidak boleh tinggal diam.

“Aku harus pergi,” ujar Elisa kepada Cherry, “ke gunung.” Tanpa pikir panjang, Elisa pergi meninggalkan rumah menyusul Banana dan Papaya. Dia tidak tahu kalau sebenarnya dia juga sedang menyusul Alex dan Smith ke gunung.

Alex memasuki hutan—terus menapaki jalan yang menanjak. Di belakang Smith mengejarnya dengan pisau yang bernoda darah pada ujungnya—darah Alex.

Alex sampai di puncak gunung. Dia kelelahan. Smith masih belum mengejarnya. Nafas Alex terengah-engah. Dia hanya melihat tebing curam di depannya. Ini berarti dia terpojok. Alex kembali melihat apa Smith sudah dekat, tapi belum ada tanda apa-apa. Dan saat dia berbalik untuk melihat tebing—seseorang sudah berdiri di depannya tepat di ujung tebing itu.

Alex membelalak. Dia kaget sekaligus tak percaya dengan apa yang dia lihat. “Ka… kamu…”

Pria itu hanya menatapnya. Rambutnya coklat lusuh. Badannya tegap. Dia sama persis dengan di foto. Dia adalah Papaya.

Deru ombak begitu deras jauh di bawah tebing dimana Alex dan Papaya berada. Bebatuan mulai dari besar dan kecil terlihat mengerikan dari atas. Siapapun yang jatuh ke bawah pasti tidak akan selamat dari benturan dengan bebatuan tersebut.

Alex tidak bisa berkata apa-apa. Kali ini dia melihat sendiri Papaya yang seharusnya sudah meninggal. Dia tidak menyadari Smith yang makin mendekat padanya. Saat itu juga Papaya melesat cepat ke Alex. Alex merasakan hawa yang aneh dan dalam sekejap dia sudah dirasuki Papaya.

“Hey!” seru Smith.

Alex menghiraukannya. Dia hanya menutup mata menikmati angin yang meniup wajahnya. Dia menghirup nafas panjang seakan sudah lama sekali tidak menghirup udara segar.

“Kau tidak bisa kemana-mana sekarang,” kata Smith yang masih memegang kapaknya.

Alex membuka mata dan berbalik melihat ke Smith. Dia terlihat sangat tenang. Kemudian dia menyengir.

Elisa hampir tiba di tempat Alex dan Smith. Banana sudah mendahuluinya. Elisa langsung mempercepat langkahnya saat dia melihat Smith yang membawa kapak dan Alex yang berada di pinggir tebing. Jaraknya masih cukup jauh dari mereka.

“Ada permintaan terakhir?” tanya Smith.

Alex masih menyengir. Dia tidak memperlihatkan ketakutannya sama sekali. “Aku tidak akan membiarkanmu hidup,” kata Alex, “lagi.”

“Cih!” cibir Smith. “Sudah mau mati, masih saja sombong.” Smith langsung mengayunkan kapaknya ke Alex dengan kuat.

Alex dengan tenang menahan lengan Smith. Genggamannya begitu kuat hingga Smith tertahan dan tidak bisa menggerakkan lengannya. Beberapa detik kemudian wajah Smith memucat. Genggaman Alex semakin erat hingga menyakiti lengan Smith. Smith menjatuhkan kapaknya. Alex langsung menghempaskan Smith ke kanannya. Smith menubruk batang pohon dan jatuh terkapar.

Smith kesakitan. Dia tidak tahu Alex bisa begitu kuat. Kali ini dia yang terpojok. Alex mengambil kapak Smith yang jatuh. Smith berusaha bangun tapi punggungnya begitu sakit akibat benturan terhadap batang pohon barusan.

Alex memainkan kapak yang sudah dia pegang. Dia memutar-muar dan mengayun-ayun pelan kapak tersebut. Smith akhirnya berhasil bangkit berdiri. Saat itu juga Banana muncul dan melesat ke dalam Smith.

Elisa sampai dan dia melihat apa yang barusan terjadi. Dalam sekejap Smith berubah menjadi sangat tenang, seperti Alex saat Papaya masuk ke dalam Alex. Smith memeletekkan lehernya ke kanan dan ke kiri. Kemudian dia memutar kepalanya. Terdengar bunyi peletekan dari lehernya saat dia melakukan peregangan.

“Kamu datang juga, akhirnya,” kata Alex.

Smith melihat ke Alex. “Kenapa kamu tidak ingin aku hidup kembali, adik?”

“Oh, Banana,” sahut Alex. “Aku tidak akan membiarkanmu merebut Cherry dariku.”

Elisa sadar dengan apa yang sedang terjadi sekarang. Dia tetap menjaga jarak dari Smith dan Alex yang saat ini bukanlah Smith dan Alex lagi. Banana sudah merasuki Smith dan Papaya sudah merasuki Alex.

“Kamu tidak pantas mendapatkan Cherry,” Smith mulai terlihat emosi. “Cherry pantas mendapatkan yang lebih baik dari kamu. Kamu hanya membuat hidupnya menderita, Papaya!”

Alex yang saat ini sudah dirasuki Papaya ikut emosi. “Dan kamu pikir kamu bisa membahagiakan istriku?!” Alex langsung mengayunkan kapak ke Smith.

Smith sekarang menahan lengan kanan Alex dengan tangan kirinya. Kali ini kekuatan mereka seimbang. Smith menendang perut Alex dengan cepat dan kuat. Alex tidak merasakan sakit tapi dia sempat tersentak. Smith langsung meninju pipi kiri Alex dengan tangan kanannya yang bebas.

“Kamu tidak akan bisa menyingkirkanku,” ujar Smith marah.

Alex tidak merasakan sakit. Dia memelototi Smith. Setelah itu dia melempar kapaknya tepat di depan Elisa, menyebabkan Elisa mundur dua langkah. Dengan tangan kanannya, Alex langsung mencekik Smith. Smith mencengkeram tangan Alex dan langsung membantingkan dirinya ke samping bersama dengan Alex. Smith dan Alex mulai bergumul di tanah. Mereka saling meninju tanpa merasakan sakit sedikitpun.

Elisa bingung apa yang mesti dia perbuat. Dia hanya berdiri melihat Smith dan Alex melukai satu sama lain. Tiba-tiba Elisa merasakan sesuatu berdiri di sebelah kanannya. Elisa melihatnya dan memanggilnya pelan, “Strawberry…”

Angin kencang berhembus dari sebelah kiri Elisa. Di sebelah kirinya sudah berdiri yang lain. Elisa melihatnya, “Cherry…”

Cherry yang adalah istri dari Papaya sudah berdiri di sebelah kirinya. Cherry yang adalah ibu dari Strawberry. Cherry yang dilihat Elisa di kapal. Cherry yang menyuruhnya untuk mengikuti Strawberry. Elisa merinding. Jantungnya berdegup kencang. Ada apa ini? Kenapa semuanya muncul? Pikiran Elisa kacau. Dia ketakutan sekaligus kebingungan.

Tiba-tiba Strawberry bicara pelan pada Elisa, “Ijinkan dia.”

Elisa menoleh sesaat ke Strawberry yang melihat ke Cherry. Strawberry secara langsung meminta Elisa untuk mengijinkan Cherry melakukan sesuatu, melakukan sesuatu yang Elisa pikir sama dengan yang dilakukan Banana pada Smith serta Papaya pada Alex.

Elisa beralih ke Cherry yang pandangannya tetap ke depan melihat Smith dan Alex yang masih bergumul. Perlahan Cherry melihat ke Elisa. Rambut Cherry masih menutupi wajahnya. Elisa harus mengijinkan Cherry merasukinya untuk menghentikan Smith dan Alex.

“Baiklah,” Elisa sudah mengambil keputusan. Dia akan mengijinkan Cherry merasukinya.

Cherry mengangguk pelan. Sedetik kemudian Elisa mulai mengantuk dan tidak merasakan apa-apa lagi. Tapi Elisa masih tetap berdiri tegap. Cherry sudah merasukinya.

Elisa berjalan ke tepi tebing dan mulai berbicara dengan tegas, “Hentikan, atau kalian tidak akan bisa melihat aku lagi selamanya.”

Smith dan Alex menghentikan perkelahiannya. Elisa sudah berdiri menghadap ke tebing. Elisa siap untuk terjun. Dia mengancam untuk membunuh dirinya jika Smith dan Alex tidak berhenti.

“Kamu sudah gila, Cherry?!” seru Alex. “Kalau kamu mati untuk kedua kalinya, kamu akan lenyap selamanya!”

“Itu jauh lebih baik daripada harus terkurung di pulau ini bersama kalian.”

“Cherry, hentikan,” mohon Smith.

“Keluar dari tubuh mereka!”

Smith dan Alex melempar pandang sekilas dan kembali melihat Elisa. Mereka tidak mau menuruti kemauan Elisa. Elisa maju selangkah.

“Baiklah, baiklah!” seru Alex cemas. Papaya segera keluar dari tubuh Alex yang langsung jatuh ke tanah dan tidak sadarkan diri.

Tubuh Smith juga jatuh ke tanah. Banana juga keluar dari tubuh Smith.

“Mereka di sana!” Elisa mendengar Gray berseru tidak begitu jauh. Gray sudah bersama dengab Bob, Maya, dan Cherry. Mereka pasti sedang mencari Elisa.

Elisa maju beberapa langkah menjauhi tebing sebelum Cherry meninggalkan tubuh Elisa. Saat Gray dan yang lain tiba—mereka hanya menemukan Smith, Alex, dan Elisa yang tidak sadarkan diri.

Elisa, Alex, dan Smith dibawa kembali ke rumah. Butuh waktu yang cukup lama untuk tiba ke rumah. Mereka bertiga juga tidak sadarkan diri sampai keesokan siangnya.

Advertisements