12. HARI KEENAM

Sudah satu minggu sejak kedelapan orang diundang ke pulau X. Menurut berita yang didengar Gray, akan terjadi gerhana matahari sekitar pukul dua belas siang.

Elisa, Cherry, dan Alex terjaga sepanjang malam, tidak seperti Smith yang bersikap santai dan tidur. Mereka bertiga berusaha mencari cara untuk membebaskan diri tapi tidak bisa. Kedua tangan dan kaki mereka terikat erat. Maya dan Gray juga entah dimana. Mungkin hanya Maya dan Gray saja yang dapat menyelamatkan mereka.

Bob mendatangi mereka mereka sekitar jam enam pagi membawa balok kayu. Cherry yang kurang tidur langsung panik melihatnya.

“Tidak, Bob. Kumohon! Hentikan, Bob! Jangan bunuh kami!”

“Tutup mulutmu,” kata Bob. “Aku tidak akan membunuh kalian.” Cherry langsung diam. Dia mulai tenang. Tapi Bob melanjutkan, “Tidak sekarang, setidaknya.”

Cherry langsung menangis. “Tidak…”

Smith terbangun. “Berisik sekali kalian.”

Dengan keras Bob menghantam kepala Smith dari belakang. Smith pingsan.

“Aku benci harus melakukan pekerjaan berat,” Megan menghampiri Bob.

“Jadi siapa yang mau kamu bawa duluan?” Bob mendekati Cherry. “Si cengeng ini…”

Cherry menangis. “Kumohon…”

Bob beralih ke Elisa, “Atau dia?”

Megan meminta balok kayu dari Bob. Bob menyerahkannya. Megan mendekati Elisa dari belakang. “Hm, aku sudah tidak menyukai wanita ini dari awal.”

Cherry tidak berhenti menangis. Megan menghampirinya. “Tapi wanita ini terlalu berisik, sepertinya. Apa aku buat dia diam duluan saja, ya?”

Cherry menggeleng dan berusaha menahan tangis. “Tidak… kumohon…”

“Lakukan saja,” kata Elisa tenang. “Cepat lakukan.” Elisa menutup kedua matanya pasrah.

Megan tersenyum. Cherry semakin gemetaran.

“Baiklah kalau begitu,” Megan mengangkat balok kayunya. Dia segera menghantam kepala Elisa. Elisa pingsan.

Bob dan Megan kemudian melepaskan ikatan Smith dan Elisa.

“Kami akan kembali untuk kalian,” Bob memapah Smith pergi meninggalkan ruang makan. Megan juga menyeret Elisa.

Elisa kaget dan dengan segera sadar. Mukanya basah dan terasa asin. Megan baru saja menyiram mukanya dengan seember air laut.

Bob juga menyiram air kepada Alex. “Saatnya bangun!”

Megan menampar-nampar pipi Cherry sampai Cherry sadar. Bob beralih untuk membangunkan Smith.

Elisa sedang duduk di atas tumpukan pasir. Dia masih terikat. Tapi kali ini tubuhnya terikat pada batu nisan, batu nisan Strawberry. Kemudian Elisa melihat siapa yang terikat pada batu nisan Grape yang ada di sebelahnya.

“Maya…”

Maya menangis. Mulutnya dibungkam kain dan diikat dengan tali. Maya kelelahan. Dia juga sudah tertangkap. Dia mencoba mengatakan sesuatu tapi hanya gumaman saja yang terdengar.

Di sebelah Maya ada Gray yang mulutnya juga dibungkam—terikat pada batu nisan Mango. Gray sadar tapi wajahnya masih pucat. Luka di perutnya terlihat sudah dibalut. Dugaan Elisa adalah maya berhasil menutup luka Gray sebelum mereka berdua tertangkap.

Smith juga sudah sadar. Masing-masing terikat pada batu nisan yang sama dengan nama samaran mereka, kecuali Bob dan Megan.

“Kenapa?” ujar Cherry yang paling panik. “Kenapa kalian masih mau membunuh kami? Kalian sudah mendapatkan apa yang kalian mau.”

Megan mendekati Cherry dan mengeluarkan sebuah pisau. Cherry langsung diam ketakutan. “Sebenarnya ini lebih ke win-win solution saja sih,” katanya sambil menggoda Cherry dengan mengoles-oleskan pisaunya ke wajah Cherry. “Bayangkan berita utama di media semua menyatakan bahwa Megan Pillow selamat dari kejadian mengerikan di pulau X. Saat semua saling membunuh, Megan menjadi survivor. Kamu bisa bayangkan bakal berapa banyak media yang mau mewawancarai aku? Mereka akan mengundang aku ke acara-acara. Akan banyak pekerjaan yang datang padaku. Megan Pillow akan kembali menjadi hits. Hahaha!”

“Kamu sudah gila,” kata Elisa lugas.

Megan beralih ke Elisa dan langsung mengarahkan pisaunya ke mulut Elisa. “Jaga lidahmu! Atau kamu mau aku potong lidahmu?”

“Aku tidak takut padamu,” Elisa melawan.

Megan emosi tapi Bob langsung menahannya. “Bagaimana kalau alasan yang lebih masuk akal?”

Megan menjauhi Elisa. Bob berlutut melihat ke Elisa. “Kalian sudah tahu apa yang kami berdua lakukan. Kalian pasti akan melapor saat semua ini selesai. Kami tidak bisa membiarkan itu. Kalian semua adalah saksi hidup. Oleh karena itu kami tidak bisa membiarkan kalian pergi dari sini dengan selamat.” Bob langsung mengeluarkan pistol yang pertama kali ditemukan Alex dan mengarahkannya ke Elisa.

“Hey, hey!” Alex langsung merespon saat Elisa menuntup kedua matanya.

Bob melihat ke Alex. “Jangan berlagak pahlawan, mantan polisi! Kamu itu tidak bisa berbuat apa-apa sekarang.”

“Kamu masih mau emasku?” Alex mencoba bernegosiasi. “Aku masih punya satu. Kamu ingat ‘kan? Kamu berusaha mencurinya dariku tapi tidak berhasil. Aku akan memberikannya kepadamu.”

Bob mendesis pelan dan mengarahkan pistolnya ke dahi Alex.

“Tidak, tidak…” Cherry merasa ngilu.

Maya dan Gray menggeleng-gelengkan kepala. Elisa sekali lagi berusaha melepaskan diri dari ikatan tapi tak ada hasil. Smith hanya diam saja memperhatikan.

“Apa yang membuatmu berpikir kalau aku membutuhkan emasmu? Aku dan Megan sudah punya lebih dari cukup, bodoh!”

“Sayang sekali kamu harus mati juga,” Megan mendekatkan wajahnya ke wajah Alex. Kemudian mengelus pipi Alex. “Padahal aku menyukaimu.”

Megan berdiri dan mendekati air laut. “Dengan begini jasad kalian akan lebih mudah dilenyapkan. Cukup dibuang ke laut.”

“Baiklah,” Bob bangkit berdiri. “Siapa dulu yang mau kita habisi?”

“Hmmm,” Megan bergumam dan mendekati Smith. “Eeny meeny miny moe,Megan bermain cap cip cup. “Siapa ya?”

“Bagaimana kalau kamu dulu?” ujar Bob. Megan menoleh ke Bob dan kejadiannya begitu cepat. Sebuah tembakan terdengar. Elisa dan Cherry menjerit. Bob menembak perut Megan. Megan jatuh.

Semua tercengang. Bob berkhianat. Megan jatuh dan memegangi perutnya berusaha menekannya untuk menghentikan pendarahan.

“Ka… Kamu…” Megan kesulitan berbicara.

Elisa dan Maya bertukar pandang. Mereka memang tidak bisa melakukan apa-apa. Mereka juga terpojok. Tapi mereka tidak menyangka Bob akan melakukan hal seperti itu. Tapi bukan itu yang membuat mereka bertukar pandang. Megan menjatuhkan pisaunya tepat di sebelah Smith. Smith dengan cepat menutup pisau itu dengan kakinya dan perlahan-lahan menggeser pisau tersebut ke tangannya yang terikat.

Bob tidak menyadarinya. Dia sibuk menarik kedua kaki Megan dan menyeret Megan ke batu nisan Apple. Megan bernafas dengan cepat. Keringatnya bercucuran. Dia masih syok.

“Tampaknya kamu bekerja sama dengan orang yang salah,” Alex juga tahu tentang Smith. Dia mencoba mengulur waktu untuk Smith dengan berbicara kepada Megan. Megan tidak bisa berbicara.

Elisa melihat ke Bob. “Setamak itukah dirimu?”

Bob menyeringai. “Aku? Tamak? Kamu pikir aku melakukan ini demi uang?”

“Untuk apa lagi?” tantang Elisa. “Bahkan kamu berani mengkhianati sekutumu sendiri.”

Bob mengarahkan pistolnya ke Elisa. Elisa langsung diam. “Kamu tidak tahu apa-apa tentangku.”

Maya melihat ke Elisa dan menggeleng-geleng. Dia berusaha memberitahukan Elisa sesuatu. Bob mendekati Elisa. Dia berlutut dan mengacungkan pistol dari leher ke dagu Elisa. Bob berdiri membelakangi Smith. Elisa berhasil mendapatkan perhatian Bob. Smith sudah mulai menggunakan pisau untuk memutuskan tali yang mengikat tangannya.

“Apa?!” Elisa tidak gentar. “Kalau begitu apa yang membuat kamu menjadi gila seperti ini?”

“Baiklah kalau kamu mau tahu. Lagipula aku tidak akan membunuh kalian saat ini juga. Aku masih menunggu sesuatu.” Bob sempat melihat ke langit saat mengatakan menunggu sesuatu.

“Apa maksudmu?” Elisa mulai penasaran.

“Aku akan mengakui satu hal di hadapan kalian semua,” Bob bangkit berdiri dan berjalan ke depan. Smith langsung menyembunyikan pisaunya. Bob berjalan perlahan dari Smith ke Megan. “Orang yang memberikan kalian surat dari awal sampai di sini… adalah…” Bob menunjukkan pistolnya ke dadanya sendiri.

Misteri mulai terkuak. Perkataan Bob menarik perhatian semua, bahkan Smith memfokuskan dirinya pada Bob.

“Ba… bagaimana mungkin?” sahut Cherry.

Bob tersenyum. “Ya, akulah yang memberikan kalian uang satu juta. Uang tidak pernah menjadi masalah untukku,” kata Bob sembari kembali berjalan ke arah Smith. Smith langsung berhenti berusaha melepaskan ikatannya dan menyelipkan pisaunya di balik ikatannya.

“Jadi kamu yang mengirimkan surat?” tanya Alex.

Bob berjalan ke Alex. Alex memberikan kesempatan kepada Smith untuk kembali memotong tali yang mengikatnya.

“Tentu saja,” jawab Bob merasakan kebanggaan dalam dirinya. “Aku membutuhkan kalian semua di sini.”

“Untuk apa? Untuk apa kamu membawa kami ke sini? Apa gunanya kami untukmu?” Cherry menangis sambil menanyakan pertanyaan yang semua ingin tanyakan.

Bob menyengir. Baru saja dia mau menjawab, Smith menerjangnya dengan keras hingga jatuh. Pistolnya terpental. Bob berusaha melawan tapi Smith lebih kuat. Dia meninju hidung Bob dengan keras. Bunyi retakan terdengar. Hidung Bob patah. Smith memukulnya kembali berulang kali sampai Bob berhenti melawan.

“Smith, sebentar. Kita harus tahu alasan dia membawa kita ke sini,” Alex berusaha menghentikan Smith yang hilang kendali. Tapi untungnya Smith mendengarkan. Smith sama penasarannya dengan Alex.

“Emmmm! Emmm!!!” Tiba-tiba Maya bergumam dengan keras. Dia berusaha berteriak untuk memperingatkan yang lain.

Elisa melihat ke Maya. Maya sedang melihat ke arah seseorang yang sedang mendekati pantai. Mata Maya membelalak, dia ketakutan. Gray juga melihatnya dan dia berusaha melepaskan dirinya. Dia dan Maya ketakutan. Elisa melihat orang tersebut, atau lebih tepatnya, arwah.

“Coconut…” suara yang keluar dari mulut Elisa membuat semuanya tercengang dan melihat ke Coconut yang berjalan mendekati Smith dan Bob.

“Emmm! EMMM!!!” Maya dan Elisa bergumam bersamaan berusaha memberitahu sesuatu.

Cherry tercengang. Dia sekarang percaya kepada Elisa yang mengatakan ada penampakan arwah. Megan yang sudah kehilangan banyak darah juga tidak percaya dengan yang dilihatnya. Coconut berjalan semakin dekat ke Smith. Smith bangkit berdiri meninggalkan Bob yang terkapar dengan muka penuh darah.

“Apa maumu?” tanya Smith santai.

Coconut tersenyum. Kemudian dengan cepat dia mengangkat tangan kanannya yang memegang pistol yang terlepas dari Bob dan menembak dada kanan Smith. Smith jatuh dan menjerit kesakitan.

Kali ini semuanya benar-benar kaget dan lebih tidak percaya lagi. Tatapan penuh dengan kebingungan terlihat dari Alex, Elisa, Cherry, dan Megan. Maya dan Gray sudah tidak berusaha bicara lagi. Ternyata itulah yang mau mereka coba beritahu. Coconut masih hidup.

Advertisements