13. GERHANA

Maya berusaha membangunkan Gray. Gray merintih. Maya langsung memperlambat gerakannya. “Maaf,” katanya sembari memapah Gray yang mulai berdiri. Mereka berdua berjalan keluar dari kapal.

Tapi ada yang mendatangi Maya dan Gray dari belakang. Maya merasakannya. Dia menghentikan langkahnya dan melihat ke belakang. Coconut-lah yang berjalan mendekati mereka. Coconut yang adalah kepala pelayan keluarga Fruit. Barusan dia melihat arwah Grape yang memperingatinya. Tapi sekarang arwah Coconut yang muncul. Maya penasaran apa yang mau Coconut beritahu padanya. Dia diam menunggu Coconut semakin dekat.

Maya menunggu Coconut berada di hadapannya dan berharap Coconut akan memberitahukannya suatu hal yang penting. Tapi tangan Coconut langsung menyergap leher Maya. Coconut mencekiknya. Kaget sekaligus cemas, Maya menjatuhkan Gray. Maya memegang tangan kanan Coconut yang erat mencekiknya. Dia bisa merasakan tangan Coconut. Coconut masih hidup.

Coconut mendorong Maya ke dinding dan menutup hidung dan mulut Maya dengan tangan kirinya. Perlahan Maya kekurangan oksigen dan kehilangan kesadaran.

Smith menggeliat pada pasir pantai sambil menutup dada kanannya yang tertembak. Mukanya pucat dan keringatnya dingin.

Tidak ada kata-kata apa yang keluar dari yang lain. Mereka masih tidak percaya kalau Coconut yang tadinya mereka kira sudah mati—ternyata masih bernafas.

Kemudian Elisa menyadarinya. “Bob yang menceritakan tentang keluarga Fruits,” katanya. Dia teringat kembali dengan cerita Bob pada waktu perjalanan di dalam kapal.

Smith maju dan bertanya, “Bob, Coconutnya bagaimana?”

“Setelah mengubur jasad Papaya dan Apple, Coconut bunuh diri.”

“Bunuh diri?!” Megan tidak percaya.

Bob mengangguk. “Coconut memang selalu menjadi pelayan yang setia. Para pembantu yang lain menguburnya di dekat kubur Papaya. Akhirnya semua pun meninggalkan pulau. Pulau itu menjadi terbengkalai.”

“Coconut tidak pernah bunuh diri,” Alex melanjutkan. Dia juga menyadarinya.

Bob masih bernafas. Dia masih kesakitan. Coconut mendekatinya dan memberikan tangannya. Bob meraihnya dan bangkit berdiri.

“Brengsek,” cibir Bob dan membuang ludah. Ia mendekati Smith yang masih menggeliat di pasir. Bob gusar dan langsung menendang perut Smith.

“Akh!” Smith merintih.

“Dia mematahkan hidungku,” Bob mengadu kepada Coconut sambil memperlihatkan hidungnya yang patah.

Coconut memeriksa hidung Bob. “Tidak apa-apa, putraku.”

Putra?! Sekali lagi ketujuh orang yang tidak berdaya terkejut dengan apa yang baru Coconut katakan.

“Dasar brengsek,” Bob sekali lagi berpaling kepada Smith dan bersiap menendangnya. “Kamu,” Bob menendang-nendang Smith dengan keras, “mematahkan hidungku, brengsek!”

“Hentikan!” seru Cherry. Bob tidak berhenti menendang Smith. Dia memberikan satu tendangan kuat ke wajah Smith. Smith memuntahkan darah. Terdengar suara retakan. Hidung Smith juga patah. Smith mulai sekarat.

“Tenanglah, putraku,” Coconut memegang bahu Bob. Bob langsung berhenti. “Sebentar lagi semua akan berakhir.”

Bob mengibas-ngibas sepatunya yang berdarah ke pasir supaya bercak darahnya hilang, tapi tetap saja menyisakan sedikit bercak darah pada sepatunya.

Coconut berjalan ke Gray dan Maya. Dia melepaskan ikatan mulut mereka. “Kalian sudah tidak membutuhkan ini.”

Gray masih lemah. Dia tidak bisa berbicara apa-apa. Maya memberontak. Dia berusaha melepaskan dirinya dengan paksa tapi tidak berhasil.

“Jadi kamulah dalangnya,” ujar Alex.

Coconut berjalan ke pinggir pantai. “Bob tidak akan bisa melakukannya sendiri. Pintu rumah yang terbuka. Kapal yang bergerak sendiri. Dia memerlukan bantuanku.”

“Kenapa kamu mengundang kami ke sini?” tanya Alex.

Bob memperhatikan jam tangannya. “Sebentar lagi kalian juga akan tahu.”

Tiba-tiba langit mulai gelap. Angin pantai berhembus semakin kencang. Suasana di siang hari seakan menjadi suasana sore. Matahari mulai menggelap. Ada bulatan lain yang bergerak menutupnya. Gerhana matahari akan segera terjadi.

Angin semakin kencang. Dahan-dahan pohon bergerak-gerak dengan cepat. Burung-burung mulai beterbangan mencari tempat perlindungan. Ombak dari pantai beriuk kencang. Cuaca menjadi sangat dingin.

Saat itulah Elisa, Alex, Cherry, Maya, Gray, Smith, dan Megan melihat penampakan dari keluarga Fruit. Bukan hanya satu atau dua saja, tapi ketujuh anggota keluarga Fruit: Papaya, Cherry, Apple, Banana, Strawberry, Grape, dan Mango. Tampang mereka sempurna, tidak ada luka sama sekali. Strawberry juga terlihat cantik tanpa luka bakar sama sekali. Semuanya berdiri melingkari kedelapan makam.

Cherry merinding. “Ya, Tuhan…”

“Elisa…” Maya memanggil Elisa yang bingung harus mengatakan apa. Mereka sama-sama ketakutan.

Elisa melihat ke Cherry dan Strawberry bergantian. Cherry dan Strawberry pernah menuntunnya untuk menolong Alex dan Smith. Bahkan Cherry sempat merasukinya. Elisa berharap mereka juga akan membantunya kali ini.

“Kita tidak bisa melakukan ini,” suara Cherry terdengar parau walaupun mulut Cherry tidak bergerak. Cherry sedang melihat ke Papaya.

Papaya melihat ke Cherry. “Kita harus melakukan ini,” suara Papaya terdengar tanpa pergerakan dari mulutnya. “Hanya inilah satu-satunya jalan.” Para arwah berbicara tanpa mulut yang bergerak. Suara mereka terdengar jelas seperti terbawa angin.

Elisa melihat ke Maya. “Kamu mendengarnya?”

Maya mengangguk.

“Aku juga mendengarnya,” ujar Alex.

Jadi semua bisa mendengar percakapan para arwah itu.

Coconut mendekati Papaya dan menunduk. “Tuan…”

“Coconut,” panggil Papaya. “Terima kasih. Kami sudah merepotkanmu.”

Coconut tetap menunduk. “Hanya ini yang bisa aku lakukan.”

Papaya mengangguk. “Terima kasih.”

“Pa,” Papaya berpaling kepada Strawberry yang memanggilnya. “Ini salah. Kita tidak bisa menggunakan mereka.”

“Straw, putriku,” sahut Papaya. “Kumohon, biarkan papa menebus kesalahan papa.”

“Kita semua layak mendapat kesempatan kedua,” sahut Apple.

Papaya melihat Apple dengan tidak senang. “Sebaiknya kamu diam.”

Apple terlihat tidak senang tapi dia menuruti Papaya dan tidak bicara lagi. Elisa melihat ke Apple. Dia teringat kembali dengan penampakan Apple yang menakutinya saat baru selesai mandi. Apple melihat ke Elisa dan menyengir. Apple tahu apa yang dipikirkan Elisa.

“Mango mau hidup kembali,” kata Mango polos.

“Ya, putraku,” Papaya bicara kepada Mango. “Kita semua akan kembali.”

Hidup kembali? Elisa mulai membayangkan apa yang akan terjadi.

“Kamu melukaiku cukup parah,” kata Banana sambil melihat ke Smith yang masih kesakitan.

“Lukamu bisa diobati, Banana,” sahut Coconut. “Tenang saja.”

“Sudah bisa dimulai?” Papaya bertanya kepada Coconut.

“Belum, tuanku,” jawab Coconut sambil melihat ke langit, gerhana akan segera terjadi. “Sebentar lagi.”

“Kalian mau menggunakan kami untuk hidup kembali,” pikiran Elisa keluar dalam kata-kata. “Kalian mengundang kami ke sini supaya kalian bisa menghidupkan diri kalian kembali. Itu tujuan utama kalian.” Elisa melihat ke Cherry dan Strawberry bergantian. Cherry dan Strawberry menunduk merasa bersalah.

“Diam, kamu!” seru Bob kesal. “Kalian hanyalah tumbal saja. Kalian tidak ada apa-apanya. Keluarga ini sudah terjebak di pulau ini. Mereka tidak bisa kemana-mana. Mereka tidak hidup tapi mereka juga tidak mati. Mereka perlu menyelesaikan masalah mereka supaya mereka bisa melanjutkan hidup mereka. Dan kalian akan dipakai supaya mereka bisa menyelesaikan masalah mereka. Harusnya kalian bersyukur untuk itu! Yah, walaupun akhirnya kalian akan mati juga.”

Cherry menangis kembali. “Tidak, kumohon. Aku tidak mau mati…”

“Terima sajalah. Hanya kalian yang memiliki tanggal lahir yang sama dengan tanggal kematian mereka.” Bob mulai menjelaskan. “Kalian adalah pengganti yang pas untuk mereka. Asal kalian tahu, ayahku mempelajari ilmu yang bisa memberikan penawaran kepada kematian. Asalkan ada pengganti yang pas, kematian akan mau menerimanya dan menghidupkan kembali yang sudah mati. Sebentar lagi, arwah kalian semualah yang akan tinggal di pulau ini. Hahaha!”

Semuanya diam saja. Sekarang misteri mereka diundang ke pulau X sudah jelas. Mereka diundang untuk menggantikan keluarga Fruit yang sudah meninggal. Mereka hanyalah tumbal. Keluarga Fruit akan hidup kembali dan mereka bertujuh akan meninggal. Semua tipuan dari pencarian emas hanyalah akal-akalan saja supaya mereka sibuk menghabiskan waktu mereka dengan hal-hal tidak berguna.

Elisa melihat ke Cherry dan Strawberry. “Kalian tidak sejahat itu. Aku tahu itu.”

Cherry diam saja. Strawberry dan Elisa saling melihat. Strawberry tampak sedang berpikir.

“Kalian harus menghentikan ini,” Elisa meminta tolong.

“Maafkan aku,” terdengar suara Strawberry.

“Kalian tidak sejahat itu, aku tahu itu,” Elisa meyakinkan Cherry dan Strawberry.

“Sebentar lagi akan mulai gerhananya,” kata Coconut dan mempersiapkan diri dengan berdiri di tengah-tengah lingkaran. Bob berdiri di sebelahnya. “Kita mulai ritualnya sekarang.”

Bulan mulai menutupi matahari. Hanya ada sedikit terang di siang hari dan sebentar lagi semua akan gelap. Coconut menunggu gerhana matahari terjadi untuk memulai ritualnya. Ritual yang akan menggantikan jiwa ketujuh orang yang masih hidup dengan ketujuh arwah keluarga Fruit.

Coconut memberikan kantong kecil kepada Bob. Bob membukanya dan mengeluarkan sebuah mangkok dan pisau kecil. Dia mendekati Smith dan membeset lengan Smith. Smith menjerit pelan tapi dia lebih kesakitan dengan luka tembakan di dadanya. Bob mencucurkan lengan Smith yang berdarah ke dalam mangkok. Bob melakukan hal itu ke enam orang lainnya.

Bob beralih ke Alex dan melakukan hal yang sama. Dia mengambil darah Alex. Kemudian dia mengambil darah Cherry.

“Kumohon, Bob,” tangis Cherry. “Hentikan ini.”

Bob tidak menghiraukannya. Dia bergerak ke Megan, Gray, Maya, dan terakhir ke Elisa untuk mengambil darahmereka. Dia mengambil darah semua yang akan dijadikan kurban. Kemudian menyerahkan mangkok yang sudah berisi darah kembali ke Coconut.

“Ingat,” kata Coconut. “Saat ritual dimulai, aku tidak akan bisa berhenti merapalkan mantra.” Coconut melihat ke para arwah keluarga Fruit dan melanjutkan, “Kalian segera rasuki tubuh mereka dan bertahan di sana sampai gerhana matahari berlalu.”

Coconut mengangkat mangkok berisi darah itu sambil menengadah ke atas dengan kedua tangannya. Kemudian dia muai berkata-kata dengan bahasa yang tidak dimengerti, sebuah mantra.

“Bersiap-siaplah,” Bob memberitahu ketujuh arwah keluarga Fruit.

Saat itu juga burung-burung gagak berdatangan. Lingkaran yang dibentuk ketujuh arwah keluarga Fruit menjadi poros perputaran angin. Burung-burung gagak beterbangan di sekeliling lingkaran tersebut. Langit menggelap. Ombak berderu keras.

Cherry menangis dan memohon lebih keras lagi. “Hentikaaan, kumohon…”

Elisa melihat ke arwah Cherry, menatapnya dalam-dalam. Mereka saling bertatapan. Elisa masih berharap arwah Cherry akan melakukan sesuatu.

Akhirnya arwah Cherry mengeluarkan suara. “Aku tidak bisa melakukannya.”

Semua mata melihat ke arwah Cherry.

“Cherry, sayang?” Papaya memanggilnya.

Coconut masih terus membacakan mantranya. Dia tidak bisa menghentikannya, sepertinya.

“Aku tidak bisa, maafkan aku.”

“Kamu sudah gila apa, Cherry?!” Papaya emosi.

Arwah Cherry langsung menatap Papaya dengan tajam. Papaya sadar dia baru mengatai Cherry gila dan kata ‘gila’ bukanlah kata yang disukai Cherry karena selama ini Cherry dituduh gila.

“Ma, maafkan aku,” Papaya meminta maaf. “Cherry, sayang. Kita akhirnya mendapat kesempatan untuk bersatu kembali. Apa kamu mau melewatinya begitu saja?”

Arwah Cherry melihat ke ketiga arwah anaknya bergantian. Mango terlihat paling takut. “Kita sudah mendapatkan kesempatan itu,” kata Cherry tenang. “Kesempatan kita sudah lewat. Aku tidak akan bisa hidup dengan mengorbankan jiwa-jiwa mereka. Kita tidak bisa seenaknya mengambil nyawa mereka. Kalau aku melakukan itu,” Cherry kembali melihat ke Papaya dan bergantian ke Apple, “aku sama saja dengan kalian berdua yang sudah merenggut nyawa kita semua.”

“Kamu itu selalu penuh dengan drama, saudara kembarku,” balas arwah Apple sinis. Seketika itu juga Apple bergerak dan merasuki Megan.

Megan seakan tersedak sesuatu yang besar. Dia menggeliat ke atas kaku sambil mengeluarkan suara sendawa keras. Kemudian dia tidak sadarkan diri.

“Cherry,” Papaya mencoba berbicara kepada arwah Cherry. “Berikan aku kesempatan kedua. Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu.”

Banana bergerak merasuki Smith. Mango dan Grape terlihat kebingungan, terutama Mango yang ingin sekali hidup kembali.

“Ma…” Mango memanggil arwah Cherry.

“Tidak, putraku,” tukas arwah Cherry tajam dan yakin. “Kita tidak akan melakukan itu. Kita jauh lebih baik dari itu.”

“Tapi, ma…”

“Dengarkan kata mama, Mango,” sahut Srawberry.

Mango berpaling ke Grape. Grape mengangguk. Dia lebih mendengarkan Cherry dan Strawberry daripada Papaya.

“Kalian…” Papaya tidak percaya ketiga anaknya akan melawannya. “Kalian tidak akan membiarkan aku hidup sendirian. Kalian tidak bisa melakukan itu. Mango…”

Mango menundukkan kepala. Dia harus memilih.

Elisa dan yang lain hanya memperhatikan berharap Papaya tidak berhasil meyakinkan istri dan ketiga anaknya untuk merasuki tubuh mereka. Cherry masih terisak-isak dan beberapa kali mendesis memohon untuk menyelamatkan dirinya.

Apa yang akan dipilih Mango?

“Putraku,” Cherry memanggilnya. “Kita kaan baik-baik saja. Aku akan menjagamu.”

“Aku juga,” tambah Strawberry.

“Aku juga,” Grape ikut meyakinkan.

Mango mengangkat wajahnya. Dia menangis dan mengangguk. Papaya tercengang.

“Kalian…”

“Gerhana sudah terjadi,” kata Bob.

Langit gelap gulita. Matahari sudah ditutupi oleh bulan. Gerhana matahari sempurna. Itu berarti gerhana matahari juga akan segera berlalu.

“Kamu harus cepat, tuan,” Bob mendesak Papaya.

Coconut tidak berhenti merapalkan mantra. Dia melihat ke Papaya berharap Papaya segera merasuki Alex.

Alex sendiri pasrah. Megan dan Smith sudah dirasuki Apple dan Banana. Papaya sendiri juga berniat untuk hidup kembali. Apakah Papaya akan lebih memilih hidup tanpa keluarganya atau terperangkap di pulau X bersama keluarganya?

“Kamu harus menentukan pilihanmu, tuan,” Bob semakin mendesak.

Papaya dan Cherry saling memandang. “Aku meminta Coconut dan Bob untuk mempersiapkan semua ini supaya aku bisa membuktikan kepada kalian kalau aku bisa menjadi suami dan ayah yang baik. Aku telah berdosa pada kalian. Tapi sekarang…” kedua mata Papaya berkaca-kaca. “Sekarang kalian malah memberontak.”

Suara Coconut meninggi. Dia berteriak merapalkan mantranya. Angin bertiup semakin kencang. Sebentar lagi gerhana akan berlalu. Dia melihat ke Papaya.

“Tuan…” Bob menunggu pilihan Papaya.

Cherry mengulurkan tangannya ke arah Papaya. “Kamu bisa membuktikannya sekarang. Tetaplah bersama kami.”

Coconut menggeleng. Dia tidak mau Papaya tetap menajdi arwah. Dia sudah berusaha sejauh ini bersama Bob untuk menghidupkan kembali majikannya.

Air mata mulai berlinang pada wajah Papaya. Papaya harus memilih dan dia sudah menentukan pilihannya. Dia melihat ke ketiga anaknya satu-satu, kemudian berakhir ke Cherry. “Aku sayang kalian. Aku sangat menyayangi kalian…”

Papaya memilih keluarganya. Itulah yang di pikiran Elisa sekarang. Itu berarti Alex akan selamat. Elisa mulai merasa tenang. Tapi…

“Maafkan aku,” Papaya telah memilih.

Elisa tersentak sama seperti yang lain. Papaya bergerak dan langsung merasuki Alex.

“Tidaaak!” seru Elisa. Dia berusaha melepaskan dirinya tapi tidak mampu.

Alex sudah tidak sadarkan diri. Papaya lebih memilih hidup daripada bersama Cherry dan ketiga anaknya. Cherry hanya bisa menangis bersama ketiga anaknya.

Langit mulai terbuka dan memperlihatkan cahayanya. Angin mulai reda. Deru ombak kembali normal. Burung-burung gagak terbang menjauh. Perlahan-lahan keadaan kembali menjadi siang. Coconut menurunkan mangkok berisi darah dan menyerahkannya ke Bob.

Keadaan menjadi hening. Coconut terengah-engah. Maya hampir tidak bisa bernafas karena ketegangan yang terjadi selama gerhana. Dia melihat ke Elisa yang menangisi Alex. Cherry juga masih menangis walau tidak sehisteris sebelumnya. Hanya mereka dan Gray yang tidak dirasuki.

Smith bergerak. “Akh…” Smith kesakitan memegangi dadanya yang berdarah.

Megan juga bergerak. Dia sudah sadar dan juga kesakitan seperti Smith. Terakhir Alex mengangkat wajahnya. Elisa melihatnya dengan seksama berharap kalau Alex masih Alex. Tapi tiba-tiba di sebelah Elisa berdiri seseorang. Elisa berpaling melihat orang itu.

“Tidak…” tangis Elisa.

“Alex,” Maya memanggil orang yang berdiri di sebelah Elisa, atau lebih tepatnya adalah arwah Alex.

Arwah Alex berdiri di sebelah Elisa. Dia menatap Elisa dengan pandangan sedih tapi dia tersenyum. “Semuanya akan baik-baik saja,” suara Alex terdengar.

Bob mendekati Alex yang sudah dirasuki Papaya dan melepaskan ikatan Alex.

“Terima kasih,” Papaya yang sudah berada di tubuh Alex meregangkan kedua tangannya. Dia memperhatikan kedua tangannya dan membalikkannya. Dia bisa merasakan kedua tangannya. Dia sudah lama tidak bisa merasakan tubuhnya. Papaya sudah hidup kembali.

“Tuan,” Coconut mengulurkan tangannya untuk membantu Papaya berdiri.

Papaya menyambut tangan Coconut dan bangkit berdiri. Dia memeletekkan kepalanya ke kanan dan kiri, kemudian memutar kepalanya. “Ah, yeah. Sudah lama aku tidak merasakan ini.”

“Tolong aku,” ujar Megan yang sudah bukan Megan lagi, melainkan Apple.

Arwah Megan dan Smith muncul di sebelah Alex. Mereka berdiri diam terpaku menyaksikan tubuh mereka yang sudah berganti jiwa.

“Oh, Apple,” Papaya mendekati Apple. Diam-diam dia diserahkan pisau yang sebelumnya dipegang oleh Bob.

Cherry yang melihatnya membelalak. Dia tahu apa yang akan Papaya perbuat. Cherry berusaha melepaskan dirinya tapi tangannya sudah kesakitan karena dari tadi dia tidak berhasil mengeluarkan tangannya dari ikatan tali.

Papaya jongkok di depan Apple dan mengelus pipi Apple dengan tangan kirinya. “Aku tidak percaya aku bisa tertipu dengan wajah yang sangat mirip dengan istriku. Kau berhasil membutakan kedua mataku.”

“Kita bisa memulai yang baru,” sahut Apple lemah. “Hanya aku yang kamu miliki sekarang. Cherry dan anak-anakmu sudah tidak bersamamu. Kita bisa menjadi keluarga yang berbahagia, Papaya.”

“Tentu saja,” kata Papaya yang bergerak mengelus rambut Apple. “Kita akan menjadi keluarga yang berbahagia, Apple.” Papaya mencium bibir Apple.

Arwah Cherry yang masih di sana menjadi sedih. Papaya lebih memilih hidup tanpa dia dan anak-anaknya dan sekarang papaya lebih memilih untuk hidup bersama saudara kembarnya yang jahat.

“Tapi aku tidak membutuhkanmu,” ujar Papaya cepat dan menikam perut Apple.

“Tidak!” Cherry menjerit dan tidak mau melihat.

Papaya menarik pisaunya dan menusukkannya kembali ke bekas tusukan yang sama berkali-kali. Apple perlahan-lahan mengalami pendarahan dan akhirnya meninggal.

Arwah Megan sendiri tidak tahu mesti bereaksi bagaimana. Dia sudah meninggal dan tubuhnya yang sudah ditinggali Apple dibunuh. Apple yang baru saja hidup kembali, dalam sekejap sudah harus kehilangan nyawanya.

“Kamu tidak layak hidup,” Papaya bangkit berdiri.

Arwah Apple muncul di dekat Cherry. “Brengsek, kamu.”

Papaya menyengir. “Kamu tidak bisa melakukan apa-apa, Apple. Bahkan merasuki tubuh manusia tidak bisa. Kamu baru mati dan kamu tidak bisa melakukan itu.” Papaya mendekati Smith yang sekarang adalah Banana, kakak kandungnya. “Apa kamu berpikir aku akan membiarkan kamu hidup kembali, Apple? Kamu sudah menghancurkan keluargaku. Justru aku ingin menikmati rasanya membunuhmu dengan tanganku sendiri. Dan aku berhasil.”

Papaya berlutut dan melihat luka Banana. “Kamu tidak apa-apa?”

Banana berkeringat dingin. Dia sudah mengalami pendarahan yang parah. “A… aku… tidak akan bertahan…”

“Coconut!” Papaya marah. “Cepat selamatkan kakakku!”

Coconut memberi tanda kepada Bob yang segera mengeluarkan kotak obat dari dalam tas yang sudah dipersiapkan Bob waktu membawa yang lain ke pantai.

“Adik…ku…”

Arwah Smith menggeleng. Belum sempat Bob mengobati Banana, Banana sudah meninggal.

“Tidak! Kamu tidak boleh mati!” Papaya menggoyang-goyangkan jasad Smith. Dia berteriak sekencang mungkin, “Kamu tidak boleh meninggalkanku juga!”

Arwah Banana menampakkan diri juga di sebelah Mango. Papaya melihat ke Banana.

“Aku sendirian…” Papaya melihat ke sekelilingnya.

Semua sudah tidak bersamanya. Cherry, Strawberry, Grape, dan Banana. Mereka hanya bisa menatap Papaya dengan sedih. Semua rencana Papaya menjadi berantakan.

“Tuanku,” Coconut menundukkan kepala. “Kamu amsih memilikiku.”

Papaya melihat ke Coconut. Urat-uratnya terlihat dan wajahnya merah. Bola matanya yang putih juga dipenuhi urat merah yang menandakan Papaya sudah kehilangan akal sehatnya.

“Kamu!” Papaya bangun dan mendekati Coconut. “Kamulah yang menembak Banana! Kamu yang membunuhnya!”

“Tuan…”

“Kamu itu bukan apa-apa! Kamu hanya pelayan! Tidak lebih dari itu! Tugas kamu hanyalah menghidupkan kami tapi kamu gagal!” Papaya menyalahkan Coconut.

“Maafkan aku, tuan…”

Papaya diam sejenak sambil memelototi Coconut yang mengangkat pistol ke arah Papaya.

“Tapi aku sudah melakukan yang terbaik sebisaku,” bantah Coconut. “Aku sudah melakukan yang terbaik untukmu! Aku sangat berterima kasih padamu dan aku selalu setia kepadamu! Aku pikir kamu sudah menganggap aku sebagai keluarga sendiri. Tapi aku tidak lebih dari seorang pelayan di matamu.” Coconut menangisi dirinya sendiri.

“Kamu mau menembakku?” Papaya menantang. “Tembak aku! Untuk apa aku hidup lagi?! Lebih baik aku mati!” Papaya semakin mendekati Coconut.

“Jangan mendekat…” tangan Coconut gemetaran. Dia ragu untuk menembaki tuannya.

Papaya mengangkat tangannya dan menusuk leher Coconut. Coconut tidak bisa menembak Papaya. Coconut tersedak. Papaya mengeluarkan pisaunya. Darah muncrat dari leher Coconut. Coconut memuntahkan darah.

“Ayah!” Bob segera berlari menghampiri Coconut yang jatuh. “Apa yang kamu lakukan?!”

Papaya melihat dirinya yang terkena cipratan darah. Pisau yang penuh dengan darah masih dia pegang.

“Kumohon, lepaskan kami…” Cherry merengek kembali.

Papaya menyadari keberadaan Cherry. “Kamu!”

Cherry terperanjat mendengar bentakan Papaya.

“Kamu bukanlah Cherry! Kamu seharusnya menjadi Cherry-ku!”

Papaya mendekati Cherry yang ketakutan.

“Kamu bukan siapa-siapa!” Papaya mengarahkan pisaunya siap menusuk Cherry.

“Hentikaaan!” Cherry berteriak sambil menutup kedua matanya. Dan saat membuka kedua matanya, Cherry menjadi sangat tenang dan berbeda. “Hentikan, suamiku,” kata Cherry.

Papaya berhenti. Dia memperhatikan Cherry sebentar kemudian berpaling mencari arwah Cherry yang sudah tidak ada. Arwah Cherry baru saja merasuki tubuh Cherry yang masih hidup.

“Cherry, sayang,” kedua mata Papaya berkaca-kaca.

“Semua berhenti di sini,” ujar Cherry.

Papaya memegang pipi Cherry. “Cherry, sayangku.”

“Kamu tidak akan membunuh siapa-siapa lagi,” Cherry berbicara penuh kasih. Kedua matanya juga berkaca-kaca sekarang. Cherry masih menyayangi Papaya. “Sudah cukup. Kamu sudah cukup menderita, suamiku.”

“Aku… aku menyayangimu.”

Cherry hanya tersenyum. Papaya mendekatkan wajahnya ke Cherry dan mereka berciuman sambil menitikkan air mata. Entah kenapa kisah cinta mereka harus menjadi tragis seperti saat ini. Papaya telah mengambil keputusan yang salah dengan hidup kembali.

Papaya berhenti menciumi Cherry. Dia memutuskan tali yang mengikat Cherry. Cherry bebas.

“Kamu harus melepaskan mereka,” Cherry memegang kedua pipi Papaya. “Mereka tidak bersalah.”

Papaya mengangguk. Dia menyadari kesalahannya. “Maafkan aku.”

“Kamu masih punya kesempatan untuk memperbaikinya.”

Tiba-tiba terdengar suara tembakan. Semua sontak kaget dan melihat asal tembakan itu. Bob baru saja menembakkan pistol yang tadinya berada di saku Coconut tepat ke dahi Coconut.

Papaya menyerahkan pisaunya ke Cherry. Sementara Cherry berusaha memotong tali Elisa, Papaya berdiri menghadap Bob.

“Aku tidak bisa membiarkannya menderita,” kata Bob sambil meratapi jasad ayahnya. Dia masih menggenggam pistol di tangan kanannya.

“Bob,” bisik Papaya pelan. “Aku… tidak bermaksud melakukannya.”

Bob berbalik perlahan sambil berkata, “Kamu telah melakukan kesalahan besar.” Dia menatap Papaya dengan tatapan aneh, marah tapi ada kecemasan terlihat.

“Aku tahu, aku telah melakukan kesalahan. Aku tidak bermaksud melukai ayahmu.”

Ikatan Elisa terlepas. Cherry beralih memotong ikatan Maya. Elisa mencoba melepaskan ikatan Gray dengan tangan kosong.

“Ya,” sahut Bob. “Tapi kamu tidak tahu apa yang baru saja kamu perbuat.”

Tiba-tiba langit menjadi mendung. Angin bertiup kencang dan ombak kembali berderu keras. Tapi kali ini bukanlah gerhana. Lebih seperti akan terjadi badai.

“Ayahku sejak dulu mempraktekkan ilmu hitam. Dia sudah menyerahkan dirinya kepada iblis,” Bob menjelaskan. “Dan dia sudah membuat perjanjian dengan iblis di pulau X ini. Kamu pikir kenapa kalian yang sudah mati harus terjebak di pulau ini?! Itu karena ayahku sudah membuat perjanjian apabila dia mati, maka seluruh pulau ini akan hancur memakan semua jiwa yang ada di pulau ini. Semua jiwa baik yang masih hidup atau mati akan menjadi milik kegelapan.”

Angin bertiup semakin kencang. Pohon-pohon bergoyang dengan keras. Tiba-tiba semua merasakan dentaman pelan dari bawah kaki mereka. Terjadi gempa ringan.

“Pulau ini akan tenggelam bersama kalian semua,” kata Bob. “Kalian akan masuk ke neraka semua.” Bob mengarahkan pistolnya ke Papaya. “Tapi aku harus membalaskan kematian ayahku terlebih dahulu.”

“Tidak!” Cherry melesat cepat ke depan Papaya. Bob menembakkan pistolnya dan peluru itu tepat mengenai dada kiri Cherry.

“Cherry!” Papaya menahan Cherry yang rebah ke tubuhnya.

“Mati kamu!” Bob langsung menembakkan pistolnya ke Papaya. Tapi tidak ada peluru yang keluar. Amunisinya sudah habis.

Papaya memelototi Bob dengan gusar. Dia menaruh tubuh Cherry yang sudah tidak bernyawa ke pasir tanpa sedikitpun memalingkan pandangan ke Bob. Bob yang ketakutan segera membuang pistolnya dan langsung membalikkan badannya berlari memasuki hutan. Papaya bangun dan mengejarnya.

Gempa kedua terjadi. Kali ini lebih kuat. Maya dan Gray sudah terlepas. Gray kesulitan untuk berdiri. Maya membantunya. Elisa membantu membopong Gray. Saat bersiap untuk pergi, mereka melihat satu sosok muncul di sebelah jasad Coconut.

Arwah Coconut berdiri di sana, tapi arwahnya berbeda dari yang lain. Arwah Coconut terlihat sangat mengerikan. Wajahnya penuh dengan bopeng. Rambutnya terbakar habis ada ada bau hangus dari seluruh tubuhnya yang telanjang. Coconut seakan baru saja terbakar.

“Kalian semua milikku,” suara Coconut keras dan menggema. “Kalian akan ikut bersamaku merasakan api neraka.”

Gempa semakin kuat.

“Kalian harus segera pergi dari sini,” suara Alex terdengar.

“Tapi Gray terluka,” sahut Maya. “Dia tidak bisa berjalan cepat.”

“Aku akan membantumu,” kata Mango dan segera merasuki Mango. Saat itu juga Gray berdiri tegak seakan tidak mengalami sakit.

“Kalian tidak akan kemana-mana!” seru Coconut diikuti dengan suara petir menggelegar. Beberapa pohon di hutan tumbang.

“Kamu yang tidak akan kemana-mana,” kata arwah Cherry Fruit yang muncul dari sebelah Strawberry diikuti dengan arwah Cherry Milkwatt. Kedua arwah Cherry tersebut maju ingin menahan Coconut.

“Bob akan melarikan diri dengan kapal,” kata arwah Banana yang juga muncul kepada Elisa, Maya, dan Gray yang sudah dirasuki Mango. “Dia menyimpan bahan bakar di dalam tanah belakang rumah kayu.”

Elisa mengangguk. Dia melihat ke Maya dan Gray yang mengerti. Elisa melihat ke Alex sesaat. Alex mengangguk dan tersenyum. Akhirnya mereka bertiga berlari memasuki hutan. Coconut ditahan oleh Cherry Fruit, Cherry Milkwatt, Strawberry, dan Grape saat mau mengejarnya. Arwah Alex, Banana, Smith, dan Megan juga maju mengepung Coconut.

Advertisements