14. MYSTERY ROAD HOUSE

Petir tidak berhenti menyambar diikuti dengan angin ribut. Beberapa pohon tumbang. Elisa, Maya, dan Gray harus berlari dengan sangat ahti-hati. Beberapa kali mereka hampir tersambar petir dan tertimpa pohon. Tapi mereka berhasil menyusuri hutan secepat mungkin.

Petir menyambar sebuah pohon yang langsung tumbang tepat ke Maya. Maya menjerit kencang. Elisa dan Gray yang beberapa meter di depan berbalik untuk melihat keadaan Maya.

“Aku tidak apa-apa, teruslah berlari,” terdengar suara Maya yang berdiri di sebelah pohon yang tumbang.

Elisa berbalik kembali dan terus berlari. Gray memandang Maya sekilas sebelum akhirnya dia mengikuti Elisa.

Akhirnya mereka tiba di rumah kayu. Elisa berlari ke belakang rumah dengan cepat dan menemukan Papaya yang sedang memukul wajah Bob yang sudah penuh luka dengan keras. Elisa menginjak pisau yang tadinya dibawa Papaya. Pasti Papaya menjatuhkannay saat sedang berkelahi dengan Bob. Wajah Alex yang sudah dimiliki papaya juga ada luka pukulan. Elisa memungut pisau itu dan menyelipkannya ke celananya.

Gray muncul belakangan. “Papa, hentikan,” katanya.

Papaya berhenti saat mendengar suara putranya. Dia mengenali cara berbicara Mango walaupun saat ini Mango sedang ebrada di tubuh Gray. Maya muncul beberapa detik sesudahnya.

Papaya bangkit berdiri. Bob sudah tidak berdaya. Wajahnya tidak berbentuk penuh dengan darah. Dia sudah tidak bisa bergerak. Papaya mengangkat dua galon dari enam galon besar yang terdapat dalam tanah yang sudah digali di dekatnya, galon yang berisi bahan bakar. Bob pasti sudah menggalinya sebelum dia dan Papaya terlibat perkelahian.

“Kalian harus membantuku,” kata Papaya.

Gray bergegas mengangkat dua galon juga. Elisa mendekat dan mengangkat satu galon sambil melihat ke Maya.

“Kamu bawa satu,” kata Elisa kepada Maya.

“Aku tidak bisa,” sahut Maya pelan.

Elisa mengernyitkan dahi. “Apa maksudmu? Apa kamu terluka?”

Maya berdiri diam saja.

“Dia sudah meninggal,” kata Gray sambil berjalan mengikuti Papaya yang sudah menuju ke kapal.

“Meninggal? Apa maksudnya?”

Maya memaksakan diri untuk tersenyum. Petir yang menyambar pohon sehingga tumbang tadi tepat menimpa Maya. Arwah Mayalah yang menyuruh Elisa dan Gray untuk terus berlari. Gray sempat memandang Maya untuk memastikan kalau Maya sudah meninggal karena Gray melihat tubuh Maya yang tertimpa tumbangan pohon.

“Pergilah, Elisabeth,” bisik Maya tanpa bibir yang bergerak.

Air mata mengalir membasahi wajah Elisa. Elisa berusaha menerimanya. Semua yang dia kenal saat ini sudah menjadi arwah. Hanya tinggal Gray yang sedang dirasuki oleh Mango. Elisa mengangkat galon yang satunya. Dia pun pergi membawa dua galon menyusul Papaya dan Gray.

Gempa semakin dahsyat. Tanah di pulau X mulai retak dan terbelah dua. Elisa hampir jatuh ke dalam belahan tanah tersbeut. Arwah Maya terus menemani Elisa di sepanjang perjalanan. Beberapa kali dia memepringatkan Elisa akan pohon yang mau tumbang atau retakan di dekatnya yang semakin besar.

Berkat bantuan Maya, Elisa berhasil sampai ke kapal dan segera menuju ruang mesin. Papaya dan Gray baru selesai mengisi empat galon bahan bakar kapal. Elisa sampai ke tempat mereka dengan terengah-engah. Gray membantu mengangkat kedua galon Elisa dan menuangkannya ke tangki bahan bakar.

“Aku akan pergi menyalakan mesin kapal,” kata Papaya yang bergegas pergi meninggalkan Elisa dan Gray.

Elisa melihat Papaya pergi dan beralih melihat perban di perut Gray yang bewarna merah. “Lukamu…”

Gray yang saat ini dirasuki Mango memperhatikan lukanya. “Oh, aku tidak memperhatikannya. Aku mengangkat beban terlalu berat. Pasti bekas luka Gray terbuka kembali.”

“Kamu tidak bisa terus bergerak. Kamu harus istirahat.”

“Satu galon lagi,” kata Gray yang sudah selesai dengan satu galon dan langsung menuangkan galon satunya.

Terdengar suara mesin menyala.

“Kita harus ke tempat ayahku,” kata Gray dan berjalan ke luar ruangan mesin. Tapi tiba-tiba dia memegangi perutnya. Gray jatuh berlutut.

“Hey, kamu tidak apa-apa?” Elisa memapah Gray.

“Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi,” sahut Mango di dalam diri Gray. “Pulau ini memanggilku. Aku harus keluar dari tubuhnya. Lukanya semakin parah. Kamu harus membantunya. Dia pasti akan tidak sadarkan diri selama beberapa saat.”

Elisa mengangguk. Mango keluar dari dalam tubuh Gray. Gray langsung tidak sadarkan diri, tapi dia masih bernafas.

“Putraku,” panggil Papaya yang berdiri di depan ruang mesin.

Mango berbalik melihat ayahnya. “Aku harus pergi, pa.”

Papaya mengangguk sedih.

“Papa harus hidup lebih baik dari kehidupan sebelumnya, ya. Jangan sia-siakan hidup papa lagi.”

“Selamat tinggal putraku,” Papaya membuka kedua tangannya meminta Mango masuk ke dalam pelukannya.

Mango berjalan mendekati Papaya dan masuk ke dalamnya. Papaya tidak bisa merasakan sentuhan dengan arwah Mango, tapi dia mencoba menikmati masa terakhir bersama putranya.

Kapal mulai bergerak. Mango tiba-tiba menghilang. Papaya bergerak ke dek kapal dan melihat ke arah pulau X. Elisa juga menghampirinya berdiri di sebelah Papaya melihat ke pulau X yang semakin lama semakin hancur dan masuk ke dalam tanah. Pulau X mulai tenggelam dan para arwah berdatangan ke pinggir pantai. Cherry Fruit, Strawberry Fruit, Grape Fruit, Mango Fruit, Apple Fruit, Banana Fruit, Alex Maxell, Cherry Milkwatt, Smith Walker, dan Maya Lockhart.

Para arwah hanya melihat ke arah kapal yang bergerak menjauhi pulau yang perlahan tenggelam. Mereka mengiringi kepergian Papaya, Elisa, dan Gray dari pulau X. Setidaknya mereka akan bebas dari jebakan pulau tersebut. Itulah yang Elisa harapkan. Arwah Coconut tampaknya sudah dikalahkan oleh mereka. Perlahan namun pasti, pulau X tenggelam ditelan lautan.

Kini tinggal Papaya dan Elisa di dek kapal. Elisa melihat ke Papaya. Dia merasa sedang melihat ke Alex. Papaya tidak berpaling sedikitpun dari pulau X.

“Hampir seumur hidupku, aku tinggal di sana. Sekarang aku harus melepaskan pulau itu.”

Elisa tidak tahu harus menjawab apa. Dia memang menyukai Alex Maxell. Tapi yang ada di depan dia saat ini bukanlah Alex. Dia adalah Papaya yang hidup kembali dalam tubuh Alex.

“Aku harus merawat Gray,” kata Elisa dan meninggalkan Papaya.

“Aku akan berada di ruang kemudi kalau kamu mau mencariku.”

Elisa mengangguk dan berjalan kembali ke ruang mesin. Beberapa jam berikutnya Elisa tidak bertemu lagi dengan Papaya. Dia sibuk membersihkan dan mengobati luka Gray di dalam kamar yang bertuliskan namanya. Gray masih tidak sadarkan diri. Luka gray benar-benar semakin parah, tapi masih bisa dirawat. Sebentar lagi mereka akan kembali ke Mystery Road House dan Gray akan mendapatkan perawatan yang terbaik untuknya di rumah sakit.

Elisa mencuci mukanya di wastafel. Dia mengingat kembali kejadian-kejadian yang baru saja terjadi. Elisa yang adalah seorang penulis berusaha memikirkan kembali semua kejadian.

Elisa, Alex, Megan, Smith, Gray, Maya, Cherry, dan Bob diundang ke pulau X untuk memperebutkan batang emas terbanyak. Tapi ternyata itu hanyalah tipu daya dari Bob yang ternyata adalah anak dari Coconut, pelayan setia keluarga Fruit. Coconut tidak pernah meninggal seperti yang Bob ceritakan. Dia mempelajari ilmu hitam yang membuatnya mengikat perjanjian dengan iblis untuk menggantikan jiwa mereka yang masih hidup dengan jiwa keluarga Fruit yang sudah meninggal tepat pada gerhana matahari. Hanya saja semua itu tidak sesuai yang direncanakan.

Korban-korban mulai berjatuhan. Papaya hidup kembali dalam tubuh Alex. Dia membunuh Apple yang baru hidup kembali dalam tubuh Megan. Banana yang hidup kembali dalam tubuh Smith tidak bisa bertahan karena luka tembakan yang diberikan oleh Coconut. Papaya yang gusar hampir membunuh Coconut. Bob menyelesaikan perbuatan Papaya karena tidak mau melihat penderitaan ayahnya.

Ternyata kematian Coconut sama dengan tenggelamnya pualu X. Iblis sudah membuat perjanjian untuk membawa setiap jiwa di pulau X baik yang hidup maupun meninggal ke neraka. Elisa, Gray, dan Papaya yang sudah hidup dalam tubuh Alex-lah berhasil meninggalkan pulau X. Hanya mereka bertiga saja. Bob yang masih hidup sudah tenggelam bersama pulau X. Jiwanya pasti juga sudah dibawa iblis. Sedangkan para arwah yang lain, Elisa sudah tidak bis membayangkan lagi kemana mereka pergi. Arwah Coconut yang terbakar api neraka berusaha membawa mereka semua bersamanya tapi sepertinya tidak berhasil karena dalam perjalanan kembalinya Elisa ke Mystery Road House, Elisa melihat parah arwah berkumpul di pinggir pantai mengiringi kepergiannya. Semoga saja arwah mereka pergi ke tempat yang semestinya, ke surga.

Elisa mengelap mukanya. Dia sudah berhasil mencerna semuanya. Entah bagaimana dia akhirnya memutuskan untuk menuliskan kisah ini ke dalam novel. Elisa terpanggil untuk itu. Dia akan membuat karya tulis barunya setelah dia kembali ke tempat asalnya.

Elisa kembali ke kasur melihat Gray yang masih tidak sadarkan diri. Akhirnya dia memutuskan untuk keluarga dan mencari Papaya. Selama ini dia berusaha menghindari Papaya. Dia bingung apa yang harus dibicarakannya dengan Papaya kalau sampai mereka bertemu. Apalagi Papaya berada di dalam tubuh Alex, pria yang dia sukai.

Elisa berjalan di sepanjang dek dan dia sudah melihat bangunan tinggi seperti istana berada di kejauhan. Itu berarti mereka akan segera tiba di Mystery Road House. Mereka akhirnya pulang.

Elisa masuk ke dalam ruang kemudi kapal. “Papaya?”

Tidak ada jawaban. Elisa tidak menemukan Papaya di dalam. Tapi dia membelalak melihat darah pada roda kemudi kapal. Jantung Elisa berdegup kencang. Papaya berkata sendiri kalau Elisa bisa menemukannya di ruang kemudi, tapi dia hanya menemukan darah. Apa yang terjadi?

Berbagai pikiran muncul dalam otak Elisa. Papaya bunuh diri? Atau ada arwah lain di sini? Apa mungkin arwah Coconut mengikuti mereka sampai ke sini? Atau mungkin…

Belum sempat memikirkan yang lain, Elisa mendengar suara cekikan dari belakangnay. Elisa melihat jejak darah dari roda kemudi yang mengarah ke sana. Ada seseorang di sana. Apa itu Papaya? Elisa berjalan selangkah demi selangkah dengan sangat hati-hati. Di balik mesin kemudi kapal akhirnya Elisa bisa melihat dengan jelas.

Papaya duduk di pojokan dengan lubang pada lehernya. Papaya terus memuntahkan darah dan mengeluarkan suara seakan-akan dia sedang tercekik. Papaya kesulitan bernafas dan dia sudah kehabisan banyak darah. Di bawahnya penuh dengan genangan darah.

Elisa menutup mulutnya. Dia tidak bisa membayangkan apa yang sudah menimpa Papaya. Tapi Papaya mengangkat tangan kanannya dan menunjuk ke pintu ruang kemudi. Elisa melihat ke arah itu dan dia terperanjat dan langsung jatuh lemas ke lantai.

Mukanya sudah tidak ada bentuk. Tapi dia masih bernafas. Dia masih hidup. Dia berdiri tegap berusaha melihat dengan kedua matanya yang penuh dengan darah. Kedua tangannya menggenggam sebuah shotgun, shotgun yang berasal dari rumah kayu yang pernah dipakai Smith untuk menolong Gray.

Surprise,” desis pria yang membawa senapan itu.

“Bob,” suara Elisa bergetar memanggil Bob yang ternyata masih hidup dan berada di kapal bersama mereka.

“Kamu merindukanku?” tanya Bob sedikit menggoda. Bob berjalan ke roda kemudi. Elisa bergeser mundur menjauhi Bob. “Kita sudah sampai,” kata Bob yang melihat ke arah pinggir pantai dengan sebuah rumah besar di depannya. Mereka sudah tiba kembali di Mystery Road House. Bob menurunkan jangkar kapal.

Suara bergetar terdengar saat jangkar mulai turun ke dasar laut dan hentaman ringan terjadi yang berarti kapal sudah berhenti bergerak.

“Dan sekarang,” Bob berbalik ke Elisa.

Elisa sudah berdiri di belakangnya dengan pisau di tangan kanannya. Dia masih menyimpan pisau yang dia temukan saat Papaya hampir membunuh Bob di celananya. Elisa langsung menancapkan pisau itu ke mata kiri Bob.

“AAAAAKH!!!” Bob menjerit kesakitan dan langsung memukul Elisa dengan senapannya.

Elisa jatuh menghantam pinggir mesin kemudi dan terkapar di lantai kayu. Kepalanya bocor. Dia meraskaan sakit yang sangat disertai vertigo akut. Semuanya seakan berputar-putar tidak ada gravitasi. Telinganya hanya mendengar dengungan sementara Bob memaki-maki dengan bahasa kasar.

Elisa menggeliat di lantai, memegangi kepalanya yang berdarah. Penglihatannya kabur. Perlahan dengungan mulai menghilang dan Elisa bisa melihat Bob yang mencoba menarik pisau dari mata kirinya tapi malah semakin histeris akibat sakit yang luar biasa.

Bob tidak mengeluarkan pisaunya. Dia berpaling kepada Elisa. “Wanita sialan,” Bob marah besar. Dia mendekati Elisa dan mencekik Elisa dengan sangat kuat.

“Akh!” Elisa melawan. Kedua tangannya berusaha melepaskan cekikannya. Tidak berhasil. Elisa melihat ke mata kiri Bob. Dia langsung memegang pisau itu dan berusaha menariknya. Akibatnya terjadi sedikit gesekan dan Bob langsung berteriak. Cekikannya terlepas.

Elisa bebas. Dia merangkak menjauh dari Bob dan berusaha bangun. Tapi Bob menarik kedua kaki Elisa dengan cepat dan paksa. Elisa jatuh kembali. Sekarang Bob menimpa Elisa. Bob meninju pelilpis kiri Elisa.

Elisa kembali mengalami sakit yang luar biasa. Bob langsung mencekiknya kembali. Kali ini Elisa tidak berdaya. Dia hampir kehilangan kesadarannya. Dia juga tidak bisa bernafas. Bob akan membunuhnya. Sampai di sini perjuangan Elisa.

“Mati kamu, wanita sialan!”

Seketika itu juga terdengar dentaman keras dari belakang Bob. Bob jatuh ke sebelah kanan Elisa. Elisa menarik nafas panjang. Dia berusaha menghirup sebanyak mungkin udara. Gray sudah berdiri di samping kirinya dengan sebuah balok kayu besar. Gray baru saja menyelamatkan Elisa.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya Gray yang masih lemas. Dia menjatuhkan balok kayunya dan memegangi luka pada perutnya.

Elisa bangun dan memapah Gray. “Kita harus segera pergi dari sini.”

Elisa dan Gray berjalan keluar dari ruang kemudi meninggalkan Bob yang tidak sadarkan diri. Mereka berjalan di sepanjang dek kapal dan menuruni tangga sampai tiba di pintu kapal. Mereka bergegas keluar dari kapal dan berjalan ke arah Mystery Road House.

Bob bergerak kembali. Dia sudah sadar. “Kalian akan mati,” Bob mengambil balok kayu yang dijatuhkan Gray. Dia bangun dan berjalan menyusul Elisa dan Gray.

Elisa dan Gray kembali ke Mystery road House. Mereka menyusuri lorong panjang, sama seperti saat mereka pertama kali menemukan jalan menuju belakang rumah. Pintu masih terbuka dan mereka sampai di ruang utama yang besar.

Gray yang lemah tidak mampu berjalan lagi. Dia duduk di tangga. Elisa mencoba membuka pintu depan yang besar tapi tidak berhasil. Pintu depan masih terkunci.

“Terkunci,” kata Elisa dan melihat sekelilingnya berusaha mencari cara supaya bisa meninggalkan Mystery Road House.

Gray bangkit berdiri sambil memegangi pegangan tangga. Dia berusaha mencari sesuatu juga tapi secara tidak sengaja dia menyenggol sebuah guci di dekatnya dan memecahkannya.

Elisa menghampiri Gray. “Kamu tidak apa-apa?”

“Tidak apa-apa.”

Elisa melihat ke pecahan kacanya dan dia menemukan sebuah gantungan dengan banyak kunci.

“Kamu mungkin sudah menemukan jalan keluar untuk kita,” kata Elisa tdiak percaya dengan kebetulan yang baru saja terjadi.

Elisa mengambil kumpulan kunci tersebut. Tiba-tiba terdengar dentuman keras seperti pintu yang ditutup dengan keras dari lorong yang dilewati Elisa dan Gray.

“Kalian akan mati!” suara Bob menggema dari lorong tersebut.

Elisa segera ke pintu depan dan mencoba semua kunci yang ada. Tapi tidak ada yang berhasil membukanya.

“Bukan,” desis Elisa gugup. “Ini bukan kuncinya.”

“Mungkin kunci pintu yang lain,” kata Gray sambil menunjuk ke beberapa pintu di sebelah kiri rumah. Sebelah kanan adalah tempat lorong yang sedang dilewati Bob.

“Aku akan membunuh kalian semua!” suara Bob mengintimidasi Elisa.

Elisa menjatuhkan kuncinya.

“Cepat, Elisa!” seru Gray.

Elisa mencoba membuka salah satu pintu. Tidak berhasil. Dia mencoba kunci yang lain.

“Dia datang,” bisik Gray yang melihat ke pintu menuju lorong.

Elisa menoleh sesaat dan melihat Bob berdiri di sana memegang balok kayu besar.

“Kalian tidak akan kemana-mana.”

Trek!

Pintu terbuka. “Ayo,” Elisa menarik Gray dan masuk ke dalam pintu.

Bob berlari cepat ke arah mereka. Elisa dan Gray menutup pintunya. Bob menghantamnya keras. Elisa dan Gray menahannya semampu mereka. Tapi Elisa menjatuhkan kuncinya kembali.

Elisa berusaha menahan pintu dengan menyandarkan punggungnya pada pintu dan menggunakan kedua kakinya sebagai tenaganya. Dia melihat ruangan di dalamnya. Sebuah ruangan besar dengan jendela-jendela terbuka sehingga cahaya matahari bisa masuk dan menerangi ruangan. Ruangan tersebut panjang dan ada karpet merah di tengah-tengah. Di sepanjang kiri dan kanan karpet merah tersebut, berdiri patung-patung ksatria dengan baju zirah memegang sebuah perisai di tangan kiri dan pedang yang menjulur ke atas depan di tangan kanan. Ruangan itu tampak seperti tempat latihan.

“Gray, kamu harus menahannya,” Elisa punya ide.

“Apa yang akan kamu lakukan?”

“Percayalah padaku.”

Elisa dan Gray saling memandang. Gray mempercayainya. Dia mengangguk. Saat itu juga Elisa berhenti menahan pintu. Bob kembali mendobrak masuk. Kali ini Gray kalah dan jatuh. Bob masuk ke dalam. Elisa berlari ke arah sebuah patung ksatria di dekatnya.

Bob melihat ke Gray. “Aku bingung kenapa kamu tidak mati-mati,” Bob menekan balok kayunya ke luka di perut Gray.

“AAAAKH!” Gray kesakitan.

Bob menginjak tangan kanan Gray sehingga dia kesulitan melawan. Bob berlutut dan menekan leher Gray dengan balok kayunya. Gray tercekik. Ditambah lagi lutut Bob menekan luka Gray. Perban Gray kembali berdarah. Gray tdiak bisa berteriak sekarang. Dia tidak bisa mengeluarkan suara karena tercekik. Sakitnya luar biasa.

“Hey!” Elisa memanggil Bob.

Bob menoleh ke depannya. Dia berusaha melihat dengan mata kanannya. Mata kirinya masih tertusuk pisau. Elisa sudah berdiri di depannya dan semua terjadi begitu cepat. Elisa membesatkan pisau besi yang dia ambil dari salah satung patung ksatria dari kanan ke kiri dan memenggal leher Bob. Kepala Bob terpisah dari badannya. Darah bermuncratan dari bekas penggalan. Kepala Bob berguling-guling di lantai dan berhenti menabrak dinding. Mata kanan Bob terbuka lebar-lebar melihat ke Elisa sementara mata kirinya masih tertancap pisau.

Elisa membuang pisaunya dan melihat keadaan Gray. Gray berkeringat luar biasa. Dia kesakitan. “Sudah berakhir,” Elisa menenangkan Gray. “Semua sudah berakhir. Kita tidak akan kenapa-kenapa.

***

 “Jaclyn memecahkan kaca jendela dan keluar bersama Peter. Mereka berhasil meninggalkan Mystery Road House dan mereka tidak pernah bicara apa-apa lagi tentang apa yang terjadi kepada mereka di pulau X,” Elisa sedang membacakan akhir dari cerita novelnya. Dia sedang berada di ruang utama Mystery Road House bersama beberapa wartawan dan para fasn yang membawa novel yang Elisa tulis dengan judul “PULAU X”. Gray juga hadir di sana. “Tidak akan ada yang mempercayai mereka pula. Misteri yang tidak akan pernah dimengerti dengan akal dan logika manusia. Sampai sekarang mereka juga tidak pernah menemukan mayat dari Mason, putra Coconut.”

 

Elisa menarik mayat Bob ke bagian belakang kapal dibantu oleh Gray.

“Kamu yakin dengan ini?” tanya Gray.

“Tidak akan ada yang mempercayai kita. Kita hanya akan menjadi tersangka.”

Elisa dan Gray menaruh batu-batu pada kantong baju dan celana Bob dan melemparkannya dari buritan kapal. Jasad Bob perlahan-lahan menghilang ke dalam lautan.

Beberapa wartawan dan fans mengangkat tangan. Gray berusaha menahan tawa karena banyak yang penasaran untuk mengajukan pertanyaan.

“Apa yang membuat Anda berani untuk menulis cerita tentang keluarga Fruit?” tanya salah seorang wartawan wanita berambut pirang.

Elisa tersenyum. “Bukankah lebih menantang untuk menulis sesuatu berdasarkan kisah nyata?”

“Jadi maksud Anda novel Anda itu berdasarkan kisah nyata?” wartawan tersebut kembali bertanya.

“Aku tidak pernah mengatakan itu,” jawab Elisa. “Kamu yang bilang.”

Wartawan wanita itu mengernyitkan dahi. Dia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.

“Dan Anda membeli Mystery Road House,” sahut wartawan lainnya. “Apa Anda tidak takut dengan rumor yang beredar kalau arwah-arwah keluarga Fruit masih bergentayangan di rumah ini?” wartawan itu melihat sekeliling rumah dan tiba-tiba raut mukanya menjadi takut.

“Aku bisa hidup dengan mereka,” kata Elisa sambil melihat ke Gray yang tersenyum padanya.

“Satu lagi, Elisabeth,” wartawan wanita yang mengajukan pertanyaan sebelumnya kembali mengangkat tangan. “Ada satu hal yang Anda tidak ceritakan di novel Anda.”

Elisa penasaran dengan maksud wartawan wanita itu.

“Anda dengan detil dan jelas menceritakan setiap anggota keluarga Fruit. Tapi Anda hanya menceritakan tujuh anggota Fruit.”

“Maksudmu?” tanya Elisa.

“Maksud saya, Apple tidak pernah datang sendirian ke pulau X. Dia datang bersama putrinya.”

Mata Elisa melebar. Gray langsung menoleh melihat wartawan wanita itu.

“Anggota keluarga Fruit berjumlah delapan orang: Papaya, Cherry, Strawberry, Grape, Mango, Banana, Apple, dan putri Apple yang diberi nama Pineapple. Pertanyaan saya, kemana Pineapple itu?”

Elisa langsung merinding. Dia melihat ke Gray. Gray juga tidak percaya dengan yang baru dia dengar. Misteri apa lagi yang menanti mereka?

– TAMAT –

Advertisements