BAGIAN 1

DAVID WILLIAM, UMUR LIMA BELAS TAHUN, BERDIRI DI DEPAN KACA SEDANG MENGENAKAN DASI ABU-ABUNYA. Dia sudah mengenakan seragam putih dan celana abu-abu. Kacamata tebal dan rambut yang tersisir rapi ke belakang menandakannya sebagai seorang anak remaja kutu buku yang sudah pasti mengalami kesulitan untuk bersosialisasi.

Seila mengetuk dan membuka pintu kamar David, “David William, sarapan sudah siap.”

“I… iya, mi.”

David merapikan kembali dasinya. Kemudian dia bergegas mengambil ransel sekolah dan turun ke ruang makan. David menggantungkan tasnya ke bangku makan dan duduk. Di depannya sudah ada sebuah piring dengan sosis, sayuran, dan nugget yang membentuk sebuah gambar smile dilengkapi dengan segelas susu putih murni.

Seila menaruh sebuah telor mata sapi setengah matang yang bulat sempurna ke atas piring David. “Tampannya anak mami,” puji Seila dan langsung mencium pipi David. Seila membukakan napkin dan menaruhnya di antara dua paha David.

“Hari ini menu sarapan David adalah senyuman terbaik dari mami,” Seila mulai berbicara seperti sedang menggoda anak kecil, “yang paling sayang sama David. Mami harap dengan ini, hari David akan menjadi sangat menyenangkan dan David akan selalu tersenyum melihat dunia yang indah ini.”

“Terima kasih, mi,” balas David sambil tersenyum. David meraih pisau dan garpu. Kemudian dia memotong sosis dan siap melahapnya.

“Tapi,” Seila menghentikan David, “David harus ingat!” Seila duduk di sebelah David dan memberikan pesan. “Di sekolah nanti David harus selalu memperhatikan gurumu. Catat semua yang penting-penting supaya nanti mami bisa me-review ulang pelajaran David.”

David mendengarkan dengan seksama.

“Saat istirahat David jangan duduk sama teman-teman yang tidak benar. David duduk saja sendiri. Jangan makan yang aneh-aneh, mami sudah siapkan kotak makan siang. Kalau ada yang ajak berkelahi, langsung laporkan ke kantor guru atau telepon mami. Mami akan langsung meluncur ke sekolah.”

“Pulang sekolah langsung pulang. Jangan keluyuran kemana-mana. Mami akan telepon ke rumah tepat jam setengah dua. David tidak boleh tidak mengangkatnya. Mandi, ganti baju, dan bereskan tas sekolah David. Setelah itu David boleh tidur siang—dua jam saja tapi paling lama, ya. David pasti segar pas bangun. David langsung kerjakan semua pekerjaan rumah David. Jika ada yang tidak dimengerti, David lewati dulu. Mami akan bantu saat mami pulang nanti. Oh iya, mami juga ada siapkan snack di kulkas.”

“Iya, mami. Terima kasih.”

Seila tersenyum lebar. “Anak mami pintar sekali.” Seila kembali mencium ubun-ubun David dan mengelus rambutnya. “Selamat makan, sayang.”

BAGIAN 2
Advertisements