02. CHAPTER TWO – HAZEL FALENSTIN

“Kamu tidak apa-apa ‘kan, Aiden?” Tanyaku pada Aiden sambil jalan pulang ke rumahku. Aiden memang terlihat lebih kuat dan tahan sakit, tapi sebenarnya dia lebih lemah dibandingkan Jake. Aiden terbiasa hidup mewah dan dia jarang berkelahi. Saat ada yang mengganggunya, Aiden tidak pernah melawan. Dia hanya menerima tiap serangan-serangan. Aiden suka diganggu. Orang suka mengusik anak orang kaya yang lemah. Makanya Aiden tahan dengan sakit. Dia sudah terbiasa dengan itu.

“Tidak apa-apa, Haze.” Aiden menjawab pelan. Dia suka memanggilku Haze, terdengar lebih akrab baginya. “Terima kasih sudah menanyakan.”

Aiden laki-laki yang sopan. Dari cara bicaranya semua pasti langsung menggambarkan dia sebagai orang yang berkelas. Dari kecil dia sudah dididik dengan cara yang formal. Tidak seperti aku yang dibesarkan oleh seorang polisi. Ibuku meninggal melahirkanku. Aku adalah anak tunggal. Ayahku, Henry Falenstin, adalah pria yang keras. Dia membesarkan dengan caranya yang kaku namun tegas. Aku tumbuh menjadi perempuan yang tomboi, kelaki-lakian. Aku tidak suka dengan ketidakadilan. Jika ada seseorang yang diperlakukan semena-mena, aku tidak segan turun tangan membantu walaupun aku tidak mengenali orang tersebut.

Pertemuanku yang pertama dengan Aiden seperti itu. Ayahku menceritakan padaku bagaimana saat Aiden baru pindah ke sekolahku dan dia menjadi bahan lelucon bagi teman-teman yang lain. Aiden dianggap terlalu feminim dan lemah. Saat itu usia kami baru tujuh tahun. Aku melihat Aiden sedang diolok-olok dan didorong-dorong di kantin saat sedang mengantri makanan oleh tiga anak kelas kami yang berbadan besar. Aku mengantri di depan mereka, berjarak sekitar lima enam orang. Aku langsung membawa mangkokku yang berisi ramen dan menumpahkannya tepat ke kepala pemimpin dari tiga anak itu. Anak itu langsung menjerit kepanasan dan menangis sambil lari ke kamar mandi diikuti kedua temannya. Sorenya ayahku dipanggil. Aku diharuskan mengikuti kelas tambahan seusai sekolah selama satu minggu penuh. Bukan hanya aku, tetapi juga anak yang kutumpahkan ramen itu. Aiden yang merasa sangat bersalah sekaligus berterima kasih padaku malah setia menemaniku di kelas tambahan. Sejak itu kami akhirnya menjadi sahabat baik. Bukan hanya kami berdua, tapi bertiga. Anak yang kutumpahi ramen itu bernama belakang Winter. Jake Winter.

Itulah awal persahabatan kami. Anak laki-laki yang suka menyiksa anak baru yang dibela anak perempuan yang tidak suka dengan ketidakadilan. Kami selalu bertiga setiap ada waktu berkumpul bersama. Aiden yang terpintar di antara kami. Jake, tentu, saja, paling lamban di sekolah. Setiap ada tugas rumah, Aiden dan aku membantunya. Sehari sebelum ujian, Aiden dan aku mati-matian mengajari Jake walau ujung-ujungnya kami memberikan contekan padanya. Tapi Jake selalu menjaga Aiden dan aku. Saat aku akan ditinggal ayahku secara mendadak, Jake siap datang kapan saja untuk menemaniku. Jakelah yang memastikan aku dan Aiden sampai di rumah dengan selamat. Jake paling jago berkelahi. Dialah bodyguard Aiden dan aku. Entah bagaimana kami bertiga menjadi saling melengkapi.

“Menurut kamu bagaimana, Haze?” Aiden menanyaiku. Aku tahu dia menanyaiku tentang cerita yang dia sampaikan di rumah Jake dan Kyle.

Jujur aku tidak percaya dengan cerita Aiden, tapi aku tidak bisa mengatakannya langsung ke Aiden. “Entahlah, tapi segala sesuatu pasti ada alasannya. Begitu juga dengan apa yang bisa Jake dan Kyle lakukan.”

Saya memikirkan hal yang sama denganmu. Saya sudah mencari buku-buku yang menceritakan tentang masa kegelapan. Semua itu memang terdengar seperti mitos. Tapi itu hanya untuk orang awam. Orang-orang seperti kita yang mengenal Jake dan melihat secara langsung apa yang bisa dia lakukan pasti akan meragukan ketidakbenaran mitos tersebut.” Aiden begitu yakin dengan kepercayaannya. Selalu begitu. Aiden punya iman yang kuat. Saat dia memercayai sesuatu, tidak akan ada yang bisa menggoyahkan keyakinannya.

Aku berusaha mencerna perkataan Aiden. Memang ada benarnya. Orang-orang yang tidak tahu kalau Jake bisa mengendalikan angin pasti tidak akan pernah memercayai legenda masa-masa kegelapan itu. Tapi aku dan Aiden tahu. Bahkan kami bersahabat dengannya. Aku dan Aiden sudah sering melihat bagaimana Jake menggerakkan benda dengan bantuan angin, tanpa menyentuh barang tersebut.

Dan Kyle, dia sanggup mengendalikan api. Dia bisa menyalakan api asalkan ada sumbu panas di dekatnya. Seperti barusan, Kyle menyalakan api kompor secara tidak sengaja. Memang kadang emosi ikut mempengaruhi, terutama Kyle. Kyle susah mengendalikan kekuatannya saat dia sedang kesal atau marah. Mungkin memang benar api identik dengan amarah. Tapi Kyle selalu bertindak hati-hati. Dia selalu waspada dimanapun dan kapanpun, bahkan saat di rumahnya sendiri. Kadang aku merasa simpati dengannya. Dia begitu mencemaskan segala hal hingga hidupnya menjadi tertekan. Dia juga harus bertanggungjawab menjaga adiknya yang sulit diatur. Aku kagum pada Kyle. Dia tipe pria yang dewasa dan bisa diandalkan. Saat aku bersamanya, aku menjadi sangat tenang dan nyaman. Memikirkan Kyle saja sudah membuat jantungku berdegup kencang.

Jake dan Aiden tidak tahu hal ini. Setiap aku melihat Kyle, aku selalu bahagia. Setiap hari aku ingin sekali ke rumahnya walaupun terkadang Kyle suka pulang agak larut. Tidak bertemu dengannya hanya semakin membuatku kangen akan dirinya. Kyle adalah cinta pertamaku. Mungkin kalau kata orang-orang ini adalah cinta monyet. Cinta anak remaja berusia lima belas tahun. Tapi aku tidak peduli. Bagiku Kyle adalah duniaku. Tanpa dia, aku merasa ada yang kurang. Sayangnya aku hanya terus memendam perasaan ini. Aku tidak berani mengutarakan perasaanku dan Kyle sepertinya hanya menganggapku sebagai adik perempuannya saja. Tapi bagiku itu sudah cukup. Asalkan aku mendapat perhatian dari Kyle, itu sudah lebih dari cukup.

“Haze?” Aiden menyadarkanku dari lamunanku tentang Kyle dan kembali kepada kepercayaan Aiden tentang masa kegelapan.

“Kegelapan akan memerintah,” aku mengutip pesan dari ayah Kyle. “Kegelapan apa yang dia maksud kalau begitu?”

“Aku sudah berusaha mencari keberadaan orang tua Jake bertahun-tahun, tapi nihil. Tidak ada jejak sedikit pun dari mereka. Apa itu tidak janggal?” Aiden mulai berteori, “Maksudku, apabila saja hal terburuk terjadi kepada mereka,” yang Aiden maksud adalah apabila orang tua Jake dan Kyle sudah meninggal, “pasti tubuh mereka akan ditemukan. Tapi ini tidak. Saya sudah menyewa orang-orang terbaik untuk mencari jejak mereka tapi sedikit progress saja tidak terlihat.”

“Seandainya kita menemukan mereka, pasti semua ini akan terjawab. Kita tidak perlu menduga-duga.” Aiden tersenyum. Kita sudah sampai. Aku dan Aiden berhenti di depan rumahku. “Kamu hati-hati, ya,” kataku. “Jangan terlalu dipikirkan. Sampai jumpa besok.”

Aiden memberikan senyumnya. “Sampai ketemu besok.”

Kami berpisah. Aku masuk ke dalam rumahku. Kosong. Ayahku belum pulang, seperti biasa. Dia selalu pulang malam. Kadang walau dia ada di rumah, seringkali ada panggilan mendadak yang mengharuskannya pergi. Begitulah polisi, harus selalu sigap membela kebenaran. Setidaknya itu yang ayahku sering katakan padaku.

Aku membuka kamarku dan menggantung tasku ke belakang pintu. Terdengar pintu depan yang dibuka. Ayahku pulang, dengan seragamnya. Aku melihat ke jam dinding di kamarku yang menunjuk ke jam tiga sore. “Tumben pulang cepat.”

Aku hanya ingin mengambil berkas yang tertinggal.” Ayah masuk ke dalam ruang kerjanya. Suara langkah kakinya terdengar sampai dia keluar kembali dengan berkas di tangannya. “Kamu baru pulang?”

Aku pura-pura tidak mendengar. Kalau aku jujur, pasti akan ada ceramah panjang seorang ayah. “Jaga diri baik-baik, paps.”

“Hey!” Aku melihat ke ayahku. Badannya tegap dan dia masih terlihat muda dengan kumis dan janggut yang mulai tumbuh. “Besok aku off, aku jemput selesai sekolah, ok?”

“Siap!”

Advertisements

1 reply »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s