03. CHAPTER THREE – AIDEN HAN

“Tuan muda Han, Anda berkelahi lagi?” Tom Jefferson menanyai saya. Dia sudah menunggu di depan pintu depan rumah. Rambutnya putih cepak. Umurnya sudah lima puluhan. Badannya kurus agak bungkuk. Namun suaranya masih tegas dan lugas.

“Saya terjatuh,” dalih saya. Dua pelayan perempuan langsung mendekat, membawakan handuk kecil dan baskom berisi air hangat. Saya membasahi handuk ke dalam baskomnya dan mengelap wajah, terasa segar. Ada aroma kembang tercium dari air yang membasahi handuk.

“Ini sudah kedua puluh enam kali Anda terjatuh,” sindir Tom.

“Terima kasih,” kata saya sambil menyerahkan handuknya ke salah satu pelayan. “Saya mau latihan, bisa bantu saya persiapkan semuanya?” Kedua pelayan mengangguk dan bergegas pergi. Mereka tahu apa yang saya maksud.

“Aiden Han!” Tom memanggil saat saya mau meninggalkannya. “Jake Winter dan Hazel Falenstin bukan teman yang baik untuk Anda.”

Saya berbalik melihat ke Tom. “Saya tidak apa-apa, Tom. Berhenti mengkhawatirkan saya. Saya bisa mengurus diri saya sendiri, mengerti?”

Tom diam saja saat saya meninggalkannya. Dia memang sudah seperti ayah bagi saya. Dari lahir, dia sudah bekerja untuk orang tuaku. Dia menjagaku jauh lebih sering daripada kedua orang tua kandungku. Saya tumbuh di bawah pengasuhannya. Tapi terkadang dia bisa terlalu melindungi. Setiap gerak gerik saya selalu diawasi. Tom tahu apabila saya tidak jujur, seperti tadi. Dan dia tidak akan segan untuk menegur. Yang paling membuat saya tidak senang dengannya adalah ketidaksukaannya pada Jake dan Hazel, dua sahabat terbaik saya. Tom mengklaim bahwa mereka memberi pengaruh yang buruk padaku.

Tapi berkat merekalah saya menjadi punya sahabat. Dulu saya selalu sendiri. Saya dilahirkan di keluarga Han yang terkenal. Terkenal karena kami adalah keluarga terpandang di seluruh penjuru. Kesuksesan kakeknya kakek buyutku sudah turun temurun diwariskan dan semmakn bertambah dan bertambah. Harta kami melimpah. Rumah yang saya tinggali sekarang bak istan dengan total tujuh puluh tujuh kamar. Total pelayan yang ada di rumah sekitar seratus lima puluh pelayan; belum termasuk tukang kebun, teknisi, dan sopir pribadi. Saya adalah anak tunggal keturunan terakhir dari keluarga Han. Ibuku, Prudence Han, mengalami keguguran saat hamil anak kedua dan kandungannya tertutup sejak itu. Dia tidak bisa mengandung lagi dengan cara apapun. Ayah saya, Daniel Han, hampir tidak pernah di rumah. Dia sibuk mengelilingi dunia mengurusi bisnis keluarga Han. Saya hanya bisa bertemu dengannya melalui video call. Itu juga tidak lebih dari dua menit. Bahkan saya tidak bisa mengingat kapan saya terakhir bertemu muka dengannya. Ibu saya mengalami depresi berat sejak kegugurannya. Dia pergi berobat ke mana saja, mencoba menghilangkan depresinya namun selalu gagal. Pada akhirnya dia memutuskan untuk menfokuskan dirinya dengan pekerjaan. Dengan cara itu dia tidak akan pernah kembali mengingat peristiwa yang baginya paling menyakitkan. Dia menjadi sama seperti ayah saya, tapi lebih parah karena dia tidak pernah menghubungiku. Salah satu akibat depresi akutnya, dia menjadi lupa dengan keberadaanku. Ibuku tidak pernah menganggapku. Dia merasa dirinya tidak pernah memiliki seorang anak.

Saya dibesarkan tanpa teman bermain seumuran. Lebih tepatnya mungkin saya tidak bisa bermain. Dari kecil saya sudah dididik, bukan oleh orang tua kandung saya, bagaimana bertingkah laku yang formal. Saya diajari mengucapkan perkataan yang sama seperti ‘Selamat datang di kediaman Han’ atau ‘Sebuah kehormatan bisa bertemu Anda’ dan banyak kalimat-kalimat santun yang hanya digunakan di kalangan atas. Tiga tahun saya sudah bisa bicara dengan lancar. Saya mempelajari semua seluk beluk sejarah keluarga Han. Mulai dini pemikiran saya sudah ditanamkan bagaimana cara melanjutkan usaha keluarga Han. Oleh karena itu tidak ada kata ‘bermain’ dalam kamus saya. Itu juga yang menyebabkan diri saya kurang bersosialisasi. Saya lebih sering bersosialisasi dengan orang-orang di rumah. Pulang sekolah, saya akan langsung diantar ke rumah dan diberi pelajaran-pelajaran tambahan. Itu semua membuat saya sangat tertekan.

Hidup saya berubah pada hari itu. Usia kami baru tujuh tahun. Jake dan beberapa temannya selalu mengejekku. Jake sangat suka mem-bully. Dia merasa dirinya kuat dan senang memimpin. Saya yang susah beradaptasi dengan lingkungan sekolah baru seminggu di sekolah baru itu. Jake langsung menunjukkan pada saya siapa yang berkuasa di sekolah itu. Dia mengganggu saya di kantin. Yang tidak saya duga adalah Hazel yang berani membelaku. Di antara semua pelajar yang ada di tempat itu, hanya perempuan menawan ini yang berani berdiri dan melawan Jake. Perasaan ini tidak bisa saya jelaskan dengan logika atau ilmu pengetahuan manapun yang saya pelajari. Jantung saya selalu berdegup kencang saat saya melihat Hazel, sampai sekarang. Saya mengajukan diri untuk mengikuti kelas tambahan yang harus diterima Hazel karena dia menumpahkan ramennya ke Jake. Sejak melihatnya, saya selalu ingin dekat dengannya. Kami mulai berkenalan dan berkomunikasi. Hubungan kami semakin erat. Begitu juga dengan Jake. Dia mungkin awalnya sangat tidak senang dengan kami berdua. Namun perlahan egonya mulai pudar dan entah bagaimana waktu dua jam dalam seminggu berturut-turut itu menyatukan kami bertiga.

Di sekolah, saya selalu senang karena ada dua sahabat yang selalu saya rindu untuk bertemu. Di rumah? Sangat bertolak belakang. Saya kembali menjadi sosok penyendiri dengan banyak pembelajaran menanti. Untung ada Tom yang mengerti keadaan saya. Dia mengajari saya olahraga yang akhirnya menjadi sebuah hobi, memanah. Di rumah, dia membuat arena memanah yang cukup luas di bagian belakang. Ada sasaran-sasaran panah berderet dengan jarak yang makin menjauh. Tidak hanya itu. Untuk membuat memanah lebih menarik, Saya memaksa Tom untuk membuat sebuah labirin rerumputuan yang tinggi dengan sasaran-sasaran panah yang bisa muncul tiba-tiba dan bisa menyerang dengan mengeluarkan panah. Pada awalnya Tom tidak setuju dengan alasan keselamatan saya. Tapi setelah saya merasa cukup yakin dengan keahlian saya, saya memberanikan diri mencobanya. Waktu itu saya berusia sepuluh tahun. Dengan bermodalkan busur dan anak-anak panah, saya memasuki labirin tersebut. Misi saya adalah mengambil sebuah piala yang ditaruh di dalam dan keluar dengan selamat. Sasaran yang menyerang tidak akan bisa mengeluarkan anak panahnya jika saya berhasil menyerangnya duluan. Hari itu kaki saya tertancap panah dan saya gagal. Tom menyalahkan dirinya untuk itu. Saya tidak diperbolehkan menggunakan labirin itu lagi.

Hanya butuh waktu satu tahun untuk meyakinkan dirinya supaya memberi saya ijin kembali. Kali ini saya lebih siap. Saya mempelajari medan di dalam labirin dengan seksama di setiap langkah. Saya bisa membaca gerakan-gerakan di sekitar. Kali itu saya berhasil keluar membawa piala dengan sedikit luka goresan di tangan dan kaki. Tapi tidak ada panah yang tepat mengenai saya.

Setiap bulan saya meminta Tom untuk mengubah medan labirin dan tantangan-tantangan di dalamnya. Makin lama makin sulit. Tom sepertinya juga mulai antusias dan dia berusaha memikirkan ide apa lagi untuk menggagalkan saya. Dia mulai membuat perangkap di dalam labirin. Dari jebakan lubang hingga lumpur penghisap manusia dia sediakan. Dari ranjau-ranjau darat hingga peledak-peledak ringan. Misinya pun bukan hanya tentang mengambil piala. Ada kalanya saya diharuskan untuk meyelamatkan satu orang tahanan dari dalam labirin. Dari satu meningkat semakin banyak sampai maksimal lima tahanan. Misi semakin menantang dengan batasan waktu untuk menyelesaikannya. Setiap bulan saya harus mengulangi tiga sampai lima kali misi yang sama untuk bisa berhasil. Saya latihan dengan keras setiap harinya dan pada akhir pekan, saya sudah siap untuk masuk ke dalam labirin. Kecepatan dan ketahanan tubuh saya terus meningkat. Saya menjadi ahli dalam memanah. Bidikan saya hampir tidak pernah meleset. Kemampuan memperhitungkan arah dan kecepatan angin sudah sanggup saya perhitungkan hanya dengan tarikan anak panah pada busur.

Saya mengganti seragam dengan pakaian karet ketat bewarna abu yang mirip dengan pakaian selam dan sepatu karet khusus yang ringan. Pakaian ini memudahkan saya untuk bergerak lebih cepat karena goresan-goresan batang pohon tidak akan mudah melukai saya karena ketebalannya. Selain itu pakaian ini juga anti panas dan dingin sehingga api tidak akan bisa membakar saya dan saya juga tidak akan mengalami hiportemia. Dua pelayan wanita sudah menyiapkan busur, anak-anak panah, dan sebuah pisau kecil. Tiga inilah yang akan menemani saya dalam labirin nanti. Saya raih busur dan menarik satu anak panah keluar dari tempatnya. Dengan satu gerakan cepat, saya bidikkan anak panah tersebut. Saya kembalikan anak panahnya dan mengalungkan tempatnya ke bahu kanan saya. Kemudian saya taruh kembali busur dan saya keluarkan pisau dari tempatnya. Tajam dan mengkilap. Semua senjata yang disiapkan akan bekerja dengan baik. Saya sudah siap.

Tom mendatangi saya. “Anda yakin mau melakukannya sekarang?”

“Saya sudah siap.”

Misi dan bentuk labirin kali ini adalah yang terbaru. Saya belum pernah menerima tantangan labirin yang sekarang. Kali ini saya yakin akan mengakhiri misi ini hanya dalam sekali percobaan. Saya akan memecah rekor tiga kali saya.

“Taruh semua senjatamu kembali,” kata Tom yang menyengir

Apa yang baru Tom katakan tidak dapat kupercaya. “Apa maksudmu?”

Tom masih menyengir. Dua pelayan di dekatnya bergegas mengambil busur, anak-anak panah, dan pisau saya. Bagaimana mungkin saya bisa bertahan di dalam sana tanpa senjata apapun? Tapi entah bagaimana saya menjadi sangat tertantang. Kali ini Tom mempersiapkan sesuatu yang berbeda dari biasanya dan saya selalu tidak sabar untuk menghadapi tantangan-tantangan baru.

“Beritahu misi saya.”

“Anda akan tahu sendiri saat Anda di dalam.”

“Baiklah,” saya masih tidak percaya dengan ini. Sebuah misi buta tanpa senjata. Ini baru.

 Tom diikuti kedua pelayan berjalan ke gerbang kayu di belakang saya. “Selamat berjuang, Aiden Han.” Dia masih menyengir. Tom merasa di atas angin. Mungkin dia sempat melihat ekspresi tidak percaya dari raut wajah saya. Tapi yang ini memang benar-benar berbeda dari biasanya. Tom membuat sesuatu yang baru dan saya akan segera mengetahuinya. Tom memberi tanda kepada kedua pelayan untuk membuka gerbang. Saya masuk ke dalam gerbang dan pintunya segera ditutup.

Seperti biasa, sekeliling saya dari atas sampai kanan kiri sudah berupa batang-batang pohon dengan dedaunan yang lebat membentuk garis lurus ke depan saya. Perlahan saya melangkah ke depan sambil memperhatikan sekeliling. Sunyi senyap. Saya harus tetap berhati-hati. Kali ini saya tidak bersenjata. Jika ada sesuatu yang menyerang, saya tidak bisa menghentikannya. Adrenalin saya terpacu. Saya jauh lebih berhati-hati sekarang. Setiap saya melangkahkan kaki, saya akan memperhatikan sekeliling. Biasanya dari dalam batang-batang pohon yang tertutup dedaunan bisa meluncur anak panah. Tanah yang saya akan injak juga saya perhatikan, takut ada perangkap.

Benar saja, saya merasakan kaki saya tidak menginjak tanah. Keseimbangan saya masih dijaga kaki sebelumnya saat tanah di depan saya merosok ke bawah. Ada lubang sekitar tiga meter di bawah sana. Perangkap yang sudah biasa bagi saya. Tapi sebuah anak panah meluncur ke atas dari dalam tanah tersebut. Saya tersentak dan jatuh ke belakang. Anak panah itu melesat ke atas dan menancap di tanah tidak jauh dari belakang saya. Tidak terduga. Saya bangun dan mengambil anak panah tersebut. Setidaknya bisa saya pergunakan sebagai senjata walau sulit tanpa busur.

Saya mengambil nafas panjang dan membuangnya perlahan, berusaha menenangkan diri. Ini baru awal dan sepertinya banyak yang berubah. Saya tidak boleh terpaku dengan kesamaan-kesamaan di tiap tantangan. Dari sebelum masuk, semua sudah berbeda. Tidak seperti biasanya. Saya harus siap dengan keadaan yang berbeda.

Sebuah panah kembali melesat saat saya melihat ke bawah lubang. Gerakan cepat saya berhasil menghindarinya. Benar, ada sensor dari bawah lubang yang akan menembakkan anak panah apabila melihat gerakan di depannya. Saya menggenggam anak panah kedua bersama anak panah pertama. Lubangnya tidak terlalu besar. Saya mundur beberapa langkah. Satu tarikan nafas kembali saya ambil. Saya menghembuskannya dengan cepat dan langsung berlari cepat ke arah lubang. Sebuah anak panah ditembakkan saat saya melompati lubang tersebut. Tidak kena. Saya berhasil menyeberangi lubang tersebut dan mendarat dengan sempurna. Tapi sebuah anak panah kembali melesat tepat dari depan saya. Saya berguling ke kanan berhasil menghindarinya. Tapi anak panah kembali melesat ke arah saya sekarang. Saya bangkit dengan cepat dan bergerak ke kiri. Anak panah melesat kembali, saya berlari ke kanan dan ke kiri menghindari tembakan-tembakan anak panah. Ada sekitar sepuluh anak panah yang berusaha mengenai saya sampai akhirnya saya berbelok ke kanan menjauhi sensor.

Kejadian berlangsung begitu cepat. Tiba-tiba sebuah tembok besi turun di belakang saya selebar jalan yang ada. Tembok besi itu mengeluarkan besi berduri panjang dalam jumlah yang banyak dan bergerak maju mendekati saya. Saya tidak punya pilihan kecuali ke depan. Anak-anak panah mulai berhujanan dari atas berusaha mengenai saya satu per satu. Saya melihat depan saya ada anak panah mulai melesat. Saya menghindar cepat dan langsung melemparkan satu anak panah yang saya miliki tepat mengenai sensor hingga tidak bisa melemparkan anak panah lagi. Saya berbelok ke kiri. Anak panah dari atas sudah berhenti. Saat saya mengirs saya sudah selamat dari tembok besi berduri, tembok itu berbelok ke kiri ke arah saya. Saya kembali berlari tapi tidak menyangka dengan apa yang saya lihat. Sebuah tembok besi berduri yang sama sedang bergerak ke arah saya. Saya terjebak. Saya berbalik sambil jalan mundur menjauhi tembok besi berduri di belakang saya. Kemudian kembali melihat ke depan, tembok besi berduri di depan saya sudah semakin dekat. Akhirnya saya merasakan sebuah lubang lagi. Kali ini saya tidak bisa melihat seberapa jauh lubang tersebut, mungkin sangat dalam. Kedua tembok besi berduri semakin dekat dan dekat. Saya tidak punya pilihan lagi. Saya terjun ke dalam lubang tersebut.

Saya berteriak. Adrenalin saya naik turun. Organ-organ dalam tubuh saya seakan ditarik ke atas, sangat menggelitik dan mengerikan. Anak panah saya terlepas dari tangan. Saya terjun sekitar lima detik, tidak tahu apa yang ada di bawah saya hingga saya tercebur ke dalam air. Saya masuk cukup dalam ke air dan berenang cepat ke atas mencari udara. Tiba-tiba pilar-pilar menyala di dinding-dinding gua menerangi lubang besar tempat saya jatuh. Ada daratan tidak jauh dari saya dengan jalan goa lurus diterangi pilar-pilar api di kanan kiri. Saya berenang ke daratan tersebut, tapi belum berapa lama terdengar suara besi berdecit dari belakang. Saya menengok dan melihat terali-terali besi terbuka ke atas. Seekor buaya keluar dari dalam bergerak cepat ke dalam air.

Jantung saya berdegup kencang. Saya berenang secepat mungkin dengan gaya bebas menuju daratan. Saat saya menoleh sebentar saya melihat sisik-sisik buaya bergerak ke kanan ke kiri dengan cepat ke arah saya. Ketakutan menguasai saya. Kali ini Tom melewati batas. Buaya ini bisa saja memakan saya. Saya berenang cepat berharap kaki atau pinggang saya tidak dilahap buaya tersebut. Air semakin dangkal. Saya berusaha lari naik ke daratan. Kaki saya terpeleset batu dan jatuh. Saya melihat ke belakang. Buaya tersebut sudah di depan saya dan membuka mulutnya. Saya berguling ke kiri dengan cepat menghindarinya dan bangun. Secepat mungkin saya berlari ke daratan. Buaya itu mengejar saya tapi makin melambat dan melambat saat di daratan. Saya berlari terus di antara pilar-pilar yang menyala.

Air membasahi rambut dan wajah saya. Saya tidak kedinginan karena ketahanan pakaian saya. Tembok besi berduri, lubang air, dan buaya. Tom berimprovisasi dengan sangat baik dengan jebakan-jebakannya. Nyawa saya hampir menjadi taruhannya tapi ini semakin memacu saya untuk menghadapi misi ini. Saya masih penasaran dengan misi apa yang harus saya selesaikan di dalam labirin baru ini, tanpa senjata. Baru kali ini ada labirin di bawah tanah, di dalam goa. Ini labirin yang baru bagi saya.

Beberapa kali saya menoleh ke belakang, harap cemas buaya tadi masih mengejar saya. Saya tiba di persimpangan, harus memilih ke kanan atau ke kiri. Saya memilih ke kanan dan berjalan mengikuti insting. Di dalam goa terasa sesak. Bau bebatuan bukanlah bau yang enak dihirup. Akhirnya saya tiba di sebuah tebing curam dengan jarak yang panjang ke depan. Hanya ada sebuah jembatan tua dengan lebar yang hanya bisa dilewati satu orang saja. Tapi bukan hanya itu. Tepat di atas tanah sebelum jembatan itu tergeletak sebuah busur dan anak-anak panah dengan tempatnya. Akhirnya, senjata yang bisa saya pakai. Dengan hati-hati saya maju mengambil senjata tersebut. Beberapa kali saya mendengar suara dari belakang, tapi saat menoleh tidak ada apa-apa. Mungkin hanya perasaan saya saja. Setelah mengalungkan tempat anak-anak panah, saya menggenggam busur di tangan kiri dan menarik satu anak panah.

Saya sangat yakin sekali di atas jembatan ini akan ada serangan. Itulah sebabnya Tom menaruh senjata tepat di sebelum jembatan ini. Jembatan tua ini sangat rapih. Tali-tali yang mengikat di kanan kirinya tampak sudah usang dan mudah putus. Kayu-kayu sebagai tatakan juga sudah tidak lengkap. Ada beberapa bagian yang sudah tidak ada sehingga saya harus melangkah lebih jauh dan memegang erat tali di kanan kiri untuk berjalan. Mata saya terus memperhatikan sekeliling. Bisa ada jebakan panah dari segala arah dan akan sangat sulit menghindar dari atas jembatan rapuh ini.

Benar saja, sebuah panah melesat dari kanan atas. Saya segera memanah panah tersebut hingga keduanya jatuh ke jurang. Saya meraih satu anah panah lagi dan memanah sensor merah asal panah tersebut. Tepat kena sasaran. Sensor merah itu mati. Tapi karena gerakan cepat saya waktu membidik, jembatan bergoyang membuat keseimbangan saya tidak terjaga. Saya menginjak kayu di kiri tapi hampir terjerumus ke bawah. Kayu yang saya pijak jatuh ke jurang. Saya berpegangan pada tali di kanan. Perlahan saya menjaga keseimbangan kembali dan mulai berjalan. Anak panah lain sudah saya pegang. Saya sudah setengah jalan. Tidak ada jalan mundur lagi.

Dua anak panah melesat. Tapi bukan ke arah saya. Melainkan ke arah tali kanan kiri di belakang saya, membuat kedua tali tersebut terkoyak. Kedua tali itu yang menopang jembatan ini. Apabila keduanya putus, maka jembatan akan langsung jatuh. Saya melihat ke atas. Sensor merah di kanan terlihat, saya langsung memanahnya dengan tepat. Tapi anak panah terlanjur melesat dari kanan dan kiri mengoyakkan kedua tali. Jembatan mulai bergoyang. Keeua tali akan segera putus. Saya melihat ke kiri atas, anak panah kembali melesat dan langsung memutuskan tali di sebelah kiri. Jembatan bergoyang ke kiri, tapi masih bisa bertahan karena topangan tali di sebelah kanan. Saya melihat ke depan, jaraknya bisa saya capai dengan berlari. Tali di sebelah kanan tidak akan bertahan lama. Saya langsung berlari ke depan. Anak-anak panah melesat dari segala arah menuju saya. Untungnya saya berlari cepat sehingga panah-panah tersebut tidak mengenai saya. Jembatan bergoyang parah. Saya melihat ke belakang, tali kanan sudah putus dan dari belakang jembatan mulai jatuh. Momen beberapa detik ini menjadi sangat menegangkan. Saya berlari cepat dan saat merasa tidak akan ada tanjakan kaki lagi, saya mengerahkan semua kekuatan saya melompat ke depan.

Jaraknya begitu dekat dengan tanah di depan. Namun saya tidak berhasil menggapainya. Saya berpegangan pada kayu pijakan yang sudah membentuk garis vertikal. Busur sudah saya lepas dan jatuh ke jurang. Kedua kaki saya berusaha berpijak pada kayu tapi kayu itu langsung patah dan jatuh. Saya bergelantungan dengan kedua tangan saya. Kayu pegangan saya mulai rapuh dan retak. Berat badan saya tidak bisa ditahan. Kayu patah dan saya jatuh.

Ketika saya menutup mata dan bersiap menerima ajal, tangan kanan saya dipegang erat. Saya melihat ke atas. Seorang pria yang saya kenal menolong saya. Dia menarik saya ke atas keluar dari tebing mengerikan tersebut. Ketakutan dan keterkejutan saya campur aduk. Saya hampir saja meninggal, tapi pria yang menolong saya ini membuat saya sangat terkejut.

“Papa?”

Pria yang sudah sangat lama sekali tidak pernah saya lihat dengan mata kepala saya sendiri itu menatap saya tajam. Dia mengenakan setelan pekaian yang sama dengan sarung tangan dan busur serta anak-anak panah digantung di punggungnya. Rambutnya pendek tapi tersisir rapi. Badannya tinggi tegap lebih besar dari saya. Wajahnya bersih sekali, sama seperti yang biasa saya lihat dari video call.

“Saya datang terlambat, maafkan saya.”

“A… Apa maksudnya?” Saya bingung sekaligus tidak tahu harus berkata apa. Tapi Daniel Han, ayah saya, langsung memeluk saya dengan sangat erat.

I miss you, son.“

Saya masih tidak bisa berkata apa-apa. Ayah saya kembali ke rumah. Bahkan saya sudah tidak ingat kapan terakhir dia kembali, tiga atau lima tahun? Atau sepuluh tahun mungkin? Tapi sekarang dia di sini. Dia memeluk saya. Air mata saya mengalir. Saya juga sangat merindukannya.

“Kamu kembali,” isak saya.

Ayah melepas pelukannya. Saya segera mengelap air mata saya, tapi saya bisa melihat mata ayah saya berkaca-kaca. Dia terlihat sangat berkarisma dan gagah. “Kita bicara nanti, sekarang saya harus menyelesaikan misi saya dahulu.”

“Misi? Misi apa?” Tanya saya.

“Misi labirinmu, son.

“Kamu? Misi labirin ini? Sa… Saya tidak mengerti.”

“Aiden, saya tahu tentang kamu dan labirinmu. Semua tentangmu, saya tahu, dan saya selalu ingin mencoba labirinmu. Beberapa minggu lalu saya bmemberitahu Tom saya akan kembali hari ini dan saya sangat tertantang untuk memasuki labirin ini. Tom langsung membuat rencana baru. Dia melarang saya memberitahumu bahwa saya akan kembali. Skhirnya dia membuat labirin terbaru ini dan memberikan misi pada saya.”

“Misi apa?”

Ayah tersenyum, “Misi menyelamatkan putra saya dari labirin ini.”

Saat itu juga semua menjadi jelas. Jelas sekarang Tom terlihat di atas angin. Jelas sekarang dia tidak memberikan senjata apapun. Jelas sekarang tidak ada misi yang diberikan pada saya. Saya adalah misinya. Saya yang menjadi target utama labirin ini dan ayah saya bertugas menyelamatkan saya. Ini semua sudah rencana Tom dari awal.

“Labirin ini sudah beberapa kali berusaha membunuh saya. Tadi itu paling mengerikan,” kataku.

“Ya, maafkan saya,” balas ayah. “Saya sudah mencoba menemukanmu secepat mungkin,“ dia mengeluarkan sebuah alat semacam GPS dan ada dua titit merah yang menyala dan berdekatan. Itu adalah saya dan ayah saya. Alat itu menjelaskan lokasi kami berdua. “Tapi saya terlambat. Saya hampir kehilanganmu barusan.”

“Kamu datang tepat pada waktunya. Terima kasih, pa.” Sekarang saya menjadi semakin tertantang. “Ayo kita keluar dari labirin ini. Tom, kamu kalah!”

Ayah tersenyum, “Ikut saya.” Dia menuntunku berjalan lurus ke depan.

Saya melihat busur dan anak-anak panah yang dia bawa. “Kamu tahu cara menggunakannya?”

Ayah berbalik dan tersenyum kembali. Hangat sekali melihat senyumannya. “Kamu pikir darimana kamu mendapat bakat memanah, son?”

Saya tersenyum. Ayah saya jago memanah? Saya tidak tahu itu sama sekali. Kami jarang sekali mengobrol dan dia hampir tidak pernah bercerita apapun tentang dirinya. Dia hanya menanyakan kabar dan memberi pesan-pesan seorang ayah jika sedang video call. Saya tidak tahu sisi ini dari ayah saya dan saya begitu kagum dengannya sekarang. Kami berjalan menyusuri goa danmenaiki beberapa anak tangga. Kemudian ada perempatan dan ayah menuntun saya ke sebelah kiri. Kami menaiki beberapa anak tangga lagi dan sampai di lorong goa yang gelap dan panjang.

“Lihat,” ayah menyuruh saya berdiri di belakangnya. Dia mengambil satu anak panahnya dan membidiknya. Dia tarik anak panahnya dan sedetik kemudian anak panah melesat cepat. Pulahan anak panah melesat dari kanan kiri goa berusaha mengenai anak panah ayah yang maju cepat sekali dan menancap tepat di sensor merah yang ada jauh di depan. Bahkan saya tidak melihat sensor merah itu. Saya sadar saat lampu hijau menyala menggantikan sensor merah tersebut dan pintu goa terbuka. Cahaya masuk ke dalam dan saya melihat anak-anak tangga lagi. Itu pintu keluar dari goa. Ayah sanggup memanah sejauh itu hanya dalam satu detik. Dia bahkan tidak terlihat membidik sasaran dan memperhitungkan angin. Inikah kemampuan yang dimilikinya?

“Ayo.” Ayah menuntun saya ke atas keluar dari goa.

Sekarang kami berada di dalam labirin bebatuan. Tembok bebatuan menjulang ke atas di kanan kiri kami. Warnanya abu kehitaman. Ada tanaman-tanaman merambat mulai menjalar ke batu-batu tersebut. Kami berjalan beberapa meter ke depan. Tidak ada apa-apa sampai kami menemukan jalan buntu. Namun batu yang menutupi depan kami membelah dua, membukakan jalan untuk kami.

“Hati-hati,” pimpin ayah sambil berjalan. Saya mengikutinya.

Di balik batu yang membelah ada sebuah lingkaran tanah besar dikeliling bebatuan, seperti semacam stadion gladiator. Pintu batu di belakang segera menutup saat kami masuk. Ini jebakan. Tapi kami harus melewati jebakan ini supaya bisa keluar dari labirin. Bebatuan yang di sebelah kanan membelah juga, membukakan pintu bagi sesuatu yang besar dan bergerak. Seekor banteng besar berbalik dan menyadari keberadaan kami.

Ayah bergerak ke depan saya dan langsung membidik banteng besar itu dan menyuruh saya, “Mundur, son.”

Saya mundur beberapa langkah. Ini binatang buas kedua yang saya temukan di dalam labirin. Tom berani memasukkan mereka ke dalam. Kepala banteng menunduk. Banteng itu menendang-nendang kaki kanan belakangnya ke belakang mebuat debu tanah beterbangan. Dua detik kemudian banteng itu berlari cepat ke arah ayah. Ayah melepaskan anak panahnya mengenai badan si banteng. Banteng itu meraung tapi terus berlari cepat.

Ayah melepaskan dua anak panah dengan cepat. Satu ditangkis tanduk banteng dan yang satunya mengenai pipinya. Banteng itu terus berlari siap menubruk ayah. Ayah kembali melepaskan dua anak panah dan mengenai dada dan badan banteng. Tapi tetap tidak jatuh. Saya bergerak cepat ke ayah dan menjatuhkan diri bersamanya ke samping tepat saat banteng siap menubruk ayah. Hampir saja. Ayah menjatuhkan busur dan beberapa anak panahnya. Saya melihat ke banteng yang berusaha berhenti dan mencari kami. Saya mengambil busur dan satu anak panah dari punggung saya. Banteng itu menemukan kami dan langsung berlari ke arah saya.

“Aiden!” Seru ayah.

Saya membidik banteng yang makin dekat. Saya memfokuskan diri dan memperkirakan kecepatan angin. Kemudian saya lepas anak panah yang melesat cepat dan menusuk mata kanan banteng. Banteng itu meraung dan jatuh terseret dan berhenti di depan saya. Banteng itu menggeliat sambil meraung kencang karena kesakitan.

Well done, son,” ayah memuji saya dan menarik saya ke tempat banteng itu muncul. Pintu batu menutup di belakang kami memisahkan kami dari si banteng.

Saya berjalan ke depan sambil berjaga-jaga dengan busur yang berada di tangan saya sekarang. Beberapa meter di depan kami ada sebuah gerbang besi. Saya mendekati gerbang tersebut. Bisa jadi ada binatang buas lain yang keluar dari sana atau jebakan anak-anak panah sudah menunggu kami. Tapi tidak ada apa-apa. Saya tiba tepat di depan gerbang. Hawa dekat gerbang gerbang tersebut sangat aneh. Saya merasakan panas yang tidak nyaman. Akhirnya saya meraih gagang gerbang untuk membukanya.

Saat itu juga panas menjalar dari ke telapak tangan saya. Saya menjerit kesakitan. Ayah langsung mendekati dan meminta saya memperlihatkan tangan saya. Luka bakar mulai tampak di telapak tangan saya. Panas yang saya rasakan di dekat gerbang tersebut ternyata berasal dari balik gerbang itu. Di balik gerbang itu suhu naik menjadi sangat terik. Tiba-tiba pintu di belakang kami terbuka.

“Berikanku busurmu,” aku langsung memberikan busurku ke ayah yang langsung menarik anak panah dari punggungnya dan mengeker ke pintu yang terbuka. Tapi dia menurunkan busurnya. Tom berjalan mendekat.

“Di balik gerbang itu masih dalam tahap pengujian. Sebentar lagi sudah akan siap. Untuk saat ini, misimu berakhir di sini, tuan Han.”

Beberapa penjaga dan pelayan bermunculan dari belakang Tom. Para pelayan bergegas melihat luka di telapak tanganku dan mengoleskan obat. Ayah mendekati Tom. Mereka saling bertatapan beberapa detik. Kemudian ayah tertawa.

Great job, Tom!” Ayah langsung memeluk Tom. Mereka terlihat sangat akrab walau Tom terlihat segan karena dia merasa dirinya seorang pelayan.

“Terima kasih, tuan Han. Anda tidak terluka, sepertinya?”

Ayah melepas pelukannya dan tersenyum. Kemudian dia berbalik melihat saya, “Bersiap-siaplah. Jake dan Hazel sedang dijemput untuk makan malam bersama.”

“Jake dan Hazel? Apa maksud papa?”

“Saya ingin mengenal kedua sahabatmu lebih dalam.”

Ayah berbalik dan berjalan menjauh diikuti penjaga dan beberapa pelayan yang bingung mesti berbuat apa. Tom mendekatiku dan menyengir. “Buaya?! Banteng?!” Aku menyindir Tom yang sudah gila menaruh dua binatang buas di dalam labirin. “Kamu hampir saja membunuhku.”

“Dan sayangnya saya gagal.”

Mengesalkan, tapi candaan Tom terdengar lucu. Saya berusaha menahan tawa saya sebelum saya menyindirnya tentang apa yang ada di balik gerbang panas, “Apa yang kamu punya di balik itu? Naga?”

Tom hanya tersenyum, “Sebaiknya Anda segera bersiap-siap, tuan muda Han.”

Advertisements