Factfulness, Dunia Lebih Baik Dari Yang kita Pikirkan

Kebanyakan orang, termasuk kita (mungkin), memiliki cara pandang yang tidak tepat terhadap dunia yang kita tinggali. Perang, kekerasan, bencana alam, bencana yang diciptakan manusia, korupsi, kemiskinan yang bertambah, dan lainnya. Ini yang dinamakan overdramatic worldview oleh Hans Rosling dalam bukunya, Factfulness.

Overdramatic worldview ini menarik orang ke hal-hal yang terlalu dramatis dan jawaban negatif dari fakta yang ada. Mereka lebih sering menjawab secara intuitif berdasarkan pandangan mereka ketika berpikir, menebak, atau mempelajari dunia.

Pada nyatanya, mayoritas populasi dunia berada di kelas ekonomi menengah. Perempuan sudah bisa ke sekolah dan memiliki derajat yang sama dengan laki-laki. Vaksinasi sudah mudah didapatkan. Walaupun dunia kita menghadapi tantangan yang besar namun kita juga sudah membuat progress yang baik. Inilah yang dinamakan fact-based worldview.

Dalam buku Factfulness, Hans Rosling memberikan 10 dramatic instinct yang membelokkan persepsi kira. Dia juga memberikan data dan statistik yang detail tentang keadaan dunia saat ini.

Dengan mengenali ke-10 insting ini maka kita bisa mengembangkan fact-based worldview untuk menghindari stres syang tidak diperlukan dan meningkatkan kemampuan untuk membuat keputusan yang bijak.


1. THE GAP INSTINCT

The gap instinct menggambarkan kebiasaan kita membagi hal-hal menjadi 2 kelompok dan membayangkan ada jarak di antaranya seperti baik dan buruk, kaya dan miskin, negara yang berkembang dan negara yang tidak berkembang. Biasanya kita akan berpikir bahwa negara tidak berkembang adalah negara yang miskin dan sebaliknya.

Dalam bukunya, Rosling menunjukkan bahwa lebih berarti bagi kita jika melihat dunia dengan 4 level pendapatan.

Mayoritas populasi dunia berada di kelas 2 dan 3. Ini berarti tidak ada jarak antara negara berkembang dan tidak berkembang. Semua negara berkembang, hanya prosesnya saja yang terlihat cepat atau lambat. Nyatanya hanya 9% dari dunia hidup di negara dengan pendapatan rendah. Negara dengan pendapatan rendah pun juga lebih berkembang dari yang kita bayangkan dan hanya sedikit orang yang tinggal di sana. Berhenti memisahkan negara atau hal lainnya menjadi 2 kelompok.

Factfulness adalah mengenali ketika ada cerita atau gambaran yang terbagi menjadi 2 kelompok dengan jarak di antaranya. Kenyataan seringkali tidak seperti yang digambarkan. Biasanya, mayoritas berada di tengah.

Untuk mengendalikan the gap instinct, perhatikan mayoritas.

Perhatikan perbandingan rata-rata. Diagram rata-rata yang 1 bisa jadi terlihat begitu besar jaraknya sementara jika diperlihatkan dengan cara berbeda, bisa jadi tidak jauh berbeda.

Perhatikan perbadingan yang ekstrim. Kita cenderung mengingat contoh yang ekstrim misalnya terkaya dan termiskin karena hal-hal inilah yang lebih dramatis. Padahal yang ekstrim ini biasanya adalah minoritas sementara mayoritas berada di tengah-tengah.

Lihat dari atas. Dari gedung yang tinggi, objek-objek di level paling bawah bisa terlihat sangat kecil dan menipu. Berada di level 4 juga bisa membuat kita berpikir bahwa level 1, 2, dan 3 sama miskinnya, padahal pada kenyataannya tidak.


2. THE NEGATIVITY INSTINCT

Insting ini adalah kecenderungan kita untuk melihat yang buruk daripada yang baik. Inilah yang biasa dikerjakan oleh media. Berita-berita yang buruk lebih laku daripada yang baik. Tidak ada yang tertarik dengan ratusan pesawat yang tiba dengan selamat sampai tujuan. Namun jika ada 1 atau 2 kecelakaan pesawat, maka dunia gempar dan kita berpikir bahwa kecelakaan pesawat semakin sering terjadi (padahal tidak).

Di tontonan TV level 4, kita masih melihat kemiskinan ekstrim yang kelihatannya tidak ada perubahan. Namun nyatanya milyaran orang sudah lepas dari kemiskinan, berpindah dari level 1 ke level 2 dan 3, tanpa sepengetahuan orang-orang level 4.

Apa yang dipikirkan orang ketika berkata bahwa dunia menjadi lebih buruk? Jawabannya mereka tidak berpikir, mereka hanya merasa.

Banyak hal-hal buruk yang sudah berkurang seperti infeksi HIV, kematian anak, kecelakaan pesawat, hukuman mati, perbudakan, kematian karena bencana alam, kelaparan, penipisan ozon, dan lainnya. Hal-hal baik pun semakin bertambah seperti alam yang dilindungi, hak perempuan, ilmu pengetahuan, anak-anak dengan kanker yang bertahan hidup, pencakupan listrik, air, handphone, imunisasi, internet, dan lainnya.

Factfulness adalah mengenali bahwa informasi tentang hal-hal buruk jarang terjadi pada kita sementara keadaan yang lebih baik seringkali tidak didengar. Itulah sebabnya dunia sekitar terkesan negatif dan membuat stress.

Untuk mengendalikan negativity instinct, harapkan berita buruk.

Lebih baik dan buruk. Sesuatu yang buruk bukan berarti tidak menjadi lebih baik. Yakinkan diri kita bahwa sesuatu bisa menjadi lebih baik walaupun buruk. Seperti bayi prematur dalam inkubator. Pada awalnya keadaan bayi itu sangat buruk, namun secara konstan terus dirawat sehingga menjadi lebih baik. Bayi itu membaik namun dia masih harus berada dalam inkubator karena kesehatannya masih kritis.

Berita baik bukanlah berita. Berita baik jarang dilaporkan, jadi yang sampai ke kita selalu yang buruk. Saat melihat berita buruk, tanyakan apakah berita baik yang seimbang dengan berita buruk itu. Lebih banyak berita buruk bukan berarti setara dengan penderitaan atau dunia yang memburuk.


3. THE STRAIGHT-LINE INSTINCT

The straight-line instinct berarti melihat sesuatu dari data garis lurus yang terus bergerak ke atas. Ini bisa sangat mengerikan. Contohnya adalah populasi penduduk dunia.

Apakah penduduk dunia semakin bertambah? Kebanyakan orang akan menjawab ya, termasuk saya tadinya. Mari kita lihat kepada faktanya.

Berpuluh-puluh tahun sebelumnya, rata-rata perempuan melahirkan 5 anak sampai pada tahun 1965 ke 2017, angka kelahiran turun menjadi 2,5. Penurunan dramatis ini terjadi karena orang-orang mulai keluar dari kemiskinan, para perempuan mendapatkan edukasi, akses mudah ke kontrasepsi, dan edukasi seksual yang semakin banyak.

Sampai tahun 1800, perempuan bisa memiliki 6 anak (rata-rata 3 sampai 4 anak meninggal pada jaman itu). Mungkin pada awalnya populasi terlihat meningkat drastis. Tapi akhirnya terjadi keseimbangan. Saat ini jumlah orang tua tidak bertambah. Mereka yang memiliki anak pun paling hanya memiliki 2 anak dan tidak ada yang meninggal. Yang tadinya meningkat karena punya banyak anak kini menjadi seimbang karena jumlah anak yang tidak banyak. Dari 1,5 milyar di tahun 1900 menjadi 6 milyar di tahun 2000.

Factfulness berarti mengenali asumsi bahwa sebuah garis lurus yang terus naik itu realitanya langka. terjadi.

Untuk mengendalikan the straight-line instinct, jangan berasumsi garis lurus saja.

Ingat bahwa masih banyak bentuk garis yang lain seperti lengkungan S dimana terjadi kenaikan di pertengahan namun terakhirnya lurus, garis menurun, tanjakan dimana terjadi kenaikan drastis di awal namun lanjut menurun, dan garis 2x lipat dimana sesuatu yang baik bisa naik 2x lipat walau mungkin ada yang terjadi tidak dalam kurun waktu yang cepat.


4. THE FEAR INSTINCT

Kita cenderung memberikan perhatian lebih ke hal-hal yang menakutkan.

Berpikir kritis memang selalu sulit, apalagi di saat kita takut akan menjadi mustahil.

Tidak ada ruang untuk fakta saat pikiran kita ditaklukkan oleh ketakutan.

Kembali lagi kepada media yang memberikan gambaran tentang dunia yang berbahaya sehingga dunia ini tidak pernah menjadi lebih aman. 3 berita utama yang biasa dilaporakan adalah pengrusakan fisik (kekerasan baik oleh manusia, binatang, benda tajam, atau alam), penahanan (jebakan, kehilangan kendali, kehilangan kebebasan), dan kontaminasi (oleh zat tertentu yang dapat meracuni kita).

Factfulness adalah mengenali bahwa ketakutan yang mendapatkan perhatian belum tentu yang paling beresiko.

Untuk mengendalikan the fear instinct, kalkulasikan resiko-resikonya.

Dunia yang mengerikan : ketakutan vs. realita. Kita semua memiliki filter yang menerima semua informasi dan biasanya sesuatu yang dramatis atau mengerikan yang paling mudah diterima. Dunia terlihat lebih mengerikan karena yang kita dengar sudah dipilih baik oleh filter perhatian kita sendiri atau media.

Resiko = bahaya x paparan / eksposur. Sadari bahwa resiko yang akan terjadi pada kita tidak hanya bergantung pada ketakutan yang kita rasakan tapi kepada bahaya dan paparan. Seberapa berbahayanyak itu dan seberapa dekat kita terpapar dengannya.

Tenanglah sebelum lanjut. Saat kita takut, kita melihat dunia secara berbeda. Buatlah keputusan sesedikit mungkin sampai kepanikan kita mereda.


5. THE SIZE INSTINCT

Insting ini adalah kecenderungan kita untuk membesar-besarkan atau salah menilai ukuran dari sesuatu.

Sesuatu yang terlihat besar belum tentu sebesar yang kita bayangkan dibandingkan dengan ukuran sebelumnya. Jangan melihat sesuatu dari 1 angka saja. Jika kita ditawarkan 1 angka, selalu minta setidaknya 1 angka yang lain.

Factfulness Is …

  • … recognizing when a lonely number seems impressive (small or large), and remembering that you could get the opposite impression if it were compared with or divided by some other relevant number. To control the size instinct, get things in proportion.
  • Compare. Big numbers always look big. Single numbers on their own are misleading and should make you suspicious. Always look for comparisons. Ideally, divide by something.
  • 80/20. Have you been given a long list? Look for the few largest items and deal with those first. They are quite likely more important than all the others put together.
  • Divide. Amounts and rates can tell very different stories. Rates are more meaningful, especially when comparing between different-sized groups. In particular, look for rates per person when comparing between countries or regions.

6. THE GENERALIZATION INSTINCT

7. THE DESTINY INSTINCT

8. THE SINGLE PERSPECTIVE INSTINCT

9. THE BLAME INSTINCT

10. THE URGENCY INSTINCT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *