Apakah Orang Kristen Boleh Merayakan Imlek? Karena ini masih sering menjadi suatu pertanyaan bagi orang Kristen di kalangan orang Tionghoa, hal ini disebabkan karena tidak sedikit orang berasumsi bahwa perayaan Imlek merupakan hari raya umat Kong Hu Cu, Buddhisme, atau Taoisme yang selalu indentik dengan hari raya suatu kepercayaan. Padalah Imlek itu adalah merupakan perayaan milik semua orang Tionghoa, bukan keyakinan tertentu.

Imlek sering dikaitkan dengan perayaan besar keyakinan tertentu, mungkin hal ini berasal dari pandangan bahwa pada hari raya Imlek, kebanyakan rumah keluarga orang Tionghoa akan diwarnai dengan berbagai kesibukan seperti sembahyang di kuil atau klenteng untuk memohon berkat. Berbagai takhyul dan pantangan mulai juga diberlakukan pada perayaan Imlek. Pada bulan pertama di kalender Lunar tersebut praktik okultisme yang kental pun mulai marak menghiasi komunitas orang Tionghoa.

Perayaan Imlek sesungguhnya merupakan perayaan 15 hari pada bulan pertama dalam penanggalan kalender Lunar. Di RRC, perayaan Imlek dikenal sebagai perayaan musim semi atau Chun Jie. Orang Tionghoa mempunyai semacam filosofi dalam perayaan Imlek, yaitu perayaan ketika alam semesta “hidup kembali“ setelah membeku karena musim dingin. Tanda suatu permulaan yang baru (hidup baru). Saat itu biasanya digunakan untuk reuni keluarga serta saling mengunjungi (Bai Nian) kerabat, teman dan masih banyak lagi hal-hal yang bisa dilakukan pada perayaan Imlek.

Sekarang, pertanyaannya adalah bolehkah orang Kristen dari kalangan orang Tionghoa merayakan Imlek? Imlek atau dimulainya hari pertama pada bulan pertama kalender Lunar yang dikenal bangsa Tionghoa kuno sesungguhnya tidak terlepas dari cerita-cerita mengenai pengusiran roh jahat dari keluarga-keluarga orang Tionghoa kuno.

Kisah atau legenda perayaan Imlek yang paling terkenal adalah binatang pemangsa manusia pada setiap hari pertama / malam tahun baru Imlek yang dikenal dengan Nian (seekor monster). Karena itu konon, menjelang malam tahun baru Imlek, rakyat bukannya bergembira menyambutnya seperti sekarang ini, melainkan mereka sangat ketakutan.

Dari kisah ini, lahirlah ide penempelan Dui lian (kertas merah) di atas ambang pintu dan pada kedua tiang/kusen pintu rumah setiap perayaan Imlek, karena warna merah paling ditakuti oleh Iblis Nian tersebut. Oleh sebab itu, janganlah heran apabila perayaan Imlek selalu didominasi oleh warna merah.

Dalam perkembangannya, orang menambahkan penulisan kata beruntai dan puisi sebagai “petuah“ di atas kertas merah sehingga menjadi Dui Lian yang mendatangkan Hoki atau berkat. Akibatnya, faedah Dui Lian yang semula dimaksudkan untuk mengusir roh jahat, banyak dilupakan.

Kisah lain yang berhubungan dengan perayaan Imlek adalah penempelan gambar “Men Shen“ (dewa pintu) yang biasanya juga dilakukan pada setiap Tahun Baru Imlek. Tradisi penempelan sepasang Men Shen pada pintu rumah dan pintu-pintu kuil, menurut legenda itu berasal dari dinasti Tang, akhirnya diteruskan sampai sekarang ini.

Konon kedua dewa pintu itu adalah Jenderal Qin Shu Bao dan Jenderal Yu Chi Ling De yang menjagai pintu kamar kaisar Li Shi Min atau lebih terkenal sebagai Kaisar Tang Tai Zong yang mengalami kesulitan tidur karena diganggu oleh roh jahat setiap malam.

Setelah dikawal oleh kedua jenderal tersebut, Kaisar Li Shi Min dapat tidur dan merasa terlindung. Akhirnya, kaisar memerintahkan untuk menggambarkan kedua jenderal itu dan ditempelkan di pintu kamarnya. Lama kelamaan cara itu menyebar ke seluruh negeri dan kedua jenderal itu dianggap  sebagai “dewa pintu“ (Men shen). Kebiasaan lain dalam perayaan Tahun Baru Imlek adalah Barongsai (tarian singa atau tarian lung), tarian Barongsai dilakukan dengan tujuan untuk mengusir dan menakut-nakuti roh jahat. Kemudian dengan disertai permainan petasan bambu (mercon) yang bunyinya keras juga merupakan upaya mengusir dan menakuti roh jahat.

Dari kisah-kisah tersebut, kita dapat menarik kesimpulan bahwa inti dari perayaan Imlek sesungguhnya adalah perayaan mengusir kuasa kegelapan, roh jahat atau Iblis dari kehidupan setiap keluarga orang Tionghoa dengan berbagai atribut seperti petasan merah, Dui Lian  lampion merah, barongsai, dsb.
Bangsa Israel juga memiliki hari raya semacam ini yang dikenal dengan Paskah. Dalam Perjanjian Lama, Paskah merupakan Tahun Baru bangsa Israel. Dalam penanggalan kalender Bangsa Israel, perayaan Paskah dimulai pada hari ke 10 bulan pertama (bulan Abib) yang biasanya jatuh sekitar Maret/April dan berlangsung sekitar 12-15 hari juga.

“Bulan inilah yang akan menjadi permulaan segala bulan bagimu, itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun.“ (Keluaran 12:2).

Sama seperti perayaan Tahun Baru Imlek, perayaan Paskah bangsa Israel adalah korban Paskah bagi Tuhan yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir, ketika Ia menulahi orang Mesir, tetapi menyelamatkan rumah-rumah bangsa Israel. Pada perayaan Paskah, bangsa Israel diperintahkan oleh Allah melalui Musa dan Harun untuk menyembelih kambing domba mereka;

“Lalu Musa memanggil semua tua-tua Israel serta berkata kepada mereka: ‘Pergilah, ambil kambing domba untuk kamu dan sembelihlah anak domba Paskah. Kemudian kamu harus mengambil seikat hisop dan mencelupkannya dalam darah yang ada dalam sebuah pasu, dan darah itu kamu harus sapukan pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu; seorangpun dari kamu tidak boleh keluar pintu rumahnya sampai pagi“ (Keluaran 12:21-22).

Darah merah kambing domba yang diambil kemudian disapukan di ambang pintu (kusen) setiap rumah orang Israel supaya ketika malaikat maut yang didatangkan Allah atas tanah Mesir, darah itu meluputkan keluarga orang Israel.

Jadi sama seperti perayaan tahun baru Paskah bangsa Israel yang menyapukan darah kambing domba pada kusen pintu setiap keluarga Israel untuk menghindarkan diri dari malaikat maut yang membawa tulah atas tanah Mesir, demikian juga inti dari perayaan tahun baru Imlek orang Tionghoa yang sesungguhnya menyembunyikan pesan yang sama, yaitu dengan menempelkan Dui Lian (kertas merah) pada kusen pintu untuk mengusir Iblis (Nian) yang datang untuk memangsa manusia.

Apakah makna sesungguhnya dari darah merah yang disapukan ke ambang pintu rumah orang Israel dan kertas merah (Dui Lian) yang ditempelkan di kusen pintu orang Tionghoa tersebut?

Sesungguhnya, ini merupakan nubuatan akan Anak Domba Allah, Yesus Kristus yang akan mati di atas kayu salib dan darahNya akan menebus kita dari kuasa maut.

Darah Yesus diterima oleh setiap keluarga sebagai penebusan dosa mereka akan mengusir dan menolak kuasa maut dari kehidupan setiap keluarga.

“ …. Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu“ (Kisah 16:31).

Hal ini membuat kita bertanya dari manakah orang Tionghoa kuno memperoleh pengetahuan mendalam yang diajarkan oleh Allah orang Israel kepada Nabi Musa itu?

Mungkin, orang-orang Tionghoa kuno menerima sejenis pewahyuan dari Allah yang sama! Meskipun pada zaman itu, bangsa Tionghoa kuno belum memiliki Alkitab, tetapi Firman Allah tertulis dalam loh hati mereka!

“Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat mereka menjadi hukum Taurat bagi mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi …. “ (Roma 2:14,15).

Baik perayaan Paskah bangsa Israel maupun perayaan Imlek orang Tionghoa sesungguhnya menyembunyikan pesan akan kuasa darah Yesus Kristus yang menyelamatkan setiap orang dari kuasa setan.

“Dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darahNya sendiri ….. “ (Ibrani 9:12).
“Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka “.

Dengan kita percaya kepada Yesus, maka kita bukan budak dosa lagi dan kita tidak dikuasai oleh kuasa si Iblis, akan tetapi kita memperoleh sebuah awal hidup yang baru.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu sesungguhnya yang baru sudah datang“ (2 Korintus 5:17).

Karena itu, tidak ada salahnya bagi orang Kristen untuk merayakan hari raya Imlek, hanya saja, di dalam perayaan itu, yang kita hayati adalah sebuah permulaan “kehidupan baru“ dalam Kristus yang memerdekakan kita dari kuasa maut dan Iblis. Jadi, benarlah apabila Imlek (perayaan musim semi) sebagai tanda “lahirnya kembali alam semesta“ setelah musim dingin, beku, seolah-olah musim kematian, musim semi adalah musim kehidupan dan kebangkitan.

Baik Paskah bagi orang Israel dan Imlek bagi orang Tionghoa selalu dirayakan bersama keluarga, makan bersama, saling memberi, saling berbagi, demikian juga hari ini kita merayakan Imlek, dengan mensyukuri kebaikan Allah atas alam semesta, memberi rejeki sepanjang tahun, dan beribadah bersama-sama. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *