Masih ingat kisah kasih saya di 2 minggu lalu tentang refleksi saya sebelum positif? Yes! Minggu, 13 Juni 2021 adalah momen pasrah saya setelah menerima hasil tes antigen dan PCR positif dengan CT Value yang masih 24-an. Pada akhirnya saya pun harus melakukan isolasi.
Hey! Jangan cuma baca dan belajar saja, tapi hargai penulisnya dengan like, follow, dan kasih pendapat di komen serta bagikan supaya kehidupan bersama lebih baik.
Sepulang saya tes PCR, saya seger amenghampir nyokap saya sambil menjaga jarak dan mengenakan masker. Respon nyokap saya saat itu adalah, “Jangan dekat-dekat mama luh!” Bye! Masuk kamar aja dan inilah kisah saya selama isoman.
Bosan, bosan, bosan! Tidak bisa keluar olahraga lari pagi, sepeda, atau gym. Tidak bisa nge-date (sama siapa tuh?!). Tidak bisa makan all you can eat (ukh!). Tapi bersyukur karena masih gejala ringan.
OBAT & VITAMIN
Beberapa hari sebelumnya saya sempat sakit kepala akut, meriang, pegal linu, dan batuk berdahak. Sebenarnya di hari Minggu saat saya tes itu, keadaan saya sudah mendingan walau masih agak meriang dan sakit kepala serta batuk. Tapi mau tidak mau saya mulai meminum obat yang dibagikan sama salah satu teman.
Kebingungan muncul ketika 1 teman merekomendasikan obat-obat ini sementara teman lain merekomendasikan obat-obat itu. Kemudian teman-temannya kakak juga merekomendasikan obat-obat ono. Nah loh! Masa saya minum semuanya? Jujur saya minum obat yang paling tidak keras dan yang tidak banyak. Seharusnya konsultasi dokter dulu ga sih? Tapi ya sudahlah, sudah terlanjur juga.
Saya hanya minum 2 obat, obat influenza dan antibiotik. Kemudian ada juga tambahan vitamin C, vitamin D, dan beberapa hari kemudian baru nambah Zync. Semua obat dan vitamin ini menurut saya cukup bagus buat kondisi tubuh saya yang memang sedang dalam pemulihan.Oh ya btw ini sedang ganti musim dan biasanya saya selalu kena flu musiman jadi paslah dengan kedatangan si Coronce ini.
GEJALA
Sekitar 2 hari kemudian saya mulai kehilangan indra penciuman. Padahal saat itu saya sudah sehat. badan sudah tidak meriang dan pegal linu. Kepala sudah tidak sakit. Batuk juga sudah tidak terlalu. Awalnya suara saya malah super bindeng mirip kaya Lucinta Luna. Tapi ini saya ragu apakah emang karena Covid atau karena hidung saya yang bindeng. Bindeng ini maksudnya berasa ada ingus tapi tidak mampet dan juga tidak pilek.
Malamnya saya memakaikan minyak kayu putih dan untungnya masih bisa kecium walau hanya sedikit. Besoknya penciuman saya mulai membaik. Tapi tetap masih ada yang kurang. Saya tidak mencium 100 persen seperti sebelumnya. rata-rata masih harus sangat didekatkan ke hidung baru bisa mencium. Lucunya bisa tiba-tiba saya mencium bau aroma masakan yang selalu sama padahal tidak ada makanan di kamar ataupun yang sedang dimasak di dapur bawah. Mungkinkah karena saya kelaparan?
MAKANAN
Ngomong-ngomong soal kelaparan, saya tidak mengalami gelaja tidak nafsu makan. Malahan nafsu makan saya naik. Saya mau makan enak mulu. Walau masih harus ada pantangan jangan makan yang terlalu berminyak, saya tetap bisa merasakan makanan. 1-2 hari pertama saya makan memang semuanya terasa sangat asin dan ini memang orang tua teman saya rasakan ketika kena Covid, semua makanan rasanya lebih asin dari biasanya. Tidak masalah karena saya pecinta asin. Saya juga diberikan jamu dan saat minum, uek! Pahitnya, bukan main. itu berarti indera perasa saya masih aman.
Setelah saya bisa mulai mencium, rasa makanan pun mulai menormal (bahasa apaan neh menormal?) kembali. Syukur alhamdulilah, preman PIK satu ini punya teman-teman yang mulia.
Hampir setiap hari dan biasanya itu berturut-turut saya dikirimkan makan siang. Biasanya mereka yang menanyakan kabar, preman PIK ini akan langsung menembak, “Kirimin makanan!” dan datanglah makanannya beberapa jam kemudian. Tapi ada juga yang menawarkan makanan padahal saya tidak tanya (ini adalah oknum-oknum yang jauh lebih mulia dan kudus). Buat kalian yang sudah mengirimkan, kamsahamida! Dan yang belum, tolong tanyakan pada diri kalian apakah kalian mulia? Peace, man!
KEGIATAN
Mungkin kalian bertanya-tanya selama isoman ini apa aja asih yang saya kerjakan? Di beberapa hari pertama yang saya lakukan sangatlah produktif! Makan, tidur, lihat media sosial, dan nonton. Putar-putarin aja tuh alurnya. Tapi setelah saya mendapatkan pencerahan dan mulai bosan, saya mulai mencari aktivitas.
Saya mulai berolahraga tipis-tipis sambil pamerin ke media sosial biar dipuji dan makin semangat gitu haha. Untungnya saya masih ada alat-alat gym rumah yang disponsorin sama Kettler. Ada Resistant Band, Expander, Core Slider, Flexiband, dan juga bola ajaib (ga tahu namanya apa). Saya juga ada dumbell dan skipping rope.
Oh ya tidak lupa berjemur juga. Berjemur ini ga jelas bisa jam 8-an atau jam 10-an selama 15-20 menit. Saya sendiri masih bingung waktu berjemur yang baik itu jam berapa karena beda-beda kalau lihat di internet. Jadi ya sebangunnya saya saja dan kalau cuacanya memang pas baru saya keluar dan berjemur.
Momen isolasi ini juga menjadi momen mandiri saya dimana saya harus cuci baju, jemur baju, cuci peralatan makan, dan sikat kamar mandi sendiri. Manja bet! Ya anggap saja persiapan nanti tinggal sendiri ya.
Di saat-saat ini juga saya belajar untuk mengembangkan diri. Saya memperbaiki kembali kebiasaan-kebiasaan yang sudah melenceng seperti malas baca Alkitab, tidur malam, membaca sedikit, tidak menulis Blog, dan tidak membuat perencanaan. Saya mulai rutin membaca Alkitab setiap pagi. Saya mulai tidur cepat at least jam 11 malam harus udah mati lampu semua. Saya mulai membaca 10 halaman sehari dan menulis catatan. Saya mulai kembali aktif di dunia per-blog-an ini, halo semua! Saya juga kembali membuat to-do-list dan membuat weekly activity.
Mungkin kelihatannya saat isoman tidak banyak yang bisa dilakukan secara saya tidak bisa syuting atau supervising ke toko. Tapi justru saat inilah saya banyak menemukan ide-ide baru. Saya bisa meninjau kembali ide-ide yang saya tulis di Note smartphone. Ternyata banyak sekali bahan yang bisa saya gunakan untuk di Blog dan juga video Creator’s Mind, termasuk ini.
Walaupun ada keterbatasan tempat dan orang untuk membuat konten, saya akhirnya mencari cara untuk tetap membuat konten walaupun melakukannya sendiri. Kalian bisa lihat di TikTok saya.
Keterbatasan tidak seharusnya menghalangi kita untuk menjadi produktif tapi justru memacu kita menjadi lebih kreatif dan inovatif.
SAMPAI KAPAN?
Untuk main aman dan hemat biaya juga, saya memutuskan untuk cek PCR hari ini di hari Minggu, 27 Juni 2021. Saat ini saya sudah tidak ada gejala lagi jadi doakan ya semoga hasilnya negatif dan saya bisa bebas berkarya lagi tapi tetap menjaga kesehatan serta ikut prokes yang ada loh!
Jadi untuk menyimpukan semua pengalaman saya saat isoman, ini adalah momen saya beristirahat benar-benar sambil menginstrospeksi diri. Apa saja yang sudah saya kerjakan? Bagaimana saya melakukannya? Kenapa saya melakukannya? Apa yang terpenting dalam hidup saya? Apa yang perlu saya perbaiki? Bagaimana memperbaikinya?
Banyak hal yang bisa saya kerjakan ketika isoman ini dan memang saya memerlukan ini karena kehidupan saya sudah terlau cepat berjalan. Saya perlu memperlambatnya dan beristirahat.
Be more positive, creative, and productive! Be blessed!