Saya tidak pernah cocok dengan Papa saya. Sangat mudah untuk berselisih paham dengannya. Papa selalu melihat hal-hal yang tidak baik dari saya. Dia menasehati dengan cara yang halus tapi tajam. Terakhir dia menyuruh untuk mengganti kaca mobil yang gelap karena pada malam hari tidak kelihatan dan itulah yang menyebabkan mobil yang saya setir menabrak motor dan ditabrak angkot. Padahal saya menabrak motor karena pengemudi motornya yang menerobos lampu merah, dan angkot menabrak saya dari belakang secara tiba-tiba saat saya sedang mengantri lampu merah. Terlebih lagi kedua kejadian itu terjadi saat hari masih masih terang.

Papa juga bukan orang yang suka keluar rumah. Saya jauh bertolak belakang darinya. Saya sangat suka jalan-jalan dan pergi berkumpul bersama teman atau keluarga (seandainya saat itu Papa mau pergi keluar) untuk mencoba tempat makanan baru atau keluar dari kepenatan di ibukota. Sedangkan Papa, setiap kali diajak makan hanya mau makan di dekat rumah. Ia harus dipaksa keluar baru mau. Giliran kena macet di perjalanan, dia mulai mengoceh justru karena macet itulah maka dia malas pergi jauh-jauh. Papa hanya mau pergi keluar pada saat lebaran atau saat pergi ke Cina. Itu juga ia tidak pergi bersama keluarganya. Kadang saya merasa Papa tidak suka menikmati quality time bersama keluarga.

Saya salah. Saya suka mendengar cerita dari Mama tentang Papa yang sangat menyayangi keluarganya. Papa suka membantu saudara-saudara kandungnya, terutama dalam hal materi. Dia tidak ragu untuk mengeluarkan uang atau memberikan barang kepada saudara-saudara kandungnya. Hal itu bisa terlihat saat ulang tahunnya yang ke-60, di mana dia mengundang semua saudara untuk merayakannya. Di sana saya melihat banyak saudara yang respect dengan Papa dan menyayangi Papa. Papa juga sangat senang bergaul dengan mereka. Dia bernyanyi, menyalami setiap tamu sambil mengobrol, serta mengajak mereka bersulang dan berfoto.



Papa sayang dengan keluarganya. Sampai sekarang saya selalu menganggap kwetiaw goreng di Pangeran Jayakarta sebagai kwetiaw paling enak karena waktu kecil Papa sering membawa saya dan keluarga makan di sana. Saya mungkin tidak mengingat dia pernah bermain bersama saya di waktu saya kecil atau membantu saya mengerjakan PR, tapi saya ingat dia selalu bekerja keras dengan usaha konveksinya saat itu sampai akhirnya usaha itu harus ditinggalkan karena kerusuhan di tahun 1998.

Kerusuhan itu telah mengubah jalan hidup keluarga saya. Kami pindah ke Kalimantan dan muai dari nol. Papa memutuskan meninggalkan keluarganya untuk bekerja di luar negeri. Saat itu saya masih duduk di bangku 6 SD dan saya kehilangan figur seorang Ayah di sana. Saya tumbuh remaja tanpa Papa saya. Dia pergi bekerja kurang lebih 5 tahun, meninggalkan Mama yang sering menangis pada malam hari dan ketiga anaknya yang mau tidak mau mesti bertahan dengan kondisi ekonomi yang tidak cukup baik.

Saya bertekad untuk belajar dengan baik dan tidak terlibat dalam pergaulan yang tidak benar. Masa-masa SMP saya adalah masa tanpa Papa di sisi saya. Saya tidak pandai dalam olahraga dan berkelahi seperti anak-anak remaja laki-laki pada masa itu. Saya lemah dan terkadang saya merasa minder. Tapi saya berprestasi dalam studi saya. Saya berusaha untuk membanggakan kedua orangtua saya.

Saya tidak pernah melupakan momen di mana Papa saya pulang dan masuk di dalam rumah. Tentu saja kekakuan suasana melanda kami berdua. Saya memeluk Papa saya saat itu, tanpa air mata, tapi sangat bahagia. Sejak itu Papa memang sedikit berubah. Dia jarang keluar-keluar dengan kami lagi. Mungkin ini karena keadaan dia di sana, di mana dia mesti sangat berhemat (bahkan untuk jalan-jalan saja dia tidak mau) dan memikirkan kami di sini. Papa mengumpulkan modal dan mulai membuka usaha. Sejak itu jalan mulai terbuka dan bersama Mama, Papa mulai membangun kerajaannya sampai berhasil seperti sekarang.

Biarpun saya dan Papa tidak pernah cocok, tapi ajaibnya kami memiliki cukup banyak kesamaan. Hubungan saya dengan Papa memang tidak dekat. Kami bukan orang yang bisa ngobrol lepas dan tertawa bersama. Kami berdua kaku dan sangat sulit memperlihatkan perhatian dan rasa sayang. Itu salah satu kesamaan kami.

Papa adalah seorang yang perfeksionis, selalu mengecek barang yang ingin dibeli dengan detil. Tidak jarang dia tidak jadi beli hanya karena ada cacat sedikit. Papa orang yang rapi. Semua barangnya dia simpan dan diarsipkan dengan jelas. Papa juga orang yang melankolis. Dia banyak berpikir dan memendam perasaan. Pernah satu kejadian di saat saya memberitahunya malam-malam bahwa tas saya baru saja dijambret. Awalnya dia hanya mengeluh sesaat, tapi beberapa lama kemudian dia mendatangi kamar saya dan mulai menanyakan bagaimana kejadiannya. Setelah itu dia bisa kembali lagi ke kamar dan menanyakan apa saja yang hilang dan bertanya hal-hal lainnya.

Saya selalu rapi dengan semua barang saya. Bahkan folder yang ada di dalam komputer saya tersusun rapi dengan nama-nama yang jelas. Kartu e-tol di dalam mobil juga selalu dalam posisi lurus. Miring sedikit akan segera saya luruskan. Dan saat saya mengalami sebuah masalah, saya bisa tidak makan seharian karena tidak bisa berhenti memikirkannya. Tebak dari mana saya memiliki semua keunikan itu.

 

Melihat keadaan sekarang, orang tua lebih suka menyerahkan anak-anak mereka untuk dididik oleh teknologi daripada dengan mereka sendiri. Saya tidak bisa berargumen bahwa itu baik atau tidak, tapi seorang anak membutuhkan figur seorang Ayah. Memori bersama Ayah sangat berperan dalam pertumbuhan seorang anak. Untungnya saya memiliki memori yang cukup baik dengan Papa saya sehingga saya masih bisa berpikir jernih bahwa kedua orangtua saya peduli dan mau saya tumbuh menjadi anak yang baik.

2cd756dc-833d-4d85-89ad-ba02355bbb8a

Bagi kalian yang mungkin mengalami suasana kekakuan yang sama dengan saya, berhentilah berharap kesempurnaan dari Ayah kalian. Ayah kalian bukanlah Tuhan. Bahkan Tuhan sendiri tidak bisa menyenangkan semua orang. Jadi bersabarlah dengan Ayah kalian. Berinisiatiflah menunjukkan kasih sayang kalian. Lakukan terlebih dahulu. Tanyakan apakah dia sudah makan dan mau dibelikan makanan apa saat sedang berada di luar. Masuklah ke dalam kamarnya setelah sampai di rumah supaya dia tidak khawatir.

Bagaimanapun juga kalian akan menjadi seorang Ayah. Kalian akan tahu betapa pusingnya menjadi seorang Ayah suatu saat nanti. Terima saja omelan dari Ayah kalian walaupun memang rasanya tidak adil. Anggap omelan itu sebagai bukti kasih sayangnya. Kalian akan merindukan omelannya suatu saat nanti.

Papa bukan orang yang sempurna dan banyak ketidaksempurnaan yang membuatnya tidak layak disebut sebagai seorang pahlawan. Tapi saya tidak peduli. Dia rela meninggalkan istri dan anak-anaknya untuk bekerja keras memenuhi kebutuhan keluarganya. Dia tekun membangun kerajaannya sehingga sekarang hidup kami berkecukupan, bahkan lebih dari cukup. Dia menyayangi keluarganya walau jarang diperlihatkan. Dia suka mengomel serta menunjukkan kesalahan istri dan anak-anaknya karena dia masih memperhatikan keluarganya. Dia juga menunggu anak-anaknya sampai pulang ke rumah baru ia sendiri bisa tidur. Dia baik terhadap yang lebih tua darinya, saudara-saudara kandungnya, keponakan-keponakannya, dan cucu-cucuya.  Dia bisa stress jika ada salah seorang dari keluarganya yang terkena masalah.

Banyak orang mengatakan bahwa superhero itu tidak nyata. Mereka hanya belum bertemu dengan Papa saya. Papa bukan hanya seorang superhero. Dia juga seorang supergrandpa, superson, superuncle, superbrother, dan superdad. Terima kasih untuk kepahlawananmu, Pa. Sering-sering quality time khususnya bersama keluarga inti, ya. Tolong maklumin juga anakmu yang suka ngeyel ini. Love you always.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *