Baiklah sebelum saya masuk ke alam bawah sadar saya, ijinkan saya untuk nyampah sedikit tentang kejadian tidak menarik dan tidak seharusnya Anda baca sekarang. Tadi saya ke KoKas (gaol dikit ke daerah gedung pencakar harimau alias langit), terus makan di Tamani.
Nongollah satu cowok berkacamata dan duduk di sebelah menyeberangi saya. Kemudian dia mengeluarkan laptopnya. Saya yang cuek yang tidak terlalu memperhatikan. Dia ngomong apa gitu sama si Mbak Tamani. Terus pas saya menunggu bill, tiba-tiba ni cowok ngoceh-ngoceh dengan nada cukup tinggi ke si Mbak menggunakan bahasa dewa yang saya malas dan agak menyesal tidak saya tekuni yaitu Mandarin.
Si Mbak mencoba memberitahu sesuatu tapi ni cowok China masa bodoh dan sibuk dengan laptopnya. Mungkin dia lelah atau sedang PMS? Kebenaran si Mbak itu yang mengembalikan uang kembalian saya. Sontak saya ceplos tanya apa yang telah terjadi. Si Mbak kasih tahu kalau tu cowok mau minta WiFi tapi WiFi cuma buat orang resepsionis saja. Saya ambil kesimpulan kalau WiFi di Tamani hanya untuk orang dalam saja. Tapi ni cowok China malah marah-marah tidak dapat WiFi.
“Ya, sudah. Yang sabar ya, Mbak,” kata saya polos lugu kepada di Mbak.
Si Mbak ngangguk. Dan saya menanyakan kembali apa dia itu orang China, si Mbak ngangguk. Terus saya langsung respon, “Emang gitu kalau orang China.”
Orang China rata-rata kasar dan tidak tahu sopan santun, benar tidak? Ada yang setujuh? Ayo angkat tangan, goyang pinggul, dan kita angguk-angguk bareng.
Cus deh, tidur. Ngok!
Be blessed!