Kita suka mendengar orang-orang berkata, “Jika saja saya…”. Bahkan mungkin kita sendiri juga sering mengumandangkannya. Itu adalah penyesalan. Namun penyesalan ternyata bisa jadi sesuatu yang berguna jika kita menggunakannya untuk membuat perbedaan ke depan.
Ada 3 jenis skenario dari “Seandainya saya melakukannya”.
- Ketika kita secara tulus melepaskan kesempatan-kesempatan bagus yang kita lewati.
- Ketika kita melihat orang lain melakukan sesuatu dan berharap kalau kitalah orang yang melakukannya.
- Ketika kita memiliki mental menyesal yang dalam dimana kita terus menyalahkan diri sendiri, orang lain, atau keadaan karena kita tidak menjadi seperti yang kita mau.
Ketika datang kepada nomor 2, dunia dibagi menjadi mereka yang melihat orang lain dengan iri dan mereka yang melihat orang lain sebagai alat motivasi. Saat kita mendapatkan diri kita berkata, “Seandainya saya melakukan itu atau memikirkan itu atau berada di situ atau mengalami itu atau bertemu mereka atau mengerti itu”, maka kita butuh belajar melanjutkan semua itu dengan “Dan sekarang, saya akan…”
Dalam banyak kasus, hal-hal yang kita harapkan kita capai belum tentu di luar pencapaian. Misalnya kita menyesali kenapa kita tidak sekolah di Cina selama 6 bulan. Jelas kita tidak bisa mengulang waktu. Tapi bisakah kita meminta cuti selama 6 bulan dan pergi sekarang? Atau bagaimana jika kita memasukkan hal tersebut ke daftar ‘to do list’ kita setelah berhenti dari suatu pekerjaan?
Yang bisa kita lakukan adalah tidak membiarkan kesempatan-kesempatan lain melewati kita. Jadi kita bisa memutuskan untuk mengikuti kelas diving sehingga kita tidak berkata, “Seandainya saya belajar menyelam” pada 20 tahun mendatang.